THE runaway BRIDE (Part 16)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

16. Ya !!

Sulli mengetuk-ngetuk buku perjalanannya dengan tak sabar. Ada antrean panjang di meja resepsionis dan ia harus melalui antrean itu untuk segera menempati kamar hotel yang telah ia booking untuk tiga hari mendatang. Sambil mengipasi tubuhnya, Sulli bertanya-tanya apakah bijaksana dia muncul di tempat tersebut dengan tanpa memberitahu Minho terlebih dahulu?

Ini benar-benar perbuatan nekat, tetapi hanya inilah yang bisa dilakukannya untuk bisa membantu sahabatnya selama di Amerika. Untunglah dia belum menggunakan hak cutinya, sehingga langsung ,meminta ijin kepada Rod untuk bisa mengunjungi Los Angeles. Dan begitu menceritakan tujuannya ke LA untuk menemui Choi Minho, Rodney langsung tersenyum dan memberinya izin. Bukan itu saja, dia membelikan tiket untuknya. Sulli merasa Rod benar-benar memahaminya…bahkan mungkin berharap kalau hubungannya dengan Minho lebih dari sekedar teman.

Sudah 3 minggu sejak Choi Minho meninggalkan NYC untuk berkeliling di Amerika, dalam kunjungan bisnisnya. Komunikasi mereka tidak pernah terputus. Biasanya Minho akan meneleponnya malam-malam sebelum dia pergi tidur. Mereka akan menghabiskan waktu setengah sampai satu jam untuk bercakap-cakap mengenai apa yang sudah dilakukan sepanjang hari, juga tentang bagaimana Minho menghabiskan waktunya untuk mengenal Amerika dan seluk beluk bisnisnya. Bila pagi atau siang, akan selalu muncul email… yang mungkin ditulisnya di tengah-tengah kesibukan pekerjaannya. Dan entah bagaimana, Sulli sudah menjadikan hal-hal itu sebagai kebiasaan barunya. Waktu menunggu email dan telepon dari Minho seperti menjadi saat-saat berharga yang menjadi waktu pavoritnya.

Dan pagi tadi dia menerima email yang cukup panjang.

“… Hari ini aku akan menemui calon mitra bisnis baru di LA. Aku pernah bertemu dengan mereka dua hari yang lalu. Mereka calon pelanggan yang potensial karena memiliki tidak kurang dari lima restoran yang cukup besar. Hanya saja Jinri, mereka adalah suami istri yang kolot… kurasa mereka meragukan kapasitasku sebagai “pria yang layak”, karena menurut mereka seorang pria yang layak untuk dijadikan mitra bisnis adalah yang sudah berkeluarga dan menunjukkan tanggung jawab bagus pada keluarganya. Mereka agak kecewa saat kukatakan kalau aku masih lajang, tetapi kemudian mereka menawarkanku untuk diperkenalkan dengan keponakan mereka. Aku tak tahu… mungkin karena ambisiku yang kekanak-kanakan… aku mengatakan kalau sekarang aku sedang menjalin hubungan serius dengan seseorang yang bekerja di Amerika. Aku minta maaf karena menyebut namamu, sebab aku tak bisa mengingat nama lain untuk menutupi kebohonganku. Aku hanya berharap, hari ini mereka tidak mempertanyakanmu…. “

Waktu membacanya, ada semacam lonjakan kesenangan dalam darahnya. Dan ide nakal itu langsung muncul, untuk memberikan kejutan padanya sekaligus untuk membantunya…

“…Setidaknya dengan ini, aku bisa membayar rasa bersalahku atas perlakuan keluargaku kepada Minho….” batin Sulli, walaupun ia tahu itu adalah alasan yang tidak jujur.

Selama tiga minggu belakangan ini, Sulli sering membayangkan Choi Minho ketika dia bercerita tentang kota-kota yang dikunjunginya. Saat dia bercerita tentang kunjungannya ke Texas, Sulli membayangkan Minho mengenakan baju koboy dengan topi runcing dan duduk dengan gagahnya di atas kuda hitam mengkilat. Ketika dia bercerita tentang pantai, Sulli membayangkan Minho berada di pantai dengan topless, memperlihatkan bahunya yang lebar dan perutnya yang rata. Dia berani bertaruh, kemunculannya di pantai akan memancing perhatian para wanita di sekitarnya… apalagi dengan wajah Korea-nya yang khas. Dan semua banyangan-bayangan itu menggelikan dirinya.

Sulli bergerak maju, mendesah lega ketika tinggal seorang yang berada di depannya. Berarti dalam waktu dekat, dia bisa beristirahat sejenak di kamarnya sebelum menemui Minho … dia berencana mungkin akan menemuinya di restoran hotel saat makan malam. Sulli tersenyum saat membayangkan bagaimana reaksi lelaki itu bila nanti melihatnya.

Tiba-tiba ia melihat Minho.

Apa yang ada di depan matanya, begitu mirip dengan apa yang ada dalam khayalannya., sehingga untuk sesaat dia menahan nafas dan mengira dirinya tengah berkhayal.

Minho muncul dari sebuah pintu mengenakan baju kemeja yang kancing atasnya tidak dikancingkan. Dia mengenakan celana pendek yang longgar. Sosok maskulinnya semakin jelas, kulitnya terlihat lebih cokelat dibandingkan kulit seorang gadis berambut pirang yang menggelayut manja di lengannya… seperti siput yang sedang berusaha memanjat sebatang pohon… terlalu…. menempel !

Gadis itu masih sangat muda, mungkin masih di bawah 20 tahun. Rambut pirangnya mengikal dengan nakal, tubuhnya sintal dan berlekuk…jelas dia tak berusaha menyembunyikan “kemolekan” yang dimilikinya itu. Setiap melangkah, pinggulnya yang bulat berisi bergoyang sangat menggiurkan. Sementara payudaranya yang penuh hanya tertutup sedikit kain. Cantik dan seksi.

Sulli yang di perjalanan tadi tertidur, kemudian baru turun dari pesawat tanpa ada kesempatan untuk mandi dan berganti baju… merasa dirinya benar-benar kumal, layu, dan beranjak sepuluh tahun lebih tua. Refleks dia mengusap rambutnya yang lengket karena keringat, menarik nafas panjang begitu menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu tak akan mengubah apapun dari penampilannya saat ini.

Minho dan gadis muda itu sepertinya baru kembali dari kolam renang hotel. Ini tampak dari dandanan gadis itu yang mengenakan sedikit kain transparan untuk menutupi bikini merah menyala yang dikenakannya. Sulli mencoba menarik nafas sedalam-dalamnya, menyadari kekesalan yang menyerang hatinya. Dari cara gadis itu bergelayut dan berbicara dengan Minho, jelas sekali mereka sudah akrab dan sepertinya gadis itu ingin memamerkan pada dunia bahwa dia telah mengklaim Choi Minho sebagai miliknya.

Tiba-tiba muncul penyesalan dalam diri Sulli atas aksi nekatnya datang ke tempat itu. Tetapi dia juga marah, karena Minho sama sekali tak pernah menyinggung keberadaan gadis pirang itu dalam email atau percakapannya di telepon.

“Dasar lelaki, dimana-mana sama saja… begitu melihat gadis cantik, mereka tak bisa melepaskan mata dan tangannya dari mereka.” Pikir Sulli dengan sinis.

Sulli menunduk, mengenakan kaca mata hitamnya dan berusaha mengatur rambutnya untuk menyembunyikan wajahnya. Minho tak boleh tahu dia berada di sini. Mungkin setelah menghabiskan tiga hari berlibur di pantai Los Angeles yang terkenal, dia akan kembali ke NYC tanpa harus memberitahunya… tanpa harus menemuinya.

“Persetan dia dengan semua transaksi bisnisnya !!” maki Sulli dengan geram, dalam hatinya.

Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Sulli berbalik… melihat berkeliling untuk mencari tempat bersembunyi sampai Minho menghilang dari ruangan itu. Sekali lagi dia bertekad agar Minho tak mengetahui ketololannya dan kehadirannya di LA hanya untuk membantunya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana pria itu akan besar kepala karena reaksi impulsifnya. Tetapi dengan penampilannya yang berbeda dengan pengunjung hotel lain, dengan posisinya yang berada di satu ruangan terbuka… tidak menutup kemungkinan bila Minho akan tertarik pada perbedaan yang dimilikinya. Sekali lagi Sulli mengutuki rambut hitam yang dimilikinya.

  

 

Saat dia masih berdiri mematung dekat meja resepsionis, dua orang yang berjalan di belakang Minho… sepertinya sepasang suami istri… berbicara kepadanya.

“ Hey, Minho !” teriak pria itu, begitu jelas di telinga Sulli ,”Kami yang sudah tua ini ingin beristirahat saja. Mengapa kau tidak mengantar Al untuk berbelanja saja ?”

Sulli mendesah lega, saat perhatian Minho tercurah kepada pria itu. Dengan perlahan agar tak menarik perhatian, dia bergerak ke belakang pilar yang berdiri megah di satu sisi ruangan. Walaupun tidak terlalu jauh dari tempat Minho, pilar besar itu bisa menyembunyikan tubuhnya dari pandangan Choi Minho.

“ Maaf Mr. Stanton… tetapi saya benar-benar harus menemui beberapa klien.”

Sulli mendengar Minho berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih, walau logatnya terdengar aneh. Sulli menyelinap ke belakang pilar, berdiri di situ dan mengintip dari baliknya.

“ Aku sudah bilang, panggil saja aku Max.” Kata pria paruh baya itu ,” Bersantailah sedikit anak muda, kau sudah mendapatkan kontrak besar denganku. Bersenang-senanglah !!”

Sulli menggertakkan gigi ketika melihat mata gadis muda itu menatap Minho seakan ingin melahapnya. Dan barulah Sulli melihat kegelisahan di wajah sahabatnya. Kentara sekali dia berusaha melepaskan diri dari lilitan gadis muda itu.

“ Saya harus bekerja Max, karena itulah tujuanku datang ke Amerika. Lagipula sebentar lagi pacarku akan datang, saya tidak mau dia salah paham kalau melihatku dengan keponakan anda.”

“ Ah… aku tak percaya kau punya pacar. Kau hanya mengarang-ngarang supaya mendapatkan kontrak itu. Lagipula kalau pun memang benar, dia tidak ada di sini dan Al-ku sangat menyukaimu. Jadi kenapa kau tidak membuat keponakanku senang ?”

“ Ya .. uncle Max, Minho bersikap jinak-jinak merpati. Aku menyukai type cowok seperti ini…” gadis itu terkikik sambil mengusapkan ibu jari telunjuknya sepanjang otot bisep Minho.

“ Sumpah Alison.. Max… Jinri itu benar-benar nyata bukan khayalan. Dan sebentar lagi dia akan datang ke sini, aku sudah meneleponnya untuk kuperkenalkan kepada anda berdua. Jadi….”

“ Kalau begitu telepon dia dan singkirkan ! Kalian belum terikat apa-apa… kulihat Al sangat cocok denganmu, nak !”

“ Kurasa aku memang…” Minho akhirnya berhasil melepaskan diri dari gadis muda itu ‘”… aku akan meneleponnya.”

Sulli melihat Minho berjalan menuju ke arahnya, dengan wajah panik mengeluarkan ponselnya.

Sulli segera menarik dirinya dan merapat ke  pilartembok ,berharap dengan berdebar agar Minho tidak akan menemukannya.

“…. Apa ? Miss Choi Jinri tidak ada di kantor ? Sudah pulang …?”

Sulli mendengar percakapan itu begitu jelas, dari suaranya dia menduga Minho mungkin hanya berjarak beberapa langkah dari pilar tempatnya bersembunyi. Dan jantungnya berdetak liar ketika mendengar namanya disebut-sebut. Rupanya Minho sedang menelepon ke kantornya, mungkin sedang berbicara dengan salah satu temannya.

“… Ya…ya… aku mengerti. Tetapi terakhir kali aku menelepon anda sudah mengatakan bahwa anda akan menghubunginya dan dia akan meneleponku kembali. Tetapi sampai detik ini dia belum meneleponku. Apa ? Cuti ??’

Sulli mendengar Minho memaki dengan bahasa asing… bahasa Korea mungkin.

“ … Tidak…tidak… Dia tak pernah mengatakan akan mengambil cuti. Perjalanan ke luar kota untuk berlibur ? Berapa hari ? Tiga… shit… Mengapa ? Saya harus bicara dengannya, saya berusaha menjangkau ponselnya tetapi selalu tidak aktif. Ya.. ya.. ini sangat penting…masalah hidup dan mati. Oh tidak… ini lebih dari sekedar itu…”

Sulli tidak tahan lagi, dia hampir berteriak kegirangan menyadari situasinya. Sehingga akhirnya dia memberanikan diri untuk….

“ Kalau begitu, lebih baik kau katakan secara langsung padaku sekarang….” kata Sulli sambil menyeringai, dan menikmati bagaimana kekagetan muncul di wajah tampan itu saat melihatnya ke luar dari persembunyiannya.

Minho nyaris pingsan.

“ Bagaimana…bagaimana kau bisa tiba-tiba muncul di sini ?” desis Minho, berusaha meyakinkan diri kalau yang berdiri di hadapannya memang Sulli yang nyata bukan fatamorgana.

Sulli menempelkan kedua telapak tangannya di depan dadanya, kemudian membungkuk sedikit , ” Begitu anda menggosok lampu, hamba Jin Jinri siap membantu anda, tuanku…” kata Sulli dengan suara menggeram meniru salah satu adegan dalam film Aladin.

Melihat Minho masih melongo dan terkesima, Sulli tertawa dan bersikap santai.

“ Apa sih urusan yang lebih penting dari masalah hidup dan mati itu ?” Sulli melirik Alison yang sedang berbicara dengan pasangan paruh baya itu ,” Atau… aku bisa menebaknya ?” godanya.

“ Jinri kau harus membantuku… menyelamatkanku tepatnya. Alison… gadis itu… aku tidak bisa menyingkirkannya karena dia adalah keponakan tersayang Max Stanton, pemilik lima restoran besar yang kuceritakan di email. Ternyata Stanton bukan hanya menginginkan partner bisnisnya sudah berkeluarga…tetapi juga dia menginginkan partner bisnisnya menjadi bagian dari keluarganya juga kalau memungkinkan.”

“ Dan kau adalah calon yang cocok untuk Alison… tampan, pengusaha…pekerja keras eoh ?”

“ Jangan menggodaku ! Stanton memesan produk kami dengan jumlah yang sangat besar. Bernilai ribuan dollar. Kalau aku menolak Alison dengan cara kasar, aku bisa kehilangan partner bisnis potensial. Jadi kupikir aku bisa menolaknya dengan cara yang tidak mencolok.”

“ Tidak mencolok ? Kau ??” kata Sulli dengan membelalakkan mata

“ Oke…simpan sisi konyol yang kau temukan dalam musibah ini. Dengar, aku mendapatkan calon pelanggan yang bisa membuat Siwon bangga… dan mungkin tidak pelit untuk mengirimku kembali ke Amerika beberapa bulan mendatang. Itu berarti kita bisa lebih sering bertemu…kalau peluang ini berhasil kudapat.Tetapi di satu sisi, kedamaianku terancam… Aku melindungi usaha bisnis keluargaku, berusaha melindungi diriku…dan berusaha membuka peluang buat kita bisa lebih sering kontak di masa datang…”

“ Well, yang mana yang lebih penting ?”

“ Semuanya !” jawab Minho panik.

“ Kalau begitu, terima saja tawarannya. Lagipula Alison itu terlihat cantik dan pirang …umm.. menggairahkan tepatnya !” goda Sulli, mulai menikmati kesempatannya untuk mempermainkan sahabatnya.

Mendengar perkataannya Minho menatap Sulli dengan pandangan menusuk.

“ Berapa umurnya ? Dan apa saja yang telah dilakukan pamannya kepadamu ?”

“ Stanton telah melakukan apa saja untuk membuat kami selalu bersama. Dia adalah gadis berumu sembilan belas tahun paling tua yang pernah kutemui. Dia sudah menikah dan bercerai, tetapi bagi Stanton dia tetap sebagai gadis kecilnya yang malang. Apa saja yang diinginkan Alison,harus didapatkannya…”

“ Dan Alison menginginkanmu…”

“Aku sudah menunjukkan penolakanku dengan berbagai cara, tetapi dia tak bergeming. Aku sudah berusaha mengontakmu sejak pagi tetapi ponselmu tidak aktif.”

“ Ponselku tidak aktif kalau sedang dalam pesawat.”

“ Aku membutuhkanmu, chagiya…” nada suaranya benar-benar menyentuh hati Sulli yang paling dalam ,” ..dan kau datang memenuhi harapanku.”

“ Entahlah… tetapi sejak aku mendapat emailmu tentang calon pelangganmu itu, aku seperti mendengar seruan-seruan untuk segera datang menyusulmu. Untunglah kau meninggalkan nomor telepon hotelmu sehingga aku bisa tahu di hotel mana kau menginap. “

Sulli tertegun, seperti melihat sinyal berbunyi nyaring di otaknya saat dia menyadari “serba kebetulan” yang terasa aneh. Semacam panggilan alam yang menggelitik sanubarinya…

“ Tadinya aku ingin memberikan kejutan padamu. Tetapi aku tak sampai hati melihat wajahmu memerah saat gadis itu nyaris bergelantungan di tanganmu.” Mata Sulli bersinar nakal,” Kenapa Minho… Alison muda dan cantik. Kalau diibaratkan makanan… dia adalah bistik dari daging sapi muda… jadi… kenapa kau tidak menikmatinya saja, dan merasakan bagaimana masakan itu mencair di lidahmu ?”

“ Itu pertanyaan bodoh !!” sergah Minho, untuk pertama kalinya Sulli melihat lelaki itu marah ,” Itu pertanyaan terbodoh yang kudengar sepanjang hari ini !”

Minho menatap mata Sulli dengan amarahnya, dan Sulli melotot ke arahnya dengan kaget.

“ Baiklah… kau benar…” akhirnya Sulli mendesah ,” Aku minta maaf..”

“ Syukurlah kita bisa saling mengerti.” Jawab Minho masih dengan mulut tegang.

“ Mereka sedang berjalan kemari,Minho…” Sulli melihat tiga orang itu bergerak ke arah mereka, mungkin mereka melihat Minho telah cukup lama bercakap-cakap dengannya.

“ Kalau begitu, sudah waktunya bersandiwara.” Kata Minho.

Detik berikutnya Sulli sudah berada dalam pelukan Minho yang begitu erat… nyaris meremukkan.

“ Sayang, aku senang sekali akhirnya kau atang…”

Bibir Minho yang melumat bibirnya tanpa aba-aba, membuat Sulli tak berdaya. Itu adalah ciuman rekayasa… sama seperti ciuman pertama mereka dulu. Ciuman ini dilakukan dengan sengaja “dilebih-lebihkan” untuk meyakinkan target bahwa mereka memang saling merindukan satu sama lain. Seharusnya Sulli bereaksi dengan tenang…bukan dengan rasa lemas dan tubuh gemetaran seperti sekarang. Dan dia bereaksi dengan cara yang bisa mengancam hubungan persahabatan mereka.

Perlahan-lahan Minho melenguh dan melepaskan ciumannya. Wajahnya memerah dan matanya menjadi menggelap, berkilat menyimpan hasrat lebih… sama seperti yang ada di dalam tubuh Sulli sekarang.

“ Bersandiwaralah untukku, Jinri…” bisiknya, sebelum kemudian mengembangkan senyum membius, “ Sayang, aku sudah menunggumu sejak kemarin. Aku ingin memperkenalkanmu kepada Max Stanton dan keponakannya Alison..”

Suara Minho cukup keras untuk bisa didengar tiga orang itu. Dengan spontan Sulli merapatkan tubuhnya pada Minho, dia menyadari sekali kaua sekarang mereka sedang diperhatikan. Dan Minho melingkarkan sebelah tangannya ke pinggang Sulli, menariknya lebih dekat dan hannya di posisi intim itu.

“ Ini pacarku Choi Jinri dari New York…”

Sulli mengulurkan tangannya dengan anggun pada lelaki paruh baya yang terlihat terkejut itu. Alison menjawab salamnya dengan jengkel dan tatapan skeptis. Mungkin istri Max Stanton lebih bisa menyambutnya dengan lebih tenang. Bahkan Sulli melihat wanita itu kewalahan dengan prilaku suami dan keponakannya.

“ Oh… kalau begitu, kau perlu istirahat. Aku akan senang sekali bila bisa lebih mengenalmu nanti di acara makan malam. Kau bisa bergabung dengan kami. Pasti akan lebih ramai..”

Sulli tersenyum, melihat bagaimana wanita itu berusaha mengabaikan reaksi penolakan keponakannya dan usaha protes suaminya.

“ Sesungguhnya aku lebih senang dinner berdua denganmu. Tetapi setidaknya kehadiranmu menjadikan keadaannya lebih baik dibanding bila aku harus sendirian menghadapi anak yang dewasa belum waktunya itu.” Kata Minho begitu mereka bisa berduaan.

“ Kau takut…” goda Sulli sambil terkekeh.

“ Tentu saja ! Kau mengharapkan apa ? Aku adalah pria baik hati , manis, dan kolot…. Eomma tidak pernah mengajarkanku cara-cara menghadapi gadis muda seperti itu.”

“ Tentu saja, Minho… aku tahu, kau pasti banyak mempelajari tipe gadis seperti sepanjang perjalanan umurmu…” selidik Sulli.

“Karena itulah, aku sangat mengandalkan pertolonganmu untuk bisa terbebas dari masalah ini.”

“ Aku melihat… Alison bukan gadis yang lemah dan akan mundur bila ditakut-takuti . Lagi pula aku sudah tua dan tak memiliki rambut pirang… Aku tak yakin bisa membuatnya mau meninggalkanmu.”

“ Kau bisa melakukannya bila memakai cara yang tepat…” gumam Minho.

“ Caranya ? Minho, aku tak pernah bersaing dengan anak ABG.” Kata Sulli geli.

“ Pada waktu makan malam nanti, maukah kau bersikap “menempel” kepadaku ? Dan sedikit… posesif…?”

“ Hmh ??”

“ Usahakanlah agar matamu memelototiku seolah kau tak mau kehilangan satu detik pun untuk memandangku. Bersikaplah seolah-olah aku ini adalah sang dewa yang diciptakan khusus untukmu…”

“ Akan kuusahakan…. “ kata Sulli datar ,” sejujurnya, kau terlalu banyak menuntut. Menempatkanku sebagai wanita yang memujamu…. Sang Dewa… itu adalah kata-kata yang paling tidak cocok untukmu…”

“ Oh… Choi Jinri…teruslah memojokkan lelaki malang ini. Kalau bisa tendang saja aku agar terlempar ke luar angkasa !” Minho mendengus.

“ A-a… jangan membuatku tergoda untuk melakukannya, Minho.’ Sulli tersenyum ,” Ada lagi permintaan tuanku ?” godanya lagi.

“ Ya. Kenakanlah baju yang seksi !”

Sulli menelan ludah ,” Seksi seperti apakah ?”

“ Seksi… yang benar-benar seksi. Kau tahu… sehingga nanti Alison tahu dimana posisi dia bagiku. Dan kedua orang tua itu bisa memahami mengapa aku begitu tergila-gila padamu…”

Sulli melihat kilatan nakal di matanya, tetapi ada sesuatu yang membuatnya merinding saat dia menatap ke dalam matanya.

“ Kau benar-benar….” kata Sulli sambil mengatur nafasnya ,” … pria brengsek yang angkuh. Kau minta dilayani dengan lebih… egois…keras kepala…sombong….” maki Sulli meracau mencoba menghilangkan kegelisahan di dalam dirinya.

 

“ Maukah kau melakukannya untukku ?” potong Minho cepat.

“ Ya.!!”

============TBC==============

Hai readers yang setia…Sullians, Flamers, dan Minsullians… ini hari SULLI 😀

Aku nggak bisa bikin yang macam-macam buat Babby Ssul, tapi aku akan update RAB ini tiga hari berturut-turut sebagai ucapan terimakasih dan selamat buat MINSULLIANS

H*A*P*P*Y**S*U*L*L*I**D*A*Y  !!

Advertisements

64 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 16)

  1. Semangat buat eon.. Maaf cma bsa komen kek gni, sbnernya dr awal blum baca sih eh tp bru part 1 yg dbaca.. 😀 Pngen ksi smangat ajj buat eon dan makasih udah post ff yg maincastnya minsul 😀

  2. Author bener2 tau, cara untuk membawa pembaca ke langit lalu menjatuhkannya dan membawanya ke langit lagi seperti sekarang ini😏😏.
    Author daebak👍
    Choegoyeyo

  3. Wuaaah. . . . Perasaan apakah yg ada di hati suli ya? Dia cemburu meliahat minho dekat dgn Alison. Waahh, . Gimana reaksi minho saat melihat sulli berpakaian seksi ya?? Penasaran nih.

  4. Aaiisshh makin greget sm kisah persahabatan mereka hehehehe ….
    Tapi kapan mereja bersatu wkwkk
    Sulli masih takut” ngakuin perasaannya
    Tetep kekeh juga sm pendiriannya

  5. Ahahahah mereka imut sekali
    Sulli sampe nyusul
    Dan rela berbuat apa saja demi menolong minho
    Padahal itu getaran cinta bukan persahabatan
    Gak sabar liat sulli jadi posesive dan sedikit seksi :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s