THE runaway BRIDE (Part 15)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

14. Keputusan yang Benar

.

.

Malam itu Sulli sampai di bar beberapa menit lebih awal. Walaupun sangat menggelikan, dia mempersiapkan hampir sebagian harinya untuk tampil prima. Sebuah rok longgar bercorak abstrak dengan warna yang kontras dengan kulitnya dipadan sandal jepit flat berwarna senada, menjadi pilihannya. Rambutnya dibiarkan terurai. Kesan santai yang ingin ditampilkannya untuk menyiasati keresahan dan ketegangan sepanjang siang itu, membuatnya berharap akan menularkan hal yang sama pada teman dinnernya.

https://minsulfanfics.files.wordpress.com/2016/03/7e4b0-sulli.jpg?w=258&h=320  

Minho juga tampil mempesona, mengenakan kemeja yang seolah dijahit khusus untuknya. Terlihat begitu pas, begitu tepat berada di antara puluhan orang berkulit putih. Bahkan dengan rambutnya yang hitam dan garis wajah asia-nya, dia tampak memukau dan menonjol.

Perhatian Sulli seperti tersedot oleh kehadirannya.

Memandang sosok Minho membuat detak jantung Sulli bertambah cepat,.

” AH… ini normal. Setelah teror pesawat tadi siang… setelah kecemasan yang demikian menakutkan…Emosiku jadi sedikit kacau karena itu. Semua akan mereda dan membaik seiriong berjalannya waktu.” Pikir Sulli menghibur dirinya sendiri.

Tetapi pada kenyataannya dia tak berdaya untuk mencegah jantungnya yang berdetak semakin cepat tatkala melihat Minho melemparkan senyumnya yang paling menawan ke arahnya. Sulli dengan gugup berdiri untuk menyambutnya, sementara pikirannya bertanya-tanya kapan terakhir kalinya dia menjadi gugup dan salah tingkah saat akan dinner dengan seorang pria.

” Hai Jinri…” Minho memeluknya sekilas, pelukan persahabatan,” Maaf membuatmu menunggu.”

” Tidak juga… aku baru saja sampai.” Kata Sulli berbohong, melupakan fakta bahwa dia sudah duduk hampir sepuluh menit di sana.

Dengan gerakan anggun, Minho menarik kursi dan segera duduk setelah melihat Sulli duduk di kursinya.

” Kau terlihat cantik…” puji Minho dengan mata berbinar menatap wanita di hadapannya.

Sulli menggeleng dan mendesah, membuat Minho sedikit berkerut.

” Apa ? Apa yang salah ? Apa yang telah kukatakan ?” katanya cepat dan khawatir.

” Kau kedengaran seperti pria-pria lainnya. Aku tak mau kau melakukan hal itu.”

” Kalau begitu… aku tidak akan melakukannya lagi.” Jawab Minho dengan suara tegang.

” Aku telah memesankan anggur terbaik di sini, mungkin kita memerlukannya setelah ketegangan yang kita alami tadi siang.” Kata Sulli ramah, tersenyum kepada pelayan yang menyajikan dua gelas anggur di hadapan mereka.

” Aku tak tahu kalau pelayanan di sini begitu cepat.” Gumam Minho.

” Itu karena aku menjadi bagian dari restoran dan hotel ini.” Sulli berusaha menjelaskan dengan alis sedikit terangkat ,” Semacam pelayanan istimewa…. Kau tahu, kami banyak menjamu klien di restoran ini. Jadi…. well Minho, kau adalah klien hotel ini sejak tiga bulan lalu.”

Sulli berdehem, berusaha menyingkirkan sumbatan di tenggorokannya. Diam-diam berharap agar Minho tidak mengetahui alasan yang begitu dibuat-buat tersebut. Karena pada kenyataannya dia telah berpesan kepada salah satu pelayan yang dikenalnya untuk segera menyajikan anggur terbaik apabila teman dinnernya telah datang.

” Oh… saya merasa begitu terhormat, nona Jinri.” Minho menggodanya, membuat Sulli tersenyum lebar.

Setelah mereka sama-sama mencicipi anggur, tiba-tiba Minho menatapnya dengan tajam dan tanpa berkedip. Hal itu membuat Sulli menjadi salah tingkah.

” Sekarang, jelaskan padaku tentang perkataanmu “ seperti pria-pria lainnya” . Sebagai sahabat dan abang yang baik, aku menuntut untuk diberi tahu sampai detail.”

” Ohh… aku melalui banyak kencan dan kalimat pujian itu gaya yang terlalu umum. Juga sedikit… biasa?”

” Melalui banyak kencan ?” Minho menaikan sebelah alisnya ,” Apakah Rod tidak keberatan ?”

” Sama sekali tidak.”

Minho menatap Sulli dengan tatapan bertanya-tanya, kemudian bertanya hati-hati.

” Kalian tidak dalam masalah, bukan ? Ataukah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian… yang hanya bisa disampaikan secara face to face seperti yang pernah kau ucapkan ?” Minho kembali berdehem , ” Kalian sudah bertunangan…?”

” Aku kan sudah bilang tidak !”

” Ya sih… tetapi kau sangat misterius. Jadi ceritakanlah apa yang terjadi , jangan membuatku menebak-nebak seperti ini.. “

Bibir Sulli berkedut, menahan senyum , ” Pertama, aku ingin mengatakan bahwa Rod telah memberiku ini.”

Sulli menarik kalung pemberian Rod dan memamerkannya dengan bangga pada Minho.

” Tentunya harganya ratusan dolar !” dengus Minho kesal, berusaha meredam rasa cemburu yang tiba-tiba memenuhi dadanya.

” 986 dollar tepatnya.” Jawab Sulli.

” Oh ya ?” Nada bicara Minho terdengar kesal dan sarkastis, “Dan kau bilang kalian tidak bertunangan ?”

” Sebenarnya…. ini semacam hadiah perpisahan sekaligus permohonan maaf.”

” Apakah dia selingkuh ? Atau dia memutuskanmu karena punya pacar lain ?”

” Dia selalu punya pacar lain… Aku baginya selama ini hanyalah “topeng” untuk mengelabui dunia. Sampai akhirnya… “

” Kurang ajar !”

Minho benar-benar marah mengetahui seorang pria telah menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik Sulli.

“… dia mempertaruhkan harga dirinya untuk mengakui kebenarannya pada dunia.” Sulli tersenyum nakal.

” Jinri, aku tidak mengerti… bagaimana kau bisa menerimanya ?”

” Dia malam itu berkata : ” Jinri, aku sudah bertemu pacar lain yang sangat baik. Dia menerima dan memahamiku apa adanya. Namanya James ….Jimmy…”

Minho melongo, kemudian menutup wajahnya… berusaha mengendalikan diri. Tetapi usahanya gagal, karena detik berikutnya dia sudah terbahak-bahak.

Sulli ikut tertawa bersamanya, sementara dia merenungkan kembali keseriusan Rod saat mengatakan hal itu kepadanya.

” Aku tahu, kau akan memaafkanku sweety… karena aku bisa melihat dengan jelas bahwa kau telah jatuh cinta kepada Choi Minho. Kau memaafkanku untuk semua yang telah kulakukan kepadamu, bukan ?”

” Kau tidak bercanda, kan ?” tanya Minho setelah berhasil menghentikan kegeliannya.

” Tidak. Sekarang… setelah kupikir baik-baik… caranya mendekatiku memang terkesan hanya sandiwara dan dia adalah pelakon yang sangat baik. Dia romantis tetapi tak pernah berusaha untuk berbuat intim…” Sulli menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah saat mengatakan itu ,” Aku nyaris tak memperhatikannya. Tadinya aku pikir dia adalah pria yang sopan dan konservatif. Aku tak menyangka kalau dia seperti itu.”

Sulli menengadahkan wajahnya dan mendapati Minho sedang menyeringai sambil menatapinya dengan cara yang membuat pori-porinya merinding.

” Ada apa kau menatapku seperti itu ?”

.

Minho Pov

Kejutan menggelikan ini dengan caranya sendiri membuatku begitu gembira. Sulli tidak bertunangan dengan Rod, dan terlebih lagi Rod adalah seorang gay. Demi apa, aku telah cemburu pada orang yang sebenarnya tidak perlu kucemburui. Ini konyol !!

Dan sekonyong-konyong aku seperti mendengar kicauan burung bernyanyi dalam kepalaku. Aku merasa seluruh darahku berdesir saat melihat sikapnya yang menggemaskan.

Tak sia-sia aku datang menempuh jarak ribuan kilometer.

Tak sia-sia aku diuji dengan mempertaruhkan hidup dan matiku di atas pesawat.

Tentu saja itu sebanding dengan apa yang kudengar darinya.

Sulli bukan tunangan siapa-siapa.

Sulli adalah seorang wanita lajang yang bebas.

Apakah ini sebuah pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja ?

Apakah aku bisa meruntuhkan prinsip hidupnya untuk tidak membenci pria Korea ?

Apakah aku bisa membuatnya tertarik padaku dalam waktuku yang singkat di Amerika ?

Bisakah ?

Tiba-tiba Sulli mengangkat wajahnya. Dia memang terlihat luar biasa malam ini.

Luar biasa dan… lajang !

” Ada apa kau menatapku seperti itu ?”

Oh Tuhan !

Memangnya bagaimana caraku menatapnya ? Apakah dia bisa melihat apa yang kupikirkan dari wajahku ? Sial !! Aku seharusnya selalu mengingat kata-kata Yoona bahwa raut wajahku bisa terbaca dengan mudah kalau sedang menyimpan emosi apapun ! Apakah dia telah tahu ?

” Nggak kok…”

Aku gugup , dan segera mencoba menyembunyikan kegembiraan konyol itu agar tak terlihat di wajahku. Kuharap ini bisa berhasil.

Untuk mengalihkan perhatiannya, aku meraih gelas anggur dan mengacunkan ke arahnya.

” Mari kita bersulang untuk ujianmu yang sukses !”

Dan untuk putusnya kau dengan Rod. Untuk terbebasnya kau dari pria mana pun di dunia ini kecuali aku.

Sulli mengangkat gelas anggurnya, kemudian melakukan toast dan meminumnya dengan perlahan. Gerakannya terlihat sangat anggun dan membuat jantungku berdetak lebih cepat.

” Terimakasih, Minho. Aku sangat berutang segalanya pada Tansun. Dia hadir dan menyaksikan bagaimana aku mempresentasikan semuanya di depan juri. Aku melihatnya… dan merasa seolah-olah kau hadir di sana dan memberikan semangat…”

Sulli tersenyum dengan senyuman yang lebih indah daripada bayangan-bayangannya yang menghantui tidurku selama ini. Suaranya seperti irama biola yang langsung menggesek hatiku, membuat perasaanku melambung. Dia membawa boneka teddy itu dan mengasosiasikannya dengan keberadaanku… Jika Tansun begitu berarti baginya, apakah tidak menutup kemungkinan dia menganggapku sangat berarti buatnya ?

End of Pov

.

.

” Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa kepikiran untuk memberikan boneka kepadaku ? Para pria biasanya bersikap konvensional untuk memberi ucapan selamat…”

” Bersikap konvensional ?”

” Bunga-bunga….?

” Kau tahu, aku terkadang sering berbuat sesuatu yang orang lain tidak lakukan…” erang Minho.

” Tapi aku suka kau memilih tansun. Setidaknya dia sekarang masih ada di dalam kamarku, dan tidak meringkuk di tong sampah karena layu dan busuk.”

Minho tersenyum kikuk, membuat Sulli tertawa… merasa takjub dengan perasaan hangat yang menyebar dalam dirinya. Minho terlihat sangat manis… terlalu manis untuk laki-laki dewasa dengan ukuran tubuh seperti dia.

” Ah… ini dia hidangan pertama !!” Sulli berseru gembira ketika Edward datang membawakan nampan berisi makanan Korea yang mulai akrab dengan lidahnya.

Minho terkejut ,” Bagaimana bisa ? Kita belum memesan apapun !”

” Aku yang memesan. Kau jangan takut, ini adalah makanan pavoritku di sini. Dagingnya diambil dari peternakanmu. Setidaknya, saat memakan ini kau akan merasa berada di rumah.”

” Bersamamu, aku merasa di rumah Jinri…” gumam Minho.

” Maaf…?” Sulli mencondongkan tubuhnya

” Bukan apa-apa….” kata Minho ,” Baiklah, kalau begitu mari kita cicipi hidangan pilihan nona Choi Jinri…”

Setelah itu semua berjalan lancar. Tak ada lagi percakapan yang melibatkan unsur pribadi. Mereka berbicara tentang masalah umum, masalah hotel, masalah peternakan dan produksi daging yang diekspor dari Korea. Masalah tentang prosfek kerja sama yang sedang direncanakan, yang membuat Minho berubah menjadi demikian serius. Melihat hal itu, Sulli berkali-kali mengingatkan dirinya bahwa Minho datang ke Amerika bukan untuk dirinya tetapi untuk kerjasama itu. Hanya untuk itu !!

Ketika mereka berdiri dan berjalan meninggalkan meja, Sulli menyadari hari sudah mendekati tengah malam. Bagaimana mungkin makan malam berlangsung sampai begitu larut ? Pantas saja, restoran itu hampir kosong ketika mereka meninggalkan meja dengan enggan.

” Kau membawa mobil ?” tanya Minho, berdiri di teras hotel.

” Tidak, aku takut kalau minum terlalu banyak. Beberapa dinner-ku dengan pria lainnya… membuat kepalaku melayang-layang.” Kata Sulli sambil tertawa ringan ,” Tetapi jangan takut, aku punya sopir taksi langgananku.”

” Kalau di Korea, aku akan mengantarkanmu hingga pintu rumahmu. Bagaimana pun ini sudah larut. “

Minho memasukkan tangannya ke dalam saku celana, mencoba menahan diri untuk bisa menyentuh Sulli… karena dia tahu, sekali menyentuhnya dia tak akan bisa melepaskannya.

” Aku tidak tahu kalau pria Korea punya kepedulian seperti itu pada wanita.”

” Aku dan keluargaku punya kepedulian yang lebih buat kaum wanita.” Kata Minho.

Sulli tersenyum dan menahan nafas saat matanya bertemu dengan mata Minho, yang memancarkan sesuatu yang membuat pikirannya melayang pada masa itu…. malam di depan apartemen orang tuanya, di saat mereka berbagi ciuman dengan penuh nafsu. Sulli merinding saat tubuhnya seolah merasakan kembali bagaimana hangatnya pelukan Minho, dan bagaimana panasnya bibir pria itu saat menciumnya.

Seandainya malam pertama itu mereka tidak berbagi ciuman, mungkin imajinasi Sulli tak akan seliar sekarang. Tetapi Sulli bertekad untuk mengendalikan dirinya. Apa pun yang terjadi malam itu, itu sudah terjadi dan hanyalah masa lalu. Dan seandainya dia sering mendambakan pria itu sejak malam itu, itu bukan masalah siapa pun kecuali masalahnya sendiri.

Keheningan mencekam, dari cara menatapnya Sulli tahu kalau arah pikiran Minho dan dirinya adalah sama. Segala yang selama ini berusaha mereka ingkari, terpancar jelas dalam tatapan dan raut wajah mereka.

” Sepertinya kita punya masalah….” desah Minho pada akhirnya.

‘ Yah … Well, kau tahu kan… perasaan seperti itu bisa datang… apalagi setelah kejadian teror pesawat itu. Itu normal Minho, kita jadi seolah-olah takut kehilangan satu sama lain dan itu menumbuhkan….”

” Kau benar, kecuali kita mengijinkannya… supaya perasaan itu benar-benar tumbuh….”

” Sejak awal kita sudah sepakat untuk berteman…” Sulli bergumam, mengingatkan diri dengan keras.

” Umm yeah.. well… aku minta maaf kalau…. Aku hanya berfikir…”

” Untuk menggunakan akal sehat dan tidak membiarkan semuanya ke luar jalur.” Potong Sulli cepat ,” Tidak akan kubiarkan hal itu merusak persahabatan yang kita miliki.”

Minho menarik nafas panjang, membenamkan tangannya semakin dalam,” Yaah… tentu saja.”

Entah mengapa Sulli merasakan kekecewaan dalam dirinya, dan seolah mendengar nada kekecewaan juga dalam suara Minho. Tetapi dia tak mau memikirkannya terlalu jauh.

” Well, itu dia taksinya.” Katanya lega … atau kecewa .. entah… ,” Baiklah, sampai jumpa besok , bila beruntung …” Sulli tersenyum, kemudian berjalan masuk ke dalam taksi.

” Benar bila beruntung…” gumam Minho…. menganggukkan sedikit kepalanya kemudian membalas lambaian tangan Sulli.

Melihat mobil taksi itu menjauh, Minho merasa sebagian dirinya ikut terbawa. Dia sudah berusaha, dan Sulli sudah menegaskan bahwa mereka hanya bersahabat. Tidak bisa lebih dari itu.

Tiga hari di New York yang sangat berharga, yang sudah dinanti-nantikan dengan penuh antusias sepertinya berlalu dengan mengecewakan, nyaris tidak meninggalkan kesan. Jadwal Minho benar-benar padat. Telepon genggamnya nyaris tidak berhenti berdering. Acara kunjungannya ke beberapa restoran yang telah menjadi pelanggan lamanya dilakukan dalam kunjungan-kunjungan singkat. Beberapa pelanggan baru mendapatkan perlakuan yang lebih, berisi negosiasi yang alot. Mungkin Sulli dan Minho bisa menikmati pertemuan yang lumayan lama ketika terjadi makan malam dengan Rod dan pacar barunya. Dalam kesempatan itu, Minho bersikap benar-benar mengagumkan. Dia berbicara seolah-olah tak mengetahui rahasia besar Rod, yang hanya Sulli yang tahu.

Dan kebersamaan terpanjang adalah pada malam terakhir Minho berada di New York. Tetapi itu adalah malam yang penuh dengan ujian dan siksaan… yaitu makan malam dengan keluarga besar Choi Sulli. Minho melakukan itu sebagai tugas utama dari ibunya untuk menyampaikan salam kepada mereka. Selama di rumah Sulli, Minho harus menebalkan kulit muka dan telinganya. Dia terus-menerus mendapatkan sindiran yang tajam dari keluarga Sulli, terutama dari ayahnya dan saudara laki-laki ayahnya. Sindiran yangn bisa membuat telinga yang mendengarnya memerah.

Sulli benar-benar tak enak mengetahui itu, terutama dalam hal ini dia memiliki andil yang cukup banyak. Karena itulah, ketika pada akhirnya mereka meninggalkan tempat itu dan duduk di dalam taksi… Sulli berkali-kali meminta maaf atas perlakuan keluarganya terhadap Minho.

” Aku minta maaf….” desah Sulli dengan mata terpejam, putus asa.

Minho melonggarkan dasinya, mencoba menghirup udara kebebasan sebanyak-banyaknya. Melihat dan mendengar sendiri, bagaimana keluarga Sulli menggunakan kata-kata mereka untuk membuat orang lain merasa kerdil dan tak berguna…. dia sangat memahami mengapa wanita di sampingnya bisa membenci keluarganya sendiri. Tetapi sangat tidak bijaksana bila dia mempertajam kebencian itu dalam diri Sulli.

” It’s okay Jinri….” katanya menenangkan.

” Maaf…maaf…maaf !! Oh Minho, aku benar-benar tak tahu harus bicara apa untuk membuatmu memaafkan keluargaku. “

” Tidak masalah. Pada pertemuan pertama, aku telah mendapat sambutan yang luar biasa. Dan untuk pertemuan sekarang, aku mendapat kejutan yang luar biasa. Tetapi dari dua kejadian yang bertolak belakang itu, aku jadi mengetahui keluargamu dari dua sisi. Dengar, setidaknya aku bisa memahami keluargamu dengan lebih utuh… tidak seperti gambar dalam artefak mesir kuno yang hanya dilihat dari satu sisi. Ngomong-ngomong, kalau melihat keluargamu seperti gambar dalam artefak kuno itu… tentunya sangat menggelikan bukan ? “

Minho menggerak-gerakkan alisnya untuk menggoda .

Sulli menatapnya dengan tak percaya.

” Bagaimana bisa kau menarik lelucon dari keadaan yang mirip neraka itu, Minho ? Kau benar-benar laki-laki kompleks paling konyol yang kukenal.” Batin Sulli.

” Kau benar-benar berhati mulia, Minho. Seandainya ada yang bisa kulakukan untuk menebus kekurang ramahan keluargaku…”

” Well, setidaknya kau bisa mentraktirku segelas minuman ?”

Sesuatu dalam benak Sulli berdering…. memperingatkan agar dia menolak pemintaan itu. Ini sudah larut dan situasi hatinya sedang lemah. Pertahanannya untuk bisa bersikap ajeg yang selama beberapa hari ini berusaha ditegakkannya, bisa ambruk setiap saat. Minho mendatangkan pengaruh yang demikian besar, yang sejak awal sudah disangkalnya. Dan sekarang dalam keadaan yang goyah… dia tak tahu apakah bisa bertahan dibalik topeng persahabatannya lagi atau tidak.

” Apa pun yang kau inginkan, Minho !!”

Mereka memasuki klab malam yang dimiliki hotel, yang kebetulan malam itu menampilkan grup musik jazz lokal. Tempatnya cukup gaduh dengan pengunjung yang lumayan banyak. Mereka memutuskan untuk duduk di meja agak pojok dengan pencahayaan lampu yang temaram. Beberapa menit berusaha untuk ngobrol, akhirnya mereka menyerah karena tempatnya terlalu bising. Akhirnya mereka memutuskan untuk berdansa dengan diselingi gurauan, dan berhenti setelah badan mereka berkeringat.

” Ini benar-benar hebat. Setelah tiga hari penuh bekerja seperti kesetanan… aku benar-benar membutuhkan ini !!” kata Minho sambil mengipas-ngipas tubuhnya sambil mengatur nafas.

Sulli duduk di depannya, lutut mereka nyaris beradu. Darahnya masih berdenyut liar di dalam nadinya, dan Sulli merasakan dirinya benar-benar lepas.

Dari temaramnya lampu yang kerlap-kerlip, dari dekat Sulli bisa melihat Minho dan binar matanya. Diam-diam Sulli menatapi pria itu, merekam setiap bagian wajahnya… menyimpannya untuk dikenang… mungkin selama berminggu-minggu…atau berbulan-bulan… yang pastinya harus dilaluinya sendirian. Tiga hari ini sangat melelahkan baginya. Tiga hari dia melakukan penyangkalan terhadap sesuatu yang telah dirasakannya di bandara. Berpura-pura bahwa semua itu tidak benar dan tidak akan ada dalam kehidupannya di masa depan. Choi Minho adalah pria Korea, dan tak ada satu pun pria Korea yang akan masuk ke dalam lembar kehidupannya yang sudah direncanakannya dengan rapi.

Tiba-tiba Minho menunduk dan mata mereka bertubrukkan. Api seolah-olah menyemburdi antara keduanya.

” Aku akan berangkat besok pagi-pagi sekali.” Kata Minho dengan suara keras untuk meningkahi suara musik,” Aku pasti sudah pergi sebelum kau ada di hotel.”

” Aku tahu. Jadi kau ingin mengucapkan selamat tinggal sekarang ?”

” Ya….”

Gelombang kesedihan dan kerinduan tiba-tiba melanda Sulli, membuat hatinya perih. Dia hampir tak bisa menahan air matanya, saat tangan Minho meraih jemarinya dan mendekatkan ke bibirnya. Tekanannya begitu kuat, Sulli merasakan pertahanan dirinya sedikit-demi sedikit meleleh. Dan tanpa disadarinya, topeng yang selama ini dikenakannya terbang entah ke mana. Dengan jiwa telanjang yang jujur, dia menatap Minho dengan penuh kerinduan.

” Sulli…” bisik Minho, menyebut nama yang sangat dibencinya ,” Sulli…” suaranya parau

” Jangan… ” bisik Sulli

” Aku…”

” Ya, aku tahu. Tetapi ada hal-hal yang akan lebih baik bila tidak diucapkan. Karena kalau kita mengucapkannya, kita mungkin akan kehilangan segalanya…”

” Atau justru memperoleh segalanya ?” tanya Minho lembut.

Sulli menggeleng , Minho mendesah putus asa.

” Well, kurasa kau benar.” Kata Minho enggan ,” Aku hanya sedang berusaha meminta saran seorang sahabat bahwa aku…”

” Dan sahabatmu akan menyarankan untuk tidak merusak persahabatan yang kalian miliki. Itu adalah hal paling berharga yang pernah dia miliki.” Potong Sulli cepat.

Seandainya malam itu Minho tidak menciumnya, Sulli mungkin akan lebih mudah mengatasi segalanya tanpa kenangan bibir Minho membakar bibirnya dengan cara yang tidak pernah ia dapatkan dari pria mana pun…sebelum bahkan sesudahnya. Tubuhnya bereaksi secara naluriah terhadap sentuhannya. Dengan liar menginginkan lebih dan lebih lagi. Jelas, dia menginginkan pria itu.

“Kurasa, kita harus segera berpisah,” kata Sulli dengan suara tegang ,” Kau harus segera beristirahat agar besok tiadk terlambat. Aku tidak mau kau ketinggalan pesawat hanya karena keegoisanku.” Canda Sulli.

” Kurasa kau benar….” jawab Minho, dia bisa menebak mengapa Sulli berusaha melarikan diri. Tentunya karena dia telah melihat nafsu dan keinginan di wajahnya…wajahnya begitu mudah dibaca, kan ?

.

.

Dengan diam, akhirnya mereka berjalan menuju lift yang akan membawa mereka menuju pintu hotel. Lobi kosong, kemudian keduanya melangkah memasuki lift. Begitu pintu lift tertutup, Minho merangkum wajah Sulli dengan jemarinya dan mencium bibir gadis itu penuh perasaan.

” Aku tidak bisa melakukan ini di lobby . ” ucap Minho serak ,” Sementara aku benar-benar ingin menciummu. Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal sekarang… tidak sekarang…”

Sulli membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi Minho kembali melumat bibirnya lagi dengan ciuman yang mendesak, yang menggiring imajinasi Sulli ke arah kemungkinan yangn bisa terjadi di antara mereka.

” Kami cuma berteman…” batin Sulli, mencoba menahan diri ,” …hanya berteman…”

Tetapi gairah mengalir deras ke seluruh tubuhnya, seolah menertawakan kata-katanya sendiri. Sulli ingin Minho menyentuhnya, seperti dia menginginkan menyentuh pria itu. Rasa mendamba itu demikian mendesak sehingga Sulli nyaris merasakan tangan Minho mengelus tubuhnya dengan intim, membangkitkan hasrat liarnya. Sensasi itu nyaris mematahkan kendali dirinya. Sementara tangannya melingkar di leher Mino, sambil berdoa agar akal sehatnya bisa kembali.

Tetapi akal sehatnya sudah kabur begitu ciuman pertama terjadi. Dengan liar tubuhnya menempel erat dan mendesak tubuh Minho, sampai laki-laki itu mengerang.

.

Tiba-tiba lift berhenti.

,

Keduanya memisahkan diri begitu menyadari pintu lift terbuka. Beberapa orang melangkah masuk, menghilangkan moment ajaib itu. Keduanya segera melangkah ke luar dan saling menjauh. Di bawah lampu benderang di depan meja resepsionis mereka mengucapkan salam perpisahan dengan kaku.

” Selamat tinggal Tuan Choi…” Sulli mengulurkan tangannya dan menjabat dengan sopan.

” Selamat tinggal nona Choi Jinri. Aku benar-benar berterima kasih atas bantuanmu selama aku di sini.”

” Dengan senang hati. Tolong hubungi aku akalu kau butuh sesuatu. Aku pasti akan melakukannya.”

” Terimakasih. Aku pasti melakukannya.”

Lalu Minho berbalik, dan berjalan menuju kamar hotelnya. Sulli menatapi kepergian pri itu dengan hati pilu. Dia sadar, setelah hari ini mungkin dia tak akan bertemu lagi dengannya untuk batas waktu yang dia sendiri tidak tahu. Dia akan merindukannya… tetapi dia tak menyesali semua tindakannya. Choi Minho hanya melakkan perjalanan bisnisnya, setelah itu dia akan kembali ke Korea. Ke tempat yang dia tak ingin kunjungi, jadi tak mungkin dia ikut dengannya ke sana. Lagi pula, dia tak akan mengajaknya bukan ?

Jadi Sulli merasa bahwa keputusannya untuk menahan diri itu benar. Setidaknya dia tidak mejerumuskan dirinya ke dalam kesalahan yang mungkin akan disesali seumur hidupnya. Tetapi mengapa… mengapa keputusan yang benar itu bisa terasa begitu menyakitkan

.

.

.

========tbc=========

 

Advertisements

54 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 15)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s