THE runaway BRIDE (Part 14)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

14. Kesadaran

.

.

 

Sulli bergegas turun dari mobilnya, kakinya yang panjang melangkah di atas jalanan beraspal sebelum akhirnya masuk ke Bandara. Melewati pintu gerbang kedatangan. Waktu menunjukkan kalau dirinya terlambat hampir satu jam dari waktu kedatangan pesawat yang membawa Minho, sahabatnya, kembali ke Amerika. Menyadari itu, dia mempercepat langkahnya. Bukan apa-apa dia khawatir bila sahabatnya yang datang jauh-jauh itu turun dari pesawat dan mencari-cari siapa yang menjemputnya, kemudian kebingungan di tempat yang tak dikenalnya.

Tapi ternyata justru dia yang kebingungan ketika mencari-cari keberadaan pria itu di bandara yang sibuk. Itu bukan perkara mudah. Setelah mencari di tempat-tempat yang memungkinkan pria tersebut berada, seraya bertanya-tanya apakah kemungkinan Minho marah atau kecewa dengan keterlambatannya, Sulli akhirnya menyerah dan duduk di kursi untuk mengistirahatkan kakinya.

“ Apakah mungkin Minho menunggu terlalu lama dan memutuskan untuk mengambil taksi dan menuju hotel ?Jika benar, sungguh sia-sialah apa yang telah dilakukannya.”

Putus asa, Sulli menengadah dan menatap layar monitor. Sesuatu yan ditampilkan di sana membuat hatinya lega. Pesawat yang dinaiki Minho mengalami penundaan keberangkatan, bahkan belum mendarat sama sekali. Akhirnya Sulli memutuskan untuk menuju sebuah kafetaria dan membeli secangkir kopi untuk dirinya. Dia memilih tempat duduk berdinding kaca yang dari tempatnya bisa langsung terlihat pemandangan langit cerah tak berawan kota New York, sekaligus dia bisa melihat kemungkinan tibanya Minho di bandara.

Sulli menghirup kopinya perlahan-lahan, takjub dengan kegembiraan yang terasa melonjak-lonjak di dadanya. Rasanya mengherankan saat menyadari betapa sering dia memikirkan Minho, mengingat sesungguhnya kehidupannya sendiri sudah sangat sibuk. Siang hari, dia bekerja sebagai asisten Rodney… atasan yang menyayangi dan sekaligus membuatnya terus optimis dan bahagia. Malam hari, Sulli berusaha meningkatkan soialisasinya dengan banyak pria. Setelah Rodney mengemukakan segalanya, dia harus mulai menjalin hubungan dengan pria sebelum ibunya yang menghadirkan seorang pria dalam hidupnya.

Sudah banyak pria yang dikencaninya. Sebagian besar adalah mereka yang berusia di atasnya dengan kehidupan yang telah mapan, sebagian lagi yang sebaya dari rekan sekerja atau sahabat-sahabat yang ditawarkan Rod. Dan ada beberapa mahasiswa yang menemaninya melewati waktu senggangnya. Mereka minum dan makan malam bersama, terkadang nonton pertunjukkan teater atau nonton film di bioskop. Mereka semua memujanya dengan cara yang berbeda-beda, tetapi tidak satu pun dari mereka yang bisa membuatnya tertawa dan nyaman seperti saat dia dengan Rod atau…Minho.

Sebelum kehadiran Minho dalam hidupnya, Sulli tidak tahu bahwa tawa itu adalah hal yang penting dalam mempertahankan kewarasannya dalam menghadapi kerasnya hidup. Namun sekarang sepertinya setiap pria punya kekurangan, karena mereka tak pernah bisa menunjukkan sisi menggelikan dari kejadian-kejadian di sekelilingnya. Mereka tak pernah melihat sebuah tragedi dari sisi yang bisa ditertawai, dan tidak dibawa menjadi lebih menakutkan. Tidak ada yang bisa membuatnya merasa santai dalam menghadapi apa pun, atau yang bisa berbagi guyonan rahasia yang hanya dimengerti mereka berdua saja.

Mereka romantis dan membuatnya merasa tersanjung. Mereka menghadiahkan hal-hal yang indah… kata-kata manis, bunga, hadiah-hadiah… Namun semua itu hanya membuat Sulli semakin mengingat da merindukan Minho. Laki-laki yang secara tidak sengaja singgah dalam hidupnya itu , tidak pernah be4rsikap romantis. Pria itu selalu melemparkan gurauan, tetapi di saat bersamaan mampu membuatnya membuka diri, mempercayainya tentang hal-hal terdalam dirinya. Ya, Minho tak pernah bersikap romantis tetapi matanya selalu menatapnya sangat tajam sehingga terkadang membuatnya terpesona.

Tiga bulan sudah berlalu dari kebersmaan mereka dulu. Mereka masih berhubungan via internet, saling berkirim email, bahkan melakukan percakapan panjang yang menyenangkan. Berbincang tentang banyak hal yang ringan, saling melontarkan guyonan, dan menertawainya bersama-sama. Hampir tiap hari dalam bulan-bulan terakhir Sulli berfikir bahwa Minho mungkin hanya akan menjadi sahabat jarak jauhnya, dan tak akan pernah kembali ke New York. Sampai akhirnya sebuah berita menggembirakan itu muncul. Kalau bukan karena perusahaan tempatnya bekerja sekarang ingin memperluas usahanya di Seoul Korea, dan mencari rekanan usaha di sana… mungkin kesempatan itu tak akan pernah ada.

Seminggu yang lalu Sulli berbicara di telepon tentang rencana perluasan bisnis itu dengan Minho. Dengan mengejutkan Minho ternyata menaruh minat untuk menjadi rekanan usaha yang sedang dicari itu.

“ Aku akan ke sana. Tetapi aku harus membiacarakan ini dengan keluargaku dulu.”

Itu yang dikatakannya di telepon seminggu yang lalu. Dan semalam dia mendapatkan email tentang rencana kedatangannya di New York. Otomatis sejak email itu datang, hatinya seperti dipenuhi euforia … bahkan dia tak bisa memejamkan matanya hanya karena membayangkan akan bertemu kembali dengannya.

Ya, Minho tak lama lagi akan berada di sini, di hadapannya. Dia akan bisa memandangi wajah ceria itu, memandangi matanya yang belo, mendengar kembali lelucon-lelucon anehnya tentang makanan. Sulli yakin, hari-hari di mana Minho hadir akan membuat hari-harinya ceria. Sekarang pun bibirnya sudah tersenyum-senyum saat membayangkannya.

Tapi ketika satu jam berlalu menjadi dua jam… kemudian lebih lama lagi. Sulli mulai mengerutkan keningnya tak sabar. Dia kurang mengerti apa yang terjadi, ponsel Minho juga tidak bisa dihubungi. Dan entah kenapa, ada satu titik di kepalanya yang menyuntikkan kecemasan dan tanda tanya besar. Akhirnya Sulli menelepon Rodney karena atasannya juga harus tahu mengapa dia sampai terlambat.

“ Aku masih duduk di kafe bandara, tetapi tidak ada tanda-tanda kalau pesawatnya akan mendarat…” keluh Sulli sambil matanya memandangi tiga cangkir kopi yang kosong dan sepiring kentang yang tak tersentuh di hadapannya.

“ Apakah dia bisa dihubungi ?”

“ Ponselnya tidak aktif. Sejam yang lalu kupikir dia sedang dalam pesawat… tetapi ini sudah beberapa jam berlalu. Apakah aku harus kembali ke kantor dan meninggalkan bandara ?”

“ Sayang, kalau saja aku bisa menemanimu di sana. Tetapi sepuluh menit lagi aku harus ketemu klien…”

“ Rod, sungguh… ini bukan apa-apa. Aku hanya tak mau kau bertanya-tanya karena aku sudah melewati jam makan siangku dan tidak kembali ke kantor.”

“ Dengar, aku akan memberikan seluruh jam kerjamu untuk menjemput kekasihmu itu.”

“ Rod… kami tidak …! ”

“ Belum…” potong Rodney ,” Menurutku sebaiknya kau tanyakan ke bagian informasi mengenai keterlambatan itu. Bila tak ada kejelasan, cobalah kau telepon rumahnya dan tanyakan apakah dia jadi berangkat atau tidak. Oke ??”

Sulli tiba-tiba merasa dirinya tolol karena tak pernah membayangkan solusi sederhana seperti itu. Begitu Rodney menutup telepon, dia bergegas menuju meja informasi untuk mengeceknya. Petugas informasi itu seorang pria yang dengan sennag hati menjawab semua pertanyaannya. Sulli memberikan nomor penerbangan Minho.

“ Ya, ma’m… nama Choi Minho ada dalam daftar penumpang pesawat. Mereka melakukan penundaan penerbangan untuk pesawat ini.”

“ Apakah karena kondisi cuaca atau yang semacamnya ?”

“ Kami kurang tahu mengenai itu. Tetapi sebentar, saya akan mengeceknya untuk anda.”

Sulli menunggu dengan sabar, walaupun hatinya kebat-kebit juga. Setelah berbicara melalui telepon, pria itu kembali kepadanya. Menatap ulang nomor penerbangan yang diberikan Sulli, seakan ingin mencocokkan dengan informasi yang dimilikinya. Wajahnya tiba-tiba menjadi muram

“ Ada sedikit masalah dengan pesawatnya , roda pendaratan utamanya tidak bisa keluar. . Pesawat itu masih berputar-putar di atas sana sementara mereka berusaha memperbaikinya.”

Wajah Sulli langsung pucat, perutnya tiba-tiba seperti diaduk-aduk. Bayangan-bayangan menakutkan segera menghantuinya.

“ Bagaimana seandainya mereka tak bisa memperbaikinya ?”

“ Mungkin pesawat akan mendarat tanpa roda utama…”

Sulli merasa lututnya tiba-tiba lemas, jantungnya seperti hendak jatuh ke perutnya yang mendadak mulas.

“…. Tapi tak usah khawatir,ma’m. Secara teknis, pesawat itu akan melakukan pendaratan darurat tanpa roda utama. “

“ Oh….” desah Sulli, keringat dingin mulai merambati tulang punggungnya.

“ Ma’m , kau baik-baik saja ?”

“ Ya… aku hanya…”

“ Tak perlu khawatir, semua penumpang dalam pesawat akan selamat. Hanya nanti penumpang akan turun dari pesawat dengan cara darurat tidak seperti biasanya. Yakinlah, tak akan ada seorang pun yang terluka.” Kata pria muda itu dengan lembut,” Apakah ada yang bisa saya lakukan untuk anda ?”

“ Tt..ttidak, terimakasih.” Jawab Sulli linglung ,” Saya akan menunggunya sambil duduk di sana.”

Sulli segera berjalan menuju kursi terdekat, dia tak yakin kakinya yang lemas bisa menopang tubuhnya lebih lama. Berusaha menghibur diri, mencari sisi baik dari situasi itu…yang sangat sulit dilakukannya. Tetapi dia berusaha berpegang pada kata-kata pria di bagian informasi itu bahwa semua penumpang akan selamat dan tidak terluka sama sekali. Bahwa pesawat itu akan mendarat dengan benar, kemudian Minho tinggal turun tanpa…

Sulli merasa jantungnya berpacu makin cepat, membuat butiran keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya. Diam-diam matanya melihat bagaimana mobil pemadam kebakaran dan ambulan berkumpul di sisi landasan. Lalu bagaimana ini ? Apa yang akan terjadi kemudian ? Di pesawat itu ada sahabatnya, berputar-putar di atas sana… sampai berapa lama ? Sampai bahan bakarnya habis .. lalu mendarat dengan decit dan bunga api yang memercik ke mana-mana … seperti yang pernah dilihatnya dalam film ? Dan tentunya yang terjadi pada Minho bukan tipuan kamera semata.

“ Bapak dan ibu sekalian, kami mohon maaf dengan keterlambatan pesawat dengan nomor penerbangan….”

Suara itu seperti lengkingan yang datang dari kejauhan di telinga Sulli, tetapi sekaligus menggetarkan setiap syaraf di tubuhnya. Seketika kecemasan seolah memblokir seluruh panca inderanya, sehingga nyaris dia tak bisa mendengarkan pengumuman itu dengan sempurna.

“… dalam tujuh menit lagi akan mendarat…”

Sulli terkesiap. Sejenak dia merasa Minho seakan-akan berdiri di sana …di tengah-tengah bandara yang hiruk pikuk, menatapnya dengan sorot mata jahil yang menyiratkan energi yang selalu disimpannya dalam kenangan. Sebuah senyum miring menghiasi wajahnya. Sulli ingin menjerit saat menyadari bahwa dalam tujuh menit mungkin saja Minho akan tewas. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam sekejap.

Sulli bangkit kemudian berlari menuju anjungan pengamatan yang sudah dipenuhi orang-orang, yang melihat jauh ke luar. Di sana… di atas sana Minho dan penumpang lainnya menunggu nasib menjemput. Dengan kalut, Sulli berusaha menghimpun konsentrasinya untuk mendengar dan melihat di tengah-tengah wajah cemas dan kekacauan di sekitarnya. Berusaha untuk menemukan tanda-tanda pertama kemunculan pesawat itu dari balik awan yang menggantung rendah. Awan yang kepulan asapnya menghalangi penglihatannya.

Dan setelah suara derumannya sayup-sayup terdengar… semakin lama semakin keras, kemudian disusul dengan kemunculan pesawat itu… yang terlihat sangat jelas. Sorak sorai meledak di ruangan itu… tetapi tangan Sulli memutih saat mencengkram pagar. Tak ada alasan baginya untuk gembira karena di sinilah penentuan hidup dan mati sahabatnya. Tetapi melihat bagaimana pesawat itu perlahan-lahan menukik, membuat jantungnya berdebar seperti genderang perang. Bahkan Sulli bisa mendengar dentumannya dalam telinga dan kepalanya.

Sulli semakin jelas melihat bagaimana pesawat itu mendekati landasan. Rasanya dia tak sanggup untuk tetap berdiri dan memandanginya. Pada detik-detik terakhir, ruangan itu mendadak sunyi. Sulli pelan-pelan memejamkan matanya, merasa ngeri dengan keheningan yang mencekam. Dan dia seperti mendengar bagaimana orang-orang disekitarnya menahan nafas.

“ Ya Tuhan, kuatkanlah aku. Bagaimana mungkin aku menolak untuk melihat saat-saat menetukan ini ? Mungkin saja ini adalah saat terakhir aku bisa menjadi saksi tentang keberadaan seorang Choi Minho di dunia ini. Dengan tekad kuat, Sulli perlahan membuka matanya. Pemandangan yang mendebarkan itu langsung menyambutnya… Entah bagaimana, roda kecil itu berhasil ke luar dari tempatnya.

Sulli merasa jantungnya berhenti berdetak untuk sesaat. Suara sorak sorai kembali memecah keheningan di sana. Dengan linglung Sulli hanya menatap dan mematung sementara pesawat itu meluncur menjauh sebelum berbalik. Dia tetap tidak bergerak, bahkan ketika pesawat itu kembali muncul sebelum akhirnya berhenti. Dia seolah-olah terkurung dalam kehampaan, tak bergeming walau orang di sekitarnya mulai berlarian.

Sulli benar-benar merasa kosong, sampai kemudian tubuhnya terdorong oleh seseorang hingga dia terhuyung. Kesadarannya seolah kembali terkumpul. Rasa suka cita bagai meledak dalam dirinya, tetapi dia harus bertahan karena kalau tidak dia akan berlari-lari dan berteriak-teriak seperti orang gila. Atau dia akan menangis meraung-raung. Dia hanya melihat bagaimana kejadian di sekitarnya, tak berani untuk berpikir lebih jauh.

Hanya dalam dirinya sinyal-sinyal peringatan mulai berdering… bahwa dia harus menuju suatu tempat di mana para penumpang akan muncul. Tetapi kakinya tak bisa digerakkan…

“ Semua yang kulihat itu pastilah hanya ilusi. Pesawat itu pasti jatuh hingga tempat ini menjadi begitu ramai. Pesawat itu jatuh…. Minho ada di dalamnya… Minho telah tewas… Dan aku tak akan pernah lagi bisa bertemu dengannya atau berbicara dengannya atau berkirim email dengannya lagi.”

“ Jinri… Jinri….?”

Sulli mengerjap, matanya kosong melihat Minho sedang berdiri di hadapannya. Dia merasa bahunya diguncang… untuk sesaat Sulli menolak bergerak, takut apa yang dilihatnya akan menghilang.

“ Jinri… “ Suara Minho terdengar seperti dari kejauhan ,” Mengapa kau menangis, chagiya ?”

Kelembutan suara pria itu saat mengucapkan “chagiya” seolah hendak meruntuhkan pertahanan Sulli. Guncangan lembut di bahunya membuatnya perlahan sadar bahwa dirinya tidak sedang berilusi.

“ Aku tidak menangis…” Sulli menjawab terbata-bata. Dengan gemetar jemarinya mengusap wajahnya yang basah. Entah kapan air mata itu menghianati dirinya dan membasahi pipinya.

“ Waktu aku tidak menemukanmu di antara orang-orang itu, kupikir kau kelelahan menungguku dan telah pulang. Maafkan, aku datang sangat terlambat. Tadi ada sedikit permasalahan…”

“ Aku tahu. Roda pesawatmu. Apakah awak pesawat mengatakan itu tadi ? Seberapa banyak kau mengetahui kondisi pesawatmu saat masih di pesawat tadi ?”

“ Umm… mereka memberi tahu kami agar siap-siap melakukan pendaratan darurat. Semua kemungkinan bisa terjadi…”

Senyum angkuh Minho yang dikenal Sulli terlihat agak janggal.

”Tentu saja aku tahu bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja. Aku sangat yakin akan hal itu. Mereka tidak bisa mengelabuiku sama sekali.”

“ Kau benar… aku juga tahu.”

Rasa lega karena telah terlepas dari beban ketakutan yang mencekam, perlahan tapi pasti terangkat juga ke permukaan. Sulli berusaha meluahkan kegundahan hatinya, tetapi air mata itu tak bisa dicegahnya untuk berhenti membasahi pipinya. Apalagi yang bisa dilakukannya ? Jemarinya gemetar saat menyentuh pipi untuk menghapus air mata, detik berikutnya dia sudah berada dalam pelukan erat Minho yang tubuhnya gemetar juga. Saat itu Sulli sadar bahwa lelaki itu juga memiliki ketakutan yang sama.

“ Kukira aku tak akan pernah melihatmu lagi, chagiya…” Bisik Minho parau, di sela-sela rambutnya.

“ Sialan, jangan katakan itu !!” Sulli terkesiap , kalap meninju bahu Minho,” Berani-beraninya kau membuatku setengah mati ketakutan !! Teganya kau, Choi Minho !!”

Pukulannya terhenti ketika Choi Minho menggenggam pergelangannya dengan mantap namun tidak semantap suaranya

“ Aku memerlukan minuman yang sedikit keras…” mendesah, “ Oh Jinri… aku benar-benar membayangkan kematian dan kehilanganmu…”

“ Oh Minho….” jawab Sulli, tak bisa berkata banyak begitu menyadari ketakutan itu masih membekas di dalam matanya.

Itulah Minho, dia jujur dengan perasaannya. Laki-laki yang bisa menunjukkan bahwa dia hanyalah manusia biasa yang juga memiliki rasa ketakutan dalam dirinya. Karenanya tanpa mendesakkan pertanyaan lain, Sulli membawanya ke sebuah kafe yang cukup ramai dan memesam minuman untuk mereka berdua. Menempati kursi yang tersisa, keduanya duduk berhadapan dengan tangan saling menggenggam di atas meja.

Sulli menyapukan tatapannya ke wajah Minho dengan takjub. Benar-benar hatinya merasakan kalau keajaiban telah mengembalikan sahabatnya ke dalam hidupnya lagi. Berpisah tiga bulan membawa perubahan pada lelaki di hadapannya, sepanjang yang diingatnya. Rupanya udara Jeju menempa Minho lebih keras. Kulitnya tampak lebih kecoklatan dibanding tiga bulan lalu, mungkin karena Minho banyak bekerja di lapangan… seperti yang diceritakannya dalam email-emailnya. Rambutnya sedikit lebih panjang, dengan garis rahang yang semakin tajam… menegaskan dia lebih liar dan ganas. Sekilas orang bisa menilai kalau lelaki ini seorang yang sehat, yang menyerap potensi alam lebih banyak dari yang disadarinya sendiri. Jantung Sulli tiba-tiba berdegup kencang teringat pada kengerian yang tadi dialaminya. Dan saat menatapnya sekarang, Sulli menyadari bahwa ada alasan lain mengapa kecemasan dan kemarahan itu bisa muncul di saat bersamaan.

“ Kau… tidak takut akan kehilangan aku, bukan ?” tuding Minho dengan mata menyipit.

“ Ah, yang benar saja !”

“ Aku tahu kau tidak benar-benar ketakutan.” Suaranya mengandung keyakinan yang menjengkelkan Sulli.

Lelaki ini selalu berhasil menarik garis humor dari sebuah peristiwa, bahkan yang nyaris merenggut nyawanya.

“ Aku hanya berfikir, kekacauan memang selalu melekat dalam gaya hidupmu. Aku mungkin bisa menempatkanmu sebagai sumber kekacauan dalam pesawat malang itu. Kau-lah biang keladinya, Minho…”

Sulli mengambil nafas terengah, menahan desakan kemarahan yang tersisa dan kejengkelan yang ditimbulkan dari tatapan geli lelaki di hadapannya. Memangnya dia bisa apa lagi ? Kelegaan yang demikian membuncah telah meluluhlantakkan Sulli, tetapi dengan santainya dia menuding kalau dirinya tidak peduli. Bukankah memang itu yang harus ditunjukkannya karena Minho akan melupakan rasa takutnya sendiri bila Sulli mengikuti arus permainannya.

“ Jika kau bukan pria paling aneh yang kuketahui, jika kau bukan orang yang membuat orang lain khawatir, jika kau bukan pengacau…” kata Sulli meracau

“ Aku ? Pengacau ??” Minho mengamati Sulli dengan senyuman lembut yang tersungging di bibirnya

“ Ya ! Itu julukan yang paling tepat, bukan ?” Balas Sulli ,” Oh ayolah Minho, jangan pandangi aku dengan tatapan polosmu itu. Ijinkan aku mengingatkanmu pada moment pertemuan pertama kita… Sejak kau masuk ke dalam hidupku dengan niat mencurigakan./.. Kau telah menipuku… menipu orang tuaku…semua orang yang…”

“ Hey, menipu itu ungkapan yang terlalu kasar !” sanggah Minho santai.

“ Ya menipu… kau telah membuat hidupku makin sulit setelah menciumku dan membuat keluargaku memiliki ide yang keliru tentang kita. Kau membuat seluruh keputusan hidupku yang tadinya mantap menjadi gamang… dan ohh… masih banyak lagi !!”

“ Kau membuatku merindukanmu, terjaga dari tidur hanya untuk memikirkanmu, dan membuatku sadar atas pilihan hidup yang tak mau kuhadapi…” teriak Sulli di dalam hatinya.

Choi Minho menggenggam jemari Sulli di tangannya ,” Kau benar, mungkin kekacauan melekat dalam diriku… banyak kekacauan yang kubuat pada mereka yang kucintai. Ketika masih berumur tujuh tahun, aku memiliki dorongan kuat untuk berpetualang di tanah peternakan keluarga kami. Tanpa kusadari petualangan itu membawaku terlalu jauh, sampai akhirnya aku menyadari telah tersesat dan tak tahu jalan untuk kembali. Ayahku mengerahkan seluruh pekerjanya untuk menyusuri pulau mencariku. Akhirnya mereka menemukanku dan membawaku pulang dalam keadaan basah kuyup dan kelaparan….”

Sulli melihat jemarinya yang berada dalam genggaman Minho. Merasakan kekuatan dan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya, kekuatan dan kehangatan yang tak pernah dirasakannya dari orang tuanya. Sulli merasakan perlahan-lahan kegembiraan melingkupi hatinya, kegembiraan telah menemukan kekuatan dan kehangatan yang selama ini dicarinya. Tanpa sadar sebuah ketamakan muncul dalam pikirannya, yang menciptakan seringaian konyol di bibirnya.

“ Bodoh kau ! Sadarlah siapa yang sedang berada di hadapanmu… Dia adalah Choi Minho yang dibesarkan di Jeju dan mencintai budaya nenek moyangnya, sebesar kebencianmu pada hal itu …”

Sulli berdehem, mencoba mengabaikan perasaannya ,” Minho, kurasa kita harus segera meninggalkan tempat ini begitu kita selesai minum.” Katanya.

“ Eh, ya… kupikir juga begitu …” Minho menjawab seperti terkejut, wajahnya berubah menjadi merah. Entah apa yang ada dalam pikirannya.

“ Sebenarnya apa yang kau rencanakan di sini dan…berapa lama ?” Sulli berusaha mengubah arah pembicaraan begitu pelayan datang membawa dua gelas minuman.

“ Aku punya waktu beberapa hari di sini. Jadwalku yang terutama adalah mengunjungi langganan kami di sini sebagai bentuk apresiasi kami terhadap kesetiaan mereka menggunakan produk kami, menampung keluhan mereka, dan mungkin melihat prosfek ke depannya. Yaa… seperti membuat pelanggan senang !” Minho berhenti, menggembungkan pipinya ,” Kemudian aku juga akan mengunjungi beberapa kota San Francisco, Los Angeles, Dallas, mungkin diakhiri di Washington…siapa tahu.”

“ Sepertinya kau akan sangat sibuk.”

“ Ya, akan sibuk sekali.”

“ Apakah… kau akan langsung pulang ke Korea setelah mengunjungi kota terakhir , ataukah akan kembali ke New York ?” tanya Sulli setengah berharap.

Minho menatap Sulli beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab ,” Entahlah…”

“ Belum jelas, huh ?”

Minho tidak menjawab, seraya menunduk memandangi gelas yang diputar-putar di jarinya. Dia mengangkat wajahnya, dan tatapannya langsung ke mata Sulli. Meneguk minuman terakhirnya , “ Apa kau punya waktu untuk menemaniku makan malam hari ini ?”

Sulli menahan diri untuk tidak segera menjawab ,” Kurasa bisa…” katanya berusaha mengucapkannya dengan nada yang tidak memperlihatkan keantusiannya sama sekali, padahal sejak minggu lalu dia telah mengosongkan segala rencananya untuk hari ini.

“ Kalau begitu kita bertemu di bar hotel pukul delapan.”

“ Baiklah….”

=======TBC=======

 BLOG SEPI… GRUP JUGA SEPI…

Menghitung hari baby Ssull akan ulang tahun….

.

Advertisements

51 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 14)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s