Choi Minho and I

 

 photo minsul_zpsopso7p8s.jpeg

INDAHNYA PUNYA SAHABAT

(cast : Choi Sulli & Choi Minho)

♦♦♦

Hai…. Nama lahirku Choi Jinri, tetapi aku lebih suka kalau namaku dipanggil Choi Sulli atau Sulli saja. Entah kenapa, nama itu rasanya enak untuk diucapkan dan terdengar manis di telinga. Hahaha…

Aku sekarang sedang berdiri di ballroom sebuah hotel bintang lima di Seoul. Bukan karena aku menginap di sini… tentu tidak mungkin aku menginap di hotel yang tarif semalamnya bisa menghabiskan uang lemburku selama lima hari. Aku juga bukan datang untuk menghadiri pesta pernikahan atau ulang tahun seorang teman. Well, walaupun tidak sama persis… aku memang diundang ke sini tetapi untuk menghadiri pameran seni pahat… yang aku bersumpah, adalah pameran seni pertama yang kukunjungi dan tentunya pameran yang paling membosankan yang pernah kudatangi. Tetapi aku harus melakukan ini bagaimanapun untuk menarik hati teman kencanku.

Heyy, jangan protes dulu !

 Aku Choi Sulli… sebentar lagi umurku 24 tahun. Aku sudah dewasa… dan satu hal wajar kalau di usiaku aku mencari teman kencan yang…. Kalian tentu tahu apa yang diharapkan wanita dari seorang pria bukan ?

Dan menurutku Henry memenuhi syarat untuk itu. Dia pengusaha yang siap menanjak karirnya, lembut, perhatian, dan nyambung kalau diajak ngomong. Fisiknya menarik… secara garis besar lebih dari standar. Tinggi, memancarkan maskulinitas, tegap… walau menurutku dia agak kurus. Tetapi itu bukan halangan, pria kurus biasanya pria pemikir. Seperti yang kukatakan tadi, dia secara keseluruhan menarik ! Tetapi yang aku suka, matanya tak bisa menyembunyikan binar-binar kekaguman padaku sejak kami berjumpa pertama kali.

Okay, aku sebenarnya agak gugup. Henry adalah pria pertama yang kukencani sejak enam bulan lalu aku putus dengan Heechul. Bukan berarti dalam enam bulan itu aku tidak bisa memikat laki-laki. Enam bulan aku harus fokus pada pekerjaan baruku sebagai pengasuh sebuah  rubrik baru di majalah remaja tempatku bekerja dua tahun ini. Maksudku pekerjaan baruku sebagai pengasuh rubrik itu penuh tantangan… bagaimana kau harus memperkenalkan, membuatnya menarik, mendatangkan pembaca… hal-hal semacam itu! Dan kini rubrik itu kurasa cukup menjanjikan, sehingga aku bisa fokus pada pembangunan kehidupan pribadiku, tentu saja.

Kemudian enam bulan masa lajangku kupakai untuk berfikir dan berbicara dengan sahabat-sahabatku. Bila harus jujur, sebetulnya selama ini aku tidak bisa sukses dalam membangun kehidupan pribadiku. Aku tak pernah bisa membina hubungan lebih dari tiga bulan dengan seorang pria. Well, tiga bulan adalah rekor terbaikku. Kebanyakan kencan yang kulalui menyerupai tiket konser… kau tahu apa artinya ? Tiket sekali pakai. Intinya, saat aku melakukan kencan pertama maka aku hampir tak bisa mengharapkan akan ada kencan kedua.

Suzy mengatakan kalau aku terlalu keras pada diriku sendiri dalam menyikapi kencanku. Luna mengatakan aku kurang berusaha menampilkan sisi terbaikku, Amber hanya bilang aku belum menemukan pasangan yang cocok, dan teman satu apartemenku Minho berkata aku harus lebih menampilkan diriku yang sebenarnya.

Diriku yang sebenarnya ???

Hahh !!

Aku meragukan ada orang yang menyukai diriku yang sebenarnya. Kalian tentu tahu, lelaki selalu menuntut kesempurnaan dari seorang wanita…tidak adil memang. Tapi inilah dunia nyata !

Kalau aku menampilkan diriku yang sebenarnya, mungkin hari ini aku tidak akan berdiri di ballroom hotel mewah ini. Aku tak menyukai seni… satu-satunya kesenian yang kusukai adalah lagu-lagu Kpop, itupun bukan lagu anak-anak muda yang  nge-beat, tetapi lebih ke lagu-lagu slow… lagu-lagu cengeng. Aku tidak suka mengenakan baju sexy, aku tidak suka mengecat kuku, menata rambut, berdandan ke salon… ya… hal-hal yang sering dilakukan wanita pada umumnya.

Gambar terkait

Dan sekarang aku ada di ballroom ini dengan kencan pertamaku setelah enam bulan vakum… jadi wajar kalau aku gugup, bukan ?

Sekali lagi kulirik penampilanku yang terpampang jelas di dinding kaca yang menjadi penyekat ballroom dengan ruangan lain di hotel. Penampilanku sudah oke, walaupun untuk itu aku harus melupakan Ramyoen selama tiga hari,   pizza dan eskrim vanilla yang dibawa Minho pulang. Tapi aku tidak menyesal kalau melihat bagaimana diriku tampak cantik di kaca. Bisa kupastikan, Henry tak akan kecewa bila melihatku.

Satu yang membuatku tak yakin adalah, referensiku mengenai seni sangat minim. Waktu tiga hari dengan berburu di internet dan mengobrol dengan Minho tentang seni, sama sekali tidak membantu. Aku masih bingung dengan perbedaan Picasso dan Van Gogh…. Tetapi mau bagaimana lagi, aku harus bisa berfikir keras dan siap untuk apapun. Setidaknya kencan pertama ini aku harus menampilkan kesan terbaik, untuk mendapatkan tiket tour dengan kapal pesiar…bukan sekedar tiket konser.

“ Sulli…. Kau sungguh menakjubkan !”

Dengan gerakan anggun, yang sama sekali bukan sifatku, aku menoleh dan puas dengan pemandangan indah di depan mataku. Henry tampak sangat tampan dengan baju tuxedo abu-abu tua yang dikenakannya. Rambutnya yang kejur disisir rapi, dengan sebagian anak-anak rambut yang menyentuhi dahinya.

“ Terimakasih. Kau juga terlihat sangat tampan.”

“ Sudah lama menunggu ? Kuharap tidak, aku tadi tertahan kemacetan di jalan.”

“ Tidak, aku juga baru saja tiba.” Jawabku sedikit berbohong, bagaimanapun tumit kakiku sudah mulai terasa panas karena berdiri cukup lama dekat gerbang.

“ Kalau begitu mari kita berkeliling, aku akan memperkenalkanmu kepada senimannya. Dia Lee Gyuri, seorang seniman yang mulai punya nama dan diakui karya-karyanya. Aku bangga dia memilih hotelku sebagai tempat pameran awalnya di Seoul.”

“ Oh… aku sangat senang mendengarnya. Bagaimanapun ini bisa jadi ajang promosi gratis untuk hotelmu.” Dan aku harus mengigit lidahku karena komentar cerobohku ini.

“ Hahaha… tentu saja kau benar. Aku sangat menyukai selera humormu !!”

Selera humor !! Astaga, padahal aku tadi hampir menyesali mengatakannya. Benar-benar keberuntungan yang tak terduga.

Kami mulai berjalan menelusuri satu demi satu patung yang dipajang di seputar ballroom, beberapa kali Henry meninggalkanku untuk menyapa orang-orang yang dikenalnya. Supaya tidak terlihat bengong, aku menghampiri sebuah benda yang mendapat perhatian dua turis yang sudah cukup tua. Mereka terlihat begitu tertarik dengan sebuah kayu… mungkin akar kayu yang bentuknya aneh. Selintas bagiku kayu itu menyerupai orang duduk, entah jongkok atau menopang kaki. Yang jelas ada sebuah akar melilit yang menyerupai tangan menyangga sebuah bulatan yang ujungnya adalah cabikan-cabikan yang menurut dugaanku terjadi karena keserampangan orang saat menebang atau membelah akar itu dengan pohon induknya.

Aku tanpa sadar mengernyit, merasa aneh dengan pemikiran orang

“ Apanya yang menarik dari akar kayu seperti ini ? Aku bisa menjumpainya dengan mudah kalau mau berjalan sedikit ke pedalaman.”

Untunglah pikiran itu tak terucapkan.

“ Ini karya seni yang tak terduga…” kata orang asing pertama, yang mengenakan kaca mata berantai emas. Usianya mungkin antara  60 tahunan.

“ Benar karya alam yang sangat artistik. Lee membuatnya menjadi karya seni yang indah. Aku membaca di literature kalau ini mendapat penghargaan tinggi di Jepang.” Jawab orang asing kedua yang lebih muda.

“ Sesuai dengan namanya “RENUNGAN”,  akar-akar kecil itu menjadi bukti kekokohan tradisi yang mencengkram tubuh manusia, walaupun sebagian besar dari diri manusia itu ingin membebaskan diri dan terjebak oleh zaman yang ada. Coba lihat bagian kepalanya… bagaimana pikiran manusia tercabik-cabik antara mempertahankan sesuatu yang sudah mengakar atau merubahnya dengan sesuatu yang baru.”

Aku memperhatikan tangan pria itu menunjuk akar, kemudian menunjuk puncak bulat  yang menurutku hasil karya kapak penebang pohon.

“  Kau benar, ini adalah cerminan kita sebagai manusia yang hidup penuh dengan pergolakan batin…pemikiran… yang butuh perenungan panjang untuk bisa berada di tengah-tengah.”

“ Mari, aku akan menunjukkan karya lain yang berjudul LION…”

Aku terbengong melihat kedua pria yang berlalu dari sana. Sekali lagi aku memperhatikan patung “aneh” itu. Sepertinya lebih indah patung-patung yang ada di sekolah dulu. Lebih berbentuk dan dimengerti. Sekali lagi, aku hanya melihat benda hitam itu sebagai onggokkan akar kayu yang sedikit dipahat di bagian bulatnya, diberi warna dan vernis.

“ Hm… kau tampaknya tertarik dengan patung yang satu ini.”

Tiba-tiba suara Henry mengejutkan dari arah belakangku, aku berusaha menyembunyikan kebingunganku dengan tertawa aneh.

“ Ini adalah salah satu karya terbaik  Gyuri yang mendapat penghargaan dari Jepang dalam pameran seni musim semi lalu. Mereka memujinya sebagai paduan karya alam dan sentuhan seniman yang paling bermakna.” Henry mengucapkan pengetahuannya mengenai patung itu dengan bangga.

Aku berusaha mengangguk walaupun sumpah, tak mengerti sedikitpun arah pembicaraannya.
“ Henry menamakannya patung “Renungan” .”

“ Kurasa ini adalah bagian dari akar pohon, mungkin itu yang dimaksud karya alam oleh mereka ?”

“ Oh ?? Kau melihatnya dalam sekali tatap ? Luar biasa !!”

Henry menyentuh bahuku dengan lembut, matanya berbinar indah, aku benar-benar merasa tersanjung , Well… kalau aku merasa sedikit bangga, wajar kan ?

” Ini memang diakui Gyuri merupakan bagian akar pohon yang terbengkalai. Dia mengambilnya dan memahatnya sehingga menjadi karya seni yang bermakna.”

“ Oh jadi itu sentuhan senimannya.” Gumamku

“ Kau benar lagi…sentuhan seniman !” Henry kembali menatapku dengan … emm… kagum kurasa.

“ Tetapi memang temanmu membuat sentuhan yang ajaib. Nama “renungan” memang cocok sekali untuk patung ini. Dari bentuk keseluruhan ini menyerupai gambaran manusia yang sedang duduk merenung. Lihatlah akar-akar di bawahnya, itu seperti menunjukkan adanya kekuatan tradisi yang membelit orang ini. Tradisi yang mengikat, walaupun dia sebenarnya ingin keluar dari lilitan itu… lihatlah bagian bergerigi di sini, kupikir itu merupakan gambaran tercabik-cabiknya pikiran manusia ini antara mempertahankan tradisi atau merobahnya sesuai tuntutan zaman. Dan memang diperlukan renungan yang panjang untuk membuat manusia bisa berdiri di tengah-tengahnya. “

Tanpa bisa kutahan lidahku mengulang percakapan dua pria yang kudengar tadi, tentu saja aku sudah membumbuinya di sana-sini. Aku adalah pengasuh rubrik remaja di sebuah majalah, bukan ? Jantungku berdegup dua kali lebih kencang ketika kulihat mata Henry membesar…

Ya Tuhan dia sungguh cute !!

“Omona Sulli… Kau… aku  tak  percaya ini !! Kau membuat patung ini benar-benar bernafas !”

“ Huh ?” aku tak bisa menahan rasa heranku atas perkataannya.

“ Ya… sayang , bernafas… seolah dia menjadi hidup dan menceritakan pergolakan emosi yang ada dalam dirinya, yang telah kau baca dengan begitu sempurna !” Henry meraih tanganku ,” Kau harus bertemu Gyuri, dia akan sangat senang bertemu dengan orang yang memahami dirinya… yang bisa mengerti setiap goresan pisau pahatnya. Aku ragu… jangan-jangan kau menyembunyikan bakatmu dalam hal seni patung ini.”

“ Eh… aku tidak !” jawabku dengan gugup, sungguh aku menyesal mengapa harus mengulangi semua percakapan yang kudengar tadi, “ Henry… kau salah mengerti…”

Tetapi Henry seperti tidak mendengarku, ia setengah menarikku menuju sekumpulan orang yang sedang mengelilingi benda aneh lain yang menjulang hampir menyentuh atap ballroom. Aku mulai gugup… bukan mulai tapi memang rasa gugupku seperti mencapai puncaknya. Semakin kami mendekati tempat itu, semakin rasa cemasku hampir meledak. Dan aku tak bisa memperhatikan langkahku lagi. Hingga tiba-tiba…

Aku merasa sesuatu menyangkut dan menahan sepatuku, sehingga tanpa bisa kucegah tubuhku terhuyung ke depan.

Ya Tuhan aku mau jatuh… aku mau jatuh !!

Goyah karena sepatu berhak tinggi yang mendekati 10 centi itu, refleks tanganku meraih benda yang bisa kujadikan pegangan. Dan aku mendengar bunyi “krek” yang cukup panjang sebelum akhirnya tertelungkup di lantai… di tengah-tengah ballroom.

Aku ingin menangis karena malu, tetapi berusaha menyembunyikannya dengan tertawa… sungguh tolol… ya, pasti aku kelihatan konyol. Entah Wajahku terlihat meringis, nyengir atau… ahhh… aku tak berani membayangkannya.

Yang pasti, kencanku kali ini hanya sampai di tiket konser…tidak lebih.

 Hasil gambar untuk sulli Hasil gambar untuk minho nerd

Apartemen

“ Mi-iiiiing… !!” teriakku.

Aku membuka pintu apartemen… oh, kupikir menubruk adalah kata yang paling tepat… yang langsung terbuka lebar. Yang kulihat pertama kali adalah hamparan karpet pink terang tempat Minho biasanya bergumul dengan buku-buku tebalnya.

“ Ohh thanks God… kau ada di rumah !” aku menghembuskan nafas panjang… padahal baru sepuluh menit yang lalu aku seperti ikan koi yang kesulitan mencari udara untuk mengisi paru-paruku yang… well kukira cukup sehat mengingat jogging dan senam Yoga yang secara rutin kulakukan.

Minho tidak bergeming dari posisinya yang telungkup, kaca mata besar dan tebalnya bergerak sedikit. Kulihat itu karena ia hanya mengangkat alisnya sedikit. Tidak banyak… tetapi sekali tatap aku tahu dia sudah siap menampung keluhanku dari A sampai Z.

Tanpa menunggu pertanyaannya, aku membuka high heelku yang baru hari itu kupakai, dan melemparkannya begitu saja.

“ Kencanku kali ini benar-benar musibah besar !!”

Aku bersimpuh di dekatnya, dahiku berkerut melihat buku puisi yang sedang dibacanya.

‘ Kau hanya terlalu melebih-lebihkan Ssul…”

“ Aniya !!” Aku membelalak ke arahnya, kupikir kaca matanya yang tebal agak bermasalah ,” Ekspresi dia sama persis seperti  ekspresi Henry!!”

Minho menatapku dengan pandangan kosong, mungkin mencoba untuk mengingat.

“ Kau ingat  Henry …. Pengusaha hotel ? Waktu itu sebelum tahun baru !!” kataku mengingatkannya.

“ Yang mana ya ?” Minho merubah posisi  jadi duduk bersila di sebelahku.

“ Itu… yang orangnya mirip salah satu member boyband Super Junior tapi yang ini agak ceking…”

Aku mendesah putus asa saat melihat kepala Minho menggeleng perlahan dan sorot matanya bingung. Rasanya tak mungkin otak cerdas yang ada di kepala itu tak bisa mengingatnya. Ataukah ini pertanda bahwa cowok yang kukenalkan sama Minho terlalu banyak hingga dia lupa???

“ Miing…. Kau tentu ingat pria yang tangannya kubuat terpelintir saat aku mempraktekan ilmu bela diriku ….?”

“ Ooh….. dia. Aku ingat sekarang. Dia memang tak bisa menyalahkanmu seratus persen dalam masalah itu. Orang kampungan selalu mencari alasan untuk mengelak…”

Minho terkekeh. Walaupun kata-katanya dilontarkan dengan cara berkelakar wajahnya terlihat khawatir saat melihat kembali ke arahku…. Dan sial, aku sudah terlalu sering melihat ekspresi seperti itu di wajahnya.

“ By the Way…. Kau berencana akan melakukan kencan dengannya… tolong jawab tidak !” katanya.

“ Bukan akan tetapi sudah….!!” teriakku kesal.

“ Dan….?”

“ Aku membuatnya maluuuu…hu..hu..hu…”

Tanpa bisa kutahan air mata mulai berjatuhan di pipiku, dan seperti biasa Minho tangannya terulur dan mengusap-usap punggungku. Setelah begini, biasanya tangisanku akan semakin pecah dan parah…. Dan Minho akan mendengarkan semua keluh kesahku. Ya, dia memang selalu melakukan itu, memelukku dan membiarkan aku membasahi baju katunnya yang terasa kasar di pipiku. Dengan suara yang luar biasa tenang, seperti biasanya, dia membujukku untuk bercerita.

“ Suzy bilang aku butuh sepatu high heel baru untuk kencan baruku. Dia bilang kesuksesan kencan akan seiring dengan seberapa tinggi sepatu itu menopang rasa percaya diriku. Tapi dia salah besar… kencanku yang kurencanakan tiga hari ini gagal total. Kau tahu, sia-sia uang kuhabiskan untuk menata rambutku biar jatuh lurus dan halus. Aku menghabiskan seminggu makan siangku untuk membeli sepatu sialan itu !!”

“ Kenapa dengan kencanmu Ssul ?”

“ Awalnya berjalan lancar…..”  dan tanpa ditawar-tawar, aku menceritakan semuanya tanpa satu pun yang terlewatkan.

“ Miing…. Aku telah membuat baju Henry sobek… sebelah tangannya terkoyak. Aku masih mengingat bagaimana mukanya menjadi merah seperti lobster. Dia malu dan marah besar, Miing !!”

Minho menatapku dengan tatapan iba… sialan aku membenci tatapan seperti itu !

“ Kau jangan membuatku menjadi obyek rasa kasihanmu !! Sekarang katakan apa yang harus kulakukan ??”

“ Kau sudah minta maaf kepadanya ?” Tanya Minho begitu tenang.

“ Sudah… berkali-kali… selama perjalanan kami !!”

Aku meracau, ingatanku kembali kepada saat-saat ketika Henry mengumpat begitu tahu apa yang kulakukan pada bajunya. Kemudian ia memandangku yang telungkup dengan mulut terbuka lebar, walaupun kemudian dia membantuku berdiri… setelahnya dia tak mau berkata apapun padaku… padahal sepanjang ballroom dan toilet aku berkali-kali meminta maaf padanya. Sekali lagi dengan ngeri aku benar-benar menyadari bahwa hubunganku dengan Henry sudah tamat dari awal.

“ Berarti dia sudah mendapatkan haknya. Kau sudah melakukan hal yang benar…”

“ Tapi dia tak berkata sepatah pun… Hu  hu hu Miing…. Apakah aku begitu idiot ??”

“ Kau tidak idiot Ssul, kau adalah wanita yang cerdas. Kau telah meminta maaf karena dengan tak sengaja telah membuat bajunya sobek. Tetapi kau harus ingat, Henry juga memiliki hutang maaf padamu karena dia tidak mau mendengarmu dan seolah meyeretmu menuju ….”

“ Ini semua karena sepatu sialan itu !!” aku melempar tasku ke arah sepatu high heel yang tadi kulepas.

“ Bukan Ssul… tak ada benda yang dibuat untuk menciptakan kesialan. Sekarang, aku akan membawakanmu jus jeruk dingin untuk mendinginkan hatimu, ya !”

Minho bangkit sambil meremas lembut bahuku, untuk membuatku kuat pastinya. Kemudian dia melangkah menuju dapur. Selama melihat punggungnya, aku berfikir mengapa tidak semua pria bisa melihat segala sasuatu seperti Minho melihatnya ?

Minho kembali dengan sekotak jus jeruk dan  sepiring pie.

“ Aku tadi ke rumah eomma, dan kebetulan dia sedang memanggang pie. Mungkin ini bisa membuat tingkat deperesimu menurun beberapa derajat…” matanya bersinar jahil.

“ Sini… biar kuhabiskan !!” aku menyesal telah meninggalkan pizza untuk kencan gagal ini.

“ Apakah kau tidak takut gendut ?”

“ Biar aku gendut dan jelek. Aku memang sudah jelek dan menderita….” Kataku mengasihani diri sendiri.

 Minho meletakkan piring kue dan menuangkan jus ke dalam gelas, lalu memberikannya kepadaku. Melihat cairan orange yang berembun itu, aku langsung tersadar betapa menangis dan bercerita telah mengeringkan tenggorokanku. Aku haus !!

Sekali teguk isi gelas itu langsung habis. Minho menggeleng-geleng tak setuju.

“ Kau boleh haus, tapi minum seperti itu bisa membuatmu tersedak…’ dia mengingatkan.

“ Tersedak dan airnya menyembur. Kau ingat kencanku dengan  Sun Yong ? Dia datang dengan kemeja putih bersih dan pulang dengan kemeja merah strawberry karena aku tersedak ketika minum dan menyembur bajunya…. Hahaha….” Aku tertawa mengingat kejadian lucu waktu itu.

Sun Yong adalah kencanku yang ke sekian… aku tak bisa mengingatnya dengan baik. Waktu kami sedang minum limun setelah bermain berkeliling amusement park, dia menggelitik pinggangku…akibatnya limun yang sedang kuminum membuatku tersedak dan limun dalam mulutku tumpah memenuhi kemejanya. Kencan kesekianku yang gagal. Dan sekarang aku sama Minho sering membuatnya menjadi gurauan untuk ditertawakan, walau pada saat kejadian aku tak bisa tertawa selama seminggu kurasa.

Minho duduk kembali di dekatku, jemarinya bergerak ke puncak kepalaku kemudian mengacak-acak rambutku. Itu suka dilakukannya kalau aku sudah bisa tertawa setelah menangis meledak-ledak. Terkadang aku merasa dia melakukan itu seperti melakukannya pada binatang peliharaannya… tapi aku tidak keberatan kok… bagaimanapun aku tahu, itu adalah bentuk perhatiannya dan simpatinya untukku.

“ Sepertinya suasana hatimu sudah membaik. Makanlah kuenya…”

Aku memasukkan dua potong pie yang tipis ke mulut, rasa renyah yang manis dan gurih segera menyerbu lidahku. Seperti biasa kue pie buatan eomma-nya Minho selalu seperti ini. Aku sudah sangat menyukainya sejak kunjunganku yang pertama ke rumahnya.

Hey… aku lupa cerita, kalau Minho dan aku kenal sejak kami SD. Sudah empat belas tahun kami bersahabat…. Tentunya kalian terkejut, tetapi kalau tahu rahasia persahabatan kami…kalian tak akan terkejut sama sekali.

“ Hmmmm…… “ kataku, benar-benar menikmati bagaimana kue itu perlahan-lahan mencair di dalam mulutku. Aku meminum seteguk jus jeruk…

“ Ah… ini benar-benar makanan dari surga !!” teriakku

“ Dari eomma , Ssul !!”

“ Ya… dari eomma. Eomma adalah bidadari utusan dari surga….hahaha !” aku tertawa, rasanya benar-benar beban dalam hatiku terangkat.

Minho tersenyum, kemudian tangannya membetulkan kaca matanya yang melorot ke ujung hidung. Entah kenapa aku sering berfikir dia tidak cocok dengan kaca mata itu… tetapi aku tak peduli, Minho juga tak mengeluh bukan ? Jadi buat apa aku ributkan ??

Sebetulnya, bila aku mau jujur… aku sering merasa gatal melihat dandanan Minho yang… ya ampuun… kalian bisa mengatakannya sebagai manusia perwakilan era 70-an. Rambutnya yang hitam dan tebal dibagi dua di tengah, dengan sisiran rapi seperti rambut Clark Kent dalam Superman.. Belahannya lurus dan sempurna, memperlihatkan kulit kepala yang sehat. Aku pikir itu karena kebiasaannya berkeramas hampir setiap hari…bahkan di saat musim dingin.  Kaca mata bulat yang besar sudah membingkai wajahnya, sejak aku berjumpa dengannya… sepanjang aku mengingatnya, dia tak pernah berganti model kaca mata. Entah…mungkin dia fanatik dengan kaca mata bundar. Dan hari ini dia mengenakan baju tidur dari bahan flanel berwarna  hitam belel, dengan gambar keropi… atau sinchan…atau dora emon…. Baju tidurnya selalu memiliki motif kartun yang lucu-lucu, padahal dia bukan anak-anak SD lagi. Aku pernah memberinya hadiah baju tidur dengan motif kotak-kotak di hari ulang tahunnya yang ke-18, tetapi dia tak pernah memakainya. Katanya baju itu akan disimpan untuk kenang-kenangan saja. Sejak itu aku kapok membelikannya baju.

Baju tidur Minho bukan satu-satunya yang sering membuatku gatal, tetapi juga baju-baju yang dipakainya sehari-hari. Ia nyaris tak mengenal celana jeans, celana panjangnya selalu model longgar… terkadang dibuat dari kain katun yang kaku dan tebal. Itu biasanya dikenakan di saat musim dingin. Kemejanya nyaris berbahan flannel walau dengan motif kotak yang sering dipakai koboi dalam film barat. Tetapi entah bagaimana, ketika dipakai Minho baju flannel itu terlihat aneh… mungkin karena modelnya yang kebesaran, atau karena warnanya yang sering bertubrukan.

Tapi sekali lagi, Minho tak pernah mengeluh dan selalu terlihat nyaman dengan penampilannya… dengan baju yang dikenakannya. Sebagai sahabat yang baik, aku tak berhak untuk merasa keberatan, bukan ? Hanya aku terkadang ingin tahu dari mana ibunya mendapatkan model-model baju seperti itu… Aku akan membakar toko yang menjual baju sejelek itu…Entahlah…. Aku tak berhak mengeluh !

Yang penting bagiku Minho adalah sahabat terbaik dambaan setiap orang. Sebagai teman masa kecilku dia adalah orang yang paling nyambung bila kuajak bicara dibandingkan kakak laki-laki satu-satunya yang kumiliki… Onew… dia berbanding terbalik dengan Minho dalam memperlakukanku. Sebagai teman seperjuangan, Minho adalah pria yang pintar…yang mungkin otaknya telah diprogram untuk menyimpan setiap data dengan mendetail dari buku-buku yang dilalapnya dengan rakus. Ini berbeda jauh denganku… yang lebih menyukai hal praktis daripada teoritis. Well, berkat bantuan Minho aku lulus ujian kalkulusku saat di SMA… dia sahabat yang baik, bukan ? Dan sebagai teman satu apartemen, dia adalah penyewa yang tak pernah telat membayar sewa apartemen yang kami bagi dua. Selain itu dia dengan senang hati mengerjakan pekerjaan yang aku tidak menyukainya. Mencuci piring dan menyikat lantai kamar mandi adalah dua di antaranya.

Dan lebih dari itu, aku mendapatkan sahabat untuk berbagi perasaanku seperti tadi. Bukan sekali ini aku membasahi bahunya dan menangis sejadi-jadinya di sana. Dia tak pernah mengomel walau baju tidurnya menjadi basah dan terpaksa kotor karena ingusku. Ya, dia pengertian, cerdas, bijak, hangat, menyenangkan, bisa diandalkan. Tetapi tetap saja ada satu sisi yang ,sepertinya secara alamiah, melekat di namanya yaitu “Kutu Buku”. Kupikir itu akan menjadi nama tengahnya yang abadi…

Tapi sekali lagi aku tidak merasa terganggu dengan itu, walaupun kemudian setiap relung di apartemenku dipenuhi buku-bukunya… bahkan sampai tangga pendek  yang menuju kamarnya… dimana ditumpuk buku tebal dan tipis… aku tak keberatan. Sebagaimana dia tak pernah keberatan dengan sikapku, dengan kecengengan dan kecerobohanku. Dia tak peduli berapa banyak aku menyukai dan menyayanginya… dia tak pernah peduli atau menanyakannya, seperti juga aku. Mungkin karena kami tahu telah merasa sama-sama cocok setelah hidup dan tumbuh bersama-sama.

“ Nah sekarang, ceritakanlah apa rencanamu selanjutnya ?” Tanya Minho pelan-pelan.

“ Rencanaku ?” Aku mengambil kue yang tersisa satu dan membelahnya jadi dua, kumasukkan sepotong ke mulut Minho dan sepotong lagi ke mulutku…ini kebiasaanku supaya mengurangi rasa bersalah karena telah ikut menghabiskan kue dari ibunya.

“ Mmm… mungkin kau bisa membantuku untuk kencanku yang berikutnya..”

Minho menatapku dari balik kaca matanya, dengan tak berkedip.

“ Oh, ayolah… membina hubungan baru akan membuatku dengan cepat melupakan masalah ini.  Mungkin kau mengenal seorang bujangan yang bekerja di kantormu… yang … well, kau tahu… kau bisa mengaturnya menjadi teman kencanku… “ kataku penuh harap.

Minho berdehem dan berfikir… ya, dia sedang berfikir karena kulihat bola matanya bergerak sedikit ke arah kanan.

“ Mungkin seseorang yang mau menerima keadaanku. Kau tahu, seorang wanita ceroboh yang cenderung mencelakai diri sendiri. Tetapi dia harus merasa bahwa aku adalah wanita yang tepat baginya…”

“ Umm… bagimana ya… satu-satunya bujangan di kantorku adalah Lee Bang In…. tetapi kurasa di bukan typemu, Ssul…” matanya menyipit seakan menilaiku.

“ Heyy… memangnya kenapa ?” kataku tersinggung.

“ Usianya mungkin lima puluh lebih, mendekati enam puluhan.”

“ Yahh…. “ Aku melenguh dan memutar bola mataku , “ Aku serius, Choi Minho !’ sambungku.

“ Aku juga serius Ssul, selain dia… hanya akulah bujangan yang tersisa di kantorku !”

Aku menoleh dan menatap langsung ke dalam matanya.

Kemudan tanpa dikomando, kami terkikik bersama-sama. Terasa lucu dan menggelikan.

Well, mungkin bagi orang lain hubungan persahabatan pria-wanita adalah hal yang tidak mungkin, tetapi kami sudah menghancurkan anggapan itu mengingat kami telah bersahabat selama belasan tahun… dan tanpa apapun yang terjadi di antara kami. Mungkin perlu kugarisbawahi bahwa selama ini tak pernah ada saling ketertarikan di antara kami. Mungkin karena kami sudah sangat saling mengenal. Benar aku mengagumi dan menyayangi Minho melebihi rasa sayangku pada  Onew Oppa, tetapi itu bukan cinta yang bisa terjadi antara pria dan wanita. Hubungan kami lebih menyerupai hubungan yang sangat manis… seperti seorang adik kepada kakak, tanpa nafsu tanpa komitmen apapun. Mungkin perlu kutegaskan di sini… aku memang memuja Minho, tetapi dia bukanlah type pria yang aku mau berbagi tempat tidurku dengannya. Demikian juga Minho tentangku.

“ Oh Miing, aku berasa menjadi wanita malang paling jelek se Seoul… tidak se dunia mungkin !”

“ Ayolah Ssul, kau tidak jelek sama sekali. Kau cerdas dan menarik.”

“ Benarkah ? Mengapa aku merasa kau hanya menghiburku ?”

“ Sulli….” Minho meremas tanganku dengan hangat.

“ Kalau aku menarik, mengapa tak ada pria yang bisa kukencani lebih dari sekali ?” kataku putu asa, tetapi aku tersentak dan melihatnya ,” Ataukah mungkin ini karena sepatu sialan itu ?”

“Sudah kukatakan Ssul, tak ada barang yang diciptakan untuk membuat manusia menjadi sial. Ini bukan masalah sepatu. Suzy mungkin benar tentang sepatu untuk mengangkat rasa percaya dirimu… tetapi itu bukan berarti sepatu high heel… Bagi Suzy mungkin tepat, tetapi bagimu… kukira kau sudah cukup tinggi tanpa high heel. Yang kau perlukan sekarang adalah menjadi dirimu sendiri..  tak perlu kau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirimu… tak semua pria menuntut kesempurnaan.”

“ Kau mulai lagi menceramahiku….” Kataku dengan tak enak, karena memang kata-kata itu terlalu sering kudengar hingga bisa kuhafal di luar kepala.

“ Cobalah kau lihat film beauty and the beast, atau Lavender… atau tokoh Cleopatra  … mereka tidak pernah menuntut kesempurnaan. Cinta yang sejati adalah yang bisa melihat kekurangan pasangannya dengan bijak…”

“ Miing… mereka adalah tokoh-tokoh yang dibuat sebagai sosok sempurna dalam cerita fiksi. Yang kubicarakan adalah kenyataan… bukan fiksi…”

“ Tetapi cerita fiksi tercipta karena dunia nyata, Ssul.”

Aku menatap Minho dengan rasa kasihan, sungguh disayangkan dia tak pernah melihat kenyataan karena belum mengalami bagaimana berpacaran di dunia nyata…bukan di dalam buku atau film roman yang sering kami tonton bersama.

“ Susah membicarakan ini denganmu, karena ini akan menjadi diskusi panjang tiada akhir. Aku hanya perlu menegaskan padamu… kita hidup di dunia real, Di masa kini pria-pria menuntut wanita yang tampil sempurna dari ujung kuku sampai ujung rambut. Mereka lebih menyukai tubuh yang langsing dan berisi… sexy maksudku.”

“ Sexy ?” Kulihat Minho mengulum senyum.

“ Ya. Kau tahu maksudku. Intinya… pria tak menyukai wanita biasa-biasa saja. Mereka menyukai seorang yang istimewa, yang bisa dipamerkan  ke mata dunia…”

“ Kau sepertinya lupa Ssul, kalau aku juga seorang pria….” Minho mengingatkan.

“ Ya… tentu saja aku tidak lupa. Tapi kau lain… Kau adalah Minho… Choi Minho !!” kataku dengan tekanan di beberapa kata, seolah buat  meyakinkannya bahwa di balik nama Choi Minho ada sesuatu yang berbeda. Oh bukan sesuatu, tentu saja Minho sangat berbeda… dia belum tersentuh dan menyentuh dunia luar sehingga menatap segalanya dari sisi yang baik dan bersih. Tetapi kehidupan tidak seperti itu… dan aku tahu, aku akan sulit menjelaskan ini kepadanya.

“ Lalu, aku tidak bilang kalau pria tidak menginginkan wanita yang menarik. Tetapi menarik bukan berarti kau harus sempurna segalanya.”

“ Aku mengerti maksudmu. Segalanya dalam diriku memang tidak pernah sempurna.” Jawabku.

“ Omong kosong Ssul ! Semua orang tidak akan sempurna segalanya. Bukan hanya kau. Kau menarik dan cantik.”

“ Terimakasih.” Kataku mencibirnya.

“ Kau tidak mempercayaiku, bukan ? Kau tak akan percaya bahwa akan ada pria di dunia ini yang mau menerimamu sebagaimana kamu adanya. Kuharap saat kau mengenal seseorang, kau tak perlu membual untuk terlihat hebat. Sekali lagi, jadilah dirimu sendiri maka kau tak akan memerosokkan dirimu ke dalam kemalangan lainnya. Aku yakin di luar sana akan ada pria yang tepat untukmu… percayalah !!”

Minho menggenggam jemariku, matanya yang terlihat semakin besar di balik kaca matanya menatap lurus ke dalam mataku. Entah kenapa… aku percaya padanya, walau jauh dalam hati aku masih bertanya-tanya entah kapan akan ada pria seperti itu dalam hidupku. Tetapi, melihat sorot matanya aku merasa memang pria seperti itu ada, dan aku harus mencarinya sampai bisa menemukannya.

Rasa ringan dan hangat menyelubungi jiwaku dengan cara yang aneh, mungkin inilah yang dimaksud dengan keajaiban persahabatan. Aku percaya hanya sahabat yang akan mengatakan kebenaran yang jujur untuk mendukung sahabatnya. Seperti yang Minho lakukan padaku sekarang, dengan perhatian dan keterbukaannya pada permasalahanku aku bisa mempercayainya. Bagaimanapun selama ini aku sangat yakin…sangat percaya.. bahwa Choi Minho tak pernah membohongiku atau memberikan janji kosong kepadaku. Kalau dia berkata akan ada pria seperti itu dalam hidupku, maka aku mempercayainya secara mutlak.

“ Terimakasih….” Bisikku dengan tulus ,” Kau membuatku merasa lebih baik.”

“ Itulah gunanya sahabat !!”

Minho berbalik dan melepaskan genggaman tangannya, kemudian dia mengumpulkan sampah dan piring kotor. Membawanya ke dapur.

“ Tuhan, aku sangat bersyukur dengan hadiah yang kau berikan berupa sahabat seperti Choi Minho dalam hidupku. Setiap hari, aku selalu merasa bahwa rasa syukurku ini teramat kecil. Kau tahu… amat sangat tahu… aku menyayangi sahabatku, dan Kau telah memperlihatkan indahnya memiliki seorang sahabat melalui sosoknya. Terimakasih Tuhan…” bisikku

FIN

Sebenarnya ini penggalan awal dari sebuah cerita chaptered CHOI MINHO AND I, tetapi aku tak bisa menahan diri untuk mengeposkan ini di sini, pada hari istimewa MINHODAY  🙂

Aku hanya ingin menunjukkan bahwa Minho adalah sahabat yang peduli dan berhati lembut, yang senantiasa menyediakan bahunya untuk  bersandar dan senantiasa membuka lengannya untuk memeluk.

Alangkah bahagianya mereka yang ada di sekitar Choi Minho saat ini….

Flaming Charima…. Saengil Chuka Hamnida !!

Hasil gambar untuk gambar ulang tahun hiasan

 

Advertisements

15 thoughts on “Choi Minho and I

  1. Aku tahu ming adalah sahabat yang sangat baik lembut hatinya…tampan dan sangat berkarisma…bahkan dengan penampilan seperti itupun dia masih terlihhat tampan…kkkk…😍😍
    Sulli kenapa km harus cari jauh” pria itu ada didekatmu sahabatmu sendiri…suatu saat km akan menyadarinya bahwa hanya ming oppa yang terbaik dan pantas buat kamu…😍😍 MINSUL JANG..😍😍 #HAPPYMINHODAY

  2. Pria itu akan kamu temukan pada sosok Sahabat mu sendiri Choi Minho :* 😉
    #HappyMinhoDay
    .
    Uuuffftt Sudah lama baru bisa baca ff MinSul lagi. Ahh rasanya anehh, dulu para readers di sini sngt banyak, setiap keluar ff baru yg koment jg banyak2.hikshikss rindu saat2 dulu ;( . Saya hanya bisa berharap, saat seperti dulu lagi bisa terulang dan di dunia nyata MinSul benar-benar akan bersama. Walau itu mustahil,tapi itulah yang diharapkan para MinSullers yg sebnrnya 😉 :*

  3. Hahhaa,,, lucu juga membayangkan sikap mereka brdua
    Sprti trbalik dn mmiliki prbdaan…
    Tak biasa,,,
    Tapi inilah minho dan sulli…
    Persahabatan diantara mereka sangat mengagumkan,,,
    Mengabaikan rasa ketertarikan pd msing2,,,
    Mskipun melibatkan perasaan tapi mereka brdua punya pmbatas masing2…
    Heeii,,, tapi itu kan buat sulli
    Kalo dr pndangan dn pndapatny minho, bagaimna ???
    Adakah yang brbeda… ???
    Sukaaa deh sama semmuaaaa kata2 bijak yang minho ucapkan,,,
    Penetram hati dan pikiran…
    Apalagi kalo mndengar langsung dari minho sndiri, mungkin…
    Persahabatan adalah segalanya,,,
    Bisa mmiliki prsaan yang brmcam2 sprti “nano_nano”
    Memahami, mngrti dan saling mengagumi
    Tak mmbatsi utk saling mngenal, trbuka dan …… berharap utk minsul itu akan selalu ada diantara mereka
    Tak mengenal waktu,,,
    Bisa terus mereka jaga…
    ^_^

    Hhmmm,,, kalo di chptr brrti ada part2 lain dong eonni
    Sharing2 dooong…hehehhee
    #HAPPYMINHODAY
    Vitaminsul dan vitasum is no 1
    #minsuljjang ♥♥♥

  4. ming jdi sahabat yg di butuhkan sulli walaupun penampilan nya seperti itu tpi rasa perduli nya terhadap sahabat membuat dia seperti orng yg berharga

  5. kirain tadi endingnya minsul bakalan saling jatuh cinta😁😁 ternyata cerita cuma tentang persahabatan..gak kebayang dech minho jadi cowok cupu 😃 tapi gak apa2 lah yang penting d sini minho jadi sahabat yang selalu ada buat sulli..pengen banget minsul bersatu di dunia nyata. Biarpun awalnya dari sahabat dan akhirnya jadi cinta..heheh 😄 ngarep buaanget..

  6. Persahabatan bisa jadi cinta lhoooh…
    Knp sulli harus repot”mncr cwok lain
    OMG sull didekat mu sudah ada dialah choi minho,flaming charisma …walau cupu tp dia bener”bikin kamu jadi diri sndiri….
    Ea kan eonn hehe
    ada chap slnjtny kah?
    Buat lah happy ending eonn…
    Ditunggu ea HAPPY MINHO DAY~~~
    brbahagialah kalian yg sudah prnah brtemu ming oppa
    uuuugh….miiiing “itu pengucapan yg manja dari sulli”saya suka saya suka…panggilan itu eonn¤¤¤

  7. Jawaban dari semua pertanyaan sulli eonni kenapa kencannya gagal terus karena cuman sama Minho oppa aja kencan sulli eonnk bakalan berhasil 😁
    Eh ngomong2 Minho oppa culun banget yak disini ampe stylenya kayak botak gigi, kalian oppaku 😂😂😂

  8. Aaaa soo sweet ..
    Gaperlu cari kemana2 , kencan sama bnyk cowok toh klo ujung2nya mentok d minho haha ..
    Smoga hubungan minsul membaik , sulli jd single lg , bnyk minsul scene bertebaran aminnnnn ..
    Happy birthday minho 💞

  9. Setelah sekian lama absen baca fanfic, akhirnya mulai baca lagi :’)
    Tidak perlu menjadi perfect jika ingin dicintai Sull, just be yourself aja.
    Min oppa menerima mu apa adanya kok ehehehe

  10. Yaah gak ada yg tahu persahabatan yg udah terjalin belasan tahun bisa menjadi cinta..
    Sosok sulli yg yaah jadi gadis yg sedikit ceroboh dan lucu, dan minho sosok lelaki yg simpel mngkin dan bijak. Bukankah mereka itu pasangan yg cocok sebagaimana dalam sebuah hubungan ada kata saling mengisi. Mereka bisa mengatasi itu sebenarnya.
    Oke dina semoga ff ini bisa berlanjut… 😊😊😊

  11. Lama gak mampir kesini…hehe oh sulli sial bnget ya..hHa gagal lagi kencanny.. ah minho… manusia perwakilan era 70 hihi bikin ngakak nih…wah. .persahabtan yg manis… bakal lanjut kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s