THE runaway BRIDE (Part 26)

THE RUNAWAY BRIDE

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Supported Cast : Choi Siwon, Im Yoona,Kim Nam Jo,etc

Length : chaptered

Rate : DEWASA (18+)

♥♥

 26. Keputusan

Suara bantingan pintu mobil mengejutkan keduanya. Kemudian kegaduhan mulai mendominasi. Tiba-tiba gedoran yang amat keras mengguncang pintu kamar

” Sulli… ! Buka Pintu !!”

Sulli mengkerut, dia seperti sudah bisa mencium api amarah yang siap menjilat dan membakarnya sampai habis. Minho berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya. Dalam satu hentakkan, pintu terbuka lebar. Choi Seung Hon berdiri di ambang pintu dengan muka merah dan mata menyala, tangannya terkepal seolah siap meninju siapa pun yang mendekatinya.

  

” Kau !” teriaknya sambil menunjuk lurus pada Sulli ,” telah mempermalukan keluarga kita. Kau berbuat tolol sementara separuh penduduk kota ini menyaksikan !!”

” Appa, aku mohon maaf… aku menyesal melakukan ini. Tapi aku tak pernah merencanakan kejadiannya akan seperti ini…”

” Kau telah mempermalukanku ! Kau telah mencoreng nama keluargamu ! Kau telah membuat nama keluarga besar Choi juga tercemar !!”” teriak ayahnya, sementara beberapa orang mulai berkerumun di depan pintu.

” Sabar…” Minho berkata tenang, menumpangkan tangannya di bahu ayah Sulli dan mengusapnya lembut.

Efeknya terlihat jelas, karena ayah Sulli serta merta berusaha lebih tenang. Lelaki paro baya itu langsung menunduk di hadapan calon menantunya… calon menantu yang gagal.

” Aku meminta maaf atas nama keluarga besarku. Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kejadian memalukan ini… mohon keluarga besar Choi tidak menganggap kami berniat buruk atau apapun.”

Sulli memegang tepian meja rias untuk menahan tubuhnya yang serasa limbung. Dia merasakan sakit yang sulit diartikan dalam jiwanya. Dia belum pernah melihat ayahnya begitu tunduk dan merendah di hadapan siapa pun. Tiba-tiba kesadaran yang nyata menusuknya, dia telah membuat keluarganya kecewa dan malu.

” Tak seorang pun  merencanakan kejadian hari ini.” Minho menarik nafas, kemudian berpaling ke arah Sulli. Ekspresi muak sekilas tampak di wajahnya ,” Apapun yang dilakukan Sulli hari ini, dia tidak berniat mempermalukan siapapun.” Lanjutnya dengan suara tegas.

Ruangan yang tadi ribut mendadak hening .

” Sulli hanya mempertahankan apa yang menjadi keyakinannya. Dia berhak melakukannya… semua orang berhak mempertahankan keyakinan yang dimiliki. Mungkin salah satu dari kami memang harus melakukannya, dan Sulli memiliki keberanian luar biasa telah melakukannya untuk kami berdua…. Tak ada yang perlu diributkan, karena pada akhirnya … di masa depan… mungkin salah satu dari kami bisa bernafas lega.”

Sulli menatap Minho tak percaya. Dia merasa seluruh dirinya tersedot dan amblas ke bumi. Menyadari penderitaan yang harus dialaminya selama beberapa hari ini telah terluapkan melalui debat sengitnya tadi… tiba-tiba dia merasa kosong dan aneh.

Matanya memperhatikan setiap perubahan di air muka pria itu… pria yang pernah dicintainya. Dia menyadari dalam setiap kata-katanya, Minho tengah membela dirinya. Sulli tahu, lelaki ini sangat murah hati dan dia tak terkejut melihatnya seperti itu. Tetapi Minho yang berdiri di hadapannya adalah pria yang beberapa menit lalu telah tercabik harga dirinya… dan dengan tenang dia membela manusia yang telah mencabiknya itu. Rasanya Sulli akan lebih sanggup menghadapi kemarahan dan pembalasan dendam lelaki itu… dari pada belas kasihannya. Tanpa disadarinya, matanya berkaca-kaca. Tetapi kata-kata itu tak akan sanggup meredam kemarahan ayahnya yang sudah meluap.

” Kau pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari dia. Seharusnya dia menyadari itu sebelum meninggalkanmu di depan altar…” teriak ayahnya ,” Dan itu perbuatan yang tidak termaafkan !!”

” Kau salah, paman. Sulli pantas mendapatkan pria yang lebih baik dari aku.” Minho wajahnya terlihat pucat ,” Karena sebelumnya aku juga pernah melakukan hal yang sama pada pengantinku. Setahun yang lalu, aku telah kabur dari pernikahanku sendiri di tempat yang sama…”

” Itu pasti berbeda. Kau pasti punya alasan…”

” Itu tidak berbeda. Kalau aku telah dimaafkan atas kesalahan yang kulakukan dulu, maka selayaknya aku pun memaafkan apa yang dilakukan Sulli. Walau kuyakin dia melakukannya pada detik-detik terakhir tidak bisa dibenarkan. Tetapi sebelum kalian semua menyalahkan Sulli, maka kalian harus menyalahkan aku terlebih dahulu… karena dia punya alasan yang bisa aku mengerti…” suaranya terdengar parau ,”… jadi kalau ada yang mau menyalahkan Sulli, salahkanlah aku.”

Ucapan itu membuat kebisuan yang panjang di sana.

Tiba-tiba Choi Zea menyerbu masuk dengan nafas masih memburu. Matanya yang kecil menatap tajam pada Sulli.

” Bedebah dungu !!” teriaknya tajam , ditujukan pada Sulli ,” Kau nyaris punya kesempatan…NYARIS ! Kesempatan untuk kita semua…. lalu kau mencampakkannya dengan bodohnya…!”

” Diam!!”

Minho menggertaknya, tetapi diabaikan lelaki itu. Bisikan dan gumaman terdengar di sana-sini.

” Kau memang selalu punya ide konyol di kepalamu. Dan sekarang ide konyolmu itu menghancurkan keluarga kita. Dasar tolol !!”

” CUKUP !!!”

Ruangan yang sejenak ribut itu mendadak sunyi. Semua mata tertuju pada Choi Minho yang berdiri di antara Sulli dan Choi Zea, menegakkan tubuhnya dengan tangan terkepal. Persis seperti harimau yang siap menerjang siapapun yang mendekat. Tak seorang pun berfikir Minho akan berteriak garang dan marah, sangat tidak mencerminkan kebiasaannya berkata-kata selama ini.

Ruangan semakin hening mencekam.

” Aku melarangmu mengucapkan sepatah kata pun yang memaki Sulli.” Minho berkata tenang tetapi penuh ancaman ,” Choi Sulli tidak berniat melukai siapa pun. Dia tidak berniat mempermalukan siapa pun. Dia hanya melindungi dirinya sendiri. Dan aku yang akan melindunginya dari apa pun.”

” Bodoh ! Kau tidak akan…?”

” Aku tidak akan membiarkanmu atau siapa pun menyakitinya…. apalagi kalau sampai menyentuhnya.”

Choi Zea kalap, dia melangkah maju seolah ingin mengukur sejauh mana keseriusan kata-kata itu. Siwon dan Jiho yang sedari tadi berdiri di dekat pintu bergerak maju tetapi Minho mengangkat tangannya untuk menghentikan mereka.

” Kuminta keluarlah dari Jeju !”

Choi Zea kepalanya terlempar ke belakang saking kaget ,” Memangnya siapa kau… mengusirku dari pulau ini ?”

” Aku bukan siapa-siapa. Tetapi aku bisa melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal telah kembali ke pulau ini. Pulanglah ke asalmu hari ini juga, aku akan mengurus tiket kepulanganmu.”

” Tidak…!”

” Kalau begitu kau akan berhadapan denganku. Sulli di bawah perlindunganku. Dan aku tidak main-main dengan sumpahku !!”

Sulli terduduk di ranjang, matanya menatap punggung Minho tanpa berkedip.

” Suara itu tajam dan menusuk. Itu bukan Minho yang kukenal, itu adalah suara seorang laki-laki yang terluka. Yoona benar, Minho akan bersikap tegas bila dia meginginkannya. Ternyata banyak sisi lain yang tidak kukenal dari pria ini… Dan apa yang telah kulakukan padanya ?” batin Sulli.

” Dan tolong tinggalkan kami berdua…. Aku ingin bicara berdua dengan Sulli !”

Itu perintah tak terbantahkan.

Sulli melihat satu per satu orang-orang mulai meninggalkan kamarnya. Sepertinya tak seorang pun sanggup membantah kata-kata yang diucapkan dengan kharisma yang memancar begitu kuat. Ibunya Minho, orang yang terakhir berdiri di sana seperti ragu-ragu meninggalkan mereka. Minho menghampirinya, mencium pelipisnya dengan lembut… selembut kata-katanya.

” Tidak apa-apa eomma, aku hanya ingin berbicara dengan Sulli. Kami mohon maaf telah mengacaukan keadaan, tetapi yakinlah ini untuk kebaikan kita semua.”

Wanita tua itu menghela nafas, melemparkan senyum tulus ke arah Sulli ,” Baiklah, kalian memang butuh waktu untuk berdua. Aku akan menyuruh Namjoo membawakan kue dan coklat hangat ke sini. Eomma tahu, kalian belum sempat makan apa pun sejak tadi malam.”

” Terimakasih…..” gumam Minho.

” Aku tidak mau makan…”

Sulli berkata dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca. Pikiran dan tubuhnya benar-benar tak bisa berjalan selaras dengan harapannya. Semua berjalan terlalu cepat…terlalu dahsyat… terlalu membuatnya syok.

” Ya, kau perlu makan sesuatu. Juga coklat hangat untuk mengurangi keteganganmu.” Bantah Minho cepat dan gusar.

Sulli menatap pria di hadapannya lekat-lekat, merasa tidak mengenalinya sama sekali. Ada sesuatu dalam pria ini yang telah muncul ke permukaan… sesuatu yang tidak ingin dilihatnya tetapi telah dimunculkan oleh perbuatannya sendiri.

Apakah Sulli menyesal ?

Entahlah…

Kim Namjoo membawa nampan berisi kue dan dua gelas coklat panas ke kamar Sulli. Sementara ibunya Minho mengambil cucunya dari pelukan Yoona dan membawanya ke beranda samping, seolah dia ingin menyingkir dan menenangkan diri. Keluarga Sulli langsung kembali ke hotel, mereka tak sanggup menanggung beban rasa malu yang diakibatkan kelakuan Sulli.

” Eomma sangat terpukul…” bisik Yoona pada suaminya.

” Dia sudah bisa mengatasinya. Hanya memerlukan sedikit waktu untuk sendiri , Yeon Si akan sangat menghiburnya. Lagi pula ini bukan yang pertama buatnya…”

Siwon menggenggam tangan istrinya, mendekatkan ke bibirnya dan menciumnya penuh cinta , ” Maafkan aku Yoona…. ini semua mengingatkanmu pada masa sulit dulu…”

” Ya. Yeobo, apakah kau tadi mendengar Minho mengatakan peristiwa itu kepada semua orang… aku bersumpah tidak pernah dia mengatakan hal itu sejak kembali dari pengasingan dirinya. Aku takut… inilah yang menjadi alasan gagalnya pernikahannya kali ini…”

” Sshh… jangan terlalu jauh berfikir. Ini bukan pernikahan yang gagal… tetapi hanya tertunda. Mungkin kita terlalu cepat bergerak, sementara mereka tidak cukup waktu untuk bicara. Aku juga yang salah karena menyuruh Minho bekerja di saat-saat menjelang pernikahannya. Seharusnya waktu yang sebentar itu mereka gunakan untuk lebih mengenal satu sama lain…”

” Oppa… Ini bukan kesalahan siapa pun. Ini adalah kehendak Tuhan…. seperti yang terjadi pada pernikahan kita. Kalau waktu itu Minho tak punya keberanian untuk lari, maka aku akan kehilangan satu-satunya pria yang paling kucintai…”

” Dan aku akan memendam rasa cinta yang begitu besar kepadamu….” Siwon menatap mata Yoona ,” Kau tahu, aku hampir gila menyadari wanita yang kucintai akan melangkah ke depan altar bersama adik kandungku sendiri. Aku nyaris mengamuk melihatmu dalam gaun pengantin… kau begitu cantik tetapi tak terjangkau….”

” Untunglah Minho menyadarinya sejak awal. Kita berhutang budi padanya, oppa…”

” Benar …”

” Kita harus membantu Minho untuk memperbaiki semua ini. Aku belum pernah melihat dia begitu tergila-gila pada seorang wanita, seperti dia pada Sulli. Cintanya begitu kuat, hingga dia seolah mampu menahan badai sendirian agar Sulli bisa aman dan selamat.”

” Darah pria Jeju sejati mengalir di tubuhnya. Aku bangga padanya… dia sekarang telah menjadi laki-laki yang sesungguhnya.”

Kamar Sulli

Begitu melihat ibunya melangkah ke luar ruangan, Minho segera menghampiri Sulli dan duduk di hadapannya.

” Jinri, aku ingin berbicara denganmu dengan serius. ..”

Sulli terdiam. Minho berkata dengan nada yang lembut tetapi berjarak. Sulli melihatnya bukan sebagai lelaki yang dikenalnya selama ini, sosok serius dan lebih tua beberapa tahun seolah-olah telah mengambil tempat Minho yang dikenalnya.

” Kita harus membereskan semua kekacauan ini…”

” Kita ? Akulah yang menyebabkan semua kekacauan ini. Choi Zea benar, aku adalah manusia yang paling bodoh dan tolol. Ini semua gara-gara aku, jadi biarkanlah aku yang membereskan semuanya.”

” Bisakah kau ? Bagaiamana caranya ? Kau tak akan mampu membayangkan dampak dari semua kejadian ini. Aku mengetahuinya, karena aku pernah mengalami hal ini sebelumnya. Kau tak akan bisa menghadapinya sendirian, Jinri. Kecuali kalau kita bekerja sama.”

Sulli tertawa, menertawai pikirannya sendiri. Tentu saja dia bisa membayangkan kekacauan yag terjadi di luar sana… ratusan undangan…makanan yang berlimpah… grup band yang sudah dikontrak… dan yang terpenting nama baik keluarga Minho yang cukup dikenal di pulau.

” Apa yang kau lakukan waktu itu ?” tanya Sulli linglung ,” Tidak… seharusnya aku tak boleh bertanya begini padamu.”

” Pertanyaan yang tepat. Aku lari dari rumah sesaat sebelum pengantin wanita dibawa ke gereja. Kemudian aku menyembunyikan diri selama berbulan-bulan, sebelum akhirnya Jiho hyung membawaku pulang. Waktu itu eomma sakit karena memikirkan keberadaanku, jadi aku harus pulang dan menghadapi kenyataan…” Minho berhenti sebentar ,” Caramu tadi lari dari depan altar, di hadapan para tamu… benar-benar tindakanya yang membutuhkan tekad dan keberanian yang besar.”

Itu bukan pujian, Sulli menyadarinya. Dan dia ingin berseloroh untuk tindakan impulsifnya.

” Memang membutuhkan tekad kuat, kau benar. Sepertinya aku terlihat bagai pahlawan, bukan ? Dan tampaknya masih banyak yang harus kuhadapi ke depan.” katanya kemudian tertawa kering.

Minho menatapnya dengan sorot mata yang tak bisa dibaca.

” Kau terlalu banyak menghadapi tekanan akhir-akhir ini. Dari keluargamu… dari keluargaku juga. Kemudian aku yang begitu kuat menginginkanmu menjadi istriku… terlalu mendesakmu. Tanpa memberikan waktu bagimu untuk berpikir dan mempertimbangkannya lebih jauh. Keberanianmu untuk mengatakan “tidak” di detik-detik terakhir adalah hal yang istimewa. Aku sendiri tak yakin punya keberanian sebesar itu. Tetapi aku bangga kau melakukannya…” Minho tersenyum sinis pada dirinya sendiri ,” Meskipun aku tak bisa mengatakan senang atas hasilnya.”

” Maafkan Minho…”

” Tak ada yang perlu dimaafkan. Kau memang layak mendapatkan kesempatan untuk menentukan masa depanmu… aku pun tak akan bahagia bila tahu kau menikah denganku karena terpaksa harus menjalaninya.”

” Jadi kau tidak membenciku ? Kau benar-benar tulus membelaku di hadapan semua orang ?”

” Apa yang kau harapkan dariku ? Memaki-makimu sampai mulutku berbusa ? Mengumpat kelakuanmu yang telah meninggalkanku di depan altar ? Berhak-kah aku ?”

” Tetapi kau seorang pria. Kau mengatakan seorang pria di Jeju bisa melakukan apapun yang dikehendakinya. Kau pernah bilang tak ada seorang wanita pun yang berani membantah kehendak seorang pria.”

” Itu dulu, Jinri. Sekarang Jeju sudah jauh berubah. Semua itu tak berlaku lagi di sini. WanitaJeju adalah wanita pemberani yang memiliki semangat, terkadang memiliki keberanian yang melebihi kaum pria. Mereka lebih gigih membela kepentingannya. Kau ingat, kita waktu itu kan hanya berbincang ringan… kita sedang bercanda…. Aku seharusnya memperingatkanmu dulu… semua kata-kataku dulu…”

Suara ketukan halus di pintu menghentikan pembicaraan mereka. Minho berdiri dan berjalan membuka pintu. Dia memberikan jalan kepada Namjoo untuk meletakkan nampan di atas meja.

” Terimakasih noona..” katanya tenang.

” Aku harap kalian bisa berbicara dengan baik.”

Namjoo berbalik pada Sulli kemudian memberikan pelukan dan senyum yang hangat. Rasa sesal dan sedih meyergap Sulli. Dia sangat membutuhkan pelukan hangat di saat seperti ini,dan seorang wanita luar biasa yang hampir menjadi bagian dari hidupnya telah memberikannya. Dengan cepat dia menundukkan pandangannya, menyembunyikan matanya yang tiba-tiba terasa panas.

Bersamaan dengan Namjoo yang berjalan kembali ke pintu, Sulli bangkit dari ranjang dan berjalan menuju balkon. Seketika matanya melihat pemandangan di bawah sana. Kesibukan masih terjadi di sana, tamu-tamu masih berkumpul di beberapa sudut halaman.

” Sebaiknya kau berganti pakaian supaya lebih nyaman.” Saran Minho.

Sulli tak berkata-kata, dia membuka sebuah kopor kecil dimana sebagian bajunya tersimpan untuk dibawanya berbulan madu begitu pesta resepsi pernikahannya usai. Dengan kacau, dia menarik sebuah gaun  berwarna peach berbahan ringan dan membawanya ke kamar mandi.

Begitu dia ke luar dan sudah berganti pakaian, dilihatnya Minho sedang menyeruput coklat hangatnya. Dia tersenyum dan menepuk satu tempat di sisinya untuk ditempati Sulli. Dengan perasaan campur aduk, Sulli menerima cangkir coklat dan mulai menyesapnya pelan-pelan. Rasa coklat yang manis dan hangat terasa melalui tenggorokannya.

” Makanlah, Namjoo noona membawakan beberapa pie dan cake. “

Sulli , entah bagaimana, tiba-tiba merasa kelaparan. Dia meraih sepotong besar cake coklat dan melahapnya. Dia berhenti mengunyah ketika sadar bahwa Minho hanya memandanginya dalam diam.

” Apakah kau tidak ikut makan ? Kata ibumu kau belum makan sejak tadi malam.”

” Aku sudah makan sebelum ke gereja, eomma tidak tahu. Makanlah… kau butuh energi lebih untuk menghadapi semua kemungkinan.”

Minho berbohong, dia tak mungkin mengatakan kepada Sulli kalau rasa takut dan kekecewaannya telah mendorong jauh-jauh nafsu makannya. Dia bahkan sangsi apakah bisa menelan kue yang lembut sekalipun. Dia berencana akan minum sampai mabuk, setelah semuanya usai. Hanya itulah yang bisa membuatnya lebih ajeg dan tidak gila.

” Minho… apakah ibumu baik-baik saja. Beliau baru saja sembuh… aku takut…”

” Jangan khawatir, Kedua abangku lebih tahu bagaimana mengurusi eomma.”

” Tamu-tamu itu… mereka sudah datang dan pastinya bertanya-tanya. Oh Tuhan…. apa yang telah kulakukan ?” erang Sulli, seolah baru tersadar atas semua akibat yang ada.

” Ada apa ?”

” Semua makanan itu… kue pengantinnya… tiket untuk bulan madu… aku benar-benar mengacaukan semuanya, bukan ?”

Minho tertawa pelan ,” Makanan itu akan habis, kue pengantin juga… semua bisa diselesaikan. Ingatlah, kami pernah mengalami hal ini tahun lalu. Sedangkan tiket, aku bisa memberikannya kepada Jiho hyung dan Namjoo noona… mereka belum pergi berbulan madu sejak menikah… karena eomma sakit. Sesekali mereka harus diusir jauh dari pulau untuk bisa lebih akur…” gurau Minho.

” Bagaimana kau bisa bergurau dalam situasi seperti ini ?”

” Daripada meratapinya ?”

Sulli tercekat, menyadari walaupun saat bergurau tak ada kilat kejenakaan di matanya. Sekilas sebelum melanjutkan kalimatnya Sulli bisa melihat sosok pria yang berusaha mengendalikan emosinya…emosi yang mendalam akibat terluka dan putus asa.

” Semua sudah terjadi, kita tidak bisa terus menoleh ke belakang hanya untuk menyesal dan berharap. Kita punya masa depan, dan ke sanalah kita harus bergerak.” Lanjutnya getir.

Sulli mengepalkan tangannya, menahan reaksi emosinya yang ingin mengusap dan menghilangkan kepedihan itu dari wajah Minho. Dia tak berhak lagi melakukan itu, sebesar apapun keinginannya untuk menghiburnya. Dia telah kehilangan haknya begitu badannya berbalik dan berlari dari depan altar.

” Well, sekarang apa yang akan kau lakukan ?” Minho membelokkan permasalahan.

” Aku akan pulang ke New York. Lebih cepat lebih baik.”

” Tidak. Kau harus tinggal di sini… di Korea. Semakin aku memikirkannya, semakin aku yakin bahwa Korea akan lebih aman untukmu.”

” Bagaimana mereka semua bisa cepat melupakan peristiwa ini kalau aku tetap tinggal di sini. Aku harus pulang ke New York. Di sana aku punya apartemen dan pekerjaan.”

” Tetapi di New York keluargamu akan dengan mudah menjangkaumu.” Minho mengernyit membayangkan Choi Zea akan meneror Sulli jika kembali ke sana ,” Bayangkanlah olehmu. Di sana kau akan menghadapi banyak pertanyaan dari rekan kerjamu… dari tetangga-tetangga ayahmu. Kau akan membutuhkan orang untuk melindungimu… sementara aku tahu ayahmu saat ini sedang sangat marah padamu. Kau tak bisa berharap banyak padanya.”

Sulli terdiam, mencerna pemua kata-kata Minho.

” Lagi pula hotelmu telah memberikan tugas untukmu di Seoul. Kau tak perlu tinggal di Jeju. Kau bisa tinggal di Seoul, keluarga kami punya apartemen di Gangnam untuk bisa kau tempati sementara kau belum mendapatkan apartemen lain. Tempat kerjamu pasti akan kecewa bila kau lari dari tugas yang telah mereka percayakan. Dan aku tahu persis bagaimana perjuanganmu untuk mendapatkan semuanya. Aku tak mau kau kehilangan kesempatan karirmu. Kau bisa memintaku kapan saja kau memerlukanku, Jinri. Tetapi Amerika terlalu jauh dari sini…”

” Setelah kejadian ini ?” tanya Sulli tak percaya ,” Kau akan membantuku setelah kejadian ini ?”

” Mengapa tidak ? Aku dan Yoona noona bisa menjadi adik-kakak, dan bisa berhubungan dengan baik. Sebelum merencanakan pernikahan, kita adalah sepasang sahabat yang kompak. Kumohon, kau menghargai hubungan itu… aku berjanji tidak akan membebanimu dengan harapan yang terlalu besar. Aku hanya tidak mau hubungan di antara kita yang telah baik harus terpecah karena masalah ini. Kumohon…:”

Sulli terdiam. Apa yang dikatakan Minho benar, kembali ke New York akan mendatangkan banyak masalah baru baginya. Mungkin tinggal di Seoul akan jadi solusi yang terbaik, Minho dan keluarganya bisa melanjtkan kehidupan mereka… dan dia bisa merintis dari awal kehidupan barunya di Korea.

” Aku tidak tahu apa yang bisa kulakukan tanpamu…”

” Kau harus melakukan apa yang dikatakan temanmu ini.” Minho mengulurkan tangan dan meraih jemari Sulli, kemudian menggenggamnya. Kehangatan dan rasa aman mulai mengalir ke dalam tubuh Sulli.

” Begitu siap, aku akan mengantarmu ke Seoul sekarang.”

Minho berusaha meyakinkannya, dia tak ingin Sulli mendengar hal-hal tidak menyenangkan yang dia yakin sedang berlangsung di bawah sana. Sulli sudah cukup menderita dengan beban rasa bersalahnya.

” Aku akan berganti baju kemudian menyiapkan mobil untuk kita. Kita bisa berangkat melalui jalan belakang yang tidak tersentuh tamu-tamu di luar sana.”

” Lalu bagaimana keadaan di sini ? Aku tak bisa lari…”

” Sisanya serahkan saja kepadaku. Kau mempercayaiku kali ini bukan ?”

Sulli melihat kesungguhan di wajah Minho, kesungguhan yang dengan sedih disadarinya telah dia tinggalkan di belakangnya.

” Baiklah…” jawabnya.

 

Advertisements

108 thoughts on “THE runaway BRIDE (Part 26)

  1. Wowwwwww minho bisa sebaik dan setegar itukah?? Baiknya Minhooo. Duh sulli kurag baik apa cobaa hiks aq sangat menyayangkan semua ini terjadi, pernkahan minsul harus gagal.

  2. Ufftthhh poor Minho ;( Sulli apakahh kau tdk menyesal. Aisshh klw sy lebih baik pergi jauh,bukan k seoul atw NY, tp sejauh2 jauhnya,, agar orang tdk menemukan ku.
    Adakahh part selanjutnya??? Knp tdk ad kata TBC/bersambung 😮

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s