THIRTEEN (13) – Part 2

13

Judul : Thirteen (13)

Genre : Roman

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Support cast : Lee Byung Hun, Lee Jung Ah

Do You Believe 13 is Unlucky Number ? 
  I do.

2. Orang Asing

.

.

Sulli sangat  menyadari ada  dua pasang mata yang mengikutinya kemana pun dia bergerak, sebulan kemudian, di sebuah pesta koktail yang diselenggarakan perusahaan untuk menyambut masa-masa Natal yang semakin dekat. Bukan dua, tetapi tiga pasang  mata bila di dalamnya dihitung mata Lee Min Jung.

Seperti diingatkan pada bagaimana Lee Byung Hun memperlihatkan ketertarikan yang begitu jelas padanya, Sulli berusaha menjaga jarak dengan berdiri di sisi lain ruang makan semi modern itu. Tetapi dia bisa merasakan dengan jelas bagaimana sejak awal memasuki tempat pesta dengan isterinya, perhatian atasannya itu seperti tersedot olehnya… tak melepaskan matanya sekali pun dari setiap gerakan yang Sulli lakukan.

Lee Min Jung, wanita anggun bergaun hitam yang kini berdiri di salah satu pojok, bergabung dengan istri-istri petinggi perusahaan lainnya, juga memperhatikannya dengan awas. Dia telah menyepakati untuk berpura-pura tidak mengetahui hubungan gelap suaminya dengan Sulli, dan melakukan gencatan senjata selama beberapa minggu semenjak pertemuan rahasia mereka. Walaupun agak keberatan dengan pilihan waktu, akhirnya dia menyetujui Sulli akan pergi bulan Desember menjelang liburan natal, untuk menghapus kecurigaan suaminya. Sulli akan pergi diam-diam sehingga tak seorang pun akan tahu dia telah mengundurkan diri dari perusahaan, dan mereka akan menyadarinya setelah masa libur panjang habis. Tetapi saat mengetahuinya, Sulli sudah tidak berada di Seoul dan tak seorang pun akan tahu ke mana dia pergi. Jadi seperti biasa Sulli akan menghilang dengan sendirinya, seperti kepulan asap di udara.

Tentu saja gencatan senjata dilakukan dengan  prasyarat… Sulli harus menghindari kontak langsung dengan Lee Byung Hun dalam situasi berduaan, selama sisa waktunya di Seoul. Dan sejujurnya Sulli tak keberatan melakukan itu, dia juga merasa tidak nyaman berduaan dengan Lee Byung Hun setelah apa yang terjadi dan apa yang dilakukannya di kamar hotel waktu itu. Sungguh beruntung, keduanya memang tidak bisa berada dalam situasi tersebut mengingat padatnya jadwal Lee Byung Hun untuk peluncuran produk baru. Kalaupun beberapa kali dia mengajak menghabiskan akhir pekan bersama, selalu ada alasan buat Sulli untuk mengelak dan menolak.

Tetapi malam ini, bukan hanya suami isteri Lee itu saja yang membuat Sulli menjadi sadar diri dan lebih waspada karena sedang diamati. Ada seorang pria yang  tidak pernah Sulli jumpai sebelumnya tetapi tampaknya memiliki ketertarikan yang cukup besar kepadanya.

Meskipun dirinya telah datang terlambat, dengan malas-malasan memaksakan diri untuk menghadiri jamuan yang terkesan kaku dan resmi itu, Orang asing itu datang lebih lambat darinya. Dia masuk bersama-sama bos besarnya Park Dong In. Dengan tingginya yang di atas rata-rata Sulli sudah bisa merasakan kehadirannya dari jarak jauh.

Dia berkulit agak kecoklatan dan tingginya lebih dari 180 cm, hidungya mancung meruncing, matanya tajam dan menarik, tetapi bentuk bibirnya adalah jenis bibir yang bisa melemparkan senyuman dingin dan sinis, tipikal orang yang suka meremehkan orang lain . Mengenakan setelan resmi yang berwarna gelap, dengan rambut disisir ke belakang dan hampir menyentuh kerahnya, pria itu meninggalkan kesan memiliki kepribadian yang tangguh dan tidak terlalu mudah untuk dibuat puas dengan mudah. Berlawanan dengan kesesakkan yang ada di sekitar pesta, kehadirannya seolah menciptakan kekosongan di sekitarnya. Dan Sulli menyadari, begitu orang asing itu masuk, tidak hanya matanya yang tertarik dengan kedatangannya… sepertinya tidak. Dia benar-benar  menyedot  perhatian sebagian besar kaum  hawa yang ada di sana. Bukan karena tinggi badan pria itu yang di atas rata-rata, atau cara dia berjalan saat memasuki ruangan. Dia sama sekali tak berusaha menebar pesona , namun entah bagaimana … sikapnya yang jelas-jelas mengabaikan perhatian di sekitarnya, justru telah menyedot perhatian yang lebih. Kedatangannya mengalihkan perhatian sebagian besar orang dalam ruangan dari kegiatan mereka… dengan cara aneh sejenak mata mereka terpusat ke sosoknya. Rasanya seperti sebuah kekuatan  besar sedang memasuki dan menyihir ruangan tersebut.

“Tidak, bukan kekuatan kasat mata,” Sulli cepat-cepat meralat,”… tetapi sebuah aura yang benar-benar memperlihatkan kemampuan membius yang tak bisa dipungkiri. Kemampuan memerintah yang tak bisa ditolak, sepertinya segala sesuatu akan bergerak dan berputar sesuai dengan kehendaknya.”

Sungguh tidak mungkin !

Choi Sulli mungkin saja memiliki gelar kesarjanaan dalam bidang psikologi, ilmu yang digelutinya di bangku perkuliahan, dan psikologi mungkin salah satunya mempelajari tentang pikiran manusia. Tetapi dia tak mungkin bisa memberikan penilaian tentang seseorang dari jarak 10 meter , dan dalam sekali lihat. Apalagi ini adalah orang asing, yang tak pernah dijumpainya apalagi dikenal sebelumnya. Nonsen !! Namun kemana pun Sulli melangkah di tempat perjamuan yang ditata berkesan  modern di era abad ke-20, dia bisa merasakan… instingnya merasa, bahwa pria itu sedang mengawasinya.

Meja makan panjang yang tadinya berisi aneka hidangan makan malam, telah dibereskan dan digantikan dengan aneka kue dan kudapan hidangan tradisional Korea yang ditata meriah sesuai dengan kemeriahan pohon natal kecil di dekatnya. Tetapi, bahkan, kemeriahan di sekitar meja tersebut tidak bisa menyelamatkannya dari sebuah kesadaran yang jelas dirasakannya, kesadaran tengah diamati oleh sepasang mata yang menyelidik. Setiap dia berbalik, mata itu ada di sana, menilainya dan tanpa malu-malu sedikitpun. Walau dia jelas menyadari bahwa orang yang diawasinya telah mengetahui kelakuannya tersebut.

Menyadari itu, Sulli berpikir sedih…“ Walaupun aku sudah berpakaian dari bahan murahan yang kusam dan mengenakan sepatu tanpa hak, yang kuharapkan bisa membuatku tidak menarik perhatian dalam keramaian ini… tampaknya tak bisa kuhindari dengan tinggiku yang di atas rata-rata , aku akan tampak seperti tiang lampu yang sama sekali tidak anggun dan menarik. Mengapa sih harus ada orang yang menaruh perhatian pada seorang wanita yang jelas-jelas tampil sangat ketinggalan zaman ?”

Ayahnya, bagaimana pun, telah menunjukkan betapa mudahnya  untuk bercerai dengan ibunya  saat dia berumur 7 tahun. Dan ibunya meninggalkannya bersama kakek yang sudah tua sehingga mereka bisa bebas melanjutkan hidup tanpa dibebani untuk mengurus seorang anak yang tak diinginkan. Anak yang membawa kesialan buat kehidupan mereka. Sejak kecil dirinya sudah membiasakan diri dengan pikiran bahwa ayahnya pergi meninggalkannya karena merasa malu memiliki anak seperti dirinya. Menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, menyalahkan diri terus menerus untuk kekecewaan  orang tua  … selama bertahun-tahun hidup dalam  pikiran seperti itu, sungguh tidak mudah. Sebuah perjuangan panjang bagi Sulli untuk membuktikan kemampuannya pada lingkungan sekitar, dan dia telah melakukan itu sejak dia bisa mengingatnya. Bahkan dia memperoleh pekerjaannya di perusahaan yang sekarang ini benar-benar karena kecerdasan dan gelar akademisnya, bukan karena penampilannya.

“ Sayangnya, semua gelar akademis dan kemampuanku itu tak menolong sama sekali saat aku harus menemukan pekerjaan lain sekarang ….” pikirnya dengan muram.

Pekerjaannya yang sekarang memang tidak berhubungan sama sekali dengan bidang keilmuannya, tetapi dia sudah merasa bisa menggelutinya… bisa melakukannya dengan baik. Mencengangkan memang saat Sulli secara alamiah menemukan bahwa dia ternyata memiliki kemampuan di bidang desain pemasaran, yang menempatkannya pada posisi sebagai asisten bagian pemasaran. Tetapi sekarang dia memutuskan untuk tidak bergelut di bidang yang sama lagi di tempat pekerjaannya yang baru… di mana pun itu. Setelah tragedi dengan Lee Byung Hun, dia bertekad akan menghindari kontak langsung dengan banyak manusia… bahkan kontak sekecil apa pun… karena itu berbahaya baginya, bagi kestabilan jiwanya yang telah dia bentuk selama bertahun-tahun, ditengah kecaman dan kerapuhan yang dimiliki. Dia memutuskan untuk mencari jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan keterlibatan personal sama sekali. Mungkin sebuah pekerjaan yang membuatnya banyak bergaul dengan benda mati… komputer, kertas, buku… atau apapun… jika itu memang ada.

“ Semua yang kumiliki sekarang ini, pekerjaan impianku di sini sebentar lagi akan berakhir dan dalam beberapa minggu ke depan aku akan kembali menjadi seorang pengangguran.”

Sulli sangat menyadari dia tidak terampil dalam berhubungan dengan orang lain. Ada semacam kecurigaan mendasar yang tidak bisa diubahnya saat dia kontak dengan seseorang. Akan butuh waktu yang  panjang baginya untuk bisa menjadikan seseorang sebagai teman.

Dan kini, di tengah keriuhan pesta dia merasa mulai gelisah. Merasa keringat dingin mulai merambahi tubuhnya. Menyadari tengah diawasi dengan cara yang tak tertahankan lagi, cara yang dirasakan … seperti keputusasaannya saat ibunya yang cantik meninggalkannya begitu saja walaupun dia telah berusaha mengambil hatinya. Rasa tak berdaya dan waswas.  Dengan gugup Sulli berbalik untuk mencari sebuah tempat di tengah pesta yang bisa membuatnya bersembunyi dari mata-mata  itu. Sayangnya saat berbalik dengan gerakan tergesa, dia menyenggol seorang pelayan yang sedang membawa minuman dan menjatuhkan satu gelas  minuman. Bahkan kemudian, dia sepertinya tidak bisa lari dari kesialan yang selalu melekat pada dirinya. Bukannya tumpah dan membasahi tubuhnya , air dari gelas itu lebih memilih baju putih bersih yang dikenakan oleh salah seorang kepala divisi yang kebetulan sedang berdiri di dekatnya.

“Oh Tuhan… ijinkan aku….!”

Dengan gugup Sulli mengeluarkan saputangan dari tas dan mengusap noda di baju pria itu untuk membersihkannya.

“ Jangan pedulikan !”

Mungkin karena malu telah menjadi bahan tontonan beberapa pasang mata di sekitarnya, atau kesal  pada kelancangannya, pria tersebut menepiskan tangan Sulli dengan kasar.

“Aku akan mencucinya di rumah.” Katanya singkat dan tajam.

“Saya benar-benar minta maaf. Biar saya membayar tagihan laundry-nya. Saya benar-benar akan membayarnya…”

Sulli memohon , mengerjapkan mata menahan agar dirinya tidak sampai menangis karena malu. Tetapi kata-katanya hanya menghadapi kekosongan saat pria itu berjalan menerobos kerumunan pesta menuju pintu keluar yang terdekat. Sementara seorang wanita, mungkin istri atau kekasihnya, menatap Sulli tajam sebelum berbalik mengikuti pria tersebut.

Sulli tercenung, matanya terpaku pada kekosongan itu sampai kemudian dia berpaling dan mendapati sepasang mata , sangat disadarinya, tengah menatapnya  dari balik kerumunan. Berdiri dengan rambutnya  yang tak beraturan, mata itu  menyipit geli, dan bibirnya melengkung penuh cemooh.

“Sialan pria itu ! Jelas dia melihat seluruh kejadiannya. Setidaknya dia menunjukkan rasa simpati bukan menertawakan dan mencemooh… bodoh kau, Sulli !”

Sulli mengutuk, bingung kepada siapa sesungguhnya kutukan itu ditujukan, pada pria asing itu atau pada dirinya sendiri. Dalam sekejap, kemarahan melingkupi dirinya, hal yang jarang terjadi. Untuk sejenak dia melupakan rasa rendah dirinya dan bertekad untuk menatap pria itu dengan menantang. Berharap pria itu akan malu dan menghindar…  tetapi sepertinya pria itu menolak untuk berpaling. Hingga akhirnya Sulli memutuskan untuk berpaling darinya… dari tatapan penuh geli, yang mungkin di kepalanya menganggap bahwa kecelakaan yang dialaminya tadi merupakan sebuah hiburan yang layak untuk ditertawakan.

Sulli melangkah menuju keramaian pesta memasuki kerumunan orang-orang, memutuskan untuk menyamarkan keberadaannya dalam kehirukpikukan pesta, mengitari meja yang dikelilingi banyak tamu, kemudian mengambil tempat di antara barisan orang yang sedang menunggu untuk mendapatkan sekerat daging sapi panggang. Dia menarik nafas lega, setidaknya di tempat   ini dia aman , bisa mengaburkan diri dari pandangan tak bersahabat tadi. Namun tampaknya kesialan masih belum mau membuatnya tenang. Pada saat itu dia melihat Lee Byung Hun sedang berjalan ke arah antrian. Di belakangnya, dengan sangat kentara, Lee Min Jung berjalan mengawasi suaminya dengan tatapan tajam dan waspada.

Putus asa, berharap dirinya bisa menciut dan menjadi tidak terlihat, Sulli perlahan-lahan menarik diri dari antrian. Berada dalam satu kerumunan dengan Lee Byung Hun adalah hal terakhir yang dia inginkan. Jadwal kerjanya yang padat akibat ditinggalkan selama dua minggu ke Jepang telah memberikan alasan yang kuat baginya untuk menghindarinya sejak dia dan istrinya melakukan pembicaraan di apartemen. Tetapi sepertinya rasa frustasi dan rasa diabaikan telah membuat Lee Byung Hun terus menerus mengejarnya dalam setiap kesempatan. Dan sekarang, tampaknya, dia akan mengambil kesempatan berada di ruangan yang sama dalam pesta perusahaan, untuk memojokkannya. Lee Byung Hun benar-benar tidak mempedulikan siapa pun yang ada di sana, yang bisa melihat kelakuannya, dan bahkan tidak mempedulikan keberadaan istrinya.

Disibukkan dengan memikirkan Lee Byung Hun yang sekarang tampaknya sudah mengetahui keberadaannya dan sedang membuntutinya, Sulli bergerak dengan langkah kacau, menubruk beberapa orang  yang sedang berbincang dan berkali-kali meminta maaf. Sampai kemudian dia mematung… mati langkah… bingung melihat semua orang  di  sekelilingnya seolah sama dan  bingung atas apa yang harus dilakukannya. Akhirnya di tengah kebingungaannya dia  menerima begitu saja saat seorang pelayan menyerahkan satu gelas minuman dari sebuah nampan perak yang dibawanya . Dia mengambilnya hampir secara otomatis.

Dia harus menjauhi Lee Byung Hun!

Hanya itu yang ada di kepalanya.

Lee Byung Hun makin bergerak mendekatinya, hanya tinggal melewati dua kelompok orang untuk bisa mencapainya dan siap membuat kehebohan. Dan di belakangnya, wajah kaku dan seperti topeng mengikuti, wajah Lee Min Jung. Sulli benar-benar merasakan tenggorokannya tercekik, sulit bernafas, dan berkeringat.

Melupakan gelas yang ada di tangannya, Sulli berbalik cepat dan merasa bersyukur ketika cairan dalam gelas yang dipegangnya tidak tumpah untuk mengakibatkan kecelakaan lain. Sulli dengan panik berpaling ke arah Lee Byung Hun, kemudian melihat ke arah pintu yang menuju ke pekarangan . Dengan cepat otaknya mengukur jarak ke pintu keluar yang terdekat dan kemungkinan berapa persen laki-laki itu bisa mengejarnya.

“Pintu  Itu cukup dekat, tapi jalannya tertutup  dan terhalang oleh sekumpulan petinggi perusahaan yang sedang mengobrol, yang tidak mungkin kuterobos.”

 Sulli berbalik lagi mencari jalan lain yang termudah untuk melarikan diri , di saat itulah sebuah tangan terulur untuk mengambil gelas minuman dari tangannya dan sebuah tangan lainnya  memegang erat sikutnya.

“Kupikir akan lebih baik jika aku mengambilnya.”

Suara seorang pria yang datang dari belakangnya, begitu dekat dengan pendengarannya berkata tajam. Sulli terhenyak, sesaat dia kehilangan debaran jantungnya, ngeri dengan kenyataan bahwa Lee Byung Hun telah berhasil menangkapnya. Dan dia mendengar suaranya sendiri yang bergetar dengan nada setengah histeris saat berusaha meraih kembali gelas tersebut dan merebutnya.

“ Tidak !!” katanya.

“ Kalau begitu, aku sarankan kau segera meminumnya.”

Itu bukan suara Lee Byung Hun.

Dia sekarang baru menyadarinya.

Intonasinya berbeda, warna suaranya berbeda, ada sentuhan nada asing di dalam kata-katanya…. bahkan dia mendengar sedikit sindiran di dalamnya.

“Alkohol lebih efektif bila dikonsumsi secara pribadi daripada dengan sembrono ditumpahkan kepada orang-orang di sekitar anda….” Suara tersebut berhenti diikuti kesunyian… kesunyian yang rasanya tak berujung, yang kemudian diakhiri dengan kata-kata datar yang tajam,”… tetapi anda mungkin sudah tahu hal itu.”

Kaget, Sulli akhirnya berpaling dan melihatnya dengan dagu terangkat. Mengernyit tidak senang menyadari tuduhan dalam mata itu… tuduhan memojokkan. Rasa memberontaknya muncul walau dia sadar itu hanyalah sia-sia.

“ Saya bukan seorang alkoholik, jika itu maksud anda.”

Barisan giginya yang rapi dan  putih terlihat di antara bibirnya yang tersenyum mengejek. Lelaki ini lebih muda dari perkiraannya semula. Tiga puluh… atau lebih… tetapi tidak mungkin lebih dari tiga puluh lima tahun. Tetapi walaupun tampak lebih muda dari yang tadi dipikirkannya, aura kekuasaan  yang tadi memancar begitu kuat saat dia melihatnya dari kejauhan… kini serasa bertambah kuat ribuan kali, ketika mereka berhadapan begitu dekat. Dan cengkramannya pada sikutnya memancarkan penguasaan yang lebih efektif dalam mempengaruhi perasaannya dibandingkan dengan kekasaran dalam kata-katanya. Lebih membuatnya merasa terancam dan waspada secara naluriah.

“ Dan saya bukan orang yang akan memperkosamu. Jadi demi Tuhan, berhentilah memandangku seolah aku orang semacam itu !” Mata belo itu bergerak menyusuri seluruh tubuhnya yang kaku , ”Sekarang berikan gelas itu dan mari kita ke luar dari ruangan ini. Kau telah cukup melakukan banyak kekacauan yang bisa merusak kepercayaan publik pada keajegan perusahaan ini… dan itu hanya dalam satu malam !”

“Betapa beraninya dia berkata begitu ! Lancang sekali !!”

Sulli protes dalam benaknya, tetapi yang keluar hanya kediaman dan perlawanan yang kuat… bergeming dia menatap tajam ke arahnya.

Jemari tangannya yang panjang terulur dan mengambil alih gelasnya untuk kemudian diletakkan di ujung meja terdekat.

“Tidak…!”

Protes yang dia maksudkan untuk menolak dominasinya berlalu tanpa arti dan perlawanan fisiknya tidak berguna sama sekali, saat dia mencengkram pergelangan tangannya lebih kuat dan menariknya menuju pintu terdekat.

Kehirukpikukan pesta yang tadinya dipikirnya tak mungkin dilewati, perlahan-lahan tetapi pasti menjadi lebih mudah dilalui. Setengah kebingungan, Sulli berjalan mengikutinya sampai keramaian pesta itu menjadi suara samar-samar di belakangnya.

“ Baiklah, sekarang kau cukup aman di sini.”

Cengkraman jemarinya tidak berkurang sampai mereka melalui barisan pepohonan, Mereka sekarang berdiri di perbatasan tempat parkir, lumayan jauh dari ruangan pesta. Angin malam yang dingin membuat kesadaran Sulli sedikit demi sedikit pulih. Walaupun udaranya dingin,  Sulli bisa merasakan kulit di mana tangan pria itu memegangnya terasa seperti terbakar, jauh menembus kain tebal yang melindunginya. Tak mengerti maksud kata-katanya, Sulli mengangkat pandangannya dan menatapnya.

“ Aman ? Aman dari apa ?” tanya Sulli bingung.

“Dari apapun itu …. atau siapa pun itu …. sesuatu yang membuatmu berfikir begitu penting untuk berlari menghindarinya.”

“Oh, aku mengerti.”

Sungguh tidak masuk akal , bahkan sungguh tidak mungkin, memikirkan bahwa pria ini mengamatinya diam-diam  sedari tadi, dan ternyata  tak ada yang terlewat dari pengamatannya selama di dalam pesta. Diam-diam Sulli mempertanyakan motif tersembunyi  orang itu. Apapun itu, telah membuat gumpalan kepanikan di perutnya dan kewaspadaannya semakin meningkat. Dengan gerakan yang bisa dibilang tidak lembut, Sulli  membebaskan diri dari cengkramannya. Merasa lega karena  pria asing itu tidak berkomentar, walau sekilas kilatan aneh terlihat dari  matanya. Sulli sadar, baginya dia hanyalah … selalu demikian… seorang Choi Sulli yang bodoh dan canggung. Rasa  malu  dan cemas  mulai membungkusnya dengan cara  yang  aneh.

“ Dia tidak mengetahui namaku, demikian juga aku tidak mengenali pria ini. Jadi tak ada yang perlu ditakutkan, lagi pula setelah hari ini pun aku akan menghilang dari kota ini…” pikir Sulli.

Meyakinkan diri, kini Sulli menemukan kekuatan untuk melihat pria itu langsung ke dalam matanya.

“Terima kasih.” Katanya,” Kupikir, semua itu karena udara di dalam yang terlalu pengap…  Anda tahu, sebagian orang terkadang merasa gugup berada di ruangan yang  sesak… semacam  kehilangan oksigen untuk bernafas…”

“Kuyakin memang begitu !” cara dia mengatakan kalimatnya membuat Sulli yakin bahwa pria itu sama sekali tidak mempercayainya.

“Baiklah, saya harus kembali. Selamat malam.”

“ Selamat malam ?” tanya Sulli benar-benar kaget.

Setelah menyelamatkannya dari begitu banyak kejadian yang memeras emosinya di dalam sana, Sulli tidak mengira dia akan semudah itu melepaskannya dan berhenti mengintimidasinya. Menghentikan semua pertanyaan yang tadi sempat memenuhi benaknya.

“Ya, benar.”

Senyuman sinisnya kembali muncul, mengatakan kepadanya dengan begitu jelas bahwa  dia sangat menyadari ketakutan yang sekarang menyelubunginya kembali. Takut akan kejaran Lee Byung Hun.

“ Atau mungkin ada hal lain yang bisa kulakukan untukmu, nona ?”

Matanya  melirik gaun berpotongan kuno yang dikenakan Sulli, yang telah dengan sukses melakukan tugasnya untuk menyembunyikan dirinya … menarik dirinya dari perhatian para pria, setidaknya selama bertahun-tahun dalam perjalanan hidupnya dia dilindungi gaya pakaiannya itu. Kemudian matanya mendarat di wajah Sulli yang tanpa ekspresi.

“Tidak… tentu saja tidak…” jawab Sulli cepat, gugup.

“Kalau begitu… selamat malam !”

Dia berbalik kemudian berjalan kembali menuju keramaian pesta, meninggalkannya tanpa menoleh kembali… sekali pun !

Perasaan anti klimaks yang dirasakan Sulli membuatnya limbung. Bahkan sempoyongan dia mulai berjalan memutari halaman gedung. Berusaha mereduksi semua rasa tidak nyaman, rasa marah, rasa sedih, dan rasa menjadi sendirian… yang perlahan membuatnya sangat terganggu… perasaannya tidak pernah merasakan kedamaian yang dia idamkan sejak ibunya benar-benar meninggalkannya sendirian bersama kakek yang lebih membutuhkan perhatian dari pada memberi perhatian kepadanya.

“Sepertinya semua orang asing yang kutemui memang tak peduli kepadaku sebagai manusia normal. Pria itu… meninggalkanku di tengah kesunyian dan pergi begitu saja. Setidaknya, demi sopan santun, dia bisa berpura-pura bertanya apakah aku bisa pulang sendirian dan bisa selamat sampai rumah. Apakah dia tidak berfikir … bagaimana kalau rumahku jauh dari sini ? Bagaimana jika aku datang tak membawa kendaraan ? Walau bagaimanapun penampilanku, aku adalah seorang wanita, kan ?  Dia tidak tahu kalau aku adalah salah satu staf dari perusahaan ini… aku yakin dia belum tahu itu.”

Sulli melangkah menuju mobilnya yang terparkir, membukanya dan duduk…tetapi hanya untuk berpikir dengan mata menatap kosong ke barisan mobil lain  yang terparkir di sana ,

”Dia tadi mengatakan bahwa aku bisa merusak nama baik perusahaan dan para staf dengan kelakuan konyolku, jadi seharusnya dia sudah tahu kalau aku adalah bagian dari perusahaan.”

Sulli berkutat dalam pertanyaan-pertanyaan yang saling bertentangan, sampai dia kemudian ingat bahwa pria asing itu telah datang bersama boss besarnya Park Dong In.

“Mungkin boss-ku telah menyebutkan namaku kepadanya… tetapi siapalah aku, tak mungkin boss besar peduli pada karyawan kecil sepertiku. Apa pula kepentinganku untuk dilibatkan dalam urusan bisnis perusahaan dengan…. tamu penting ?”

Sulli kembali teringat bagaimana tatapan mata pria itu telah mempengaruhinya dalam jarak pandang 10 meter … dia tahu nalurinya benar… bahwa selama pesta dia telah diamati, diawasi… buktinya sudah jelas, bahkan pria itu tak luput dari tragedi kecil yang dilakukannya tanpa sengaja.  Satu hal yang sangat jelas buat Sulli…. sudah mengetahuinya atau tidak… pria itu telah memperlihatkan isyarat yang jelas bahwa dia tidak menganggapnya menarik. Tidak sama sekali !!

“Dia hanya menyelamatkanku dari situasi sulit dan berlalu begitu saja … selamat malam. Titik.”

Tetapi mengapa dia merasa terluka dan sedih dengan hal itu ? Bukankah dia sudah terbiasa menghadapi hal semacam itu… bukankah selama ini dia memang tak peduli bila diperlakukan seperti itu ? Dia bukan lelaki pertama yang menganggapnya tidak menarik . Dia bisa mengingat kembali pesta-pesta semasa SMP dan SMA-nya yang dilalui dengan kesendirian, mematung di pinggir lantai dansa seperti tiang bendera menunggu seseorang yang tak pernah datang… sementara hampir semua temannya memiliki pasangan, ada yang meminta mereka untuk berdansa walaupun hanya sekali…

“Lagi pula aku sama sekali tidak mengetahui siapa pria asing itu. Aku tidak akan melihatnya lagi dan dia, bagaimana pun, telah memberikan apa yang kuharapkan  selama pesta. Kesempatan untuk melarikan diri dari pesta menjemukan itu… menghindar dari jangkauan pandangan Lee Byung Hun. Seharusnya aku merasa beruntung, bukan merasa kecewa dan sedih…”

Mengingat Lee Byung Hun, Sulli mulai menghidupkan mesin mobilnya untuk segera pergi dari sana… berlari sejauh mungkin dari jangkauan pria beristri itu.

“Lagi pula akan lebih bijaksana jika aku mengerahkan energiku dan kemampuan berfikirku untuk menemukan pekerjaan baru… lebih fokus !”

Dari Krystal sang sekertaris bos besar, Sulli sudah mendapat kepastian bahwa surat pengunduran dirinya sudah berada di mejanya siang tadi… dan mungkin sudah dibacanya. Atau besok  lusa akan dibacanya. Mungkin sang boss akan merasa lega mengetahui dirinya mengundurkan diri setelah dia melihat semua kekacauan yang dilakukannya di pesta tadi. Kejadian yang sangat memalukan yang menimpa salah satu petinggi perusahaan. Untunglah dalam beberapa minggu ke depan dia  telah meninggalkan tempat ini… bahkan Seoul… sehingga dia bisa terbebas dari gunjingan yang memanaskan telinga.

“ Yah… selamat, Sulli  ! Dalam  beberapa minggu kau akan menjadi  pengangguran kembali…”  gumam Sulli, tersenyum  ironis.

Menganggur, bagi sebagian orang mungkin bukan masalah, tetapi baginya itu berarti tanpa rumah sampai  dia menemukan pekerjaan baru. Kakeknya telah meninggal. Song Hye  Kyo yang cantik…  sungguh  sulit untuk percaya bahwa dia adalah ibu kandungnya…  sekarang tinggal di Pulau Jeju bersama suami terbarunya yang  jauh lebih muda…  ayah tirinya .

Lalu ayah kandungnya ???

Sulli tak tahu dimana  keberadaan ayah kandungnya sekarang. Setelah bertahun-tahun, bahkan saat  natal dan ulang tahunnya, kartu ucapan selamat  darinya  tidak pernah  ada lagi.  Di saat  akhir masa remajanya, secara positif Sulli sudah menerima dengan  tulus bahwa dirinya adalah manusia yang mandiri dalam segala  sisi kehidupan.

Dan hal itu, dia  sadari, telah  menjadi bumerang buat dirinya saat Lee  Byung Hun tertarik pada kemandiriannya itu. Sebenarnya Sulli tak tahu apakah  lelaki itu tertarik pada  fisiknya atau pada kepribadiannya. Mendekati usia 50, Lee Byung Hun sangat memimpikan bisa  bekerja langsung  di bawah perintah sang  boss . Dan dia melihat impiannya itu dalam diri Sulli , ketika secara tidak sengaja  sang boss melihat cara presentasinya  dalam mempromosikan produk terbaru perusahaan, itu  secara kebetulan karena  atasannya waktu itu sakit.  Beberapa kali  Lee byung Hun mengucapkan bahwa sang Boss  akan menarik dirinya pada staf ahli di kantor pusatnya di City  Hall, setelah pemasaran produk baru  tersebut berhasil.

Sebenarnya itu  kesempatan karir yang cemerlang… tetapi bukan itu yang diinginkan Sulli. Dia tak mau bersentuhan dengan banyak orang, menjadi perhatian banyak orang… karenanya dia… Terimakasih kepada Tuhan… telah menulis surat pengunduran dirinya.

 ‘

****  TBC ****’

Advertisements

31 thoughts on “THIRTEEN (13) – Part 2

  1. Wahhh…byung hyun ngapain sih…jelas” disitu ada istrinya..untung ada pria tampan yg nolongin babysull…apakah itu minho oppa?,??maybe..semoga saja..dari ciri”nya sih itu kinho oppa..kkk .. semoga besok mereka bertemu lagi walaupun babysull udah gak kerja disitu…mereka kan jodoh jadi pasti akan selalu bertemu dimanapun itu..hohoho…ditunggu kelanjutannya eonni…fighting..☺☺

  2. Oh baby ssul…pasca insden prtemuan rahasia dgn sang istri, khidupanmu bnar2 brubah… dr kau mnjalani hub trlarang, ketenangan dn knyamanan hdup sangat sulit untuk mnghampirimu
    Hampir stiap waktu, pikiranmu sllu trfokus utk mnghindar, menghilang bhkan ingin lenyap..mungkiin
    Dan dlm situasi apapun yg brhub at brkaitan dgn si nampyeon dn sang istri seolah2 mmpngaruhi pribadimu,,, yaaa sangat jelas terlihat dr segala usahamu utk menjauh… hingga bbrapa insiden2 kecil yg kau sbut sbuah ksialan trus dtg mndekati dn trus mnghmpirimu,,,
    Poor sulli… hdupmu bnar2 tertekan sekarang 😦
    Sebuah pengawasan yg bgtu mengintimidasi, bukan hanya 1 at 2 pasang.. tetapi 3
    Siapa orang ke3 yg kau mksud ???
    Orang asing itu dgn sangat bagus kau deskripsikan dr pngmatan prtamamu..
    Bgtu smpurna tnpa cacat,,, mungkinkah dia adalah malaikat pelindungmu ???
    Atau hny orang asing yg ingin sejenak hadir dlm wktu singkatmu, mmbntumu dlm skejap dn lenyap dgn ucapan “good night”
    Hahhaa… bnar2 asing dgn khdiran dn tndkanny yg aneh
    Apakah kau mnghrapakn hal yg lebih dr tndakan org asing tsb ssul ???
    Lagian jg yaa… orang asing akn mnjd org aneh dgn sgala mksd trsmbunyi
    Motif apa yg ada dblik sgla sikap dn tndakanny tak akn smudah itu dpt dtebak (?)
    Siapa orang asing itu ? Knpa dia mmprlihtkan ekspresi “mengejek” pd ssul ??
    Knpa dia brkata seolah2 tau keadaanny ssul d pesta ??
    Dan… orang asing itu,,, bnr2 mmbuat pnsran
    Apa yg akn trjd pd ssul slnjutnya ?
    Bnarkah dia akn mninggalkan seoul dn mnjdi pengangguran ??
    Tidak adakah hal spesial gg akn mngubah khdupanny ??
    Hhmmm…next part eonni
    Part yg gregetin,, always… memikat
    Go go goo
    #minsuljjang♥♥♥

  3. Poor sulli…. masa lalu nya benar2 menyedihkan….
    siapakah orang asing itu,Minho kah??
    klo sulli pergi dari Seoul akankah dia bertemu lagi dg orang asing itu?
    Eonni….. Seriusan Song Hye Kyo??? cocok juga siih xiixixi

  4. Aku senang akhirnya Sulli membuat keputusan tepat dengan mundur dari kehidupan rumah tangga orang lain. Ya walaupun kayaknya itu bakal jadi masalah di masa mendatang, tapi kalo Sulli diam saja masalah itu makin gede..
    Di tambah si ahjussinya kayak yang gak rela bangeut Sulli menjauh, dia tua2 koq maennya sama yang muda2? gak nyadar umur..eh..haha
    Dan orang asing itu? Choi Minho dong ya. Dari ciri-cirinya udah jelas si orang asing itu Choi Minho. Yang bikin penasaran adalah siapa perempuan yang sempet natap sinis juga ke Sulli setelah insiden minuman tumpah itu? Minho punya pacar? atau bahkan istri? Noooooo..
    Aku juga penasaran siapa sebenarnya Minho itu? salah satu petinggi juga? Pro byung hun atau kontra byung hun ya? ahhh.. molla, aku serahkan semuanya sama eonni:)

    okeee.. makasih lho eonn sudah kirim link ff ini:) pokoknya tetep sukaaaa sama ffmu:) semangaaattt

  5. bnyk skli cubaan yg sulli hadapi .. ksian dgn sulli .. tpi spnjan prjlnan hdp nya dia enda prna mnyerahh .kuat kn smgt ya sull .. . huhuhu … lnjuti ya .. hhehe .. sy hrap urng asing itu minho .. dan meraka akn brtmu lgi stlah sulli nya brhnti krja .. huhuhu ..

    fighting !!!!

  6. yeyeeeyeee, akhirnya eon dina update dann panjangh benerr. akuu sukaa akuu sukaa. akuu senang akhirnya blog ini kembali menunjukan tanda2 kehidupan*alay. akuu suka jalan ceritanyaa eonn, terimakasih sulli mau mundur atas ajushi2 beristri itu. dan hey, bisakah d kenyataan jga seperti itu? ya allah, ni bapak tua, ada istrinya ngapain jga ngerepe2 anak gadis orang. please deh pak. hoho, pria misterius? dari ciri2nya kyaknya ming deh. semoga deh yaa eon. minh sinis bnget yaak? kyaknya bkal seru nih cerita eon. mengingat fire deh jadinya. sul yg polos dan ming yg arogant. yuhuuu. aku bakal nungguin ini ff selalu. eh ehh, aku lupa, pria misterius itu merhatiin sulli? tertarik kah? atau mereka pernh kenal d msa lalu? atau terpesona oleh kecantikan ssul? semoga ajaaa antra 3 opsen itu bener deh yaaa. part selanjutnya semoga moment minsulnya bertaburan ya eon yaaaa. aku rindu minsulllll.
    eonni fight^^

  7. Aduh kasian ih sama sama sulli eonni dibuntutin terus sama tuh om2 >< tapi untungnya ada si pria asing yang saya yakin pasti itu minho oppa 😁 nyelamatin sulli eonni
    Bagus deh eonni ngehindarin tuh om2 daripada ntat urusannya makin panjang kan
    Nggak papa eonni jadi pengangguran buat semetara waktu aja aku doain ntar dapet pekerjaan yang lebih baik lagi dan bareng minho oppa 😁

  8. duh dasar bung hyun udah aki aki juga masih aja suka yang muda muda , tapi syukur deh sulli sadar dan ga mau jadi PHO
    dinaaa jangan lama* yaa updatenyaa , ditunggu 🙂

  9. Waduh.. Si om2 it nggk nyrah jga ngjar sulli…
    Ksian sulli jd krbanny… Org asingny minho ya.. Bru prtama kli ktmu udh sling trtarik aja..
    D tnggu lnjutannya scpatnya eonni… Fighting.. 😀💪..

  10. wkwkwkwk parah noh si byun udah tergila2 sama sulli..pdhal ada istrinya ttp ngejar sulli -_-
    waaah udah ketemu sma cowo yg tinggginya 180cm ya
    minho oppa udh dateng

    next eonni

  11. Nyusahin sulli aja nih lee byung hyun. Ud jd laki org jg masih gatel aja deketin sulli. Bikin sulki ngk nyaman aj ditambah istrinya mau ngerecokin sulli pula. Padahalkan sulli kan ngk slah lakinya aj yg gatel. Tu cowok siapa yah minho bkan sih. Ngk sbar nggun moment minsulnya

  12. Uhhh akhirnya minho mulai masuk.. seperti biasa mengintimidasi dan berkuasa. Semoga minho yang akan buat sulli lepas dari om om. Kasian mau lepas aja sulit ya sull… apa lagi hidup sendirian, walaupun pnya keluarga tapi berasa sendirian. Fight sull segalanya akan indah nantinya. Jangan merasa terabaikan karena dengan seorang manusia yg lahir pasti tuhan Telah menyiapkan dan menciptakan hal yang baik.

  13. Siapa laki2 yg sudah menolong Sulli, apakah mungkin Minho? Semoga saja Sulli cpt dpt pekerjaan lagi..biar ga berurusan sama Lee Byung Hun lagi…

  14. Hallo oen, sya reader baru nma sy novi.. sya baru nemu ff ini oen. Aduuh jd ini ceritanya sulli itu pnya hbngn sma om2 suami orang.. skrng sulli mau ngejauh eehh…….si om2 nya mlh nhjr2 sulli..
    waaahh….waaahhh cwo misterius it apkah minho oppa kahh. D tunggu lnjtn chap brktnya yahh.. n faighting oenii…

  15. Gara-gara byung hun sulli jadi ngelepas pekerjaan, dan sialnya belom mendapat pekerjaan lagi. Poor Sulli😔. Siapa orang asing yang nyamperin sulli, minhokah? new comer?

  16. Ya ampuun bsa bayangin ketakutan sulli saat pesta. Huh byunghun terua ngejar sulli jga. Owwww apa orang asing itu minho. Seperti ya iya. Dan orang itu jga yg nyelamatin sulli kan. Wah bagaimana kelanjutan kisah merekaaa

  17. Haiii eonn berhubung aku bacanya telat jadi komennya juga udah pada ada semua yang dikomen sama readers yang lain jadi, cuma pengen tau kok konflik minsul belum muncul yakk, dan siapa yang ngikutin ssil selama sebulan, apa itu ming? Kalo benar syukur deh tunggu itu siapa ? Ahhh entahlah.. Fighting and always be support dan semangat buat nulisnya jangan ada kata kenal lelah wkwk, maaf komen gaje lagi

  18. jelas2 udah dtolak ama sulli msih ajj ngejar2 sulli, brani bnget lg pdahl dstu ada istrinya.. Tpi itu yg nolongin sulli siapa? Itu minho bkan?? Buat sulli tndakn yg bgus untk mnjauh dri om2 ntu..

  19. Kasihan sulli…… Ngpain jga bpak2 tu ngliat sulli padahal istri na dsana…. Pa cowok yg nylamatin dya tu minho oppa?mdah2 ya…. Hehehehe

  20. Syukur ada yg nolongin , itu bapak2 tua ngpn sih 😬
    Dan sudah pasti klo aura2nya penuh kuasa dan intimidasi itu minho oppa kyaaaaaa 😊

  21. semangat sulli … kehidupan baru mu akan segera dimulai … dimana kau akan bertemu dengan seseorang yg masih misterius.. minho..manaaa 😳😳😳

  22. Is he Minho oppa? Mata belo ciri khas nya tuh wkwkwkw
    Gapapa eon kalo mengundurkan diri, nanti akan menemukan pekerjaan baru, kehidupan baru dan mungkin seseorang yg baru cieeeee

  23. Lee byun hyun masih saja mencoba mendekati sulli,sadar situ sudah tua ada istri juga.untungnya sulli terselamatkan denga pria asing.dari cirinya sudah jelas kalo itu minho.semoga minsul bisa bertemu kembali.

  24. Udh ada istrinya aja dia masih aja kegenitan apalagi klw gk ada istrinya..waduh waduh bahaya tuh klw punya suami kyk gtu..untung aja ada laki2 yg bantu sulli keluar dri pesta yg menurutnya tdk nyaman..itu pasti minho oppa.yyyyyeeeeeeee.muncul jga akhirnya..tpi kok tega ninggalin sulli gtu aja.kan dia cwe.hhhmmm.smga cepet2 bertemu lg mereka berdua.di tunggu ya kelanjutannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s