Hello, Stranger [3]

1

 

Hello, Stranger

Sulli, SHINee Minho, B2ST Junhyung & BESTie Haeryung

-3-

Jinri pun mengakui kalau ia baru saja menangis. Ia tidak mungkin mengelak disaat matanya terlihat bengkak dan memerah. Untungnya Minho tidak banyak bicara. Nampaknya pemuda itu tahu kalau Jinri hanya butuh seorang pendengar yang baik.

“Aku baru saja putus dari pacarku, ternyata dia selingkuh dengan rekan kerjaku.” Jinri mulai bercerita dengan sehelai tisu menghapus sisa air matanya. Dilihatnya wajah Minho saat pengakuan itu terlontar dari bibirnya, ia nampak terkejut. “Kamu pasti terkejut, ya kan?”

Minho diam, tidak berani menyuarakan jawabannya.

“Terakhir kali kamu tanya aku bilang kalau aku dan pacarku baik-baik saja. Karena dia mencintaiku, dia mengerti aku makanya hubungan kami baik-baik saja sehabis insiden kemarin.” Jinri tersenyum getir. Ia pun mengaku, “Waktu itu aku bohong. Dia bahkan tidak mau mendengar penjelasanku.”

Tentu saja Minho ingat. Obrolan itu baru terjadi siang tadi. Ia juga ingat kalau setelah itu ia bisa bernapas lega karena tidak jadi merusak hubungan orang lain. Namun seperti koran, Jinri seakan bisa membaca pikirannya.

“Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Kamu pasti berpikir kalau pun aku dan pacarku putus, itu pasti karena insiden ponsel kemarin. Tapi ternyata kejadiannya justru seperti ini.”

Minho masih bungkam. Begitu pikirannya terbaca oleh Jinri, ia kehabisan gaya dan kata-kata. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan gadis itu, satu jam pun belum berlalu, rasa-rasanya ia belum pantas mengomentari apapun itu meski gadis itu telah membuka semua ceritanya.

“Padahal aku sangat mencintainya.”

Air mata Jinri menetes lagi. Tidak peduli berulang kali ia menyekanya dan menahan perasaannya, tapi sakitnya masih menyiksa. Ia tidak punya kuasa untuk menghentikan bulir-bulir air bening itu jatuh dan membasahi pipinya.

“Apa kau mau minum beer?”

“Huh?”

Dahi Jinri berkerut. Sebelumnya ia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang menawari minum beer saat ia merasa sedih. Di waktu seperti ini, Minho seharusnya memberi beberapa kata hiburan dan guyonan agar ia berhenti menangis. Pemuda itu jelas berbeda, tapi Jinri menemukan itu lucu.

Pada akhirnya Jinri tidak bisa menolak, dan menganggukkan kepalanya. Jauh dalam hatinya, ia memang tidak butuh kata-kata hiburan itu. Selain pendengar yang baik, mungkin ia juga perlu melengkapinya dengan beberapa kaleng beer.

Dan malam itu dihabiskan Jinri dan Minho dengan meneguk berkaleng-kaleng beer dan soju tanpa banyak bersuara.

“Beberapa bulan yang lalu, aku juga baru putus dengan pacarku. Dan dia akan menikah bulan depan.”

Jinri menoleh. Rasanya pasti akan tetap pahit meski Minho mengatakannya dengan senyum tersungging di bibirnya. Ia bisa merasakannya bagaimana pun cara Minho menyembunyikannya.

“Apa pacarmu juga selingkuh?” Tanya Jinri hati-hati.

Minhho menggeleng. “Dia dijodohkan.”

“Oh, maaf.”

“Tidak apa-apa,” Ia lalu melanjutkan, “Kamu lihat kan? Ada banyak orang yang patah hati sepertimu. Entah itu diselingkuhi, bosan, tidak direstui, apapun itu alasannya, jika memang hubungan itu harus berakhir maka akan berakhir. Kamu hanya perlu waktu dan semuanya akan berlalu, dan kamu akan merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.”

Akhirnya Minho menyebutkan kata-kata penghibur itu.

“Lalu apa kamu sudah merasa lebih baik? Apa kamu sudah melupakannya?”

Minho terdiam. Pertanyaan itu seperti menyadarkannya akan sesuatu. Bahwa ia masih mengingat gadis itu.

“Kamu pasti masih menyayanginya.” Komentar Jinri.

Minho hanya balas tersenyum. Seulas senyum yang Jinri tidak tahu apa maknanya. Ia nampak tidak keberatan dengan asumsi Jinri, tapi rasanya senyuman itu terlalu dingin untuk mengiyakan asumsi tadi.

Dan tiba-tiba muncul sebuah pertanyaan. Ia menduga-duga apakah mungkin beberapa waktu ke depan ia akan terjebak seperti Minho dimana ia tidak bisa melupakan tapi tidak pula mencintai. Dan apakah malam ini, seperti dirinya, Junhyung juga memikirkan hubungan mereka.

Kemudian diceritakan pada Minho mengenai Junhyung yang masih perhatian padanya walaupun sudah sangat melukainya.

“Apa itu karena dia menyesal? Atau karena dia memang masih peduli padaku? Aku sempat terkecoh tapi rasanya aku tidak mungkin kembali.” Jinri lalu membuka kaleng beer yang baru.

“Tentu saja dia menyesal. Siapa yang tidak akan menyesal mencampakkan gadis cantik sepertimu?”

Minho tertawa. Sedangkan, Jinri hanya tersenyum.

Sesuatu dalam suara tawa Minho menggelitiknya untuk ikut tertawa. Suara tawa Minho menggelegar, terdengar begitu lepas. Dengan tulang pipi yang terangkat tinggi dan matanya yang terpejam, pemuda itu semakin menghipnotis Jinri.

Junhyung juga seperti itu saat tertawa, pikir Jinri. Ia jarang sekali tertawa, ia justru lebih senang membuat orang lain tertawa. Tetapi kalau sudah terbahak-bahak, Junhyung seperti mau meledak saking tidak bisa berhenti. Itulah yang jadi alasan pertama mengapa Jinri jatuh cinta padanya. Dan untuk pertama kalinya, Jinri tertarik pada suara tawa yang lain.

Jinri lalu meminta sesuatu, “Coba katakan sekali lagi!”

“Hm? Apa?”

“Katakan kalau aku hanya perlu waktu dan semuanya akan berlalu.”

Namun Minho menolak. Ia membelai rambut Jinri dan berkata, “Kamu yang harus mengatakan pada dirimu sendiri. Kamu yang tahu hidupmu, kamu yang tahu apakah memang semuanya akan baik-baik saja atau tidak.”

§

Minho terbangun di ruang tamu. Ia berbaring dengan selimut tipis jadi alasnya. Di sampingnya terdapat beberapa botol soju dan kaleng-kaleng kosong bekas minum semalam. Ia tidak banyak mengingat apa yang terjadi semalam, tetapi benda-benda yang ditemukannya itu menjelaskan semuanya.

Begitu pun dengan gadis manis yang tengah tertidur pulas di sofa.

Tanpa sadar Minho bergerak mendekat pada sosok itu. Ia menatap lekat-lekat wajahnya. Entah apa yang sedang diimpikan, Jinri terlihat sangat tenang pagi itu. Sungguh berbeda dengan yang semalam dimana air mata dan kesedihan mendominasi paras ayunya.

Banyak yang terlintas dalam benak Minho saat itu juga, dan Jinri mengisi hampir seluruhnya. Waktu terasa begitu cepat dan tak terduga. Baru kemarin Minho bertemu dengannya, tapi rasanya sudah sangat lama ia mengenal Jinri.

Ia mengenal Jinri hanya dengan mendengar suaranya. Merasa dekat hanya dengan menatap matanya. Dan kini Minho ingin membantunya, melindunginya, menghilangkan sedihnya. Minho ingin melakukan banyak hal untuknya.

“Selamat pagi, Jinri-ssi.”

Ketika itu juga kelopak mata Jinri bergerak dan perlahan membuka lebar. Antara sadar atau tidak, ia tersenyum lalu membalas sapaan itu dengan suara yang masih serak, “Minho-ssi? Astaga, Minho-ssi!” Setelah itu ia memekik keras.

Minho lalu bergerak mundur setelah menyadari jaraknya yang terlalu dekat dengan Jinri. Di hadapannya, Jinri berusaha bangkit sambil memegangi kepalanya yang masih pening akibat mabuk semalam.

“Astaga, aku tertidur di rumahmu ya?”

Minho mengangguk sebagai jawaban. Ia berusaha bertingkah senormal mungkin walau, mungkin, ia sudah pucat pasi saat ini. Jinri tidak boleh tahu apa yang dilakukannya tadi mengingat menatap wajah seseorang saat sedang tertidur bukanlah sesuatu yang pantas.

“Ya ampun, kenapa tidak membangunkan aku saja? Aku jadi merepotkanmu, maaf ya.” Jinri berkata seraya memijat keningnya.

“Jinri-ssi, apa kau baik-baik saja?” Minho cemas melihat keadaannya.

“Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit pusing.” Kesadaran Jinri belum pulih benar. Kepalanya pusing bukan main dan di tubuhnya menempel bau alkohol yang menyengat.

“Semalam kau tidur pulas sekali, aku jadi tidak tega membangunkanmu makanya aku biarkan saja kau tertidur.”

“Hm, apa terjadi sesuatu diantara-”

“Tidak,” Minho berseru keras. Ia bahkan tidak membiarkan Jinri menyelesaikan kalimatnya. “Tidak terjadi apa-apa, sungguh. Kau tidur di sofa dan aku di lantai. Aku berani bersumpah.” Wajah Minho bersemu merah. Jantungnya berdetak cepat di dalam sana.

Tawa Jinri segera meledak. Matanya membentuk bulan sabit yang sempurna. Diterpa sinar mentari, kecantikannya bertambah seribu kali lipat. Minho sangat senang melihatnya. Tidak pernah sebelumnya ia mengira akan terpengaruh sejauh ini pada seseorang yang dikenalnya hanya melalui telpon genggam.

“Aku hanya bercanda,” Jinri berhenti sesaat. “Aku tahu kamu orang baik. Kamu tidak mungkin melakukan apapun padaku, Minho-ssi. Pertanyaanku sebelumnya jangan diambil hati ya.”

Jinri sehangat matahari pagi. Senyumnya sangat ramah, dan matanya berbinar setiap kali ia bicara. Melihat Jinri hari ini sungguh berbeda dengan melihat Jinri yang kemarin malam mengetuk pintu.

“Oh iya, kamu mau sarapan apa?”

“Tidak perlu repot-repot, lebih baik aku segera pulang ke rumah saja.”

“Nanti biar aku yang mengantarmu pulang,” Minho melarang. “Kamu bilang aku orang baik, jadi sudah seharusnya aku menawarimu sarapan, bukankah begitu? Kalau kamu mau, kamu juga bisa mandi dulu, aku akan siapkan baju ganti.” Lanjutnya.

Kebetulan yang Jinri perlukan pagi itu hanya menghilangkan bau di tubuhnya. Ia butuh mandi. Tawaran untuk memakai kamar mandi Minho lebih menggiurkan dibandingkan dengan satu set makanan mewah sebagai menu sarapan. Dan dengan itu, ia setuju untuk menetap dan menunggu diantar pulang oleh sang pemilik rumah.

Minho menyiapkan menu sarapan pagi sembari menunggu Jinri selesai mandi. Ia menghidangkan nasi dan sup di atas meja makan, juga ada roti di sana kalau-kalau Jinri tidak suka masakannya. Untuk minumnya Minho menyeduh teh dan kopi dalam dua cangkir berbeda, tapi ia juga menyediakan segelas susu sebagai pilihan lain.

Sebuah kaus lengan panjang hitam dengan garis-garis putih dan celana training dipinjamkan pada Jinri. Tubuhnya tenggelam dibalut oleh pakaian itu, tapi Jinri tetap berhasil untuk tampil cantik.

“Nanti setelah aku mandi, baru kuantar pulang. Kamu tunggu saja di sini dan habiskan makanannya.” Minho berpesan.

Lho, kamu tidak ikut makan?” Tanya Jinri saat hendak ditinggal Minho di meja makan.

“Nanti saja aku menyusul.”

“Kalau begitu aku tidak mau makan. Biar aku tunggu kamu selesai mandi saja, sehabis itu baru kita makan bersama.” Jinri cemberut.

“Kamu mau aku temani?”

Pertanyaan itu langsung dijawab Jinri dengan senyum sumringah. Membuat Minho luluh, tentunya. “Sudah malam-malam datang ke rumahmu, minum-minum, menginap, meninjam kamar mandi dan pakaianmu, lalu dibuatkan sarapan dan menghabiskannya sendiri. Tolong jangan buat aku terlihat seperti orang jahat, Minho-ssi!” Tuturnya panjang lebar.

“Aku tidak bermaksud begitu.” Minho mengimbuhinya dengan tawa.

Di meja makan itu, keduanya kembali bertukar cerita. Tidak ada lagi tangis haru penuh duka, yang ada kini hanya tawa dan suka. Berdua, Jinri dan Minho mulai mengakrabkan diri dan mengenal satu sama lain.

“Aku tidak menyangka akan bisa sedekat ini denganmu. Kemarin kita adalah orang asing tapi hari ini kita berteman.” Jinri sambil menyuapi makanan ke dalam mulutnya.

Minho tersenyum. Ia pun tidak menyangka kalau ia akan berubah dalam semalam.

“Oh ya sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih banyak padamu. Semalam aku benar-benar tidak tahu harus kemana dan bagaimana, tapi kamu menerimaku dengan baik. Kamu dengarkan aku, menghiburku, Minho-ssi, terima kasih banyak.”

“Barusan kamu sendiri yang bilang kita berteman, jadi tidak usah sungkan. Dan satu lagi, mulai sekarang kamu tidak usah memanggilku seperti itu, panggil namaku saja sudah cukup. Mengerti, Jinri?”

“Huh?”

Untuk sesaat Jinri merasa ada yang menggelitik. Sewaktu Minho menyebut namanya secara informal, ia tidak bisa apa-apa selain mengangkat dua sudut bibirnya.

Di meja makan itu, bergantung sebuah harapan baru bagi Minho. Dan merupakan sebuah awal bagi Jinri yang kini sendiri.

Tokk… tookk…

Pagi itu Minho kedatangan tamu. Ia bangkit dari duduknya setelah meminta Jinri untuk menunggu. Tapi kemudian tanpa sengaja menyenggol cangkir teh hingga isinya tumpah kemana-mana.

“Biar aku yang bersihkan. Kamu buka saja dulu pintunya.” Saran Jinri.

Tapi Minho menolak. Ia tidak bisa membiarkan Jinri, yang juga merupakan tamunya, mengotori tangannya. “Aku saja yang bereskan. Kamu bisa tolong bukakan pintunya kan?” Lanjutnya.

“Oke. Tunggu sebentar ya.”

Jinri tidak banyak berpikir ketika kakinya melangkah menuju pintu depan. Ia pun tidak punya gambaran apa-apa mengenai tamu yang datang ketika telapak tangannya meraih daun pintu lalu menariknya ke dalam.

Tapi begitu pintu terbuka lebar, Jinri dihadapkan dengan seorang perempuan berambut panjang yang masih menggunakan piyama lengkap.

“Selamat pagi.” Sapa Jinri agak canggung.

Perempuan berpiyama itu tidak membalas, ia justru memberi sebuah pertanyaan, “Apa ini benar rumah Choi Minho?”

Jinri mengangguk. “Iya, benar. Silakan masuk, Nona, aku akan panggilkan-”

“Kau siapa?” Sela perempuan berpiyama itu.

“Aku? Oh, perkenalkan namaku Jinri. Aku dan Minho kebetulan-”

“Siapa yang datang?”

Lagi, seseorang menyela Jinri. Tapi kali ini adalah Minho yang datang dari arah dapur. Jinri menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan perempuan berpiyama itu. Pandangan keduanya bertemu dengan sosok Minho yang berhenti tak jauh di belakang Jinri.

“Na Haeryung…”

Tapi iris mata Minho hanya tertuju pada seseorang. Perempuan berpiyama itu menyita seluruh perhatiannya. Na Haeryung, sebuah nama yang telah lama ia kubur dalam-dalam.

§

Haeryung tidak tahu apa yang merasukinya sampai-sampai ia nekat pergi dari rumahnya tengah malam tadi. Tidak pernah dalam benaknya terbersit niat untuk berontak dan melawan kehendak orang tuanya. Ia selalu menurut, bahkan ketika orang tuanya memintanya meninggalkan Minho untuk menikah dengan lelaki pilihan mereka.

Namun, kali ini Haeryung akhirnya mengambil langkah berani. Pagi ini ia berdiri di pekarangan rumah Minho setelah menempuh jarak jauh masih dengan piyama lengkap.

Pendapat mengenai orang tua yang selalu tahu mana yang terbaik untuk anaknya kini tidak lagi ia setujui. Ia salah besar. Meninggalkan Minho merupakan kekeliruan. Tiada hari tanpa penyesalan dalam hidup Haeryung setelah memutuskan hubungannya dengan Minho. Ia tidak bahagia, ia hanya berpura-pura. Dan sekarang ia sadar kalau Minho adalah kebahagiannya.

Haeryung meremas jari-jarinya yang beku. Jantung berdebar mengingat telah berbulan-bulan lamanya tidak bertemu apalagi pertemuan terakhir mereka tidak berkesan baik. Keraguan bahwa Minho akan menerimanya kembali pun mencuat ke permukaan.

Tidak lama setelah pintunya diketuk, nampak seorang gadis membukakan pintu. Haeryung sempat mengira kalau ia datang pada rumah yang salah, tapi kaus hitam bergaris putih kebesaran yang dikenakan gadis itu tidak mungkin dilupakannya. Masih melekat dalam ingatan Haeryung hari dimana ia memberikan kaus itu pada Minho sebagai hadiah ulang tahun.

Sambil mencuri-curi kesempatan, Haeryung mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan. Semuanya masih sama dengan yang dulu saat ia tinggal di sana. Pengharum ruangan beraroma jeruk pun masih tercium—merupakan aroma favoritnya tapi dibenci Minho. Hanya satu yang kemudian ia terlambat sadari, bahwa tidak ada lagi potret dirinya di dinding rumah itu.

“Na Haeryung…”

Mata itu hanya tertuju padanya. Menatapnya seperti dulu. Bibir itu juga menyebutkan namanya.

“Iya, ini aku.” Sahutnya lirih.

Kemudian ada jeda yang panjang. Haeryung dan Minho hanya saling berpandangan tanpa suara sebelum Haeryung akhirnya tumbang.

“Nona, kau kenapa?” Haeryung hampir jatuh, tapi Jinri meraih lengannya dan menolongnya agar tetap berdiri.

Minho pun membantu memegangi Haeryung, “Kamu gemetaran, Haeryung.”

“Tidak, tidak, aku baik-baik saja.” Haeryung mengelak.

“Apanya yang baik-baik saja, sih? Kamu sakit!” Minho terdengar jengkel. Lalu ia mengangkat Haeryung dan membawanya masuk ke kamar.

“Aku tidak apa-apa. Di luar memang agak dingin makanya aku gemetaran. Kamu bisa menyeduhkan kopi untukku kalau kamu mau, setelah itu aku tidak akan gemetar lagi.”

Aish, sejak kapan kamu suka minum kopi?”

Haeryung tersenyum tipis. Ternyata Minho masih mengingatnya.

Setelah menyelimutinya, Minho berpesan agar Haeryung istirahat dan menunggu karena ia akan membuatkan makanan dan membawakan obat. Haeryung lalu ditinggal sendiri. Dari kamar itu samar-samar ia dengar Minho bicara dengan Jinri. Minho minta maaf karena tidak bisa mengantarnya pulang seperti yang dijanjikan.

Mendengar hal itu, otak Haeryung kembali bekerja. Menerka-nerka ada hubungan apa diantara Minho dengan gadis bernama Jinri yang menyapanya tadi. Pakaian Minho yang dikenakannya dan keberadaannya sepagi ini di rumah Minho adalah petunjuk besar yang mengantar Haeryung pada kesimpulan pahit.

Tapi Haeryung memilih abai. Ada banyak skenario lain yang bisa terjadi, yang juga dapat membuktikan kalau kesimpulan pahit yang ia pikirkan adalah sebuah kesalahan.

Haeryung pun menyusul Minho ke dapur. Ia duduk di salah satu kursi dan meminta Minho untuk ikut duduk bersamanya. “Aku ingin kita bicara,” Ungkapnya.

“Bukankah aku sudah menyuruhmu istirahat?”

“Aku tidak datang ke sini untuk istirahat, Minho.”

“Kamu mau bicara tentang apa lagi? Kupikir kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan apa-apa.”

Haeryung cukup kecewa dengan respon yang diberikan. Bukannya ia tidak menduga kalau akan diperlakukan seperti ini, bahkan ia siap jika harus menerima caci maki. Tapi dengan sikap hangat yang ditujukan untuknya ketika ia datang tadi, dengan perhatian yang sama seperti yang ia terima dulu, Haeryung tidak menduga kalau Minho akan kembali dingin padanya secepat ini.

Haeryung menarik napas dalam-dalam lalu berujar, “Aku ingin kita kembali bersama.”

Pernyataan itu mengejutkan Minho sejujurnya. Ia sama sekali tidak mengira kalau alasan itu yang membawa Haeryung datang berkunjung pagi itu.

“Kamu bilang apa?”

Haeryung memegang tangan Minho dan menggenggamnya erat-erat. “Aku ingin kembali padamu, Minho. Aku ingin kita bersama-sama lagi seperti dulu. Sekarang aku sadar aku tidak bisa kalau tanpa kamu. Aku masih mencintaimu dan akan tetap begitu.” Haeryung berkaca-kaca.

“Tapi kamu akan menikah, Haeryung,”

“Bagaimana bisa aku menikah dengan orang lain? Aku tidak pernah mencintai siapapun selain kamu. Kamu ingat tidak kalau kamu dulu pernah bilang akan memperjuangkan hubungan kita? Dulu aku menolaknya, tapi sekarang aku mau melakukannya asal kita bisa bersama.”

Air mata Haeryung tidak dapat terbendung. Hatinya yang beku tanpa Minho kini mencair. Segala penderitaan dan beban yang ditanggungnya sendiri akhirnya dapat berkurang. Ia bisa bernapas setelah sekian lama tercekik oleh kehendak orang tuanya.

Minho menatapnya. Sorot matanya begitu lembut dan menenangkan. Minho lalu mengusap punggung tangannya. Sentuhannya terasa hangat dan nyaman. Namun kemudian Minho menarik tangannya dari genggaman Haeryung.

“Kamu tahu ini tidak mungkin terjadi, Haeryung.”

Haeryung terperanjat kaget. Kata-kata itu menyakitinya bagaimana pun Minho mengucapkannya. Tidak peduli dengan tutur lembut penuh sopan santun, penolakan itu menghujam jantungnya sangat dalam.

“Aku tidak bisa melakukannya. Aku ikut mundur dari hubungan ini pada saat kamu meninggalkan rumah ini. Bagiku semuanya sudah berakhir hari itu juga.”

Tidak mungkin Haeryung lupa akan hari itu. Suatu hari dimana ia meninggalkan rumah setelah mereka bertengkar hebat. Pada hari itu Haeryung memutuskan untuk mundur dari hubungan mereka meski Minho memohon untuknya tetap tinggal dan memperjuangkan hubungan itu. Pilihan yang berat sebenarnya bagi Haeryung, namun pada akhirnya ia lebih memilih orang tuanya dan meninggalkan Minho.

“Aku tau aku salah. Waktu itu aku benar-benar bingung. Aku dihadapkan pada dua pihak yang sangat aku cintai; orang tuaku dan kamu. Aku minta maaf, aku memang bersalah. Tapi aku sudah sadar sekarang. Kumohon.”

“Kamu tidak perlu minta maaf, Haeryung. Memilih orang tuamu bukan hal yang salah. Hanya saja menurutku kita memang tidak bisa kembali. Kamu dan aku memang harus berpisah.”

Minho tersenyum tipis. Disekanya air mata Haeryung yang tidak berhenti jatuh membasahi pipinya. Lalu ia balik menggenggam tangan Haeryung. Sekali lagi ia mengatakan ketidakmampuannya untuk bersama Haeryung. Menghancurkan satu-satunya harapan Haeryung untuk hidup bahagia.

Kemudian Haeryung mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan bertanya, “Apa karena perempuan tadi? Siapa namanya? Jinri?”

“Bukan begitu. Ini tidak ada hubungannya dengan Jinri.”

“Jangan bohong!”

“Kamu tahu aku tidak pernah bohong padamu.”

“Oh ya? Lalu untuk apa perempuan itu ada di rumahmu sepagi ini? Dan yang perlu aku tekankan, dia memakai pakaianmu! Kamu kira aku akan percaya kata-katamu?” Haeryung terdengar marah. Ia jadi emosional, masih sulit baginya menerima penolakan Minho. Dan dengan begitu, setiap kata yang diucapkan Minho seakan mendukung pikiran negatifnya tentang Jinri.

“Aku dan Jinri tidak ada hubungan apa-apa. Aku justru baru mengenalnya kemarin-”

“Oh, bagus! Kamu baru mengenalnya dan kamu berani mengajaknya ke sini. Apa dia meningap di sini semalam? Sekarang aku mengerti kenapa kamu bilang kita sudah tidak bisa bersama—supaya kamu bisa bersamanya, iya kan? Baiklah, aku tidak akan memaksa.”

Kecewa, sedih, marah, Haeryung merasakan semua itu di dalam hatinya. Ia jatuh terpuruk. Dan egonya menyuruhnya untuk melampiaskan semua itu pada Minho. Pemuda itu telah melukainya dengan mencintai perempuan lain. Sementara Haeryung sedang kacau, tidak ada waktu untuknya berpikir dengan kepala dingin.

“Na Haeryung, cukup!” Minho membentak.

Yang dipanggil namanya pun duduk kembali ke kursinya ketika hendak melangkah pergi. Meski belum sepenuhnya membaik, akal sehatnya perlahan-lahan dapat berfungsi kembali.

“Maafkan aku.” Haeryung berbisik.

Minho terdiam. Ia tidak dalam kondisi yang pantas untuk bicara karena apapun yang dikatakannya justru akan melukai Haeryung lebih dalam lagi. Untuk saat ini, membiarkan Haeryung adalah tindakan yang terbaik. Membiarkan Haeryung tertunduk sedih, menangis tanpa henti, dan membiarkannya menanggung perih seorang diri.

TBC…

Advertisements

41 thoughts on “Hello, Stranger [3]

  1. Oh my god, mereka udah sedekat itu padahal baru kenal, curhat curhatan juga wah perkembangan yg bagus ini, tenang sulli semua akan baik baik saja karena ada minho yg akan memperbaiki hatimu lagi… Cieeeeee sweet sweet
    Pengganggu dateng kenapa pagi pagi saat mereka lagi mesra mesranya sih
    Ih jadi kesel deh, ngemis cintanya minho lagi, dasar….. Udah nyakitin bang ming ku minta balik lagi, nggak rela banget aku
    Next eon, semakin seru nih kisah mereka nanti si mantan sulli dateng juga gitu ??? Makin ribet deh ah
    Semangat eonni buat kelanjutannya yah ??? Cerita lamanya juga di lanjut lah eonni, aku suka yg judulnya “Late” terakhir aku inget klw sulli hamil anak bang ming kayaknya
    Sumpah penasaran banget ama lanjutnya eon, jadi bisa lah di Lanjut yah??
    Love you so much and minsullians
    Bye bye

  2. kedua nya sama sama baru putus, entahlah saya tdk bisa komentar.. yg jelas sangat menarik
    saya sukaaa, penasaran sama hubungan nya minsul selanjutnya
    next update again please

  3. Ahh aku akan sangat menunggu kelanjutan dari cerita ini ayo lah eonni lakukan update dengan cepat udah gasabar nih buat baca kelanjutannya
    #SEMANGKA(semangat kaka) & salam kenal ya eonni

  4. Ahhhh…akhirnya ff ini di post juga 😀 hmmm…sepertinya mulai ada percikan api cinta di antara mereka berdua, tanpa mereka sadari tentunya…buktinya mereka baru pertama kali bertemu, tp udh sangat dekat…dan lg mereka udh putus dr pasangan mereka masing-masing… Jd awal yg sangat bagus bukan untuk mereka memulai hubungan baru…hahah maunya 😀 dan apa-apaan itu si haeryung se enaknya aja ngajak balikan…untung si minho oppa ngga mau diajak balikan 😀 di tunggu kelanjutannya neee and Fightingggggg 😀

  5. mereka mudah banget bertema padahal baru aja ketemu, dan punya pegalaman yg sama dengan cinta mereka. Haeryung ganggu banget pagi-pagi udah ke rumahnya si minho 😀

  6. Waw persahabatan manis antara Mimho dan Sulli baru dimulai.. walaupun masih dini, keduanya memiliki ketertarikan yang sama..
    Suka bangeut sama Minho.. dia bijak bangeut omaygatt…
    Haeryung kenapa musti balik sih ke si Minho sih?? Minho punya banyak luka.. sadar engga sih dengan cara dia kembali mengemis cinta seperti itu malah bikin Minho makin terluka.. untung Minho pria yang gentle.. dia mempertahankan sesuatu yang ada dalam prinsipnya..kereeennn eonn..

    Lanjuttt eonn.. keren..;)

  7. Waah..bru ketemu sekali aja udah dekat,tp knapa Haeryung hrus muncul sich..??tp syukur deh,minho menolak buat balikan..minho pasti udah mulai jatuh cinta tuch sma sulli setelah saling curhat semalaman..heheh..ditunggu nextpartnya.FIGHTING..

  8. omg seneng bangeeet lihat minsul udah deket kayak gitu
    baru juga pertama kali ketemu hihiii
    tiati loh dari temen curhat bisa jadi dedemenan kkkkk~
    udah kayak sepasang kekasih aja yaaa bangun tidur sarapan bareng 😀
    lagi sweet kayak gitu mantannya minho dateng -__-
    minho ga akan balik sama mantannya kaaan? 😦
    semoga enggak yaa, biar bisa sama sulli 😀
    ditunggu update selanjutnya eonni 🙂
    fighting^^

  9. waaaà…….. akhirny dposting jg kelanjutanny. udah nungguin part ini dr kmrin2. senengny bisa brfanfic ria sm minsull. gomawoo eonnie.. dn sprtinya akan terjadi cinta segi empat deh. antara masa lalu dn masa depann…. d wait next chapt eonnie. fighting.

  10. Kaya’nya minho bakalan deket sama sulli..
    Minho sulli bertemu saat mereka sedang patah hati.. mungkin setelah ini bakalan bersatu minsul

  11. sudah seneng” minsul deket, ehh malah ada pengganggu.

    knp coba baru menyesal setelah beberapa bulan memilih meninggalkan minho. dan apa?? haeryung marah krn ada jinri di rumah minho. emang siapa elo, berhak marah dan itu hak nya minho, siapa yg di bawa ke rumahnya.
    penghalang nih untuk minsul kedepannya.

  12. Secepat itukah, wuah…
    Aduh ini ada kata-kata “sudah sangat lama mengenal jinri” kalau di ff atau pun film or drama lain sih pasti ada masa lalu yang terkubur. Tapi kalau disini gimana ya..
    Segera lanjut eon

  13. Dududu ada yg semalaman bersama nih sampe pagi hihi
    Semoga ini awal hubungan minsul ya dan semoga makin deket, udah lupain masalalu 😄 kisah cinta kalian sama ya mungkin Minong ama sulli jodoh😍

  14. akhirnya rilis jg 😀
    knp sih selalu dtg d waktu yg salah -___-”
    minho udh ga bisa dpisahin sm sulli bgtu pun sulli ga akan bisa pisah sm minho.
    jd jangan coba untuk mengganggu!!
    semoga minsul bertemu kmbali dan bersatu slamanya ^^~~

  15. kkkk emang takdir atou apa yaa.. bru ktemu aja udah akrab kyak gtuu.. hahha awal yg manis..
    ahh minho oppa kren dehh,.. bneran yaa gak usahh blikan lg sm haeryung.. bneran lohh jgan smpai blikann..
    ditunggu moment minsul.ny eonni..
    semogaa mreka bs mkin dket…
    Lanjutt ya eonni..
    Fightingg!!

  16. yakin malam itu minsul tak melakukan apa2?? kupikir akan terjadi sesuatu yg mengikat mreka,eh tpi ngga hehe
    na haeryung kya.a bakal jdi penghalang diantara minsul kedepan nya. part2 awal udh bikin degdegan.lanjut thor,jan lama yaa.thx

  17. kasian juga si haeryung tapi mau gimana lagi, dia juga kan yang awalnya mengakhiri hubungannya sama minho. keliatan bgt kalo minho cowo yang berprinsip, walaupun sebenernya pasti dia masih sayang sama haeryung. tapi aku lebih auka minho sama sulli hehe, keliatan bgt mereka sama sama nyaman. lanjut ya thor, gomawo 🙂

  18. Mau dibawa kemana hubungan Minho Jinri Haeryung Junhyung, aku percaya deh sama Authornya…
    Pasti ceritanya bakal keren…
    😉😉😉
    Ne, Authornim, yang The Antagonist, itu chapter 10 udah ada belum ya?
    Aku gak pernah bisa ngakses… 😫😩😭😭😢😥😭

  19. ecieeee..baru juga ketemu udah curhat2an …ayo.kalian berdua lupakan masa lalu . yg lalu biarlah berlalu eaaaa~mreka akan saling menyembuhkan. hihi untung minho nolak tuh cewek. syukurin hihi lanjut ya~

  20. Penyesalan mmg selalu terlambt itulh yg d alami olh heryung…moga aja dia bs menemkn kembl kebhagiaan a bk dg minho tp lelki yg telh d jofohkn kpd a

  21. seneng banget lihat minsul bisa lebih dekat dalam kurun waktu yg sangat singkat. ini benar² ajaib. tak kusangka mereka bisa akrab secepat ini. sungguh menyenangkan. kejadian yg tak disengaja itu ternyata ada hikmahnya. kesedihan sulli seakan-akan lenyap begitu saja karena ajakan minho minum dan bertukar cerita (curhat). semoga saja pertemanan mereka terus berlanjut.
    haeryung ngapain balik lagi? minho udah berusaha keras untuk melupakanmu dan sekarang kau balik lagi? meminta minho untuk mau menerimamu dan kembali bersama-sama kaya’ dulu lagi? omona….!!! ini cewek kagak tahu diri banget deh. udah mau nikah juga masih aja nyamperin minho untuk balikan lagi. untung aja minho kagak mau. bersyukur banget minho kagak mau menerima ajakan haeryung untuk balikan lagi. haeryung juga salah sih! dulu minho udah ngajak untuk mempertahankan hubungannya. tapi dia malah mundur dan pergi gitu aja. itu kesalahanmu juga. jadi jalani aja hidupmu. jangan mengusik hidup minho lagi. next eon!

  22. Please oppa jangan goyah balikan sama mantan yg jelas jelas udah gak memilihmu lagi dr pas dia ninggalin oppa. Pilihlah seseorang yang baru dan jangan menoleh ke masa lalu (walau itu sulit) hahaha

  23. Di postng juni, di komen juli… hahaa
    Mianhae ne baru mninggalkan jejak,,, hee
    Tapi tetap mngikuti ko… hii

    Padhal minsul baru mmulai semuanya,,,
    Persahabatan, kdekatan antara namja dn yeoja dan mungkin saja itu akn brsemi benih2 lope diantara mereka…
    Tapi kenapa ???
    Seseorang yg tak diharapkan muncul kembali ???
    Knpa stelah skian lama kmbali muncul dihadapanny minho ?
    Setelah minho mrsakan knyamnan di dkatny sulli…
    Smoga minho tdk trpngaruh dgn khadiran yeoja msa lalunya ini..
    Smoga minho teguh ingin mmula awal yg indah dgn sulli,,,
    Minho…jangan trpedaya yaaa,,,
    Sulli menantimu… #siapatau (?)

    Kelanjutannya…. (?)
    Next part,,, dtnggu chingu 😉

  24. hua,,,, greget sama alurnya,,….
    jadi nggak sabar nunggu kelanjutannya, jangan lama-lama postnya ya kak?
    semangat buat kelanjutannya…
    kak aku suka banget sama karya kakak di “antagonyst” (aku nulisnya uda bener nggak yah???)
    pokoknya itu yang sull suka ballet itu tapi aku nggak baca sampe akhir soalnya di pw,,
    kalo kaka ridho, aku minta pwnya dong ka? boleh ya?
    ini email aku charinanura2@gmail.com

  25. duhh..ciee cieee cepat sekali minsul akrab..memang yaa kalo hati sudah “klik” pasti ada aja hal menarik yg selalu dibahas..hihihi
    awal yg baik bwt jinri n minho
    tp masa lalu minho ternyata blm sepenuhnya menjadi masa lalu.. haeryung muncul dgn dgn tiba2,disaat jinri ada d rmh minho n memakai baju minho..pastilah salah paham..
    mudah2an minho ttp kuat pd pendiriannya,dan memulai lembar hidup yg baru…dengan jinri mungkin..
    hehehhe

    update donk…pleaseee
    thankyou

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s