THE runaway BRIDE (Part 20)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Suterbaiklahast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

20. Frustasi

.

.

 

Tidak semua pertanyaan memerlukan jawaban  dan tidak semua tindakan memerlukan alasan,

Itu adalah yang diputuskan Sulli sepanjang merenungi maksud kedatangannya ke Korea, Jeju tepatnya. Sambil memindahkan baju-baju dari dalam kopernya ke dalam lemari kosong yang ada di ruangan, Sulli berkata pada dirinya sendiri bahwa dia berada di sana untuk mengenali lebih jauh siapa Choi Minho.

Sebuah ketukan halus di pintu menghentikan lamunan Sulli.

“ Jam berapakah sekarang ? Apakah sudah waktunya makan malam ?” pikirnya sambil melirik jam yang melingkari tangannya.

Sulli menutup lemari dan berjalan ke arah pintu untuk membukanya, bertanya-tanya tentang siapa yang ada di depan pintu kamarnya.

“ Hai, chagiya…”

Choi Minho berdiri di sana , masih dengan baju yang dikenakannya dalam penerbangan , tersenyum dan … kilatan jahil di matanya telah kembali. Itu pertanda baik tentang kesehatan ibunya. Tetapi Sulli merasa berkewajiban untuk menanyakannya.

“ Bagaimana kabar ibumu ?”

Minho tidak menjawab, melangkah masuk kemudian merangkumnya dalam pelukan hangat.

“ Aku sangat bahagia karena tahu aku akan menemukanmu di sini.” Bisiknya,” Apa yang akan terjadi padaku bila kau tidak ikut denganku…”

Sulli memundurkan tubuhnya sedikit dan terkesiap melihat pendar mata Minho, yang membuat seluruh syaraf tubuhnya berdering ,” Tidak akan terjadi apa pun padamu, Minho. Kesehatan ibumu sudah membaik,kan ? Seharusnya kau tidak memerlukan aku lagi…”

“ Aku akan selalu memerlukanmu, chagiya…” mata Minho berkilat nakal ,” Kita masih punya urusan yang belum selesai….”

Wajah Sulli langsung memerah saat menyadari maksud kata-katanya, tetapi dia mencoba untuk balik menggodanya .

” Apakah bila ‘urusan’ itu sudah selesai, aku boleh pulang ?”

Minho tidak segera menjawab, rangkulan tangannya sedikit mengendor… tetapi mukanya tiba-tiba terlihat sangat serius.

“ Urusan di antara kita tak akan pernah bisa selesai. Tidak akan pernah… selama aku masih hidup.”

Minho mengeratkan pelukannya tak memberi kesempatan kepada Sulli untuk bertanya lebih jauh , kemudian mencium Sulli…. lama dan dalam. Secara naluriah Sulli bereaksi lewat penyerahan diri yang pasrah kepada pria itu. Bermacam-macam emosi bergelegak di dalam dadanya, emosi yang ganas… yang tidak pernah dirasakannya seumur hidupnya. Bahkan sambil membalas ciumannya, dia tak berani memberi nama pada bentuk emosi yang terbangkitkan dalam dirinya. Satu emosi yang membuatnya berpikir… bisakah dirinya meninggalkan Choi Minho sekarang ?

Akhirnya Minho menghentikan ciumannya, menyurukkan wajahnya pada lekukan antara leher dan bahu Sulli. Berusaha menenangkan diri… mengatur nafasnya yang terengah. Setelah beberapa saat dia menjauhkan diri dengan enggan.

“ Sebetulnya aku datang untuk memberitahumu bahwa makan malam akan siap dalam seperempat jam…”

Sulli berdehem ,” Berarti masih ada waktu untuk mandi dan bersiap-siap. Apakah aku harus berpakaian resmi atau … ?”

“ Pakai baju apa saja yang bisa membuat dirimu nyaman. Ini hanya makan malam bersama keluarga.”

Sulli mengangguk.

“Aku juga harus mandi dan berganti baju. Aku akan datang lagi untuk menjemputmu.”

Ketukan di pintu terdengar kembali, tepat setelah Sulli menyisir rambutnya yang dibiarkan tergerai. Malam itu dia mengenakan baju merah bercorak yang kontras dengan kulitnya. Samar-samar Sulli mendengar Minho sedang berbicara.

“ Apakah dia sedang bertelefonan ?”

Sulli berjalan ke pintu setelah mengenakan sandal anyaman datar, berharap penampilannya sesuai dengan kebiasaan di sana. Minho memang sedang berbicara, tetapi bukan di telepon. Dia tadi berbincang dengan Im Yoona, karena begitu Sulli membuka pintu pria itu berdiri di sana dengan wanita cantik itu di sisinya. Minho merangkul bahu kakak iparnya dengan hangat, mungkin sehangat senyum yang diberikannya pada Sulli.

“ Kami datang untuk menjemputmu.” Kata Yoona dengan ramah, kemudian maju dan menggamit sikut Sulli ,” Kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu, sayang.”

“ Terimakasih.” Desah Sulli, sekilas melirik Minho.

Yoona selaku tuan rumah, pengganti ibunya Minho yang masih berbaring di rumah sakit, membawanya ke sebuah ruangan lapang di mana seluruh keluarga berkumpul. Semua sudah siap di meja, dan menyambut Sulli dengan sapaan yang menyenangkan. Beberapa pelayan berdiri di belakang, seolah siap untuk melayani apapun yang diperlukan.

Entah kenapa Sulli merasa hubungan kakak-adik dalam keluarga ini, persis seindah dan sedekat yang pernah diceritakan Minho kepadanya. Dulu dia pernah menyangka Minho mengarang-ngarang kedekatan mereka untuk membuat kesan baik… nyatanya tidak. Di antara dua kakak laki-lakinya yang lebih tinggi dan kekar, Minho terlihat lebih lembut. Dan Sulli bisa melihat kedua kakak iparnya sangat memanjakan Minho.

Keberadaannya sendiri di antara mereka tidak canggung, seperti sudah sengaja dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan intern keluarga. Bahkan dengan bijaksana, percakapan di meja makan dilakukan dengan memakai bahasa Inggris yang dipahaminya. Mungkin hanya Jiho yang banyak diam, tetapi Sulli bisa menerima itu karena Jiho tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Walau begitu dia menunjukkan minat untuk terlibat dalam percakapan dengan banyak bertanya pada Minho yang kebetulan duduk di sisinya.

“ Aku senang disambut dengan demikian baik di sini…” kata Sulli setelah menikmati hidangan penutupnya.

“ Tentu saja karena kau juga akan menjadi bagian dari keluarga ini.” Jawab Yoona tersenyum.

Sulli tak menjawab, semakin sadar dengan fakta bahwa sepertinya orang-orang di keluarga Choi Minho menyimpan harapan yang lebih pada kehadirannya di tempat itu. Dan dia tak bisa menyangkal atau menjelaskan apa-apa… kecuali kalau dirinya mau untuk terlihat tolol di hadapan mereka semua.

“ Ngomong-ngomong, Minho bagaimana mungkin Max membatalkan orderan daging hanya dalam waktu semalam ? Tadi malam dia meneleponku sambil marah-marah dan membatalkan ordernya. Apakah keadaan sudah tidak bisa diperbaiki ?” Siwon menatap Minho.

Ada rasa tidak enak dalam diri Sulli, karena sedikit banyak dirinya ikut berperan dalam hal ini. Dan keadaan yang begitu cepat tampaknya membuat Minho lupa bercerita secara pribadi dengan abangnya.

“Aku yang memutuskan ordernya… “ jawab Minho, wajahnya terlihat mengeras.

“ Kenapa ?”

Minho meraih jemari Sulli, tersenyum sekilas sebelum berpaling kepada abangnya ,” Dia telah menghina Jinri.”

“ Kalau begitu kau telah bertindak sangat tepat.” Jawab Siwon spontan membuat Sulli terperangah

“ Aku merasa tidak enak hati dengan ini, bagaimana pun itu kontrak bernilai jutaan dolar.” Kata Sulli, menunduk.

” Semua karena aku menyeretmu dalam masalah. Sejak awal aku sudah menduga masalah ini akan terjadi begitu dia mulai menyinggung nama keponakannya itu. Aku tidak mau mengemis-ngemis kepadanya dengan mempertaruhkan kebahagiaan dan kesejahteraan diriku.”

Minho berkata dengan cepat untuk menjelaskan bahwa Sulli tidak bersalah dalam masalah itu   , dan pada kenyataannya seluruh keluarga mendukung keputusannya tersebut. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Keadaannya berlangsung seperti itu. Ada kehangatan, kedekatan, dan penerimaan yang tulus. Tak ada yang perlu dicemaskan sebetulnya, tetapi Sulli tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri atas kecurigaan yang tak berdasar tentang laki-laki Korea. Yang dilihatnya malam itu adalah para pria yang hangat, penuh cinta dan tanggung jawab. Sama sekali berbeda dengan apa yang bisa dibayangkannya di masa lalu.

.

Usai makan malam, Minho dan Sulli berdiri di teras yang menghadap ke laut. Cahaya bulan yang cemerlang menimbulkan kesan yang membuat  hati Sulli menjerit karena cinta. Bayangan kebanggaan ayahnya saat bercerita tentang Jeju berkelebat dalam ingatannya, kesukacitaan ibunya saat mendapatkan makanan khas Korea yang pernah dibawa Minho membaur dalam benaknya.

“ Mereka pantas bila mencintai tempat ini, karena di sini aku bisa melihat cinta dan kedamaian.”

“ Jinri, ibuku benar-benar menyukaimu,” Minho tiba-tiba berkata, meraih jemarinya dalam genggamannya ,” Kau membuatnya sangat bahagia dengan datang dan mau menengoknya. Tahukah kau, kedatanganmu membuat kami semua bahagia. Bahkan  Ji Ho hyung yang biasanya kaku bila bertemu orang baru, terlihat sangat ingin terlibat dan dia terus menerus bertanya bila kau mengatakan sesuatu. Kau telah membuat jalanmu sendiri menuju hatinya. Eomma ingin kau ada di sini untuk memperingati hari kematian appa . Dia sangat berharap bisa cepat pulang dan berkumpul dengan kita.”

“ Minho, ini terlalu banyak buatku. Aku tak bisa menerima kebaikan sebesar ini… setelah apa yang kukatakan padamu…tentang Korea dan tanah kelahiranmu.”

“ SShhh…. mereka tidak tahu, dan aku tak berminat memberi tahu mereka karena bukan salahmu kalau kau berpikir begitu… aku telah melihat tempat tinggal orang tuamu di NY, aku bisa mengerti mengapa seorang anak akan membenci suara bising bila dia setiap hari mendengarnya.”

“ Tetapi… peringatan kematian ayahmu … tentunya itu untuk keluarga dan teman dekat ibumu. Aku kan bukan….”

“ Sebentar lagi kau akan menjadi bagian keluarga ini…”

Sulli tertegun mendengar kesungguhan kata-kata Minho, dia merasa sekarang adalah saat yang tepat untuk membuat batasan yang jelas kepada lelaki ini bahwa dia tak akan bisa menikahinya. Alih-alih membantah, Sulli malah terdiam pasrah ketika Choi Minho merengkuhnya ke dalam pelukan, dan sentuhan bibir pria itu menghapuskan semua yang memenuhi pikirannya. Sentuhan itu seperti bensin yang disiramkan ke api, membuat semua dalam diri Sulli terbakar. Bayangan-bayangan sensual tentang kebersamaan mereka sesaat sebelum panggilan pulang ke Korea,  membuat darahnya menderu.

“ Kita punya urusan yang belum selesai…”

Kata-kata itu berputar-putar dalam kepalanya, mencari jalan ke luar… yang semakin lama semakin menyiksanya.

Dia… tubuhnya, menginginkan Minho. Seperti juga hatinya.  Setiap dia berdekatan dengan Minho tanpa ada siapa pun di sekitar mereka, bayangan itu mempengaruhi dirinya dengan cara yang benar-benar memalukan.   Dan Sulli merasa “urusan” tersebut, yang di tempat kelahirannya terasa begitu mudah untuk dilakukan… di sini, di rumah orang tuanya… di tanah kelahiran ayah-ibunya serasa mustahil untuk dilakukan. Mempertaruhkan nama baik keluarganya, mempertaruhkan nama baik keluarga Minho…. urusan itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara… yaitu apabila dia, Choi Jinri,  bersedia menikah dengan Choi Minho…..

Sulli berusaha menentang pikiran konyol itu. Pernikahan mungkin merupakan jalan keluar terbaik untuk frustasi sexual yang dirasakannya… tetapi itu adalah alasan pernikahan yang paling bodoh di zaman sekarang. Alasan yang terlalu tumpul untuk membangun sebuah keluarga. Tak peduli bila Minho mampu menggetarkan jiwanya yang paling liar, tak peduli Minho adalah orang yang diingatnya sebelum tidur dan yang mengisi  pikirannya begitu dia terbangun. Tak peduli dirinya selalu merindukan untuk melihat senyum jahil dan tatapan nakalnya… tak peduli itu semua… karena dengan itu, berarti dirinya harus melepaskan prinsip yang selama ini ditanamkan dalam dirinya…. yaitu tidak akan menikah dengan pria korea. Seperti yang selama ini dia gembar-gemborkan kepada orang tua dan keluarganya

Dia harus melanggar sumpah itu.

Untuk apa ?

Untuk sekelebat nafsu yang akan memudar setelah terlampiaskan .

Untuk menerima cemoohan yang pastinya akan dilemparkan kakak-kakaknya ke mukanya… mereka yang selama ini mengasihani prinsip hidupnya.

Untuk menanggung resiko yang pastinya akan membentang sepanjang matanya memandang… sesisa hidupnya.

Karena Sulli yakin, setelah urusan itu selesai… Minho akan mendapatkan kemenangan telah membuktikan bahwa prinsipnya lemah… kemudian akan melenggang meninggalkannya… dengan sinar matanya yang jahil dan senyum miringnya.

Jadi apapun itu, dia harus bisa menjauh dan menolak bujukan nafsu itu… sekarang juga, sebelum semuanya menjadi bertambah kacau.

Sulli meronta dan dengan susah payah berhasil melepaskan diri dari ciuman Minho yang bertubi-tubi. Kepalanya serasa melayang dan lututnya lemas, sementara Minho terlihat kesulitan mengatur nafasnya sendiri. Dia menempelkan keningnya di pelipis Sulli yang berdenyut-denyut.

“ Andwae… mengapa ?” desis Minho, matanya masih menyimpan gairah yang kuat.

“ Minho mengalami frustasi yang sama denganku. Lelaki ini tidak menyadari bahwa aku baru menemukan sebuah alasan yang tepat untuk berlari darinya…” pikir Sulli.

“ Aku tidak bisa… bukan di sini, Minho ! Bukan sekarang…”

“atau nanti…” tambahnya dalam hati.

“ Bisa, chagiya… tempatku atau tempatmu… apa bedanya ?”

Minho terlihat sekali mengendalikan dirinya. Bibirnya bermain-main dengan helaian rambut Sulli. Suara  beratnya yang tergetar dan hangat nafas yang menampari pipinya, hampir membuat Sulli menyerah. Tetapi dengan perjuangan yang kuat, dengan bergulat melawan keinginannya sendiri, akhirnya Sulli berhasil menarik tubuhnya beberapa centimeter menjauh dari kehangatannya.

“ Maaf, aku memang lahir dan besar di Amerika… tetapi aku tidak semodern yang kau pikirkan. Aku masih menghormati ibumu, keluargamu, rumahmu… aku tidak bisa melakukannya. Maaf..”

Dengan kata-kata itu Sulli berbalik dan berjalan meninggalkan Minho yang terkesima  melihat kelakuannya. Sulli tak peduli apa yang dipikirkan pria itu, karena yang penting baginya sekarang adalah menghindar dari sana. Upaya penyelamatan diri, karena bila masih ada di sana dia tidak bisa mempercayai Choi Minho. Terlebih dari itu, dia tak bisa mempercayai dirinya sendiri.

Minho mengepalkan tinjunya dan membenamkannya ke dalam saku jaketnya dalam-dalam.

Belum saatnya, Minho. Mengejarnya hanya akan menciptakan jarak di antara kalian. Biarkan dia sendiri… masih banyak waktu. Semoga…”

Dia berpaling , melihat ke laut lepas dan berdiri di situ dengan segala kekacauan yang berbenturan dalam dirinya. Darahnya masih berdesir dan panas. Dia mencintai Sulli… menginginkannya… Dia menginginkan wanita itu sejak pertama kali melihatnya di antara orang-orang berkulit putih… dengan cahaya lampu yang berkilauan sebagai latar belakangnya. Dia menginginkan Sulli secara utuh.. bukan hanya fisik, tetapi juga hatinya. Dia tahu, Sulli juga menginginkan dirinya. Secara fisik Minho yakin, mereka saling membutuhkan, bisa saling memuaskan dan keinginan mereka itu hampir terpenuhi, tetapi sang waktu tidak berpihak padanya. Apakah itu artinya ? Ke mana itu akan membawanya ? Pada kebaikan kah …. atau sebaliknya ??

Minho memejamkan matanya. Merasakan bagaimana frustasi fisik yang dirasakannya semakin keras memukuli kepalanya qdari dalam. Putus asa dia kemudian berbalik ke pintu luar, di perlu sesuatu untuk menghilangkan semuanya ini.

“ Minho, ini sudah larut… kau mau ke mana ?” suara Im Yuna dari balkon kamarnya terdengar nyaring

“ Aku mau ke pantai. Sudah lama aku tak berjalan-jalan di pantai pada malam hari.” Jawab Minho tanpa menoleh.

=========TBC=========

 Done !!

Terimakasih kepada semua orang yang masih mencintai minsul sebagai couple impian yang terbaik.

Setidaknya itu mimpiku yang tidak bisa lenyap saat ini.

Bukan menolak realita yang ada,aku hanya memiliki mimpi indah yang hanya aku yang bisa pahami dan aku suka membaginya dengan kalian semua. Apapun pilihan kalian, aku menghormatinya. Hanya saja aku punya sedikit saran…  sebaiknya kita tidak membenci seseorang apalagi menghujatnya bila kita tidak benar2 yakin kebenaran di balik semuanya.

secara pribadi aku juga terpukul bukan saja karena mimpiku terguncang… ttapi juga karena sulli tak sesuai harapanku… juga aku terluka buat minho 😦

tetapi aku sadar kalaupun ada perasaan seperti itu, tetap saja itu adalah AKU  … EGOKU dan bukan Minsul. Mimpiku bukanlah mimpi MINSUL…

MAAF bila curhatnya kepanjangan… siapapun bias kalian, aku di sini berawal dari cintaku pada minsul dan akan tetap begitu.

setuju atau tidak bagiku Minsul tetap the best couple… dan kalian semua the  best friend that I ever had in my life.

saranghae… 😉

Advertisements

70 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 20)

  1. Yaampun sull mah kalo udah jelas2 suks ngapain dipake ribet sih…apa kurang banget pengorbanan minho sma km hahaha…bener eonnie walaupun bagaimana pun sulli punya alesan tersendiri ngelakuin hal itu….ditunggu part selanjutnya eonnie

  2. Mianheeee Dinaaa baru smpet komen, ceritanya sibuk hahaa
    Duuh sulli ngapain bkin frustasi, udah jelas bgt kalo kamu jg cinta sama minho, minho udah secara jelas mengungkapkan perasaan lewat perlakuan manisnya.

  3. knp sih sulli ssh bgt mengakui prsaan”x,jls2 dia menginginkan minho sm sprti minho jg…moga jd sulli bs melwn ego”x.

  4. Elah….lagi2 sulli melarikan diri. Aduh sebal deh…minho harus tetap berjuang….~ takhlukkan si keras kpala itu !!hhhhhhh ya.aku juga kecewa berat dgn sulli. Tapi ya….itu haknya.hidupnya.jadi aku cuma bisa berdoa dan mengumpat ahjussi itu dalam hati hahaha 😁😁😂

  5. Iya eonn.. aku juga gak benci Sulli dari awal emang aku benci sama C**I*A tapi smkin lama,,, aku tahu itu jalan tuhan buat Sulli, kita gak bisa berbuat apapun dia punya hak yang kita gak bisa bilang “Gak Boleh” pada hak dia, aku dukung Sulli gimana pun dia gak salah ataupun bagaimana… Sulli juga gak ngelarang kita untuk mencintai siapapun, orngtua Sulli pun juga mungkin gak mempermsalahkan kalau Sulli pacaran sama dia 🙂

    Minho besok mungkin juga akan mndapat kebahagiaannya kelak 😀

    Wuuuuuuiiiih Sulli udah mulai berfikir jernih tapi itu yang membuatku sedih kasian Minhonya 😦
    waaah semngat deeh buat Minho 😀

  6. huft….susah banget ngerebut hati sulli. padahal kemarin pas dihotel sulli dah terang²an ingin memiliki minho, tapi kenaapa otak sulli teracuni lagi oleh prinsipnya itu? tak bisakah prinsip yg sulli buat itu dibuang jauh² dari hidupnya. kalau prinsip itu masih dipegang dengan kuat oleh sulli kapan minsul akan bersatu? aduh sull…..jangan mementingkan egomu. kau menginginkan minho melebihi apapun kan? Dan dirimu sudah melihat dan menyaksikan sendiri bagaimana kondisi dan suasana orang yg tinggal di jeju. bagaimana ramahnya dan cintanya mereka saat menyambut dirimu. jadi utuk apa kau masih berfikir buruk tentang pria korea? mungkin kau terlalu takut mendapatkan hinaan dari saudara²mu jika kau menikah dengan orang korea. tapi persetan dengan hinaan itu. tak usah kau pedulikan semua pikiran buruk yg hinggap di otakmu. lakukanlah apapun yg kau inginkan. itu adalah hidupmu. kau yg menentukan masa depanmu bukan orang lain.
    bersabarlah minho …..mungkin bukan saat ini, masih ada waktu untuk bisa memenangkan hati sulli. semangat terus ya….!!!! semoga berhasil merebut hati sulli.

  7. Semangat buat eon.. Maaf cma bsa komen kek gni, sbnernya dr awal blum baca sih eh tp bru part 1 yg dbaca.. 😀 Pngen ksi smangat ajj buat eon dan makasih udah post ff yg maincastnya minsul 😀

  8. Sulli kuat banget deh megang prinsipnya tapi kalau udah cinta iy udah ngakuin aja toh minho juga udah ngukapin perasaanya juga

  9. Best couple i ever found.. sulli eonni please change ur mine.. it’s not about ur princp ur idealsm.. love isn’t about what u think. So .. please be minnho oppa mine.. critaya smakinseru lanjut eonni

  10. Ceritanya makin seru nih, tpi apakah sulli akan tetap pada prinsipnya terus. Dan akan tetap kah menganggap minho sebgai sahabat bukan sbg lelaki yg mencintainya?
    Q berharap sulli cepet menyadari perasaan ny.

  11. Sejak baca chap 19 aku baru sadar klo sulli itu gabisa bakor 😂😂😂 sebenci itukah sampai dia tak mau belajar bakor pdhl ortunya org korea kkkkk…..
    Pls, sulli sebua prinsip itu bisa dirubah….dirubah menjadi jauh lebih baik misalnya

  12. Makin deket sih makin romantis makin menginginkan satu sama lain
    Tp sulli masih bingung masih mikir kalo minho bakal ninggalin dia
    Padahal jelas jelas minho cinta mati sama dia
    Maunya ming kasih bukti ke sulli kalo sbnernya minho suka bukan sekedar nafsu aja
    Wuuhhh nunggu waktu sulli sadar aja lagi
    Kami sama kaya minho nunggu sulli sadar ya sulli sadar😂

  13. Semangat EONNI (y) Semangat MinSullian.
    yahh walaupun sy selalu sedih lihat postingan2 Sulli, tp sy tetap stay pada Sulli. Tidak bisa melupakannya ;( ;(
    berharap suatu saat nanti Sulli kembali seperti dulu lg dan dia akan bersinar di dunia entertaiment (y)
    #BacktoFf
    MinSul makin romantis :* tp Sulli masihh mengingat janji2 dulu. Ahh sudahlahh… Janji jg bisa d langgar. Ok next part

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s