Hello, Stranger [1]

1

 

HELLO, STRANGER

Sulli, SHINee Minho, B2ST Junhyung & BESTie Haeryung

-1-

“Halo,”

“Sayang, kamu dimana?”

Jinri menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia punya wajah cantik, tubuh tinggi dan langsing, karir yang cemerlang, dan yang tidak ketinggalan, pacar tampan yang bekerja sebagai General Manager di salah satu perusahaan multinasional terbesar di Korea.

“Aku sedang makan siang dengan Youngji. Memangnya kenapa?”

“Kamu tidak bohong kan? Selain ada Youngji, ada siapa lagi disana? Apa ada laki-laki bersama kalian?”

Dan seperti yang orang bilang bahwa kesempurnaan hanya milik Tuhan, maka Jinri tidaklah sempurna meski ia memiliki semua yang diimpikan gadis seumurnya. Yang membuatnya tidak sempurna tidak lain tidak bukan adalah Yong Junhyung, pacarnya. Pemuda tampan itu telah menemani Jinri hampir lima tahun lamanya, tapi tidak satu hari pun terlewat tanpa pemuda itu menaruh curiga yang berlebihan.

Junhyung selalu banyak bertanya, atau lebih tepatnya mengintrogasi, Jinri dalam setiap kegiatan telpon-menelponnya. Ia selalu curiga dan tidak jarang itu membuat Jinri sebal. Tapi ia tidak pernah mengeluh. Jinri punya pendapat sendiri bahwa kecurigaan itu adalah bentuk lain dari cinta dan kasih sayang Junhyung untuknya.

“Tidak ada yang lain lagi. Aku dan Youngji hanya pergi berdua saja.”

“Tapi Hara bilang kamu pergi sendirian tadi. Kamu tidak mengarang-ngarang cerita kan?”

Jinri menarik napas panjang lalu menjelaskan, “Aku memang pergi sendirian tadi, tapi kemudian aku bertemu Youngji dan dia mengajakku makan bersamanya. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa datang ke sini sekarang juga.”

“Aku juga mau datang ke sana tapi aku sedang sibuk sekarang ini,” Ungkapnya penuh sesal. Junhyung lalu membisikkan tiga kata ajaibnya, “Aku rindu padamu, Choi Jinri.”

“Aku juga rindu padamu.”

Satu yang Jinri percaya bahwa Junhyung sangat mencintainya hingga takut kehilangannya. Sebagaimana kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, ia selalu siap menerima ketidaksempurnaan Junhyung. Jinri mencintai pemuda itu dengan segala kelebihan dan kekurangannya apapun itu.

Pantulan wajah Jinri di cermin nampak tersenyum lebar dengan pipi merona. Wajah cantik itu akan menua suatu hari, karir cemerlangnya pun akan meredup dengan sendirinya, tetapi pendamping seperti Junhyung adalah satu-satunya yang ia harapkan untuk tetap bertahan bersamanya sampai akhir nanti.

“Aku akan menelponmu lagi nanti. Bye.” Sambungan telpon siang itu pun berakhir setelah tujuh menit.

Jinri merapikan rambutnya sekali lagi kemudian meraih dompet kecil dan telpon genggamnya lalu membawa dua benda itu sembari berjalan keluar dari toilet.

§

Kening Minho dibanjiri keringat dingin. Ia sudah dua kali bolak-balik ke toilet karena pencernaannya sedang tidak baik. “Aku tidak apa-apa,  Ken.” Jawabnya setiap kali Ken bertanya perihal kesehatannya.

“Tapi wajahmu pucat,”

“Aku baik-baik saja, sungguh. Cuma sakit perut sedikit. Kalau nanti sudah minum obat, perutku pasti akan kembali lagi.”

“Ya sudah kalau begitu sebelum pergi nanti kita mampir ke apotek dulu ya,” ajak Ken. “Maaf ya, Minho, aku benar-benar lupa kalau kau tidak bisa makan buncis. Seharusnya juga tadi kau tidak memaksa memakannya, aku sudah sarankan untuk pesan yang lain saja, tidak apa biar aku yang bayar.” Lanjutnya.

Minho hanya membalas dengan sengiran. Menu makan siang hari ini Ken yang memesannya. Ken, seperti pengakuannya tadi, lupa akan kelemahan Minho pada buncis dan Minho, meski sudah mengetahui itu, tetap nekat menyapu bersih makanan di piringnya. Entah siapa yang bersalah dalam peristiwa ini, tapi yang bodoh sudah pasti adalah Minho.

“Aku ke toilet sebentar ya, setelah itu baru kita pergi. Kau mau tunggu di sini atau mau langsung ke mobil?” Tanya Ken.

“Aku tunggu di sini saja.” Jawab Minho.

Minho memegangi perutnya sambil sesekali mendesis perih. Ia harusnya mulai pandai menjaga kesehatannya mengingat tidak ada lagi yang akan peduli dan merawatnya saat sakit seperti dulu.

Ken mengulurkan tangannya pada Minho begitu datang dari toilet. Ia menyerahkan sebuah ponsel pada Minho. “Sepertinya ponselmu jatuh di dekat toilet tadi,” ujar Ken.

Minho langsung merogoh kantung celananya. Kosong. Ponselnya tidak ada di sana meski ia ingat menyimpannya di dalam sana tadi.

“Ya ampun! Terima kasih, Ken.” Minho menerimanya. Layar ponselnya mati, mungkin akibat terbentur ke lantai. Ia pun langsung memasukkan ponsel itu ke dalam saku celana tanpa ada niat menyalakan ponselnya.

“Omong-omong, ponselmu yang lama kau kemanakan?” .

“Sudah dijual.”

Yang ada dalam kantung celananya, kebetulan, adalah ponsel yang baru dibeli beberapa hari lalu. Benda itu sengaja dibeli Minho beserta dengan nomor ponsel baru sebagai langkah awal dari hidup yang baru. Hanya orang tuanya dan Ken yang tahu nomor ponselnya yang sekarang, dan ia pun tidak mengharapkan orang lain untuk tahu.

“Lalu bagaimana dengan isinya?”

“Sudah dihapus.”

Jawaban itu semakin membuat Ken menganga. Ponsel Minho adalah barang terpenting dalam hidupnya. Ada banyak harta karun yang disimpan di dalamnya, baik kenangan berupa foto atau pesan berharga yang tidak pernah ia duga akan dihapus oleh sang pemilik.

“Kau sudah benar-benar melupakan Haeryung?”

Ken melihat Minho tepat di matanya. Pemuda itu sudah kehilangan gairah hidupnya. Matanya menyiratkan kekosongan yang membawa Ken pada rasa iba. Ia sudah belasan tahun mengenal Minho tapi baru sekali ini melihatnya seperti tak bernyawa.

“Aku tidak mungkin melupakannya, tapi aku akan berusaha. Haeryung selalu bilang kalau dia ingin hidup bahagia, dan aku harap dia mendapatkannya walaupun bukan denganku. Kedengarannya klise kan?”

Ken menepuk pundak Minho, memberikan dukungan penuh pada sahabatnya yang satu itu. “Kau pasti bisa melupakannya. Lagipula di luar sana ada banyak wanita cantik, Tuhan pasti sudah punya rencana untuk mempertemukanmu dengan salah satu dari mereka.”

Minho mencoba untuk tersenyum. Putus cinta memang bukan sesuatu yang bisa dideskripsikan dengan baik, dan bukan juga kenangan menyenangkan untuk di ingat. Tapi apapun itu, ia berharap bisa melewatinya tanpa menyisakan beban.

“Aku juga berharap begitu.”

§

Hara sudah duduk manis di mejanya, memeriksa salah satu dokumen penting dengan pulpen merah dalam genggaman ketika Jinri tiba setelah makan siang.  Ia sempat bertukar tatap dengan Jinri yang masuk ke dalam ruangan sambil meneguk kopi dalam kemasan selama beberapa saat. Jinri menanggapinya dengan seulas senyum, tapi nampaknya Hara tidak peduli.

“Kamu terlambat sepuluh menit, Jinri.” Ujar Hara mengejutkan Jinri.

“Maaf, tadi itu aku dan Youngji-”

“Cepat kembali ke tempatmu dan selesaikan laporan yang aku minta. Kamu tidak boleh pulang sebelum laporan itu selesai, mengerti?” Tanpa mendengar penjelasan Jinri selesai, Hara langsung memberi perintah.

“Ya, baiklah.”

Hubungan Jinri dengan Hara memang tidak bisa dikategorikan dekat. Hara adalah senior dengan selisih dua tahun pengalaman kerja dengannya. Hara cantik luar biasa, berwawasan luas dan memiliki banyak keahlian—walaupun ramah tamah bukan salah satunya. Meski seringkali terlibat pertengkaran, menurut Jinri bagaimana pun juga Hara adalah orang yang baik.

“Oh iya, apa tadi Junhyung datang ke sini?”

“Tidak.” Jawab Hara tanpa menoleh.

“Tapi tadi dia bilang kamu yang memberitahunya kalau aku dan Youngji-”

“Tadi dia menelpon.” Hara memotong untuk kedua kalinya.

“Oh.” Jinri melirik Hara dari sudut matanya. Rekan kerjanya itu bahkan tidak menoleh barang sedetik pun.

Jinri pun memulai kesibukannya. Jari-jari lentiknya tidak berhenti bergerak di atas keyboard komputer lipatnya. Fokusnya tertuju pada lembar kerja yang tersusun di atas meja. Jinri berikrar kalau laporan yang diminta Hara akan selesai lebih cepat dari yang diperintahkan, lalu ia akan menyombongkan diri dengan pulang lebih awal tanpa menolehkan kepala pada Hara. Membayangkannya saja sudah membuat Jinri sumringah.

“Jinri! Jinri!” Tiba-tiba Youngji masuk ke dalam ruangan dengan tergesa-gesa.

“Ada apa?”

“Junhyung menelponku barusan, katanya kamu tidak bisa dihubungi. Dia tanya kenapa ponselmu tidak aktif.”

“Ponselku?”

Jinri baru ingat kalau ia belum menyentuh ponselnya lagi setelah jam makan siang, pantas saja Junhyung tidak bisa menghubunginya. Ia lalu memeriksa tasnya dan hampir mengeluarkan seluruh isinya ke atas meja karena tidak berhasil menemukan barang yang dicari. Jinri cemas membayangkan Junhyung yang akan memarahinya dan semakin bertambah saat ingat kalau ia menguras tabungannya demi membeli ponsel barunya itu.

“Youngji, kamu lihat ponselku tidak? Aku tidak bisa menemukannya,” katanya sambil terus merogoh ke dalam tas. Youngji menjawab dengan gelengan kepala. “Hara, apa kamu lihat… Ah, tidak mungkin. Aku belum mengeluarkannya sejak makan siang.” Jinri bicara sendiri.

Dua gadis yang disebut namanya tadi melihat Jinri penuh kebingungan. Gadis berambut coklat itu kemudian menarik napas dalam-dalam, dan mencoba mengingat-ingat dimana ia meletakkan ponselnya.

“Apa mungkin ponselmu tertinggal di restoran? Tadi Junhyung menelpon kan? Coba kamu ingat-ingat dimana kamu menaruhnya setelah itu!” Ujar Youngji.

“Ah iya, benar juga! Jangan-jangan memang ketinggalan di sana.”

Sebenarnya Jinri tidak tahu betul dimana letak ponselnya setelah sambungan telpon terakhir itu. Ia tidak ingat apa-apa. Tapi rasa-rasanya masuk di akal apabila ponselnya benar-benar tertinggal di sana.

“Aku harus kembali ke sana!” seru Jinri.

“Choi Jinri, kamu bilang apa?” Jinri sudah mengambil tasnya dan bersiap pergi ketika Hara menimpali percakapannya dengan Youngji. “Kamu mau kemana?”

“Aku mau pergi ke restoran itu lagi,”

“Kamu tidak diperbolehkan keluar kantor selain pada jam istirahat, dan sudah aku bilang tadi kalau kamu tidak bisa pulang sebelum tugasmu selesai.”

“Tapi ponselku-”

“Sebaiknya kamu cepat menyelesaikan tugasmu supaya bisa pergi ke restoran itu untuk mengambil ponselmu.” Hara menyeringai.

“Tapi Junhyung-”

“Semakin lama kamu membantah, semakin lama juga tugasmu terselesaikan.” Hara menyela lagi.

Helaan napas Jinri mengudara. Ia mengusahakan yang terbaik untuk tidak mencekik Hara atau menjambak rambutnya. Semestinya Hara tahu kalau saat itu juga hubungannya dan Junhyung sedang terancam bahaya, tapi Hara tetap saja bersikukuh untuk jadi si menyebalkan dengan tidak mengizinkannya keluar kantor.

“Kamu jangan khawatir, nanti biar aku yang beritahu Junhyung kalau ponselmu hilang.” Youngji menengahi perang dingin itu.

“Terima kasih ya.”

Namun, Jinri tidak bisa diam begitu saja. Junhyung bukan tipe yang mudah percaya pada orang lain. Junhyung adalah orang yang penuh curiga dan sedikit bebal kalau boleh jujur. Jika keadaan dibiarkan terus begini, Jinri sudah dapat melihat adanya pertengkaran yang akan terjadi dengan Junhyung.

Tanpa aba-aba, Jinri menarik lengan Youngji dan mengajaknya berlari keluar ruangan. Samar-samar ia mendengar Hara meneriakinya. “Hanya ke toilet. Sepuluh menit saja.” Kali ini ia yang memotong ucapan Hara.

Jinri dan Youngji berlari cepat walaupun jarak ke toilet tidak sampai sepuluh meter dari ruangan. Napas keduanya tersendat-sendat akibatnya. Youngji memilih bersandar pada dinding keramik, sedangkan Jinri berjongkok di sudut setibanya di tempat tujuan.

“Mana ponselmu? Berikan padaku!” Jinri menodongkan tangannya di depan Youngji.

Youngji masih mengatur napasnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam kantung kemeja tanpa banyak bicara kemudian langsung diberikan pada Jinri.

“Kamu mau apa?”

“Kalau memang ponselku tertinggal, seharusnya petugas restoran itu menyimpannya. Aku harus menghubungi nomorku.”

“Tapi Junhyung bilang kalau nomormu tidak aktif.”

“Mungkin saja belum ada yang menemukan ponselku saat dia menghubungiku tadi. Tidak ada salahnya kan mencoba?” Jinri bersemangat.

Tuut… tuut… tuut…

Berhasil. Jinri terhubung dengan ponselnya.

Tapi tidak ada yang mengangkat. Jinri mulai resah. Pikirannya melebar kemana-mana; apa mungkin para pegawai di restoran sedang sibuk bekerja sampai-sampai tidak bisa mengangkat telponnya atau bagaimana kalau ponselnya tergeletak begitu saja tanpa ada seorang pun yang memungutnya.

“Halo…”

Ada yang mengangkat telponnya.

“Ini siapa?” Jinri langsung bertanya.

“Maaf, tapi bukankah harusnya aku yang bertanya? Kau yang menelponku tapi justru kau yang bertanya.”

Jinri mengernyitkan dahi. “Aku pemilik ponsel yang sedang Anda pakai. Kau pasti pelayan di restoran tadi kan? Siapa namamu?”

“Hei, siapa yang kau bilang pelayan? Dasar perempuan gila!”

“Ya ampun, jaga bicaramu ya! Aku bisa melaporkanmu ke atasanmu. Kamu bisa saja dipecat setelah ini!” Jinri terbawa emosi.

“Aish, memangnya kau siapa? Anak presiden? Astaga, kenapa hari ini ada banyak sekali orang gila yang menghubungiku? Apa ini modus terbaru penipuan? Ah, maaf sekali tapi aku tidak bisa ditipu dengan mudah.”

Klik.

Dalam kepala Jinri sudah banyak terlintas kata-kata makian untuk membalas tiap kata mengejek yang ia terima. Bibir tebalnya sudah terbuka tapi sebelum satu huruf berhasil keluar, orang di sebrang telpon itu lebih dulu mematikan sambungan telpon mereka.

Darahnya berdesir hingga ke ubun-ubun. Jinri merasa kepalanya akan meledak setelah diperlakukan tidak adil begitu saja.

“Bagaimana? Apa katanya?”

Jinri mendongak, menatap Youngji yang tidak berkedip menunggu jawaban. Ia menghela napas panjang. Ia mengangkat pergelangan tangan dimana ponselnya berada, lalu berteriak keras-keras pada benda itu, “Dasar pelayan kurang ajar! Kembalikan ponselku!”

§

“Siapa itu? Salah sambung lagi?”

Minho mengangguk. Matanya berputar malas sebelum mengeluhkan tentang modus penipuan yang semakin canggih setiap harinya. Dan hebatnya, penipu di zaman modern ini tidak pantang menyerah. Sepanjang hari ini saja sudah tiga kali ia menerima panggilan telpon yang tidak jelas.

“Perempuan gila yang menelpon tadi bahkan menuduhku sebagai seorang pelayan. Ada-ada saja kan?”

“Yang tadi itu perempuan?” Tanya Ken tanpa kehilangan fokus pada kemudinya.

Minho mengangguk lagi. Terbersit dalam pikirannya mengenai perempuan yang menelponnya barusan. Suara perempuan itu masih terngiang di telinganya. Lembut dan berkarakter, itulah kesan pertamanya mengenai sosok si penelpon tadi, tentu sebelum perempuan itu meneriakinya dengan emosi membara.

“Bagaimana kalau yang tadi itu bukan penipuan?”

“Maksudmu?”

“Hm, ini memang terdengar aneh tapi bagaimana kalau seandainya perempuan tadi ingin berkenalan denganmu?”

Minho tertawa terbahak-bahak dibuatnya. “Ken, memangnya semua orang sepertimu yang sengaja pura-pura salah sambung lalu mengajak kenalan?” Ledeknya.

“Aku kan hanya menduga-duga.” Ken mendengus sebal.

Beep… beep… beep…

Suasana dalam mobil itu, yang tadinya sempat dilanda keheningan setelah lelah tertawa, dibuat riuh kembali dengan suara dering telpon yang mengudara. Ken, yang mengenal betul suara ringtone ponselnya yang menggunakan lagu girl group kesukaannya, menyikut lengan Minho.

“Itu bukan ponselku.”

Ken sampai harus memberhentikan mobilnya di bahu jalan setelah melihat ponsel dalam genggaman Minho. Benar, bukan milik Minho yang berdering, tapi yang pasti juga bukan miliknya sendiri.

“Lalu ponsel siapa?”

Keduanya lalu menengok ke kursi penumpang di belakang mereka dimana mereka meletakan tas dan tumpukan file lainnya. Mereka mendengarkan bunyi dering itu dengan serius. Rasa-rasanya Ken pernah mendengarnya, Minho juga seakan familiar dengan bunyi itu.

“Astaga!” Minho berseru.

“Kenapa?” Ken menatapnya. Minho tidak balas menatapnya karena ia tengah sibuk dengan ponsel di tangannya.

“Gawat, Ken, yang ini bukan ponselku.”

Ken berusaha mengumpulkan kata-kata itu, merangkainya lalu mencernanya hingga ia paham makna yang sebenarnya. Ia geleng-geleng kepala. Tubuhnya langsung lemas begitu mengetahui apa yang sedang terjadi.

§

Junhyung tidak mau mengangkat telpon, tidak juga membalas pesan yang dikirim Jinri menggunakan ponsel Youngji. Pemuda itu marah, ia yakin betul. Dan Jinri gelisah setengah mati memikirkannya.

Dalam perjalanannya menuju kantor Junhyung, dengan ponsel Youngji yang dipinjamkan padanya, ia tidak kenal lelah berusaha menghubungi Junhyung. Entah sudah berapa kali Jinri menekan panel redial dengan penuh harap kalau Junhyung akan mengangkat telpon. Telah belasan kali Jinri mengirim pesan tapi tidak satupun yang dibalas oleh Junhyung.

“Sayang…”

Jinri merasakan detak jantungnya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya; sesuatu yang ia benci karena membuatnya tidak tenang.

Kriiing… kriiing… kriiing…

“Sayang, akhirnya kamu-”

“Maaf, Nona, apa kau yang menelpon nomor ini tadi? Apa kau pemilik ponsel ini?”

Karena terlalu terburu-buru, Jinri tidak melihat nama yang tertera pada layar ponsel. Tidak disangka kalau ternyata namanya yang tertera di layar ponsel itu.

“Kau… apa kau pelayan restoran yang menemukan ponselku?”

“Iya, aku menemukan ponselmu tapi aku bukan pelayan restoran.”

“Kau yang menemukan ponselku?”

“Iya, itu aku.”

Tidak tahu apa yang merasuki dirinya, tapi yang jelas Jinri menangis setelah mendengar jawaban—atau mungkin suara itu. Entah apa itu yang dinamakan lega atau apa, Jinri hanya ingin mengeluarkan perasaan mengganjal dalam hatinya tadi dan menyisakan ruang untuk bebas bernapas.

“Nona, apa kau menangis?”

Jinri menyeka air matanya. Ia masih sesugukan, dan orang-orang yang berdiri di sekitar menatapnya dengan berbagai macam tatapan yang berbeda; mungkin itu kasihan, mengejek atau bahkan tidak peduli.

“Tolong…. kembalikan ponselku secepatnya!”

TBC…

Advertisements

38 thoughts on “Hello, Stranger [1]

  1. Whoa….
    Baguss..baguss.. caranya memperkenalkan tiap karakternya unik, aku pikir tadi couplenya bukan minsul, nggak taunya salah,.
    Baru awalnya aja sih, tapi aku udah penasaran banget buat kelanjutannya.
    Semangat ya kak…..
    Pliss jangan sampe berheti ditengah jalan ya…?,
    Semangat!!

  2. Ccciieee…minsul diprtmukan lewat hp nih yeee,,, hahaa
    Mskipun hnya lewat suara..sprtinya dr sisi minho sudh mulai mnyimpan ktertarikan,, *siapa tau ???
    Dan sulli… sygny dia sudh mmiliki seorg namja yg sudah dia sayang
    Yaah…mskipun naamja itu sdkit mngesalkan siih,,, over protektif kykny
    Minho juga…sprtinya puny kenangn yg mnyakitkan soal yeoja
    Lalu…bgaimna dgn kduany ??
    Klnjutan minsul pasca ponselny ssul yg dtmukan minho ??
    Apakh mereka akn brtemu ??? Apakah yg akn trjadi ???
    Next part chingu… fightiiiiiiiing 😉 ♥ ^▽^ ♥

  3. Wah author dyocta baru muncul nih dengan ff baru yang part 1nya bagus.disini minsul belum pernah bertemu.dan sulli sudah punya pacar.hp sulli hilang dan yg nemuin minho.entah bagaimana reaksi minsul kalo ketemu.next chap.fighting.

  4. Wah wah wah…… ini karya author dari mana yah ??? Kok baru muncul ???
    Wah kangen ama karya karya mu eonni
    Lanjut terus jgn lama lama hiatus nya. Nggak enak nungguin nya
    Love you eonni and miss you so much
    Eh baru inget deh, karya yg dulu nggak di Lanjut ta ??? Penasaran eon, lanjut lah eon 🙂 🙂 🙂 🙂
    Bye…….

  5. hahah minho lcu deh msa ia ngak tau hp sndiri, tp dsini ssul udah pnya pcar rpanya,.. Wah pnasaran ama crita minsul nntinya.. 😀
    Semangat buat eon, lnjut ya eon

  6. Hahaha minho dikira pelayan haha aigoo tanda cinta apany… nggak capek apa pacaran sama orang yg kayak gitu.kayaknya gara2 ponsel ini meretakkan hubungan sulli dan membuat minho terkena dampaknya juga hahahaha seru seru.lanjut.

  7. Demi apa konyol banget minhoppa alergi ama buncis wkwk perutnya gabisa netralisir buncis jadinya mules mules, oke penyakit baru 😂😂
    Btw lumayan ceritanya walau masih abu abu kalau di awal, well ditunggu kelanjutannya 😉

  8. sayang sekali sulli udah punya pacar….!!! menurut ku pacar sulli terlalu over deh…”!! dikit² telpon dengan bebagai macam pertanyaan yg mencurigai. seakan-akan sulli itu adalah wanita yg suka selingkuh atau suka berbohong. sebenarnya curiga itu boleh hanya saja jangan keterusan seperti itu juga. kagak enak banget kalau selalu dicurigai. sulli²….cintamu yg begitu besar membuatmu harus bertahan dengan situasi yg seperti itu.
    minho kagak suka buncis? kenapa harus makan kalau kagak suka? jadi sakit perut kan? makanya kalau makanan itu menganggu pencernaanmu jangan dimakan. kalau sakit dirimu sendiri yg susah. btw haeryung itu siapanya minho? mendengar percakapan minho dan ken sepertinya haeryung itu adalah sosok yg sangat berpengaruh dalam hidup minho. apa jangan² haeryung itu adalah mantan pacar minho yg sangat dicintainya sehingga saat haeryung pergi, minho benar² terluka dan tak bersemangat dalam menjalani hidupnya. ah molla….!!!
    sulli bener² panik saat tahu hpnya hilang. apalagi pas tahu yg bawa hpnya itu seseorang yg nyebelin. bukan salah sulli juga kalau menyebut minho sebagai pelayan restoran. karena hp sulli hilang saat makan siang, ya jadi wajarlah kalau sulli mengira minho itu seorang pelayan resto. hahahahaha lucu juga deh lihat interaksi mereka.

  9. pertama baca yang ada dipikiranku adalah “yaaah jinri udah punya pacar….” 😀
    tapi ini gara-gara ponsel minsul akan dipertemukan yaaa :3
    kesel juga sama pacar nya jinri-_- segitu nya banget siiih
    kan ngeselin yak kalo digituin terus, mending udahan aja deh ssul terus pdkt sama minho kkk~
    minho denger suara sulli aja udah terpesona 😀

  10. Serius, temen juga Ada nih yang pacaran model2 jinri x junhyung . . Nah aku sendiri perannya jadi Youngji ini. Wkwkwkw. Punya pacar over Dan gampang gak percayaan gini bikin makan atiiii. . 😠

  11. Waktu Ken ngasih HP ke Minho, udah sempat duga kalo itu sebenarnya HP Jinri…
    Wah, mereka dipertemukan dengan cara yang unik…
    Minho alergi buncis… Tapi nekat makan buncis… Babo-a! 😅

  12. anyeonghaseyo..udah lama rasanya ga baca2 ff lg..kangen sm minsul jadinya main lg ke blog ini 😊

    wallaahh bakalan jd pertemuan yg konyol…minho2..bisa2nya slh bw hp orang..
    ihh ga suka sm pacarnya sulli…curigaan,gampang ngambek.. payahh…udah ssul tinggalin aja #ehh

    okay…
    thx yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s