Thirteen (13) Part 8

13

Judul : Thirteen (13)

Genre : Roman

Author : Dina Matahari

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Support cast : Lee Byung Hun, Lee Min Jung

 Do You Believe 13 is Unlucky Number ?

I do.

8. Keluarga Joong So Eun

“Kau pasti tak percaya bagaimana aku sangat merasa bersalah semalam. Ketika sampai di rumah aku baru teringat  memiliki janji denganmu dan aku tidak memberitahumu. Aku bermaksud meneleponmu kemudian, tetapi tak bisa menemukan nomor telepon yang kau berikan. Nomor itu kumasukkan dalam mantel yang kupakai kemarin, dan itu tertinggal di kantor. Oh… maukah anda memaafkan saya Dr. Choi ?”

Suara penuh permohonan yang menggetarkan. Sulli bisa membayangkan bagaimana Joong So Eun , sebagai pekerja sosial sangat merasa bersalah ketika menelepon keesokan paginya. Sulli memahaminya, bisa melihat kepanikan seorang ibu ketika anaknya diberitakan sakit. Tetapi satu sudut di hatinya, serasa kosong dan kebas. Dia tidak akan pernah bisa melupakan perasaan akan perbuatan kasar Choi Minho yang secara misterius telah membangunkan hasrat primitif dalam dirinya malam itu, dan, bersamaan dengan penghinaannya mengingat bagaimana dia bangkit dan pergi tanpa berkata-kata lagi,  meninggalkannya dalam keadaan rapuh dan kerdil. Kejadian malam itu meninggalkan sesuatu dalam jiwanya, lebih dari rasa sesal yang kuat. Bukan untuk dirinya sendiri tapi lebih untuk Yoong Jin.

Dengan memberikan kesan salah pada dokter Choi Minho semalam tentang motifnya menjalin percakapan itu, secara tidak langsung dirinya telah menggagalkan rencananya semula untuk mengenal anak malang itu. Sepanjang percakapan mereka semalam, Dokter Choi Minho telah membicarakan latar kehidupan anak tersebut, dan niat untuk membantu anak tersebut secara diam-diam tumbuh begitu kuat dalam hatinya. Dalam banyak hal, mereka memiliki kesamaan.  Masa kecilnya yang tak pernah merasa dicintai dan diinginkan meninggalkan jejak yang begitu jelas dalam luka masa lalunya… jauh di sudut hatinya, terukir begitu dalam.   Itu tidak akan pernah sama dengan kekerasan yang didapatkan Young Jin kecil, tetapi cukup membuat dirinya memahami perasaannya. Bahkan Sulli sadar, keinginan membantu yang muncul pasti akan membuatnya terlibat jauh secara emosional dengan anak itu, tetapi itu tidak menghalangi keinginan untuk membantunya yang tumbuh semakin kuat setiap dia memikirkan nasibnya.

Dia telah memutuskan untuk menghindari keterlibatan emosi dengan seseorang, tetapi Young Jin hanyalah seorang anak kecil yang suatu hari nanti,  dia inginkan atau tidak, harus menghadapi kehidupan yang sesungguhnya dan meninggalkan lingkungan yang selama ini melindunginya. Suatu saat Young Jin harus melangkah menuju realitas kehidupan, sendirian… tanpa Joong So Eun atau Dr. Choi Minho. Dan Sulli yakin, dia bisa menolongnya untuk bisa menghadapi perubahan-perubahan yang mungkin dihadapinya. Dia memiliki bukan sekedar ilmu yang berisi teori, tetapi juga pengalaman.

Tetapi sekarang, tentu saja, semua pemikiran tentang membantu anak itu  sepertinya harus terkubur dalam-dalam.

“…. jadi apakah hari Rabu anda bisa, Dr.Choi ?” suara So Eun mengembalikan lamunan Sulli.

“Maafkan aku ….” Sulli menjelaskan bahwa dia tidak mendengar sepenuhnya apa yang dibicarakan.

Joong So Eun tertawa renyah di telepon ,” Kau sama linglungnya dengan Dokter Choi Minho ketika dia datang pagi tadi. Aku mengatakan padanya bahwa aku telah memperlakukanmu begitu buruk kemarin malam. Aku ingin menggantikannya dengan undangan makan malam pada hari Rabu. Suami dan anak-anakku akan sangat senang bertemu denganmu, dan  tidak memakan waktu lama menuju rumahku. Kau hanya tinggal mengikuti jalan utama ke utara menuju ke batas kota, setelah gerbang kota kau akan menemukan bangunan pertama di sebelah kanan jalan. Di sana kami tinggal. Rabu ya !” So Eun berkata menegaskan,” Kami berharap kau datang pukul enam sore. Sampai jumpa.”

Telepon berdengung dan Sulli terduduk menatapnya selama beberapa detik, sebelum dia meletakkan telepon di tempatnya kembali. Betapa ironisnya semua ini !  Bagaimana pun, semua kesulitan telah diambilnya sebagai resiko dari keputusannya untuk menarik diri dari lingkungan, sejak dia tiba di Incheon. Sikap mengisolasi diri yang telah berhasil dilakukannya telah dihancurkan sebanyak tiga kali dalam 24 jam terakhir. Pertama oleh Young Jin, kemudian oleh Dokter Choi Minho, dan kini oleh Joong So Eun. So Eun tidak hanya mengundangnya keluar untuk makan malam, tetapi juga membuka kesempatan padanya untuk mengenali keluarganya. Ini bisa saja menjadi langkah pertama baginya untuk membina hubungan pertemanan… hubungan pertemanan yang sedungguhnya. Apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi ini semua ?

Seiring berlalunya hari, Sulli tak bisa melepaskan pikirannya dari undangan tersebut. Beberapa kali dia hampir mengangkat telepon dan memberitahukan penyesalannya karena tak bisa memenuhi undangan tersebut. Suami dan anak-anak So Eun pasti akan merasa bahwa tamu yang diundang ibunya sangat membosankan dan tidak patut dihargai, seperti yang sering dilakukan orang-orang, termasuk orang tuanya sendiri kepadanya. Sulli benar-benar menyadari kekurangannya, dan jika dia tidak salah, Dokter Choi Minho telah membuatnya semakin jelas dengan tuduhan terbukanya bahwa dia menjalani hidup tanpa keberanian menghidupkannya. Ya, dia tidak memiliki keberanian untuk menjadi yang pertama, dia lebih suka berlindung di balik bayang-bayang orang lain , hanya menikmati sesuatu setelah orang lain terlebih dahulu menikmatinya.

Apakah dirinya benar-benar membutuhkan pembuktian lain? Tentu saja akan lebih aman bila dia berpura-pura tuduhan itu tak pernah ada, peristiwa malam itu tidak pernah terjadi.

Jantungnya berdebar tak menentu ketika jarum jam menunjukkan menit-menit terakhir menuju jam enam sore, Rabu itu. Berdiri di depan cermin, Sulli mengepalkan tangannya kuat-kuat. Menatap jauh ke dalam matanya sendiri, mencari dukungan kekuatan, yang selama ini sering dilakukannya. Dia tak punya orang lain bagaimanapun, jadi harus minta dukungan dari dirinya sendiri…dari akal sehatnya, bukan ? Tidak dari emosinya !! Menarik nafas panjang, Sulli mengangguk kuat-kuat. Kemudian berbalik dan menyambar baju hangat yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Apapun yang terjadi, Sulli berharap semua akan membawanya pada kebaikan.

Image result for Sulli 2015.

“Heyy… ayo masuklah !”

Joong So Eun menyambutnya dengan senyum cerah, memperhatikan sejenak penampilan Sulli yang sore itu mengenakan gaun wool yang tidak begitu tebal, satu-satunya gaun yang ada di lemarinya yang menurut Sulli cocok dengan undangan makan malam.

“Kau tampak begitu berbeda, cantik sekali !’ So Eun memujinya,” Tetapi kau membutuhkan baju yang lebih tebal dari ini, bukan ?”

So Eun membantu Sulli melepas baju hangatnya.

“Kau akan membeku karena cuaca bisa lebih dingin dari sekarang, malam nanti.” So Eun tertawa,”Omona… apa yang kulakukan dengan menceramahimu di sini. Ayo masuklah… mereka begitu antusias dengan kedatanganmu. Kau tahu, aku jarang mengundang seseorang ke rumah.”

So Eun membawa tamunya memasuki ruang tamu yang hangat dan tampak agak berantakan, namun terkesan ramah dan seadanya… tidak dibuat-buat. Ruangan yang tidak begitu luas itu menyatu dengan tempat makan dan dapur yang cukup bersih. Sulli bisa melihat seorang remaja berambut panjang sedang sibuk di depan kompor, mempersiapkan hidangan makan malam. Dan mata mengantuk seekor anjing menatapnya waspada dari dekat perapian… perapian yang benar-benar perapian, tidak seperti yang ada di apartemennya.

So Eun mengikuti tatapan Sulli dan tersenyum, “Jangan pedulikan Joey,” katanya,”Dia sudah tua. Kami memungutnya dari jalanan beberapa  tahun lalu. Seseorang  mungkin telah membuangnya.”

Mendengar namanya disebut, anjing itu menyalak dengan suara keras… dan sepertinya Sulli bisa melihat binatang itu menyeringai kepadanya.

“Ayo duduklah dulu. Aku akan memanggil suami dan anak-anak.”

.Image result for mixed family japan-indian

Jika saja ada seseorang yang mengatakan kepadanya bahwa dirinya akan menghabiskan makan malam pertamanya di Incheon dengan keluarga asing, dia akan sepenuhnya bertanya-tanya tentang keputusannya memenuhi undangan So Eun. Tetapi semakin berlalunya jam, semakin Sulli merasa dirinya diterima secara terbuka, merasa nyaman di tengah-tengah mereka, bahkan dia merasa telah menjadi bagian dari keluarga tersebut.

Berada di keluarga Joong So Eun ,Sulli berhadapan dengan tiga wajah yang sangat berbeda dengan So Eun. Ali, suami So Eun adalah orang keturunan Pakistan yang sudah hidup di Korea seumur hidupnya. Perawakannya tidak begitu tinggi, berhidung mancung dan berkulit lebih gelap dari isterinya. Dia adalah pedagang yang berjualan setiap malam tidak jauh dari tempat kerja Sulli. Kedua puterinya mewarisi warna kulit ayahnya tetapi memiliki mata seperti So Eun, seperti kebanyakan orang Korea.

“Kami menikah ketika aku berusia sekitar 17 tahun.” So Eun menjelaskan, ketika mereka berkumpul dan duduk dekat perapian menikmati minuman ringan,” Dan hal terbaik yang telah terjadi dengan kami adalah ketika suamiku memutuskan untuk tinggal di Korea ketimbang mengikuti keluarganya kembali ke Pakistan. Kami menghadapi banyak kesulitan berdua, dengan keyakinan yang kami miliki, yang berbeda dengan orang-orang di sekitar kami. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup, kami pernah menjadi sepasang pencuri…”

Sulli menahan nafas, secara spontan matanya melirik ke arah anak-anak yang  mendengarkan percakapan itu.

“…Tidak apa-apa. Kami tidak menyimpan rahasia satu sama lain. Anak-anak sudah tahu cerita ini, tentu dengan penjelasan mengapa kami harus melakukan itu. Apa yang bisa kami lakukan waktu itu ? Kami berdua masih sangat muda, tanpa pekerjaan, tanpa tempat tinggal layak dengan seorang anak berumur setahun lebih… dan calon bayi dalam perutku. Kemudian kami bertemu dengan Profesor Kim, dia mau mendengar kami. Bukan hanya itu, dia memasukkan aku ke universitas menjadi salah satu karyawan rendah di asrama mahasiswa. Dia juga meminjami modal kepada suamiku untuk berwirausaha. Dan kami berhasil keluar dari masalah itu. Hidup kami semakin membaik, kemudian aku ditarik ke asrama anak-anak yang diobservasi oleh Profesor. Pekerjaanku tidak lebih ringan, tetapi aku menikmatinya sepanjang ini. Hanya saja, apa yang kami lakukan sepertinya tidak pernah cukup untuk orang-orang di sekitar kami. Mereka selalu menemukan cara untuk bisa membuat kami merasa kecil dan tidak berguna.”

Sulli menyimpan cangkir kopinya pelan-pelan, menatap So Eun dengan tertarik ,”  Dengan cara bagaimana ?”

“Berprasangka buruk, seringnya.”

“Berprasangka buruk ?” Sulli terkejut, di matanya semua perjalanan hidup Soeun dan suaminya sangat keras dan butuh tekad yang tangguh. Mereka berhasil merubah hidup dengan sedikit keberuntungan. Tetapi keadaan mereka sekarang  tentunya lebih baik dari apa yang mereka ceritakan sebelumnya. Jadi apa lagi yang membuat orang-orang berprasangka ?

“Oh tentu saja. Mereka terkadang begitu rasial dan terkadang ini sulit bagi anak-anakku.” So Eun menyentuh lembut puncak kepala salah satu putrinya yang kemudian menatapnya ,” Dan kami bisa bertahan, bukan begitu sayang ?” tanyanya lembut.

Bertahan.

Sulli sangat memahami kata-kata itu. Satu keluarga bertahan tentunya akan terasa lebih mudah dari apa yang dilakukannya selama ini. Tetapi masalah rasial terhadap anak-anak, t lebih sulit untuk diterima karena mereka berada  dalam komunitas yang berbeda. Akan sulit bagi seorang anak untuk mendapat pengakuan dari teman-temannya, untuk menjadi bagian dari lingkungannya, dan tentu saja untuk mencapai kebahagiaan yang layak.

“Apakah anak-anakmu tidak mengeluh tentang itu ?”

“Lima tahun pertama adalah yang paling sulit, karena menurut Profesor Kim itu akan menentukan bagaimana terbentuknya karakter anak kami kelak. Untunglah suamiku memiliki pengalaman untuk bisa membuat mereka paham dan menerima. Empat tahun berikutnya kami mendengar semuanya… bullying, isolasi,dan masalah agama… itu hal terberat. Untung kemudian orang-orang di universitas memberikan solusi sehingga  anak-anak bisa tumbuh normal, bahkan memiliki sahabat seperti yang lainnya. Setelah mereka sebesar ini, Dokter Choi Minho selalu mengajak mereka berbincang tentang banyak hal. Dia seorang psikiater yang peduli….”

Sulli menahan nafas mendengar nama itu disebut, perutnya tiba-tiba seperti tegang. Perasaan mual mengikutinya.

“Aku bertanya-tanya apakah anda juga seorang psikiater seperti Dokter Choi Minho ?” salah satu anak yang Sulli ingat bernama Zia bertanya dan menatapnya ,” Aku juga ingin menjadi seorang psikiater dan membantu banyak anak. Di sekolahku ada beberapa anak muslim yang menjadi korban bullying. Aku berusaha mengajak mereka bicara seperti yang Dokter Choi lakukan dengan kami. Kadang aku membawa masalah mereka kepadanya untuk meminta nasihatnya.”

Sulli tersentak dengan pertanyaannya. Dirinya bisa melihat bahwa anak ini cerdas dan berani, dan memiliki alasan bagus untuk menjadi  psikiater… lebih bagus dari motifnya sendiri untuk menggeluti psikologi.

“Tidak, aku bukan psikiater, Ada perbedaan mendasar antara psikolog dan psikiater. Untuk menjadi seorang psikiater kau harus masuk kuliah di kedokteran.”

“Tetapi anda seorang Doktor juga, bukan?”

“Aku kuliah di Psikologi dan melanjutkan pendidikan sampai jenjang S3 di bidang yang sama untuk meraih gelar Doktor. Jadi, aku  Doktor di bidang psikologi. Sedangkan  psikiater itu mereka yang kuliah di kedokteran dan mengambil spesialisasi bidang psikiatri. Seorang psikiater bisa meraih gelar doktoral juga di bidang yang sama. Kau mengerti ?” jelas Sulli dengan lembut.

Zia menatapnya dengan bingung.

“Orang-orang seperti dr. Choi Minho adalah psikiater yang kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S3 di bidang kedokteran untuk mendapatkan gelar doktornya….”

Sulli tercekat, pikirannya langsung buntu ketika dia dengan sembrono telah menyebut nama itu. Apa yang membuatnya begitu tolol mengambil nama itu sebagai contoh ? Dan kini dia menghadapi tatapan bertanya-tanya dari dua remaja yang tampak menjadi sangat tertarik. Dan tentu saja tatapan berbinar-binar Joong So Eun.

“ Eh…Kami sama-sama Doktor tetapi di bidang yang berbeda, mungkin hampir mirip tetapi cara kerja kami yang berbeda.”

Kedua remaja tersebut  masih menatapnya bingung…. dan menunggu. Dan Joong So Eun tersenyum penuh arti membuat Sulli salah tingkah.

“Aku akan dengan senang hati menjelaskannya kepadamu secara terperinci…err..tetapi….”

“Oh tentu saja, Zia sering mengunjungi dokter Choi Minho. Bila dia datang ke universitas, dia bisa mengunjungimu untuk penjelasan lebih rinci . Bukankah begitu, Doktor Choi ?” kata So Eun cepat

Sulli tersenyum putus asa.

” Akan banyak yang harus dijelaskan… dan kau tahu Zia, pembicaraan ini akan membuat adikmu bosan.” So  Eun berusaha menghapus kekecewaan di mata anaknya,” Sekarang kita bisa melanjutkan percakapan ini ke hal lain yang tidak  terlalu pribadi.” Tambahnya sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat muka Sulli mendadak merona.

“Kau membuat tamu kita malu, priya…” kata suami So Eun dengan nada memperingatkan.

“Priya?” Sulli menatap keheranan , ”siapa…?”

“Itu panggilan suamiku untukku. Dia senang memakai bahasa ibunya.. itu semacam chagiya kalau dalam bahasa Korea.”

“Oh…”

“Istriku ini adalah tipikal wanita romantis, dan semakin menjadi – jadi dengan dua remaja  puteri di sisinya. Dia selalu memandang segala sesuatu secara dramatis-romantis, setiap melihat pria dekat dengan wanita… dia selalu melihatnya dengan romantika fikirannya. Jadi jangan pedulikan dia…Semua orang tak akan bisa lolos darinya. ” pria itu membentangkan tangannya dengan mimik yang menggelikan.

Melihat itu, kedua puteri mereka tergelak. Diikuti oleh Joong So Eun. Dan sekarang hanya Sulli yang tidak bisa tertawa . Alih-alih ikut gembira dengan mereka, mukanya menjadi semakin merah.

Daripada aku di sini terus dan menjadi sasaran candaan mereka, lebih baik aku pamit dan mencari alasan yang tepat.”

Sulli berdehem untuk menarik perhatian mereka. Matanya melirik jam yang melingkar di pergelangannya. Sepertinya tak perlu mencari alasan, karena waktu telah larut.

“Sebenarnya aku senang berada di sini bersama kalian, tetapi sayang sekali waktu sudah semakin larut. Sebaiknya aku bergegas pulang sebelum cuaca menjadi tidak bersahabat.”

“Oh… sayang sekali…” desah So Eun ,” padahal kau boleh menginap di sini kalau mau…”

“Terimakasih, tetapi tidak. Aku harus kembali ke apartemen untuk memastikan kantor aman. Kalian benar-benar mau menerimaku dengan sangat baik.”

“Datanglah kembali… kapanpun kau bisa. Kami akan sangat senang dengan kunjunganmu.”

Ali berkeras untuk mengantar Sulli ke parkiran, kemudian membantunya menghangatkan mobilnya sebelum benar-benar siap.

“Dia belajar mesin dari beberapa kenalannya, dia hanya ingin memastikan semua aman untukmu Doktor Choi.”

“Panggillah aku Sulli… memanggilku dengan nama itu seperti membuatku menjadi orang asing saja .”

Sulli tertegun, menyadari dirinya telah membuka terlalu lebar ranah pribadinya… mungkin juga terlalu jauh melangkahi batas-batas yang dipasang Joong So Eun. Apa yang akan dipikirkan So Eun tentang keinginannya untuk tidak dianggap orang asing di rumahnya ?

“Bolehkah ? Aku takut disebut kurang sopan…”

Respon wanita itu di luar dugaan Sulli, rasa cemasnya seketika terangkat.

“Dan aku akan memanggilmu So Eun jika kau perbolehkan.”

“Tentu saja…”

“Aku senang mengenal keluargamu. Anak-anakmu yang cantik dan suamimu… semua sudah begitu baik padaku . Aku seperti punya keluarga .. err.. sahabat-sahabat baru di sini.”

“Kami memang keluargamu… ketika aku melihatmu melindungi Young Jin dari terpaan salju tempo hari, aku memutuskan untuk mengenalmu lebih jauh. Sebelumnya tidak ada wanita asing yang memperlakukan anak itu seperti kau memperlakukannya…”

“Dia mengingatkanku pada seseorang… itulah sebabnya aku mengundangmu untuk berkunjung, karena aku ingin tahu lebih jauh tentangnya.”

“Datanglah ke asrama besok, pada jam istirahat anak-anak. Sekitar pukul 11-an.”

“Aku akan usahakan.”

Sulli  masuk ke dalam mobilnya, melambaikan tangan, kemudian menjalankannya dengan hati-hati memasuki jalan raya. Melalui kaca spion dia melihat Ali tengah berdiri di ambang pintu, satu tangannya melingkar di bahu isterinya dan satu tangannya yang lain memeluk puterinya yang termuda. Sebelum dia berbelok, matanya masih sempat melihat Zia bergabung dengan mereka. Berdiri di samping ibunya, mengantar kepergiannya dengan tatapan tulus dan penuh senyum. Gambar sebuah keluarga yang bahagia dan kompak.

“Ternyata di dunia ini masih ada keluarga yang seperti mereka. Bersatu dan saling mendukung ketika mereka dalam kesulitan… berjuang melawan pahitnya kehidupan dengan kasih sayang. Sesuatu yang selama ini tidak pernah kupercayai ada di dunia ini !” pikir Sulli muram.

Tetapi kepahitan karena pengalaman tak menyenangkan selama masa kecilnya agak memudar ketika di pikirannya terlintas wajah seorang anak yang duduk merapat ke tembok dan  salju bertaburan di seluruh permukaan tubuhnya yang tak terbungkus jaket . Wajah Choi Young Jin.

“Sungguh tidak adil memikirkan seluruh dukaku, sementara di sisi lain ada seorang anak yang jauh lebih menderita dariku. Dia tidak hanya kehilangan seorang ayah, kehilangan kasih ibu …tetapi juga diperlakukan dengan kasar dan tak manusiawi. Aku harus menolongnya keluar dari kungkungan luka yang berkepanjangan itu. Aku pernah mengalami kepahitan, dan aku tahu apa yang dibutuhkan seseorang dalam kondisi sepertinya.”

Sulli merasa perasaannya begitu ringan dengan keputusan yang diambilnya. Malam itu adalah malam yang indah. Bintang bertaburan dengan bulan sabit yang mengintip dari langit Incheon.

Ketika tiba di apartemennya, dia berdiri sejenak di beranda. Berusaha menyerap semua keheningan di sekitarnya ke dalam dirinya. Cahaya dari sebelah utara kota tampak berkedip-kedip, seperti cahaya yang datang dari luar bumi. Dan satu-satunya suara yang terdengar hanya hembusan angin dan derak ranting yang patah.

Kegelapan malam tidak pernah menakutkannya. Ketika dia masih kecil, ada sebuah menara yang menjulang di dekat rumahnya. Puncak menara itu terlihat jelas dari jendela kamarnya… meruncing menunjuk langit seperti menara kastil di bawah pengaruh sihir, yang sering menghidupkan imajinasi liarnya. Dalam kesendiriannya dia sering membayangkan dirinya hidup di kastil itu berteman dengan kurcaci yang ramah..  hayalan sebagai pelarian dari kehidupannya yang muram dan jauh dari kasih sayang.

Sulli menarik nafas panjang, kemudian memasukkan kunci ke lobangnya. Sekali lagi melihat ke arah bulan sabit, sebelum kemudian memutar knob pintu dan melangkah masuk… menuju keheningan … dunianya selama ini…

“Ini mungkin pengaruh malam yang  hening di sini, setelah melalui malam penuh kehangatan di rumah So Eun. Malam yang menyenangkan…” Sulli tersenyum ,” Apapun yang kualami di masa kecilku, itu tak boleh terjadi dan menimpa anak-anak lain… termasuk Young Jin. Besok aku benar-benar harus ke tempat Joong So Eun dan membicarakan hal apa yang bisa kulakukan untuk membantunya ke luar dari penderitaannya .”

====TBC===

.

maaf semuanya  atas keterlambatan update

 ♥ HAPPY MINHO DAY 

.

Advertisements

31 thoughts on “Thirteen (13) Part 8

  1. Sepertinya joong so eun sdkt mmhami sulli itu pribadi yang sperti apa ???
    Dengan usahanya yg mngundang langsung sulli sbg tamu spesial, bukankah itu langkah yang baik untuk saling mengenal ??? Baik sulli maupun so eun sndri tntunya…
    Keterbukaan so eun ttg keluarganya dn sdkit mmunculkan nama priaa koktail yg trllu mmbri dampak hebat pada sulli,,,
    Apakah so eun melihat sisi yg lain ttg hub minho dan sulli ???
    Hubungan yg belum mmbrikan keistimewaan diantara keduanya…
    Karena, setelah insiden malam itu… belum adanya komunikasi dan kontak yang terjadi antar minho dan sulli
    Mungkinkah mereka saling menghindar ???
    Dan…kalo mereka brtemu baik sengaja ataupun tidak,, bagaimna reaksinya yaa ???
    Hhhmmm…sulli harus bisa berusaha mmbrikan yang terbaik untuk kehidupannya
    Mmprtimbangkan kata demi kata yang terlontar dari mulut seksih seorang pria koktail, dan yg pastinya kalo sulli tak mau drendahkan, diremehkan dn dicemooh lagi oleh minho..tentunyaaa
    Sulli harus bisa merobohkan benteng pertahananny utk tidak mengisolasi diri dan anti sosial… dia harus bs mmbangun hub yang baik dgn skitarnya
    Setidaknya,,, so eun adalah orang prtama yang bs mmbntunya 🙂
    Good luck ssul… kau pasti bisa dan abaikan saja dulu si pria koktail
    Mungkin sekarang dia lagi berhappy ria,,, hihihiii
    Gomawo sudah post eonni…
    Ofc,,, HAPPY MINHO DAY
    #pulkkukkarisemanamja
    #CHOIMINHO
    tetap semangat eonnikuuuhh… luph fulllll (^з^)-☆Chu!!♥ ^▽^ ♥
    #minsuljjang♥♥♥
    Next part…moment minsul yang tak trdugaaahh,,, heee

  2. Syukurlah…babysull akhirnya punya teman bahkan dianggap keluarga juga..so eun emang benar” baik untung suaminya juga baik..😄
    Minho oppa keterlaluan bgt bahkan dia blm minta maaf sama minho oppa…q harap part selanjutnya ada minsul moment eonni…q sangat berharap itu…hihihi…
    Ditunggu part selanjutnya eonni…fighting..😊😊

  3. Happy minho day ^^
    Di part ini minho ngak nongol.. Smangat buat sulli,, smoga beban btin dan pkiranmu lenya ssul.. Dtnggu part slanjutnya eonni.. Semangat trus ya.. ;D

  4. ada sedikit perubahan, semoga jd perubahan baik buat sull.. tdk bisa komentar banyak ka dina tp aku big like sama ff ini.. semangat

  5. Sedikit2 sulli sudah mulai membuka dri menjalin pertemanan, yg kemarin sih mungkin menyedihkan bagi sulli karena diperlakukan tdk baik ama ming oppa. Tp stidaknya sulli berusaha untuk membuktikan apa yg dipikirkan minho oppa tentang dia tdk sperti tu. Dengan memulai membantu anak2 dipanti tsb. Dan sulli jd ngk kesepian lg. Minsul moment eon kangen mereka berdua. #HappyMinhoDay

  6. Happy minho day :))
    Sepertinya sulli mulai membuka dirinya untuk menjalin pertemanan good act gaada minsul momen ya disini hmmm miss them together di tunggu kelanjutannya eon fighting:))

  7. Happy Minho Day
    Semoga ini langkah awal supaya sulli mau membuka diri untuk orang lain krna hidup kan hrs bersosialisasi jgn menyendiri trs sull kan psikolog masa sih nggamau bermasyarakat #apalahini dan semoga setelah kejadian malam itu minsul baik2 aja dan semakin dekat yaaaaa next hehe

  8. Sulli mulai membuka diri untuk menjalin suatu hubungan pertemanan 😚 dianggap keluarga pula 😚. Eonni Minho mana ? Kenapa gak ada ? 😂😂. Ditunggu lanjutanya Eonni. Momen minsulnya dong kkkk 💑 . #HappyMinhoDay 😍

  9. Happy Minho Day🎉
    Sulli udah mulai terbuka sama orang lain dan itu kemajuan yg bagus, meskipun ada peringatan dalam dirinya buat gak terlibat dengan dunia luar. Minhonya kemana ini??

  10. Happy Minho Day 😘..Akhirnya Sulli mulai membuka diri dan sadar bahwa bukan hanya dia yang mengalami penderitaan dimasa kecilnya, Keluarga So Eun juga sangat baik dan bisa menerima sulli sebagai teman berbagi cerita. Nextpart Chingu. D tunggu minsul momentnya 😊

  11. so eun baik sama sulli… semoga jadi awal yg baik. untuk minho semiga saja kedepannya tidak memandang sulli sebelah mata lagi dan yg terpenting bnyk moment mereka di part selanjut nya

  12. Happy minho day yang ulang tahun kok ga muncul??? Padahal udah nunggu-nunggu minsul moment semangat ya eonni semoga nextnya banyak minsul moment

  13. Syukur deh sulli eonni udah mulai terbuka sama orang lain dan punya keluarga baru lagi 😊
    Sulli eonni saking gak mau anak lain kayak dia sampai tekat banget mau nolongin anak itu ya
    Padahal aku nunggu minsul moment nih tapi gak papa kok tetep Bagus 😁

  14. syukur deh akhirnya ssul punya temen dan sedikit terbuka sama orang lain, kayanya nanti mau ketemu lagi ya ama minong waktu janjian sama so eun

  15. Happy minho day ..
    Masih banyak hal yg belum aku ngerti eon din , belum banyak scene minsulnya juga skinshipnya belum terlalu kenceng wkwkwk ..
    Finally update , update soon for the next chap eon din , fighting 💪

  16. akhrnya bsa bca jga… mksh ya eonni buat pw nya…
    sulli udh mlai mmbuka dri.. jd pnsaran gmna hub minsul slnjutnya.. mdah2an minhi nggk slh sangka sma sulli lgi.. d tnggu lnjutannya eonni… bnyakin momen minsulnya y..

  17. Akhirnya sulli membuktikan bahwa apa yang minho pikirkan tidak seperti, dengan membuka dirinya dan membantu orang lain dengan keahliannya… next eonni… happy minho day

  18. Baguslah setidaknya sulli mmg harus punya teman walaupun tidak banyak, sukurlah ada sosok seperti seo un.. hufh minho merasa menyesal gak sii setelah berbuat semalam sepetti itu ke sulli.

  19. Gara gara mau nolong young jin sulli mulai membuka dirinya. Alhmdllh… Semoga sulli bisa nolong young jin hidup normal kembali dan klo bisa jadi orang tua asuhnya. Mulia sekali sulli tidak mau anak lain merasakan yang dirasakan ketika dy kecil..
    Unn knp gada minho di part ini??? Missing minho

  20. sulli harus begaul .. nnt hdup nya kesepiann .. tiada minho d part yg nie ..smgo sja sulli dpt mmbntu young jin.. sulli tue mlar kepkir dgn perlakuan kasar minho .. mnta2 nnt minho ketemu sulli dan minta maaf ..

  21. waaah baik bgt ya keluarganya so eun 👼👨‍
    sulli… kayaknyasuka sama keluarganya mereka
    mungkin sulli suka sama minho ya… denger namanya aja buat sulli gimana gitu 😍🤔🤗

    part 9 aku datang 😀😊😍

  22. Waah apa so eun melihat sesuatu yang bebrbau romantis antara sulli dan minho?
    Padahal yang di tunjukkan oleh keduanya hanya kewaspadaan baik sulli dan minho, kemampuan so eun daebak..

    Cuzz chap 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s