THIRTEEN (13) – Part 4

13

Judul : Thirteen (13)

Genre : Roman

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Support cast : Lee Byung Hun, Lee Jung Ah

Do You Believe 13 is Unlucky Number ? 
  I do.

4. Penyusup

Kantor Pusat Penelitian

.

Sulli melihat ke luar jendela, ke keheningan tak terbantahkan dari pemandangan sepanjang jalan. Dirinya masih tetap tak percaya bahwa dia benar-benar ada di tempat ini. Tiga hari yang  lalu dirinya masih berada di Seoul. Beberapa minggu yang lalu dia masih berdiri di depan jendela apartemennya , merenung dan berfikir bahwa kemampuan profesinya sebagai seorang psikolog hanya akan tersia-siakan di NST yang memberinya satu-satunya pekerjaan menjanjikan di Seoul, sebagai asisten pemasaran yang sama sekali tidak cocok dengan latar belakang pendidikannya. Waktu itu dia berfikir demi uang dan tempat tinggal , karirnya sebagai psikolog akan berakhir begitu saja.

Dan sekarang, disinilah dia…. di salah satu sudut kota Incheon, kota yang tak pernah terpikirkan akan ditujunya selepas dari NST. Berdiri dikelilingi oleh hamparan salju tebal dengan temperatur udara 20 derajat di bawah titik beku. Sangat bisa dimengerti mengapa selama perjalanan dirinya hampir tidak melihat pergerakan manusia di sepanjang jalan. Udara benar-benar membekukan, bahkan sekarang pun masih dirasakan menusuk tubuhnya yang berbalut mantel super tebal. Sangat tidak mungkin melihat anak-anak bermain bola-bola salju, seperti yang dibayangkan sebelumnya. Setidaknya gambaran itulah yang ada di benaknya, mempertimbangkan saat itu sedang musim dingin dan juga spesialisasi pekerjaan yang menunggunya.

Sebuah tempat dan pekerjaan baru  yang sama sekali tidak dikenalnya, yang secara gelisah telah membebani pikirannya dalam sisa malam-malam terakhirnya di Seoul . Dilamunkannya sebagai ladang serta bentangan kesulitan lain yang menunggu di depannya.  Tentunya kesulitan yang tak akan mudah untuk dilalui, sebagaimana pengalamannya yang sudah-sudah.

Tetapi ajaibnya, ini semua terlalu mudah baginya. Dengan berbekal selembar rekomendasi dari bos besar NST kepada sebuah Universitas Swasta di Incheon, dia berangkat meninggalkan tempat yang selama lima bulan terakhir telah menjadi tempat kerjanya. Tentu saja kehadirannya di Universitas tersebut bukan untuk dipekerjakan sebagai divisi pemasaran seperti di NST,  atau sebagai dosen. Dengan mengejutkan dirinya direkomendasikan menjadi salah satu asisten Profesor Kim Tan Hye di Institut Manajemen Budaya dan Psikologi, sebuah lembaga penelitian yang melekat pada Universitas tersebut. Profesor Kim Tan Hye adalah seorang pakar psikologi yang menurut bos-nya sedang meneliti prilaku sekelompok anak yang  malajustment . Itulah sebabnya begitu dia mendapat tawaran seperti itu, hatinya langsung tertarik. Di sini ilmunya akan dipakai dan dia hanya berhubungan dengan sekelompok anak, bukan sekelompok orang dewasa dengan kompleksitasnya masing-masing. Bahkan segala keruwetan perpindahan yang biasanya sulit ditembus, apalagi mendekati akhir tahun di mana banyak lembaga pemerintah yang sudah mulai meliburkan karyawannya, dilaluinya tanpa banyak hambatan. Terkesan mudah…  bahkan terlalu mudah.Sepertinya universitas tempat kerja barunya memiliki kekuatan yang cukup berpengaruh di Incheon atau entahlah… Sulli tak mau terlalu memusingkan hal itu. Yang dia pikirkan adalah dirinya harus secepatnya menyingkir dari Seoul. Titik.

Hanya saja memikirkan Incheon selama perjalanan membuat bulu kuduknya meremang. Lee Byung Hun setelah kejadian di lorong gedung itu, malamnya sengaja menunggu di pintu apartemennya. Sulli tanpa kesulitan mengabari bahwa pengunduran dirinya sudah disetujui, walaupun dirinya gundah ke mana akan melangkah setelah besok.  Kemudian pria itu mencercanya dengan kata-kata yang  tidak dimengertinya tetapi jelas maksudnya.

“Berlarilah sejauh kau bisa, Sulli. Kau mau lari ke Incheon ? Berlari ke pelukan pria koktailmu itu ? Kamu  hanya akan menemukan penyesalan nanti, pengalaman hidupmu yang  terbatas hanya akan mengantarmu pada penyesalan… aku yakin itu. Aku sudah memberimu kesempatan kau hanya tinggal menunggu aku menceraikan dia. Kau tak tahu kalau pria-pria muda seperti itu hanya ingin mencicipimu kemudian akan mendepakmu setelah dia bosan. Catat kata-kataku Sulli, kau akan menyesalinya !!”

Saat itu dirinya belum mengetahui ke mana akan menyembunyikan diri, bahkan  tengah berputus asa ketika menyadari bos besar NST yang memergokinya bertengkar dengan Lee Byung Hun siang itu membawanya ke kantornya dan tanpa basa-basi langsung menyetujui pengunduran dirinya. Dia hanya punya uang sedikit, tanpa apartemen, tanpa pekerjaan. Dan untuk menemukan pekerjaan baru di akhir tahun bukanlah perkara mudah.

Dia baru tahu surat rekomendasi itu ketika besoknya, saat sedang membenahi meja kerjanya sang bos memanggil dan menjelaskan beberapa alasan memberinya surat rekomendasi itu. Sulli menyadari sesaat dirinya syok melihat nama Incheon,  waktu itu pikirannya langsung melayang pada sosok tinggi tegap dengan mata besar dan senyum mengejek, yang telah membuat dirinya merasa tidak nyaman selama pesta koktail. “Pria koktail” yang tanpa sengaja semalam telah dikaitkan Lee Byung Hun dengan nama kota itu. Ada rasa ngeri membayangkan kalau Lee Byung Hun mengetahui kepergiannya ke Incheon, akan makin memperkuat dugaannya bahwa dia mengejar pria itu. Pria yang bahkan namanya dia tidak ketahui. Namun dia segera menghapus keraguan itu. Incheon adalah kota megapolitan dengan penduduk di atas 2 juta jiwa… sangat kecil kemungkinan untuk bisa bertemu dengan pria itu. Lagi pun Lee Byung Hun tak akan mengetahui kalau dia akan bekerja di Incheon karena Sulli tak berniat mengatakan rencananya kepada siapa pun di Seoul. Bahkan bos besar NST secara bijaksana telah berjanji akan menyimpan rahasia itu untuknya.

Selama membereskan sisa-sisa barang-barangnya di NST, selama mengepak baju-bajunya, selama perjalanan ke Incheon, pikirannya seolah tersedot dengan keberadaan pria yang sejak malam pesta itu tak pernah dilihatnya lagi. Dia tak bisa menghentikan dirinya sendiri untuk bertanya-tanya tentang siapakah pria itu, yang berkali-kali dia berusaha buang hal itu dari pikirannya. Mengapa dia harus merepotkan dirinya sendiri dengan memikirkannya ? Mengapa dia harus merasa malu atas kejadian malam itu, padahal mungkin pria itu telah melupakannya sama sekali, tepat pada detik dia membalikkan tubuhnya setelah mengucapkan ‘selamat malam’ dan meninggalkannya terbengong di dekat arena parkir.

Hanya saja, Sulli telah memiliki catatan tersendiri tentang pria itu dalam ingatannya kini. Rambut hitam tebal yang terkesan seenaknya dan hampir menyentuh kerah kemejanya, matanya yang tajam menusuk dan mencela, bibir yang tersenyum mengejek, berpostur tinggi  dengan bahu lebar yang terlihat kokoh. Sosok yang tak mudah dilupakan dan telah menyedot banyak perhatian. Dan anehnya tubuhnya memberikan reaksi asing ketika dalam keheningan malam dia mendengar suaranya yang dalam dengan intonasi sedikit aneh. Tetap saja, walaupun kejadiannya sudah berhari-hari, dampak kehadiran dan suara pria itu masih membuat  seluruh tubuhnya meremang.

Sulli segera menggelengkan kepalanya untuk mengusir ingatannya dari sosok pria  asing itu. Dari pada menghabiskan waktunya dengan memikirkan pria yang tak akan  pernah dijumpainya lagi, akan lebih bijaksana kalau dia memusatkan pikirannya pada deraan keberuntungan yang secara fantastis didapatkannya, ataupun pengaruhnya nanti … bagaimanapun dia telah mendapatkan mimpinya untuk bisa memanfaatkan ilmunya dalam sebuah penelitian ilmiah, yang tentunya menyedikitkan persinggungannya dengan banyak manusia dewasa di sekitarnya .

“Semoga saja…” gumamnya.

Sulli tersenyum mengingat kejutan-kejutan yang mengikutinya sejak berhentinya dia dari NST. Dalam mimpi terliarnya dia tak membayangkan bisa menaiki pesawat melintasi pulau. Kesulitannya dalam menghadapi kehidupan mengajarinya untuk tidak berani beranda-andai terlalu jauh. Tetapi perjalanannya ke Incheon telah memberinya pengalaman yang mengejutkan. Kemudian perjalanan dengan bis dari bandara ke tempatnya sekarang, sungguh fantastis walau tidak bisa disebut menyenangkan karena pemandangan yang menyambutnya di sana hampir selalu sama… hamparan salju dan pepohonan dan bangunan-bangunan yang tertutupi salju. Tetap saja baginya itu adalah perjalanan terpanjang seumur hidupnya, sangat mustahil bila tidak meninggalkan kesan. Dan dia berharap, begitu salju-salju itu mencair dia akan menemukan mimpinya yang lain di tengah-tengah kehirukpikukan Incheon. Sesuatu yang tidak … belum pernah ditemui seumur hidupnya di Seoul.

Udara yang dingin menggigit, lebih menggigit dari yang biasa dirasakannya di kota asalnya, telah menampar wajahnya walaupun hanya dalam perjalanan pendek dari perhentian bis ke sebuah alamat yang diberikan bosnya untuk ditemuinya di Incheon. Di sebuah kantor kecil yang muram, dia disambut seorang pria tua yang cukup ramah. Kemudian bersamanya dia berjalan ke sebuah garasi kecil yang terletak di belakang bangunan.

“Mobil putih itu, Nona. Dan ini kuncinya. Ada navigator yang bisa membawa anda ke apartemen universitas.”

Sulli kembali terkejut. Fasilitas yang menarik ! Sejak pekerjaannya yang pertama, dia belum pernah menerima fasilitas seperti itu. Bahkan apartemen yang disediakan NST untuknya di Seoul sudah termasuk fasilitas terbaik. Dan ini mobil ?? Wow !! Sulli bisa membayangkan dengan mudah seberapa besar lembaran WON yang akan memenuhi tabungannya nanti. Ini sebuah awal yang menarik !

“Semoga saja…” hatinya menjerit penuh  harapan berbunga-bunga.

Image result for mobil sedan putih antik di korea

Sulli sangat bersyukur dengan pemanas yang berfungsi dengan baik dalam mobil, juga bersyukur atas jalanan lurus dan kosong yang harus ditempuhnya. Jalanan yang  telah dibersihkan dari serpihan salju dan telah membawanya ke sebuah bangunan tingkat tiga sekitar lima mil dari kantor tadi.  Pusat Lembaga Penelitian Budaya dan Psikologi.

Bangunannya terletak di antara beberapa bangunan lain yang menjulang, tetapi di bagian kanan dan belakangnya terdapat bidang tanah yang kosong. Melihat situasinya, Sulli yakin  kalau itu merupakan lapangan rumput yang memanjang menuju barisan pepohonan gundul  tertutup salju. Sebuah danau yang membeku menjadi akhir dari lapangan tersebut. Sangat jelas, walaupun menyatu dengan universitas, Lembaga Penelitian Budaya dan Psikologi diberikan jarak dari kesibukan yang lain. Satu lagi nilai plus yang sesuai dengan harapannya untuk tidak terlalu bergaul dengan banyak orang.

Dan sekarang dirinya ada di sana ! Berdiri di sebuah ruangan tamu sebuah flat sebagai fasilitas lembaga  yang akan ditempatinya selama bekerja di sana.

Sulli menahan diri untuk mencubit dirinya sendiri, hanya untuk meyakinkan  bahwa semua yang ada di hadapannya sekarang bukanlah mimpi. Namun mengapa dia harus menolak  godaan untuk melakukannya ? Incheon, bagaimanapun, adalah satu-satunya tempat yang bisa menjanjikan kesempatan baginya untuk mengekspresikan diri dengan ilmu yang telah diperolehnya. Iya begitu bersemangat ! Dirinya bukanlah salah satu dari anak-anak itu , untuk siapa program itu dibuat tetapi tetap saja… itu bisa saja hanya mimpi.

Sulli menutup matanya dan mencubit tangannya keras-keras . Sakit. Kemudian saat dia membuka matanya, keadaan di sekelilingnya tetap tidak berubah . Satu stel kursi sofa berlapis kulit imitasi    berwarna beggie hangat, sebuah meja kayu berplitur mengkilat, jendela kaca yang ditutup tirai berwarna senada. Incheon bukanlah mimpi, dirinya tetap berada di tempat itu.

Image result for a professor and thick glasses

Keesokan Paginya

“Masuklah !”

Sebuah suara menjawab ketukannya, keesokan paginya. Profesor Kim Tan Hye mengangkat pandangannya dari meja kerjanya ketika Sulli dengan berhati-hati mendorong pintu kantornya.

“Ah… Dr. Choi Sulli.” Katanya ,” Silakan masuk… ayo  duduklah !” dia menunjuk kursi di seberang meja, untuknya, “ Bila tak keberatan, aku akan menyelesaikan dulu pekerjaanku ini.”

“Tentu saja.” Jawab Sulli, menggigit bibir bawahnya menyadari bahwa dia hanya berkata kepada orang yang tampaknya sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Bekerja untuk Profesor Dr. Kim Tan Hye adalah salah satu hal mengejutkan buat Sulli.  Dia telah mengenal namanya sejak lama. Dia telah melihat kemunculannya di berita-berita , membaca artikel-artikelnya dalam jurnal atau majalah-majalah. Bahkan Sulli pernah melihatnya saat diwawancarai di televisi.  Dia adalah pria yang tidak menarik perhatian, dengan rambut yang mulai berubah keperakan di pelipisnya , tubuhnya  kurus dan matanya  terlihat membesar di balik kaca mata tebalnya. Pria yang tidak menarik untuk diperbincangkan di sudut-sudut kafetaria. Saat Sulli melihatnya di televisi, dia menilai pria itu seorang yang pendiam, selalu melipat tangannya, dan terlihat gugup di depan kamera.

Karena profesor telah dikenal sebagai seorang pakar psikologi bertaraf internasional dengan sejumlah prestasi yang tidak sedikit, dan sekarang dengan proyek penelitiannya yang menghimpun beberapa anak maladjustment, Sulli mengira dia akan disambut hangat dan ramah saat berjumpa dengannya. Itulah sebabnya  dia benar-benar terkejut waktu semalam dia bertemu dengannya, sesaat setelah kedatangannya kemarin petang dan menemukan bahwa sikap malu-malunya ternyata memang sudah pembawaan dalam kesehariannya, dan bukan karena di depan kamera saja.

Meskipun semalam telah terbangun semacam hubungan di antara mereka , itu bukan awal yang sangat bagus sesungguhnya. Ketidakberanian profesor Lee dikombinasikan dengan sifat Sulli  sendiri yang pendiam dan     hati-hati,  sangat sulit menciptakan sebuah percakapan yang lancar di antara mereka.

“Dan sepertinya akan lebih sulit sekarang ini..” Sulli berfikir dengan tak nyaman, sambil duduk menunggu pria itu menyelesaikan pekerjaannya.

Saat  Profesor Lee mendongak, dia tampak sangat terkejut ketika menemukan dirinya  masih duduk di sana.

“ Ah… Dr. Choi Sulli !” Sebuah senyum tipis yang dia coba paksakan di wajahnya, memudar dengan  cepat,” Baik sekali kau mau   datang dan menemuiku. Kuharap kau menerima semua fasilitas kami dan menikmatinya ?”

“ Ya, terimakasih.  Aku hanya berharap bahwa akan bisa mengenal kehidupan di sini secepatnya  untuk memulai hari-hariku  .” Jawab sulli, sementara melalui jendela dia melihat mobil yang semalam dikendarainya kini telah tertutup salju cukup tebal di lahan parkir. Sepertinya mesinnya ikut membeku dan akan sulit dihidupkan, sama seperti sulitnya menghidupkan percakapan kaku antara dirinya dan profesor Kim.

Pria itu mengikuti arah pandangannya ,” Oh ya…” katanya seperti melamun , “Aku harus mengatur supaya kau memiliki semacam… penghubung.”

Ada jeda panjang yang canggung. Sulli tidak tahu apa yang dimaksud pria itu dengan “penghubung” dan tampaknya pria itu tak ada niatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Well,   Seperti yang lainnya… semua ini masih terlalu baru dan asing bagiku. Mungkin seiring waktu aku akan bisa melihat dengan jelas apa maksud semuanya ini. Untuk saat ini cukup bagiku untuk mengetahui bahwa aku telah diterima bekerja  dan akan tinggal di bangunan ini. Tepatnya di sebuah flat yang terletak di lantai tiga, di gedung yang sama dengan tempat penelitian .”

Memang ada dua flat yang terletak di lantai paling atas lembaga penelitian itu, tetapi flat yang satunya kosong dan dia akan sendirian di gedung itu setiap malam dan setiap akhir minggu, bila kantor libur. Ada sedikit kelegaan tetapi juga kengerian bila mengingatnya, dan refleksi perasaan itulah sepertinya yang tertangkap oleh sang profesor sehingga dia tidak memperpanjang masalah pengaturan tempat tinggalnya lebih jauh. Mata mereka bertubrukan.

“ Arasseo… “

Pria itu menatapnya dengan penuh harap, seperti memohon agar Sulli bisa menjembatani jarak keheningan di antara mereka. Tetapi Sulli tak bisa memikirkan hal lain lagi untuk dibicarakan. Setelah keheningan panjang yang canggung, Sang profesor mendesah .

“ Yahh…Jika  kau perlu sesuatu… apapun saja… Sekretarisku Park …. er…  Park…” dia menggumam tak jelas  , tampak berusaha mengingat dan akhirnya menyerah ,” Pokoknya sekretarisku akan dengan senang hati membantumu.”

“Saya tidak  membutuhkan apapun untuk saat ini, Profesor. Tetapi terimakasih…”

Memang tak ada yang bisa difikirkannya selain menyadari kelegaan yang membuncah karena telah berada jauh dari Seoul  dan selamat dari jangkauan Lee Byung Hun. Dan juga sebuah pekerjaan di tempat baru  yang sesuai dengan bidang keahliannya.

“Untuk masalah itu… “ Pria itu memandang kertas kerjanya setengah melamun , “Apakah ada sesuatu tentang program penelitian yang lolos dari pembicaraan kita semalam, yang ingin kau tanyakan ?”

“ Tidak Profesor. Saya bisa memulai pekerjaan saya hari ini.”

“ Baiklah… sekarang kita atur di mana kau harus bekerja.”

Lelaki tua itu mengerutkan keningnya, meninggalkan guratan-guratan mendalam yang merefleksikan kalau dia memang seorang pemikir.

Dalam perintah-perintah pendek dan kalimat-kalimat yang kaku akhirnya Sulli mendapat petunjuk yang jelas tentang apa dan bagaimana dirinya harus berbuat hari itu. Kelegaan sangat terlihat jelas di wajah Profesor Kim  saat Sulli menutup pintu kantornya untuk memulai hari-hari barunya di sana.

== 00 ==

Sebagai asisten Profesor Kim dalam proyek penelitian, Sulli memiliki akses  penuh ke pusat pengendalian komputer universitas untuk mengakses data-data yang diperlukan dan pelaporannya ke bagian penelitian dan sebuah perusahaan berskala internasional yang menjadi sponsornya.

Pekerjaannya sekarang adalah jenis pekerjaan yang diimpikan banyak psikolog dan bagi Sulli,  itu adalah jawaban dari doa-doanya.  Survey yang dilakukan tidak memiliki hubungan sama sekali dengan segala bentuk kegiatan yang berjalan setiap hari di universitas, sehingga tidak ada kontak  baik itu dengan staf lain atau pun dengan empat puluh anak yang tinggal di unit modern lantai bawah, yang menjadi obyek penelitian.  Data tentang keluarga dalam survey datang dari pekerja-pekerja yang dikirim melalui surat email . Sulli sendiri memiliki komputer di kantornya dan sama sekali tidak perlu melibatkan diri dengan siapapun. Meskipun sebagai seorang asisten pemasaran, dia memiliki alasan yang sangat tepat untuk belajar dari kesalahan.

Setelah keterlibatan hubungan pribadinya dengan Lee Byung Hun, dia tak ada keinginan sedikit pun untuk mengulanginya. Terlalu berbahaya.  Dia memulai hidup barunya di Incheon dengan meminimalkan kontak dengan orang dewasa lainnya. Sulli bahkan memasak dan  makan sendirian di flatnya… atau di apartemennya, dia suka menyebutnya seperti itu. Dia lebih memilih cara hidup seperti itu dari pada harus bergabung dengan staf lain  di kafetaria  dimana sangat sulit untuk mencegah ajakan ramah untuk terlibat secara mendalam dalam sebuah hubungan pertemanan atau apa pun, dengan siapa pun. Setidaknya dengan cara menarik diri secara halus, dia bisa lebih aman.

Meskipun dia di  Incheon sudah hampir  2 minggu, kesibukan pekerjaannya telah menyerap energi dan konsentrasinya sehingga dia jarang merasakan kebutuhan untuk berteman dengan yang lain. Dia memiliki koleksi buku untuk membunuh kelengangan di waktu luangnya. Dan dalam 2 minggunya, terlepas dari cuaca di Incheon yang begitu  dingin, untuk menghabiskan akhir pekannya  Sulli telah mendorong dirinya sendiri untuk berjalan menyusuri trotoar bersalju dengan jarak yang tak terbatas, dan mulai membiasakan diri dengan udara yang menggigit yang nyaris luput dari perhatiannya.  Yang dipikirkannya adalah kemungkinan-kemungkinan tersedianya pekerjaan apapun di Incheon, yang cocok dengannya dan bisa dilakukannya apabila riset itu sudah selesai dan dirinya harus meninggalkan pekerjaan itu untuk pekerjaan lainnya.  Dia pun mulai mencari-cari informasi tentang apartemen-apartemen murah yang disewakan untuk bahan catatannya bila suatu hari dia memerlukannya.

Dr. Choi Sulli, telah mengambil gelar yang lebih tinggi di bidang psikologi dengan harapan dia akan bisa memahami dirinya sendiri, yang ternyata gagal. Ya, gagal memahami diri dan kehidupannya walaupun di universitas dia mendapatkan nilai cum laude untuk itu.

Image result for sulli at the window

Sulli saat itu sedang berdiri di jendela apartemennya, merenungkan tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan ditempuhnya bila masa  kontrak kerjanya  dengan Profesor Kim selesai, ketika matanya menangkap cahaya lampu yang tumpah ke halaman yang sepi dari salah satu kantor. Apartemennya terletak tepat di atas kantornya  dan dia tadi telah bekerja di kantornya sebentar untuk mempersiapkan surat-surat yang harus diemailkannya pada hari Senin.

“Aku pasti lupa mematikan lampunya. Dan kalau besok pagi aku tidak ingin mendapatkan teguran dari Sekretaris Profesor Kim karena telah menghambur-hamburkan energi, lebih baik aku turun dan mematikannya.” Pikir Sulli.

Dengan berpakaian celana jeans lusuh dan kaos oblong yang telah pudar warnanya, Sulli  segera meninggalkan apartemennya menuju ruang kantor di lantai bawah. Ia tak berniat mengganti baju, apalagi merapikan rambut tebalnya yang dibiarkan tergerai. Ini adalah akhir pekan, semua staf libur dan secara praktis dia tak akan bertemu dengan siapapun di sana. Yang perlu dilakukannya adalah turun dan menuju kantor yang kosong untuk mematikan lampu.

Dia mengambil tas tangan tempat menyimpan kunci dan  membiarkan pintu apartemennya terbuka sehingga cahaya dari dalam bisa meneranginya saat dia menuruni tangga menuju lantai bawah. Karpet telah meredam langkahnya ketika dia memasuki ruang tamu. Sulli benar-benar terkejut  mendapati ternyata lampu tidak hanya menyala di ruangan itu . Cahaya lampu juga terlihat mengintip dari pintu kantornya yang dalam keadaan terbuka setengahnya. Sejenak Sulli terpaku, karena dia sudah sangat yakin kalau sebelum meninggalkan kantornya dia telah mengunci pintu .

Image result for an intruder try to check your file cabinet

Perlahan-lahan, mengendap-endap, dengan  bulu kuduk yang sedikit meremang dan langkah gemetar Sulli mendorong pintu kantornya sehingga terbuka lebar. Seorang pria tengah membungkuk ke arah filing kabinetnya, dengan punggung menghadap ke arahnya.  Sulli samar-samar bisa mendengar pria itu menggumam tak jelas, saat dia dengan susah payah berusaha membuka lemari menggunakan kuncinya.

“Jangan bergerak !!”

Suaranya terdengar aneh, yang awalnya dimaksudkan Sulli sebagai teriakan untuk menggertak, terdengar hanya seperti bisikan dan gemetar. Tak bisa digolongkan sebagai kata perintah apalagi gertakan seperti yang diteriakkan detektif wanita di film-film yang pernah dilihat Sulli di  televisi. Jauh dari terkejut, bahkan seperti tak mendengar nada peringatannya… lelaki itu menegakkan tubuhnya dan mulai berbalik perlahan-lahan.

Sulli mengepalkan tinjunya, matanya mencari-cari  ke sekitar… berusaha menemukan benda apapun yang bisa diraihnya bila lelaki itu menyerang.

“Sudah kubilang, jangan bergerak !” ulangnya dengan suara melengking, berharap agar waktu bisa mundur sehingga dia tidak terburu-buru turun dari apartemennya. Setidaknya dia bisa membawa besi atau perabot yang bisa dipakai untuk melindungi diri dari serangan penyusup ini. Dengan tergesa dia mengangkat tas kecilnya dan membuat gerakan siaga, persis seperti satu adegan film yang pernah dilihatnya.

“Bisakah kau berhenti memutar-mutar tas bodoh itu ? Dan bersikaplah lebih tenang!”

Telinganya mengenali sesuatu yang matanya tidak bisa lakukan sebelumnya. Suara dalam dengan aksen sedikit aneh telah membawa ingatannya kembali ke waktu lain, tempat lain.

“ Kau…. !!??”

Image result for Sulli shocked and fear

.

.

.

*****  TBC  *****

Terimakasih Buat yang sudah berkomentar , eonni benar-benar senang.

Mulai Part ini ke depan eonni akan bermain dengan password kembali… hmmmm ???

Ada yang berkeberatankah ? 🙂

Advertisements

43 thoughts on “THIRTEEN (13) – Part 4

  1. akhirnya d pos juga oenn.. udh nunggu lama nie.. kira2 siapa orng yng ada d dlm ruangn itu apkh ming oppa ???
    mudah2n ming oppa yah oen, pngen cpet2 ada momen minsulnya..

  2. Siapa,l? Jadi penasaran? Apa minho ? Berharap minho. Berharap moment minsul , udah gak sabar ma moment minsul, apalagi lama banget minho gak muncul2 lagi setelah pesta itu kayaknya sich.moga sulli gak mulai kesulitan lagi dan gak di ganggu oleh laki2 yang sudah mulai beristri,tinggl nunggu kelanjutannya minsul.

  3. Wah alur nya blm ketebak ? Menarik,, untung aku baca tiap update, jd agak ngerti hee
    Nanti kalau d pw, gmn dong minta pw nya? dilanjut

  4. Sampai saat ini q belum bisa melihat tanda” minho oppa eon….apakah itu yang ada diruangan…???entahlah q tungggu kelanjutannya eonni…fighting …😊😊
    Ah..semoga kehidupan sulli kedepan bakalan lebih enak dan tidak sial lagi..dan ketemu minho oppa tentunya..😄😄
    Ih…q dah kangen banget tau sama ff dina eonni sampe kadang q suka baca ulang ff eonni…tapi maaf q gak komen lagi oas bava ulang…hehe.
    .😊

  5. Semoga kehidupan sulli menjadi lebih baik di Incheon. Wowww pas banget nih sama minho yg dimaksudkan sama lee byung hun jadi ya. Tapi kenapa minho ada di pesta juga ya..
    Jangan2 minho nih yg dikantornya sulli, nah loh ada minho jga disana kenapa bisa? Lgi ngapain coba? Pas bgt diruangannya sulli jugaaa..

  6. Akhirnya update juga eonni.. makin penasaran… ming kapan munculnya?
    Mau di password? Boleh aja, tpi ingat kasih ke aku ya.. wkwkkwk

  7. sulli memulai kehidupan barunya di incheon pergi jauh darri si Mr Lee tu, lagi2 sulli hidup dalam kesendirian menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Yang makin penasaran itusi Pria Koktail itu siapa orangnya firasat si Bang Ming ini.Dan sekarang sulli bertemu seseorang misterius mudah2an ming,biar sulli ngk kesepian lg

  8. Siapa bos Nst ko bisa dia rekomendasiin sulli ap atas oerintah pria koktail. Ap itu minho. Yg fi bawah siapa ap itu minho. Ap minho yg punya nst. Ahhhhhhhh penuh teka teki jd penasaran

  9. Gak keberatan kok eon asal eonni kasih ke akuu mingnya kapan muncul eon? Siapa penyusup itu iblis cabulkah ditunggu kelanjutannya ya eon kalo bisa cepet hehehe mianhee baru bisa komen sekarang

  10. Akhirnya Sulli pindah juga, pindah ke Incheon, jauh dari Kakek tua (heheh) dan mendapatkan pekerjaan sesuai bidangnya. Pria koktail itu Minho kan eonn ? Iya pasti minho. jangan-jangan yang kepergok sama sulli di kantor itu Minho. 😂 Penasaran eonni 😄 lanjut dong 😂😂 aku tunggu momen minsulnya eonni 😍.

  11. akhirnya bsa bca jga…
    sulli bsa jauh jga dr t om2.. jd pnsaran siapa yg nlongin sulli jd bsa bbas dr t om2.. tpi minho ny kok msh dkit bnget mnculny… d tnggu lnjutannya eonni…💪

  12. Waa akhirnya sulli bisa lepas juga dari lee byung hun… Ikut seneng deh kalo sulli juga suka kerjaan barunyaa
    Itu yg dateng minho kah?
    Hehe ditunggu eon lanjutannya
    Keep writing and Update soon ^^

  13. Mianhae eonni…saeng telat updateny,,, hii
    Soo..tnggalkan jejak jg dblakang,,,hiii
    Jeongmal mianhae 😦

    Tidak mnyangka kalo surat pngunduranny akn brakhir d sbuah kota kecil… incheon,,,
    Knpa dari semua tmpat sulli harus prgi dn brdaptasi dgn incheon ???
    Ada apa dgn incheon ???
    Bnarkah hny utk mngjar mimpi yg ssuai dgn bdangnya ???
    Dan…knpa atsnny si nampyeon mnghubungkan tmpatny yg skrg dgn pria koktail ??? Siapa pria koktail ???
    Adakah hub antara dtgny sulli ke incheon dgn pria koktail itu ???
    Sulli-incheon-pria koktail
    Mungkinkah di incheon sulli bs mnmukan ssuatu hal yg brbda dr apa yg dbyangkanny selama ini ???
    Yg bisa mrubah smua tfsiranny ttg angka ketidakberuntunganny…
    Atau mgkin malah mmbuatny terus dn sllu brfikir kalo unlucky no itu mmng mnjadi tameng hdupnya,,,
    Hhmmm…smoga tdk akn prnah trjadi
    Dan smoga juga..dgn kdtangan dn khadiranny di incheon bs mmbrikan warna baru dlm khidupanny sulli,,,
    Melalui, menjalani dn melewati hari2 yg bs mninggalkan kesan2 yg indah pastinya
    Tentunya tanpa ada byang2 si nampyeon gila itu…hahhaa

    Nah lhooo…siapa pnyusup yg brani msuk diam2 ke kantorny sulli ???
    Namja…mungkinkah sulli mngenalnya ???
    Nuguseyo geu namja ???
    Okray…krena part slnjutny sudah di post,,,
    Mau meluncur duluuuh…hee
    Gomawo eonni 😉
    #minsuljjang ♥♥♥

  14. Part 4 wah cepet binggow hehehehe, ssul pergi buat ngejauh dari siapa itu? Lupa namanya wkwkw seharusnya ssul cari teman sekedar menghiasi hidup nya seperti choi minho gitu hihihi tapi konflik mereka belum ada juga dari awal kenapa wahhh sepertinya ini fff yang bakal panjang hahha syukur bakal seru tapii kemungkinan juga bakal susah lagi masuk blog, minho kenapa character mu belum keluar abang tercinta wkwk lebay hahah, ehh yang datang siapa tuhh, kenapa selalu bikin penasaran eon bikin nya emang debest lah eonn, fighting and always be support maaf gaje 😀😄😘😂👍👏💪

  15. jngan2 org yg ada druangan itu minho oppa deh, atau emang bner minho oppa.. Ya ampun ngak sbar momen minsul.. Smoga kali ini sulli bkal hidup tnang tnpa gangguan atau ancaman dri om2 gtal ntu.. Smangat dan shat slalu eon..

  16. Hi sist welcome back, lama aku g liat web ini soalnya lg sibuk bgt.
    Eh sekali liat ada cerita baru.
    Seruuu ceritanya.
    Ditunggu kelanjutannya ya.

  17. Semangat sulli , tempat baru pekerjaan baru lingkungan baru teman baru dan smoga bisa menemukan cinta yg baru ..
    Keep fighting eonni , makin k sinii makin bikin penasaran ..

  18. Akhirnya bisa lepas juga dr byung hun .
    Itu yg jadi penyusup siapa ?
    Apa jgn” itu lelaki yg ada d pesta ?
    Wah brarti ada hubungannya dgn kepindahan sulli k incheon kalo itu emg lelaki yg ada d pesta .

  19. Mungkinkah itu minho. Woo minho kapan datangnya eon…
    Syukurlah sulli mendapatkan kemudahan saat kepindahannya. Tapi kok bisa gitu ya, atau mungkin bos besar NST yang membantu sulli untuk berpisah dengan mudah dari lee byung hun. Atau ada orang lain??

    Oke eon bermain password ya, aku bacanya telat ini eon tapi masih bisa dapat password nya kan..

  20. Lee Byung Hyun sok keren! Gak selama nya pria muda hanya mencicipi wanita, bisa saja pria tua bahkan beristri seperti dia ingin mencicipi wanita lain, kan dia selingkuh sama aja b*engsek ckckc
    Let me guess, namja yg dijumpai diruangan itu Minho oppa kah? Kekekee

  21. Dicrita ini minsulnya jarang keluar ya eonni..hehehe maaf jadi kurang seru, karena gak bisa greget gitu sih menurut aku 🙂

    pw? aku telat baca 😦
    kapan dapet pw… eonni aku udh inbox eonni 😉

    fighting

  22. Kukira bakalan susah untk keluar dri perusahaan itu..tpi untungnya bisa..waduh yg liat sulli sma om om itu bos besar..untungnya dia bsa mengerti dan memproses surat pengunduran diri sulli..hhhmm..semoga ini menjadi awal yg baik…yg akan di alami sulli..apa sulli jdi trauma ya deket2 sma org.?minho kapan munculnya.??

  23. Adakah itu minho?? Wahh.. Makin bgus ni.. Terus kan ya.. Tapi bila part MinSul akan muncul?? Saya jadi tak sabar tunggu part MinSul.. Fighting!!! 🙂
    Password?? Emm boleh saya dapat kan password nya juga?? Cerita nya bagus jadi sayang kalau tidak dibaca.. Walaupun saya lambat comen.. Boleh kan saya dapat kan password ff ni??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s