The Next Bloodline [Chapter 27]

mahogany4-2-copy

The Next Bloodline

Author : Mahogany4 (@ItsMahogany4)

Translater : Maria2509

Original Version klik here!

Length : Sequel

Rate : PG-15

Chapter 27: Tracking the Princess

TOP terengah-engah.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sunny saat ia berlari menghampiri TOP yang tertinggal dibelakang.

“Aku hanya sedikit pusing karena penglihatanku kabur.” Kata TOP

“Aku rasa kita harus kembali ke Penginapan. Sejak semalam, kita sudah keliling kota mencari Sulli. Kau belum sembuh benar. Aku yakin yang lainnya juga sedang mencari Sulli.”

“Kota ini bahkan tidak besar. Dimana dia?” Kata Sunny frustrasi.

“Tidak, kita harus terus mencari.” Kata TOP. “Kita tidak akan berhenti mencari sebelum Sulli ditemukan.”

“Tidak TOP, kau tidak akan berguna di The Circle kalau keadaan matamu semakin memburuk.” Kata Sunny. “Kita kembali ke Penginapan.”

.

.

.

.

Semua orang tidak ada yang berbicara saat sampai di Penginapan.

“Kita sudah mencarinya sampai kesudut kota.” Kata Chanyeol

“Apa Putri meninggalkan kota ini?” Tanya Kris

“Sulli pasti akan segera kembali pada kita. Dia tahu kita tidak bisa membuang waktu lagi. Dia pasti sudah kembali kalau tidak terjadi sesuatu yang buruk.” Kata Master Cha

Chanyeol tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Kenapa dia pergi tanpa pamit?” Tanya Luhan

“Mungkin karena cerita tentang Naga Hitam dan Peri. Dia mungkin terlalu kaget.” Kata Kris

Sunny dan TOP saling bertatapan saat mendengar jawaban Kris. Itu penjelasan yang sangat baik. Chanyeol keluar.

“Chayeol, kembali kesini!” Kata Master Cha

“Jangan khawatir, aku akan mengawasinya.” Kata Sunny

Sunny juga pergi keluar. Sunny berjalan dibelakang Chanyeol. Chanyeol merasakan ada seseorang yang berjalan dibelakangnya dan berbalik menatap Sunny.

“Waktu aku melihatnya pergi tadi malam, kelihatannya dia menangis.” kata Chanyeol

Sunny menggeleng. “Bukan kabar yang baik.” Kata Sunny

“Ya, tentu saja. Tsk! Aku bahkan membelikannya gelang yang sudah dimanterai untuk mengurangi kecemasannya, tapi gelang itu tidak membantu sama sekali!” Kata Chanyeol

“Gelang?” Tanya Sunny

“Ya, umm, penjual itu mengatakan gelang itu bisa membantunya lebih tenang.” Kata Chanyeol

“Kau sangat menyukainya, ya?” Tanya Sunny

Chanyeol terlihat kikuk dan berteriak. “Apa yang kau bicarakan?!”

“Terlihat sekali dan sekarang semakin kelihatan.” Kata Sunny

Chanyeol membuang muka sambil menggaruk kepalanya.

“Kalau gelang itu masih dipakai. Dan kalau gelang itu benar-benar diberikan mantera maka kita bisa melacak keberadaan Sulli!.” Kata Sunny yang baru menyadarinya sekarang.

“Dengan gelang itu?” Tanya Chanyeol

“Ya, Aku ingat sewaktu aku masih kecil, aku pernah tersesat dan ayahku bisa melacak keberadaanku dengan menggunakan cincin yang dia berikan padaku.” Kata Sunny

“Apa kau bisa melacaknya?” Tanya Chanyeol

“Aku harus mengambil bukuku dulu untuk mencari informasi lebih lanjut. Tapi aku rasa kita perlu mencari penjual gelang itu. Dia mungkin masih memiliki gelang yang sama.” Kata Sunny

“Aku akan pergi mencarinya.” Kata Chanyeol

“Tunggu, aku akan meminta Kris atau Luhan untuk menemanimu. Kita tidak boleh pergi sendirian.” Kata Sunny

“Cepatlah. Aku tidak bisa membuang-buang waktu sementara kita tidak tahu apa yang terjadi pada Sulli.” Kata Chanyeol

.

.

.

.

Chanyeol dan Luhan pergi menuju pasar.

“Aku bersumpah aku melihatnya dari restoran kemarin.” Kata Chanyeol

“Itu berarti dia ada disekitar sini setiap harinya. Atau mungkin dia tidak hanya berjualan disatu tempat saja.” Kata Luhan

“Kita harus menemukannya.” Kata Chanyeol

“Mungkin kita harus mulai bertanya disekitar sini.” Kata Luhan. “Boleh aku mencobanya?”

Chanyeol mengangguk.

“Permisi, Nyonya, kami sedang mencari penjual gelang mantera? Temanku membeli satu kemarin dan ingin membeli lebih banyak.” Kata Luhan

Chanyeol menaikkan satu alisnya.

“Maksudmu orang yang berjualan diatas karpet dan menaruh semua aksesoris murahan itu diatasnya?” Tanya penjual buah itu.

“Umm…” Luhan menatap Chanyeol yang kemudian mengangguk. “Iya! Benar! Dia orang yang kami cari.” Kata Luhan

“Penjual itu memang suka datang sesekali. Dia tidak punya tempat berjualan tetap disini.” Kata Penjual buah itu.

Luhan menarik napas dalam-dalam. “Aku benci mengatakan ini tapi istri pria itu sedang sekarat. Dan gelang itu permintaan terakhirnya.” Kata Luhan

“Permintaan… terakhir?” Tanya Penjual buah itu.

“Ya, pria ini membeli gelang itu kemarin. Tapi istrinya menghilangkannya dan istrinya mencari gelang itu kemana-mana. Kemudian dia mengalami kecelakaan dan sekarang dia sedang sekarat dan permintaan terakhirnya, ia ingin melihat gelang itu untuk terakhir kalinya.” Kata Luhan dengan mata berkaca-kaca.

Chanyeol menaikkan satu alisnya. Anak ini benar-benar pintar berakting.

“Menyedihkan sekali, pria itu masih terlalu muda untuk menjadi duda.” Kata Penjual buah itu.

“Ya, bahkan istrinya masih lebih muda darinya.” Kata Luhan

“Hmmm, baiklah. Hmm, aku tahu dimana biasanya dia memasukki kota ini. Dia biasanya masuk melalui gerbang selatan. Jadi kalau dia belum berada didalam kota ini. Dia pasti masuk dari gerbang selatan.” Kata Penjual buah itu.

Luhan menatap Chanyeol. Chanyeol mengangguk, anak ini benar-benar berbakat.

“Terima kasih banyak, Bu. Kalau begitu kami akan menunggunya disana.” Kata Luhan.

.

.

.

.

Luhan dan Chanyeol sampai digerbang selatan.

“Dimana kau belajar hal seperti itu?” Tanya Chanyeol

“Mempelajari apa?” Tanya Luhan

“Menciptakan cerita dalam sekejap. Kemudian berakting seolah-olah cerita itu nyata.” Kata Chanyeol

“Oh, itu. Ini pertama kalinya aku melakukan itu. Apa aktingku bagus?” Tanya Luhan

Mata Chanyeol menyipit. Dia tidak percaya Luhan baru pertama kali berakting kalau dilihat betapa sempurnanya akting Luhan.

“Baiklah, memang ini bukan pertama kalinya. Aku dan adikku sering berpura-pura menjadi anak miskin untuk menipu orang-orang. Ayah kami sudah meninggal, ibu kami sakit. Kami berdua anak tertua, kami harus memastikan keluarga kami tetap hidup. Kami harus berakting demi mendapatkan makanan.” Kata Luhan.

Chanyeol melihat seorang pria yang tidak asing memasukki kota, tas besar dan karpet digulung berada dipunggungnya.

“Itu dia.” Kata Chanyeol

Luhan berbelok ke kanan. “Pas sekali waktu kita.”

Chanyeol dan Luhan mengikuti pria itu.

“Hei! Apa kau yang menjual gelang yang dimanterai itu?” Tanya Chanyeol.

Pria itu berbalik. “Oh, Aku ingat kau. Kau membeli gelang itu dariku. Apa pacarmu menyukainya?”

Chanyeol menarik kerah pria itu. “Kau menipuku. Kau bilang mantera itu dapat mengurangi kecemasannya. Tapi kenyataannya dia hilang sekarang karena rasa cemas menguasai dirinya.” Kata Chanyeol

“Hei tenanglah. Jangan sembarangan menyalahkan orang.” Kata Pria itu

Chanyeol perlahan melepaskan kerah pria itu. “Gadis yang memakai gelang pemberianku hilang. Kami harus menemukan gadis itu secepatnya.”

“Bagian mana yang kau katakan itu bohong? Apa gelang itu benar-benar dimanterai?” Tanya Chanyeol

“Hmm, pada saat aku mengatakan aku kesulitan mencari ahli sihir itu bohong. Tapi bagian aku mengatakan gelang itu sudah dimanterai, itu benar.” Kata Pria itu. “Aku meminta ahli sihir untuk menaruh mantera pada gelang itu.

Chanyeol meraih kerah pakaian pria itu. “Kau bilang kau kesulitan mencari ahli sihir itu sebabnya harga gelang itu mahal. Aku memberikan semua tabunganku untuk gelang itu. Kau bilang gelang itu bisa membantunya.” Kata Chanyeol marah

“Kau ini punya kebiasaan menarik kerah orang lain.” Kata pria itu sambil mencoba menjauhkan tangan Chanyeol darinya.

“Kau harus ikut dengan kami. Kalau gelang itu benar-benar ada manteranya, ada kemungkinan kita bisa menemukannya melalui sisa gelang yang kau miliki.” Kata Chanyeol

“Oh, apa itu mungkin?” Tanya Pria itu. “Oh ya, yang aku dengar kemungkinan kau memerlukan ahli sihir yang kuat untuk melakukan itu. Tidak semua ahli sihir dapat melakukan mantera pelacak.”

“Kelihatannya kau tahu banyak tentang sihir.” Kata Luhan

“Ya begitulah, aku sering mengobrol dengan para ahli sihir yang memberikan mantera pada barang-barang daganganku. Ngomong-ngomong, aku Kai.” Kata Pria itu.

“Aku Luhan dan ini Chanyeol.” Kata Luhan

“Aku sangat ingin membantu kalian tapi aku harus mencari nafkah hari ini. Kalau kalian ingin gelang yang lain, silahkan beli satu lagi saja, oke? Kau bisa memilih warna yang kalian suka.”

Chanyeol hampir menyambar kerah pakaian Kai, namun kali ini Kai berhasil menangkis tangan Chanyeol.

“Aku sudah mengira kau akan melakukan itu.” Kata Kai sambil menyeringai. “Dengar, hidup didunia ini tidaklah mudah, benarkan? Kau membutuhkan emas dan uang untuk bertahan hidup. Seorang yatim piatu sepertiku yang tidak memiliki siapapun untuk bergantung. Uang adalah segalanya untukku.”

“Setelah berbohong padaku tentang gelang manter itu, kau masih punya nyali memintaku untuk membeli gelang lagi?” Chanyeol sangat marah.

“Uang membuat dunia ini berputar. Ini hanya permainan uang. Kalau kau mempercayai kata-kataku, kau akan membelinya. Kalau kau tidak mempercayainya, kau tidak akan membelinya. Kau mempercayainya, kau kalah. Kau tidak percaya maka kau dapat menyimpan uangmu.” Kata Kai

Chanyeol menjadi lebih kesal.

“Kita membutuhkan pria itu. Tenanglah dulu.” Bisik Luhan

“Kau ikut dengan kami. Aku tidak tahu apa yang dibutuhkan ahli sihir darimu selain gelang itu. Jadi, kau harus ikut bersama kami.” Kata Chanyeol

“Apa kau akan memberiku bayaran?” Tanya Kai. “Itu tidak akan murah.” Chanyeol mengeluarkan cakarnya.

“Aku hanya mengatakan kalau kau ikut dengan kami, cakar ini tidak akan menembus jantungmu, apa kau masih berani meminta pembayaran?” Tanya Chanyeol

Chanyeol mengambil semangka dan menghancurkannya dengan cakarnya.

“Umm, untuk kasus ini, aku rasa aku bisa memberimu waktu beberapa jam.” kata Kai menelan ludahnya, gugup. “Bahkan penjual kecil sepertiku bisa melakukan beberapa pekerjaan amal.” Kai berjalan dengan Luhan dan Chanyeol. Kai dituntun masuk ke kamar penginapan.

“Kau menghabiskan setengah hari untuk mencarinya?” Tanya Kris

“Dia sulit ditemukan.” Kata Chanyeol

“Kita harus bergerak cepat. Sunny sudah menemukan mantranya.” Kata Kris

Sunny masuk ke kamar dengan membawa buku mantra besar miliknya.

“Baiklah. Dimana gelang mantra itu?” Tanya Sunny

“Gelang-gelang itu ada didalam tasku.” Kata Kai

“Aku ingin melihatnya.” Kata Sunny

“Apa kau akan membelinya kalau aku menunjukkannya padamu?” Tanya Kai

“Diam dan tunjukkan gelang itu padanya.” Kata Chanyeol

Kai mendengus kemudian membuka tasnya.

“Wow, kau punya banyak. Bagaimana kau tahu gelang mana yang dimantrai oleh penyihir yang sama?” Tanya Sunny. “Aku membutuhkan gelang yang dimantrai oleh penyihir yang sama dengan gelang gadis itu.”

Kemudian Kai memisah-misahkan gelang itu.

“Gelang inilah yang kau cari. Kau lihat manik-manik hitam yang berbentuk seperti kuncup mawar? Ini manik-manik yang diberikan oleh ahli sihir itu.” Kata Kai

“Kau tidak menipu kami, kan?” Tanya Chanyeol

“Berilah sedikit keyakinanmu padaku, Bung.” Kata Kai

Chanyeol memutar kedua matanya.

“Tentu saja. Karena kalau kita tidak menemukan orang yang kita cari hari ini, aku akan mengubahmu menjadi katak.” Kata Sunny

“Jadi kau ahli sihir? Gadis kecil ini ahli sihir.” Tanya Kai tertawa

“Aku rasa tidak ada yang lucu disini.” Kata Sunny

“Pertama, aku diancam oleh cakar sekarang oleh ahli sihir kecil. Kelompok kalian pasti sangat buruk.” Sunny memegang salah satu gelang itu dan mengabaikan ocehan Kai.

“Apa kau bisa melakukannya?” Tanya Master Cha yang baru saja memasuki ruangan.

“Aku rasa aku bisa. Lebih baik kita berharap semoga saja dia masih memakai gelang itu.” Kata Sunny

“Kau tidak boleh pergi sampai kami menemukannya.” Kata Chanyeol berjalan menuju Kai.

Sunny membacakan suatu mantra dan menghancurkan gelang dengan tongkatnya yang membuat Kai berteriak.

“Gelangku! Kenapa kau membuatnya menjadi pasir…” Kai hampir menangis.

Kemudian cahaya hijau muncul dari pasir itu yang masuk kedalam Tongkat Batu Sunny.

“Kita harus pergi sebelum cahaya ini padam. Tongkat akan menarikku ke tempatnya.” Kata Sunny.

“Kris dan aku akan pergi bersama Sunny. Sisanya, menunggu disini.” Kata Master Cha

.

.

.

.

Sunny, Master Cha dan Kris berlari. Tongkat sihir itu bergerak sendiri seperti ada kehidupan dalam tongkat itu. Mereka mengikutinya sampai ke bagian selatan kota. Mereka sampai disebuah rumah kecil. Jantung Sunny berdetak cepat, gabungan dari rasa lelah dan gugup apakah mereka berhasil menemukan Sulli atau tidak.

Kris mengetuk pintu. Tapi setelah menunggu beberapa menit, tidak ada jawaban.

Mereka mengetuk beberapa kali. Tapi kelihatannya tidak ada orang dirumah itu.

“Kelihatannya tidak ada orang didalam.” Kata Kris

“Mungkin dia tidak memakai gelang itu lagi.” Kata Sunny

“Siapapun yang tinggal disini pasti menemukan gelang itu disuatu tempat. Kita harus tahu dimana mereka menemukan gelang Sulli.” Kata Master Cha

Tiba-tiba pintu perlahan-lahan terbuka. Kris, Sunny dan Master Cha saling bertatapan. Ketika pintu itu terbuka cukup lebar untuk melihat siapa yang ada didalam, mereka tidak percaya apa yang mereka lihat.

“Sulli!” Sunny membuka pintu lebar-lebar dan memeluk Sulli.

“Syukurlah kau masih hidup.” Kata Master Cha.

“Kau membuat semua orang khawatir, Yang Mulia.” Kata Kris

“Maafkan aku karena selalu melakukan hal ini pada kalian.” Kata Sulli

Master Cha menyadari rambut emas Sulli.

“Kau berubah.” Kata Master Cha

“Umm, ya, aku tidak bisa mengendalikannya semalam.” Sulli meringis.

“Kau baik-baik saja? Apa kau terluka?” Tanya Master Cha

“Hanya… sedikit.” Kata Sulli.

Sunny memperhatikan seluruh tubuh Sulli dan melihat ada perban didada Sulli.

“Siapa yang menyerangmu?” Tanya Sunny

“Masih naga hitam yang sama.” Kata Sulli

“Kenapa kau tidak memanggil kami, Yang Mulia? Itu berbahaya. Bagaimana kalau kau mengalami luka yang serius saat itu!” Kata Kris

“Aku rasa dia sudah terluka PARAH.” kata Sunny

“Aku menggunakan semua energiku kemarin saat mencari penyembuh.” Kata Sulli

Master Cha tiba-tiba merasa lemas. “Kau bisa membunuhku perlahan-lahan, Putri.” Kata Master Cha

“Rumah siapa ini?” Tanya Sunny

“Orang baik yang menemukanku terluka dikota. Ini adalah rumahnya.” Kata Sulli. “Dia juga lumayan pintar mengobati lukaku.”

“Seorang penyembuh?” Tanya Master Cha

“Aku juga tidak yakin. Dia bilang dia menjual barang.” Kata Sulli

“Apa kau bisa jalan? Aku bisa menggendongmu.” Kata Master Cha

“Biar aku yang menggendong Yang Mulia, Master.” Kata Kris

“Kau tidak percaya pada punggungku?” Tanya Master Cha

“Kami percaya padamu, Master. tapi kami tidak percaya pada punggungmu.” Kata Sulli tertawa kecil.

Sunny membantu Sulli naik ke punggung Kris.

“Sunny, bisakah kau membantuku untuk menaruh pesan didalam rumah untuk memberitahu pemilik rumah kalau aku sudah pergi dari rumahnya?” Tanya Sulli

“Baiklah.” Kata Sunny

.

.

.

.

“Sampai kapan kau berencana menahanku disini?” Tanya Kai

“Aku sudah memberikan semua yang kalian butuhkan. Jadi aku boleh pergi, kan?” Tanya Kai. “Aku bahkan tidak meminta kalian membayar gelang yang sudah kalian hancurkan.”

“Pria itu cerewet sekali.” Kata TOP

“Dia memang cocok jadi penjual.” Kata Luhan

“Mereka kembali.” Kata TOP

Tidak lama pintu terbuka.

“Sulli!” Chanyeol memeluk Sulli kemudian Sulli sedikit kesakitan.

“Dia terluka.” Kata Sunny

Kris membawa Sulli ke tempat tidur.

“Apa yang terjadi?” Tanya Chanyeol

“Dia diserang kemarin.” Kata Master Cha

“Su… lli? Orang yang kalian cari… adalah dia?” Tanya Kai

Sulli menoleh ke kanan.

“Kau!” Kata Sulli terkejut. “Kenapa kau bisa ada disini?”

“Yah, aku tidak seharusnya berada disini. Tapi teman-temanmu menahanku.” Kata Kai

“Kalian tidak perlu melakukan itu. Dia orang yang baik.” Kata Sulli. “Dia adalah orang yang menemukanku tadi malam. Dia juga yang sudah merawatku sampai pagi ini.”

Kai mengangguk dengan semangat.

“Pria yang baik?” Tanya Chanyeol. “Dia ini pembohong. Dia menjual gelang sihir palsu.”

“Oh, jadi kau membeli gelang itu untuk Sulli?” Tanya Kai. “Jadi, dia wanita yang kau cintai?”

“Diam kau.” Chanyeol memasukkan roti ke dalam mulut Kai.

“Aku senang bertemu denganmu, Kai. Aku belum mengucapkan terima kasih.” Kata Sulli.

“Senang sekali melihatmu kembali.” Kata TOP

Sulli menoleh ke belakang. “TOP, penglihatanmu belum kembali normal?” Tanya Sulli

“Penglihatanku masih kabur.” Kata TOP

“Kita harus segera mencari penyembuh.” Kata Sulli

“Ya, kita membutuhkan penyembuh untuk kalian berdua.” Kata Master Cha

“Nah, sekarang kau bisa berterimakasih padaku dan kelompokmu akhirnya menemukanmu, boleh aku pergi sekarang?” Tanya Kai

“Ya.” Kata Chanyeol. “Aku harap aku tidak melihatmu lagi.”

Kai menyeringai kemudian menghampiri Sulli.

“Jaga dirimu baik-baik.” Kata Kai

Sulli memeluk Kai. “Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi malam.” Kata Sulli

“Tidak masalah. Aku bilang itu tidak gratis, kan? Jadi aku akan memberikanmu sesuatu yang harus kau khawatirkan untuk membayar bantuan yang kuberikan.” Kata Kai berbisik sehingga hanya Sulli yang bisa mendengarnya.

“Sesuatu yang harus kukhawatirkan?” Tanya Sulli dengan suara yang sangat pelan.

“Pria berambut putih itu, kau pikir dia kehilangan penglihatannya? Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai kau bisa berpikir seperti itu. Tapi dia bisa melihat dengan jelas sekarang dan aku rasa dia tidak pernah kehilangan penglihatannya.” Kata Kai

“Huh?” Sulli tidak yakin dia mendengarnya dengan benar.

Kai melepaskan pelukannya. “Selamat tinggal!”

Kemudian Kai meninggalkan mereka.

.

.

.

.

TBC

Advertisements

15 thoughts on “The Next Bloodline [Chapter 27]

  1. ya ampun eonni aku udah lupa sama ceritanya sampai buka part part sebelumnya, aku udah pesimis aja kalau ff ini bakal berhenti di tengah jalan
    aaahhh untung sulli ketemu.
    di part ini gw kagum sama kai dan luhan. si kai sungguh jiwa pedagang bgt. apa” dihitung dg uang, yg dipikirkan cuma duit duit melulu. baru chanyeol mengeluarkan cakarnya baru nurut, dasar. dan si luhan pemain peran yg patut dpt penghargaan. gw acungin 4 jempol dah.

  2. Wah udah nongol lagi sekian lama gk ada kbr eh ternyata kelanjutannya semakin seru critanya dan penasaran dgn alur critanya

  3. Lah ko bsa kai bilang penglihatannya top jlas sdangkan top blg matanya masih buram ada apa sbnearnya apa top jga penyusup diklpnya sulli. Dan minho oppa ngk tau dmn dan sekarang ya memihak siapa

  4. horeeeee part 27 akhirnya di post juga….ya allah aku aja hampir tiap hari ngecek kapan neh ff di post,takit authornya lupa hehehe..btw gomawo ya saeng udah di post…
    bener2 suka ma ff ini,cuma ko minho nya ga da,rasanya gimana gitu kalo ga a minho brasa ada yg kurang…pokoknya ceritanya makin bagus.cuma yg bikin penasaran adalah sikap top,kenapa top mesti bohong soal penglihatannya?atau mungkin juga prediksi kai salah.hmm entahlah..ayo next chap saeng

  5. Astaga ini ff favorite tapi kok lama banget updatenya setiap ada yang baru selalu rindu sama minsul moment, tapi di part ini belum ada ya okelah ditunggu part selanjutnya eon..
    Fighting..

  6. Yaampun sudah lama yaaa sampe udh lupa ini ceritanya kaya gimana😂😂
    Gabisa bayangin kai yg keren begitu mata duitan sumpah kocak bgt
    Chanyeol emosian bgt sabar baang
    Luhan aktingnyaa👍👍
    Kok top bohong sih soal matanya??
    Masih misteri yaa semuanya
    Dan belom ada minsul moment niih
    Yaudah jangan lama lama tor cerita selanjutnya nee😉

  7. wah….akhirnya nih ff dipost juga. gomawo eonni…!!! ditengah-tengah kesibukan yg melanda dirimu kau masih luangkan waktu untuk men translate nih ff. gomawo jeongmal gomawo. ini ff sangat berkesan banget. penantian untuk bisa membaca kelanjutannya dalam bahasa Indonesia sudah terbayarkan. walaupun lama dan karatan nunggu nih ff, tapi itu tidak jadi Masalah. yg terpenting adalah bisa membaca nih ff sampai tuntas. semoga eonni bisa mempunyai waktu luang yg banyak sehingga dapat melanjutkan nih ff dan ngepost di blog secepat mungkin. aamiin…

    kepergian sulli membuat semua orang khawatir. semua orang mencari keberadaan sulli. Yang entah dimana dan bagaimana kondisinya? semua orang mencemaskan dirinya? untungnya sulli ditemukan oleh orang yg tepat. kai adalah orang yg menolong dan merwata sulli. Dan kai lah yg menjual gelang dengan harga mahal kepada chanyeol sehingga terjadi sedikit keributan dan ketidak percayaan tentang gelang itu . apakah ini sebuah kebetulan? btw kenapa kai berbicara seperti ini “Pria berambut putih itu, kau pikir dia kehilangan penglihatannya? Aku tidak tahuapa yang terjadi sampai kau bisa berpikir seperti itu. Tapi dia bisa melihat dengan jelas sekarang dan aku rasa dia tidak pernah kehilangan penglihatannya.” maksud perkataan kai apa? apakah dia mempunyai keahlian lain selain dibidang perdagangan? hahahaha atau jangan² dia adalah anggota the circle selanjutnya? omona!!!!!
    next eon…!!!!

  8. Ff ini…trnyta sudh lama dpost tpi baru ta bcaa,,, huhuuu
    Driku trhura riaaa…
    Prlu flsbck driku untk ns mncrna kmbali crta dpart ini…

    Untglah pasca pnyerangan yg trjdi pd ssul ada yg mnolongnya…
    Dan itu seorang healer,,, bnarkah dia seorang healer ??? Kai… appa iyya kai seorg pnyembuh ??? Hhmmm, mgkn saja
    Apa mksd bsikan yg dsmpaikan kai pd ssul ???
    Top… ada apa dgn top ??? Brpura2 mmiliki pndangan yg kabur als gangguan pnglihatan ???
    Apa mksudnyaaa iniii ???
    Betewe… kmna sang naga hitam, minho ??
    Knpa dy trus mnghilang dr prdaran ???
    Bgaimna kbarnya ???
    Hmhmhm… next part,,, tetap semngat yaa utk trus update 🙂

  9. Ya ampun.udah lama gak mampir kesini. Ketingalan bnyak . hmmm..top itu mata2? Eh kai si penjual sepertiny berbakat..gak msuk tim ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s