FUTURE (Medical of Love Epilog)

Konsep-tulisan-future-masa-depan-di-atas-pasir-basah

FUTURE
(Medical of Love Epilog)

author: Chyminh
Main cast: choi sulli | choi minho
Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji yeong
Genre: sad, comedy, romance
PG: -18
(Hanya untuk 18 tahun kebawah)

.

.

Continue reading

[Repost] She is Mine

Fantasia Painting(32)

SHINee Choi Minho | F(X) Choi Sulli

Author : Dhecy Chyminh

Genre : Sad, Bestfriend, Family, Romance

Length : One Shoot

Rating : PG-13

Summary :

Warna-warni hadir mu, tak menyurutkan langkahku

Untuk terus berada dalam payung bening dua mata indah itu

Di batas lelah yang menghampiri raga ku, ku telan segalanya dengan mu

Tawa, sedih, bahagia, dan luka…

Jadi bunga wangi dengan rekah bahagia kita bersama…

.

.

-0- Continue reading

-MEDICAL of LOVE- (part 11)

blajar

-MEDICAL of LOVE-
(part 11)

Author: Chyminh
Main cast: choi sulli | choi minho
Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji young
Jung krystal and OC
Genre: sad, comedy, romance
PG: 15

-Summary-

Minho mengerenyit bingung saat mobil ayahnya memasuki wilayah yang sangat ia kenal.
“kita sampai” yun gyeom membuka suara, minho semakin mengerutkan dahi. Ke 3 nya turun menuju rumah mewah yang berdiri megah di hadapan mereka sekarang.

“minho???” kai membulatkan mata sempurna, Tepat ketika ia dan kedua orang tuanya menyambut kedatangan keluarga choi yun gyeom.

“jadi kau yang dijodohkan dengan adik ku??”

“ adikmu???”

“ayah sengaja tak memberi tau, bahwa calon iparmu itu adalah sahabatmu sendiri…” siwon menjelaskan… kai semakin tak percaya mendengarnya, apakah dunia sesempit ini??

“selamat datang di kediaman kami yun gyeom-shi… sung mi-shi” pria paruh baya tadi kembali membungkukan badan 90 derajat.

“putra kalian tumbuh dengan cepat dan tampan sekali… ayo masuk, sebentar lagi putri kami akan turun. Ia masih mempersiapkan diri diatas” kali ini park hee gi yang membuka suara. mereka tersenyum ramah dan menyusun langkah menuju meja makan yang telah dihidangi berbagai jenis jamuan mewah. Lain halnya dengan minho, ia tetap bingung setengah mati.

“tidak usah kaku” gumam kai pelan

“kau tidak akan menyesal… percayalah” lanjutnya sembari menepuk hangat pundak sang sohib. Minho meninggalkan kai begitu saja, otaknya tak bisa mencerna sehat peristiwa yang berlangsung malam ini.
Mereka telah tiba di ruang makan, duduk pada kursi masing-masing. Semua terlihat formal, para lelaki lengkap menggunakan tuxedo hitam dan para wanita anggun mengenakan gaun malam. semua memasang binar bahagia… hanya minho satu-satunya manusia ditempat itu dengan wajah terdingin. Continue reading

-MEDICAL of LOVE- (part 10)

blajar-MEDICAL of LOVE-
(part 10)

Author: Chyminh
Main cast: choi sulli | choi minho
Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji young
Jung krystal and OC
Genre: sad, comedy, romance
PG: 15

-Summary-
cobalah menganggap sesuatu yang kecil dan terbuang menjadi berharga… hanya dengan merubah cara pandang kita, dari sana akan terdapat nilai yang tak pernah terbayangkan sebelumnya

Continue reading

-MEDICAL of LOVE- (part 8)

minsulstal

-MEDICAL of LOVE-
(part 8)

Author: Chyminh

Main cast: choi sulli | choi minho

Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji yeong |Jung krystal and OC

Genre: sad, comedy, romance

PG: 15

Summary

Aku tidak berdoa pada tuhan untuk meminta apa yang kuinginkan
Aku hanya bercerita pada tuhan tentang masalahku,
Dan meminta sebuah keputusan baik darinya
adalah cara manis dari sekedar memaksa apa yang kupinta menjadi nyata
Rasanya tidak tau diri bersikap seperti itu
Setelah nikmat yang tak terukur selama ini
-SULLI-

-0-

Continue reading

MEDICAL of LOVE- (part 6)

kailli

-MEDICAL of LOVE-

(part 6)

Author: Chyminh

Main cast: choi sulli | choi minho

Kim jongin a.k.a choi jong in | kang ji young

Jung krystal and OC

Genre: sad, comedy, romance

PG: 15

-Summary-

Ketika aku berkata bisa… maka itu akan terjadi

Ketika aku berkata tidak akan bisa… maka itu juga akan terjadi

Pertama… untuk meraih 1 hal penting

Cukup menggunakan prinsip sederhana

Percaya, optimis, berusaha, dan berdoa

-0-

 

 

“oh my god… mengapa anda begitu ceroboh” krystal membentak sulli kesal, sebab cairan infus yang dibawanya terjatuh dan pecah di lantai. Sulli menelan ludahnya berkali-kali. Hari ini ia seperti dikembalikan kemasa lalu, masa pahit yang harus dialaminya dengan susah payah. Minho yang juga ada ditempat hanya menatap sulli acuh seolah tak mengenal, ia membantu krystal membersihkan baju yang basah akibat cairan infus tadi, peristiwa ini mengundang tohokan dalam hati sulli. sementara itu tanganya masih dicengkram erat oleh kai… ia menatap kembaranya tersebut dengan salah tingkah sekaligus takut, dalam sekejap namja bernama jongin tersebut menarik sulli menjauh dari minho dan krystal yang menatap mereka selang beberapa saat.

Sulli berjalan cepat disebelah kai sambil meringis kesakitan karena pergelangan tanganya di cengkram amat sangat kuat. Berkali-kali gadis berparas cantik itu memohon untuk dilepaskan namun sosok yang dimaksud tak perduli sama sekali. kai membawa sulli kesebuah balkon rumah sakit yang keadaanya cukup sepi.

“aaaw… lepaskan aku bodohh.. hey” sulli tetap bergerak untuk memberi perlawanan. Tetap saja tenaga kai lebih kuat. Setelah berada di tempat yang jauh dari keramaian kai menghempaskan kuat tangan sulli, dan gadis itu pun segera melihat pergelanganya yang telah membiru.

“kenapa kau kasar sekali… kau fikir tanganku ini baja” sulli menatap saudara kembarnya itu dengan kesal. Kai menarik nafas kuat dan menghembuskanya cepat. Rahangnya tampak mengeras, ia merapatkan gigi menahan gejolak emosi yang menyerangnya saat ini. menyaksikan keadaan seperti itu jantung dan tubuh sulli semakin gemetaran.

“mengapa kau ada disini??” tanya kai dengan nada penuh penekanan sembari kendalikan emosi. Sulli meneguk ludah beberapa kali sebelum akhirnya membuka suara.

“aku… a-a ah jonginie… jangaan beri tau ayah atau pun ibu aku di seoul saat ini. kumohon” sulli akhirnya menjatuhkan rasa gengsinya yang begitu ia rintis sedemikian rupa hanya dihadapan kai, ia menarik lengan kekar pria dihadapanya itu. kai semakin merapatkan rahangnya dan menghempaskan tangan sulli secara kasar…

“kau membohongi semua orang? Kau membohongi ibu? Kau membohongi ayah? KAU MEMBOHONGI MEREKA SEMUA… APA KAU MANUSIA???” kai terlihat amat sangat marah sekarang, wajahnya tampak memerah, tanganya mengepal keras dengan kedua bola mata yang menatap tajam sosok sulli. gadis itu bergidik takut dengan memicingkan mata….

“setiap hari… ayah dan ibu menanyakan kepulanganmu, dan kau selalu menolak untuk kembali karena alasan konyolmu itu. sekarang… kau berada di seoul tanpa memberi tau siapapun, apa?? Apa yang kau kerjakan selama 7 tahun?? Jika kau memang tak ingin tinggal dirumah bersama keluargamu sebaiknya kau katakan terus terang… bukan omong kosong” luap kai dengan kata-kata tajamnya, namja tampan tersebut terlihat begitu marah sampai tak menghiraukan apapun yang terjadi. Beruntung tempat itu sangat sepi, tidak ada yang mengetahui adu mulut mereka. Sulli mencoba kendalikan air matanya yang hendak membuncah saat itu juga.

“kau belum berubah …?? selain tetap hitam masih sangat kasar juga..” saut sulli cairkan suasana dengan nada bercanda. Ia benar-benar takut … karena sejak dulu, seperti apapun ia dan kai berkelahi. Sulli tak pernah melihat wajah kembaranya semarah ini. mungkin benar… apa yang dilakukanya sekarang sangat keterlaluan.

“berhentilah berkata bodoh seperti itu… kau seharusnya sadar dengan tindakanmu ini. apa yang kau lakukan selama 7 tahun tanpa kembali sekalipun. Dan setelahnya kau kembali, kau tak memberi kabar apapun pada ayah atau ibu. APA KAU MANUSIA??” bentak kai lagi.

“kau sangat ingin tau rupanya…” sulli tersenyum sinis, dan balas menatap mata tajam kai.

“berfikirlah sebagaimana manusia mestinya… kau sudah dewasa, sekarang aku tekankan sekali lagi. mengapa kau tak kembali selama 7 tahun? Dan berada dikorea tanpa sepengetahuan ayah ibu?? KAU MEMPERMAINKAN MEREKA?? KAU MENGANGGAP INI PERMAINAN YANG LUCU?? Apa yang sebenarnya ada di otak mu itu choi sulli? TIDAK KAH KAU BERFIKIR SEHAT”

“TIDAK,,,” sulli menjawab cepat ucapan kai dengan nada yang tak kalah keras. Bahunya bergerak sesuai deru nafas yang berhembus cepat. Ia menantang tatapan kai yang kali ini terdiam menunggu ucapanya.

“aku memang tidak berfikir sehat… kau tanya kenapa?? Aku tidak akan bisa menjawab KARENA OTAK KU MEMANG TIDAK SEHAT. Semua kulakukan untuk pembuktian saja… pembuktian karena aku juga ingin dilihat dunia, aku ingin menggenggam mulut-mulut yang selalu merendahkanku. Aku ingin melihat ayah dan ibu mengakui kemampuanku… agar tidak ada lagi orang yang menginjak injak harga diri manusia bodoh didunia ini” sulli menarik nafasnya kuat, dengan pandangan berkaca ia tak mengedipkan mata sama sekali. dagunya tampak bergetar… ia menelan ludahnya dengan kasar pula.

“setiap manusia punya alasan sendiri bukan?? Kau tidak akan pernah tau bagaimana rasanya menjadi manusia tertindas karena sejak dulu hidupmu penuh keagungan”

“Dunia selalu melihatmu sempurna tanpa cela… dan manusia seperti itu dalam keadaan salahpun tetap menjadi benar… sebab sejak awal kau selalu dipuja. Jika kau bertanya aku sedang melakukan permainan… anggap saja begitu. Toh dari dulu aku memang mainan kotor.. murah.. dan tidak berguna kan??”

“ Keinginanku tak banyak… aku tak pernah bermimpi untuk menjadi no 1 ataupun menerima pujaan banyak manusia… aku punya banyak alasan sendiri untuk melakukan ini”

“salah 1 nya….” sulli memberi jeda pada kalimatnya, ia menarik nafas perlahan. Dadanya yang sesak semakin terasa sulit untuk bernafas, ditatapnya lekat mata kai yang sejak tadi tak mengalihkan pandangan sama sekali.

“ agar saudara kembarku mau melirik dan mengakuiku…” benteng pertahanan sulli runtuh, sebaris cairan hangat menghiasi pipi putihnya. Seperti tamparan keras kai mendengar ucapan gadis cantik tersebut.

“kau boleh mengatakan pada ayah dan ibu tentang kepulangan rahasia ku ini… aku sudah tidak perduli lagi” sulli tersenyum pahit menatap kai yang membisu tak bersuara, mulutnya seolah terkunci rapat menerima ucapan-ucapan tegas sulli yang sepertinya sudah lama ingin ia ungkapkan. Gadis itu berlalu cepat dari hadapan kai, sulli tidak ingin terlihat cengeng dengan menangis keras seperti yang ingin dilakukanya saat ini. selepas kepergian sulli, kai berteriak kesal dengan meninju dinding yang ada didekatnya berkali-kali sampai meninggalkan memar biru, dan juga hari ini adalah kali pertama air mata kai jatuh mengalir bebas diwajah tegasnya.

###

“oppa… gadis tadi itu choi sulli bukan? Yang juga bersekolah di anyang art school angkatan kita dulu?

Kira-kira ada urusan apa dia disini” krystal memberi pertanyaan pada minho yang sejak awal peristiwa tabrakan hingga kai menarik sulli ketempat jauh masih terngiang jelas dalam benak dan fikiranya.

“aku sudah lama tak melihatnya dan sekalinya bertemu ia meninggalkan kesan buruk… dia itu murid paling tolol dulu. dan juga salah seorang fans fanantikmu… aku sangat tau itu” minho melirik krystal singkat, jujur ia tidak senang dengan kebiasaan wanita yang dekat denganya ini terlalu suka mencela orang lain dengan merasa sempurna.

“dari mana kau tau dia menyukaiku?” minho bertanya.

“ itu sangat menjijikan, choi sulli seperti seorang sasaeng. Aku pernah melihatnya keluar dari lokermu dengan membawa kertas merah jambu. Dan itu tidak hanya sekali” minho terdiam kembali, walaupun raganya bersama krystal, fikiran dan hatinya berada ditempat lain.

“tapi… yang membuatku penasaran… mengapa kai oppa menariknya tadi, kemudian membawanya jauh dari kita. Setauku kai oppa tak pernah mengenal sulli” tukas krystal lagi

“oppa… apa kau tau sesuatu??” lanjutnya, minho menggeleng kecil kemudian berlalu begitu saja. hari ini moodnya turun drastis, perasaan minho berkata lain. ia membayangkan gadis bernama sulli tadi dalam keadaan tidak baik sekarang.

###

Malam ini kai enggan pulang. ia ingin menjenguk jiyoung kembali… bagaimanapun gadis malang tersebut terluka karena ingin menyelamatkanya. Rasanya tidak manusia jika kai lepas tangan begitu saja. kai berjalan teratur menuju lantai 6 , disebuah ruang VIP tempat jiyoung menginap sekarang. namja tampan yang berprofesi sebagai dokter itu membuka knop pintu kamar dengan sangat hati-hati, lagipula jiyoung adalah pasien yang berada dalam penangananya.

Sesampainya didalam kai melihat jiyoung yang tertidur pulas dalam mimpi, ia berjalan mendekati gadis manis tersebut. sesaat kai memeriksa cairan infus yang masih terisi penuh, kemudian menatap keadaan jiyoung yang tengah memejamkan mata.

“seperti familiar…” gumam kai dalam hati, ia mengambil kursi untuk duduk disebelah ranjang jiyoung. Suatu tindakan yang tak pernah ia lakukan kepada pasien tetapnya. Namja tampan tersebut juga membetuli posisi selimut jiyoung, ia sangat berhati-hati agar tak meninggalkan suara yang mengganggu ketenangan gadis bermarga kang tersebut.

“ternyata… kau desainer keras kepala itu” gumamnya dalam hati.

“mengapa wanita selalu sulit untuk dipahami… apa karena lelaki terlalu bodoh memahaminya??” kai menghela nafas panjang sambil berdecak lelah.

“kai-shi,,,,” sebuah suara menyadarkan lamunan kai, ia segera membenarkan posisi duduknya dan menatap jiyoung serius.

“k-kau sudah sadar??” ucap namja tampan tadi, jiyoung mengangguk bingung.

“mengapa kai-shi ada disini??” ucapnya. Kai terlihat salah tingkah ia menggaruk tengkuk kepalanya yang tak gatal.

“ahh.. aku hanya … itu…mmm… melihat keadaanmu saja, karena seharusnya yang mengalami luka tusuk itu adalah aku” jiyoung tersenyum manis mendengar penjelasan lelaki yang masih menjadi idolanya sampai detik ini.

“gwenchona… lagipula jika kai-shi tidak ada disana… mungkin sekarang yang sampai ketelinga keluargaku adalah kematianku” namja tampan bernama kai tadi tertawa renyah.

“bagaimana keadaanmu…?” jiyoung bersorak dalam hati, jujur saja hatinya gembira mendapat perhatian-perhatian kecil dari sang pujaan, meskipun maksud dari perhatian itu tidak sesuai dengan apa yang jiyoung harapkan.

“sudah mulai membaik… semua berkat pertolongan dokter kai-shi….” tawanya sambil memamerkan gigi kelinci yang begitu manis… darah kai sedikit berdesir dibuatnya.

“emmm… mengapa dokter kai-shi belum pulang??”

“aku tugas malam ini… dan kebetulan ini jam memeriksamu” dusta namja tampan tersebut, sebenarnya ia sudah boleh pulang sejak sore tadi, kendati jiyoung kembali mengangguk.

“dokter pasti sangat lelah bekerja sampai malam… kau juga harus memikirkan kesehatanmu” guman jiyoung serius.

“tentu saja… aku pasti memperhatikan kesehatanku”

“tidak sepenuhnya” potong jiyoung lagi…

“aku sangat tau bagaimana kehidupan seorang dokter itu… mereka lebih memprioritaskan keselamatan orang lain dari dirinya sendiri“ lanjut jiyoung

“sepertinya kau sangat tau…” ucap kai penasaran

“tentu saja… ibuku juga seorang dokter” jiyoung berterus terang, kai membentuk mulutnya seperti huruf ‘O’ sambil mengangguk kecil.

“emm… apa kai-shi sama sekali tidak mengenalku??” kai mulai berfikir sambil mengerenyitkan dahinya, setelah itu ia menggeleng pelan.

“seperti familiar… tapi maaf aku tidak ingat” ucap nya yang membuat jiyoung menghela nafas kecewa.

“aku teman 1 alumnimu dulu… sewaktu masih SMA” kai membuka mulutnya tak percaya, otaknya kembali memflashback apa saja yang mungkin bisa membuatnya ingat walau hanya sedikit.

“apa kau kenal choi sulli??” ucap jiyoung lagi, namja tampan tersebut segera menatap jiyoung serius.

“kau kenal choi sulli juga??” tanya kai tak percaya. Jiyoung mengangguk cepat

“tentu saja… dia sahabatku.. kami selalu bersama setiap saat, jika kau mengenal choi sulli seharusnya juga mengenalku. Aku kang jiyoung… yang selalu bersama sulli kemanapun sewaktu sekolah menengah atas dulu” BINGO… kai mulai mengingat gadis di hadapanya ini.

“ahhhh… ya ya,,, aku ingat, gadis yang pernah terlempar bola basket sampai pingsan” tebak kai tepat, jiyoung mengangguk senang akhirnya kai mulai mengingatnya. Keduanya tampak salah tingkah mengingat kejadian memalukan 7 tahun silam tersebut.

“aku benar-benar tidak menyangka kita pernah bertemu sebelumnya” ucap kai lagi. hati jiyoung berdebar hebat, ini kali pertama ia melakukan percakapan panjang bersama kai. Sejak dulu, jiyoung hanya bisa memandang dan mengagumi kai dari jarak jauh dan dalam mimpi saja.

“jadi… apakah sulli menjenguk mu tadi??” mendengar pertanyaan itu, nafas jiyoung seakan berhenti.

“m-mwo??ah tidak,,, dia tidak menjenguku, dia tidak dikorea… ya, emm dia dia di-dia di amerika” jiyoung melafazkan kata dengan susah payah, sambil menelan ludah jiyoung berusaha berekspresi santai agar tak dicurigai, dan sepertinya kai percaya atau tepatnya pura-pura percaya.

###

Dari lantai 8 tampak seorang wanita tengah berdiri didepan jendela kaca besar pada apartemenya. Tatapan kosong penuh beban seolah memberi isarat ia dalam keadaan tak baik. panca penglihatan indah dengan baris bulu mata cantik, tampak menahan cairan yang hendak jatuh dalam 1 kedip saja. sulli menggigit bibirnya dengan dagu bergetar.

“apa aku harus benar-benar hilang??” desisnya pelan, ia mengingat jelas peristiwa siang tadi. tidak hanya dengan kata-kata kai, tapi juga cara minho berdampingan bersama krystal selayaknya pasangan saling mencintai. Sulli seakan mendapat 2 kesan menyedihkan hari ini. ia melangkah malas menuju dapur, dibukanya pintu kulkas dan mengeluarkan beberapa botol soju beserta bir setelah itu menuju meja tengah untuk duduk menghilangkan beban dalam otaknya, gadis itu juga menelan beberapa pil yang selalu ia simpan setiap saat, pil itu seperti obat penenang.

“sihitam itu bahkan tidak merindukanku sama sekali” ucapnya sambil meneguk 1 kaleng soju dengan cepat, sulli mengelap kasar mulutnya yang basah akibat minum tak hati hati.

“mengapa dia marah-marah?? Dia bahkan tidak tau siapa aku ini” lanjutnya lagi, dengan menuangkan bir hitam ke gelas kecil dihadapanya dan juga hanya sekali teguk, sulli menuangkan lagi.

“dan minho… mengapa sejak dulu seleranya tetap krystal…?? memangnya aku kurang sexy??” sulli berdiri sambil melihat seluruh tubuhnya yang berbalut hot pants dengan blus panjang besar. Ia kembali duduk dan meneguk sekaleng soju kembali..

“walaupun dadaku datar kurasa aku cukup sexy…” gumamnya mulai ngelantur. Ia terdiam sejenak dengan keadaan frustasi, mata cekung menerawang lurus kedepan,,, bahkan dagunya kini bergetar di susul air mata yang mengalir bebas diwajah mulusnya. Sulli meneguk kembali 1 gelas bir yang telah ia tuang…

“apa akhir hidupku benar-benar menyedihkan?? Memangnya tidak ada 1 tiket untuk bahagia dihidup ku ini?” gadis itu mulai berbicara tak jelas sekarang. dan ini adalah kaleng soju kelima dan botol bir hitam ke 2 yang ia teguk habis tanpa sisa. Sulli benar-benar terlihat mengkhawatirkan sekarang… TING TONG… suara bel dari pintu apartemen sulli, gadis itu bahkan tak bisa lagi mengangkat wajahnya.

“penggangu… AKU TIDAK MEMESAN PIZZA” teriaknya malas dengan posisi menyender di meja. TING.. TONG… bel tersebut kembali berbunyi. Akhirnya dengan susah payah sulli melangkah menuju pintu, jalan yang sudah tak seimbang sesekali membuat sulli menghantam pelan barang-barang sekitarnya.

“nuguya… aku tidak memesan pizza” sulli membuka pintu dan menatap seorang pria dengan postur sempurna dihadapanya saat ini.

“aku tidak memesan pizza… ah mengapa kau mirip choi minhho” sulli memicingkan mata karena tak bisa melihat dengan jelas, sesekali gadis tersebut tertawa kuat dengan kondisi tak normal. Sementara namja bernama minho tadi menatap sulli cemas, gadis ini sangat suka minum alkohol degan dosis berlebih, dengan cepat ia membawa sulli masuk kedalam.

“hey.. kau benar-benar minho rupanya” sulli menepuk pelan pipi pria bermarga choi tersebut dengan tawa lebar yang mengekspos gigi cantiknya.

“mengapa kau datang kemari eoh… kau ingin melihatku ya” tawa sulli kembali terdengar, minho membopong sulli untuk tidur di ranjangnya. Sesaat mata minho menangkap banyak kaleng soju di meja makan sulli.

“kau tidak boleh mengkonsumsi minuman seperti ini, alkohol yang berlebih tidak baik untuk kesehatan” minho membuka suara dengan tatapan prihatin, sulli benar-benar terlihat bermasalah

“sehat atau tidak… tetap sama, aku hanya choi sulli yang tolol” sulli tersenyum sinis kearah minho. namja itu menatap sendu wajah sulli yang semakin kurus.

“aku akan membuatkanmu susu. Agar alkohol mu bisa netral kembali” minho segera bangkit dari posisinya untuk melangkah kedapur, namun terhalang oleh cengkraman kuat sulli.

“biar saja seperti ini… apa kau mencoba untuk memberiku harapan palsu.. ah jinjah, semua pria tak ada bedanya…. kau pikir kau tampan hah??” sulli mengadahkan kepalanya menantang minho.

“tapi kau memang tampan …” sulli kembali menunduk lesu. Minho masih tak bersuara menatap kondisi gadis dihadapanya ini.

“dan kalau tampan… apa kau harus cari yang sempurna juga,,, ck, bahkan kau sangat mengidolakan wanita judes itu. hey tolong katakan pada kekasihmu itu jangan membuatku cemburu terus menerus… ini sudah hampir memasuki tahun ke 7… dia selalu membuat perasaanku hancur” gumam gadis berkulit putih susu tadi dengan mata terpejam .

“istirahatlah…. kau dalam keadaan mabuk” minho membantu sulli merebahkan tubuhnya, namun sulli menolak dengan melepas tangan minho dari bahu kecilnya.

“sudah kubilang jangan beri aku harapan palsu…”

“harapan palsu apa katamu” tanya minho kesal, sulli tertawa keras dibuatnya

“aku tidak akan mengatakanya, jika aku mengatakan aku menyukaimu nanti kau tau. jadi aku tidak akan mengatakan bahwa aku menyukaimu sejak lama” sulli kembali bergumam tak jelas ia menatap malas wajah tampan minho.

“kau sudah mengatakanya” ucap minho pelan dan berusaha tenang

“ck… ini hanya dalam mimpi jadi tidak masalah” sulli kembali memasang ekspresi aneh.

“mengapa manusia menuntut kesempurnaan dan selalu ingin menjadi no 1…? terutama orang-orang terpandang dan terpuja seperti kau dan si hitam itu… apa kalian fikir kalian hebat hingga yang tidak pintar perlu dikasihani. Kau punya mata…. aku juga punya mata…. kau punya telinga, hidung, rambut, 2 tangan, 2 kaki, aku juga memilikinya… kau diciptakan sebagai manusia, aku juga diciptakan sebagai manusia. Lalu…. apa yang membuat kita berbeda???” sulli melontar lepas semua rasa sedihnya dalam keadaan tak sadar, mendengar itu minho hanya terdiam…

“aku tidak pernah merasa sempurna” jawab minho seadanya

“haha… tapi terlihat seperti itu… kalian hanya menciptakan kalangan berteman dari orang-orang cerdas saja” tukas sulli lagi, ia menatap lekat mata minho dengan kondisi mata setengah terpejam. Pengaruh alkohol membuat tubuh sulli tak terkendali sama sekali.

“ dan untuk cinta…. apa gadis sepertiku ini tidak boleh mencintai?? Hanya sekedar cinta saja…. aku tidak menuntut balasan, karena aku sadar kekurangan menghalangiku untuk berani maju menghadapmu”

“sulli-ah” ucap minho lembut, sulli memerengkan kepalanya menatap minho dengan lekat

“mwo??? sulli-ah?? Kau memanggilku sulli-ah?? Kau sedang ingin membuatku bahagia ya” sulli meraba wajah tampan minho dan menamparnya pelan.

“aku tidak tau sebearapa besar masalahmu, tapi Kau berbeda dari yang ada… kau memiliki apa yang tidak kami punya, kau menikmati hidupmu dengan penuh rasa syukur, tetaplah menjadi sulli yang seperti itu. jangan berubah karena terpaksa… jangan berambisi karena dendam. Semua harus berasal dari dasar hatimu…” sulli terdiam mendengar kata-kata minho, walau ia dalam kondisi mabuk telinganya masih mampu mendengar dengan baik. meski hati dan fikiranya tak lagi terkontrol untuk mengungkapkan secara lepas. Gadis bermarga choi tersebut pun menjatuhkan airmatanya… ia menatap wajah minho yang terlihat tenang . Wajah malaikat dalam surga sulli yang senantiasa menghantui hati dan fikiranya, wajah yang sekaligus ia benci karena terlalu memikat hati seorang wanita. Sesaat setelah itu minho membaringkan sulli dengan hati hati. Gadis bermarga choi tersebut tak lagi beri perlawanan, namun ia tetap bergumam tak jelas…

“aku tau kau dalam keadaan tak baik, itu yang membawaku datang kemari” ucap minho dalam hati. ia membetuli posisi selimut sulli agar gadis cantik tersebut bisa mendapat kenyamanan dalam tidur malamnya. Kemudian Minho bangkit untuk memberesi meja makan yang penuh sampah minuman alkohol.

“minho-ya,,, ” gumam sulli tak jelas sambil menggenggam tangan lelaki tampan tadi.

“jangan pergi dari mimpiku ….” lanjut nya semakin samar, lama-kelamaan cengkraman sulli semakin longgar dan lepas begitu saja. minho duduk kembali dipinggir tempat tidur sulli sembari menepuk-nepuk halus tangan kecilnya

….

Hingga pagi menjelang, sulli mendapati dirinya berada diatas ranjang dengan posisi nyaman. Kepalanya sangat pusing, tapi ia bisa mengingat jelas apa yang terjadi semalam, tapi ia tak ingat bahwa minho benar-benar datang.

“mimpi yang indah…” ucapnya tersenyum malu. Tak lama setelah itu sulli bangkit dari tempat tidur dengan susah payah, pengaruh alkohol masih membekas di kepalanya. Gadis tersebut hendak meneguk segelas air putih dengan menuju kedapur. Tapi sesuatu membuatnya bingung dengan keadaan meja makan yang telah terisi segelas susu panas, bersamaan 1 mangkuk sup yang masih mengeluarkan asap tipis.

“mwo e??” tanya sulli bingung sambil melangkah menuju meja makan itu

“siapa yang memasaknya” lanjutnya lagi. ini benar-benar membingungkan, gadis lucu itu tampak berfikir keras namun tak menemukan jawaban apapaun

“ah mungkin dewa mengirimkanya untuku…” sulli tak mau ambil pusing dan langsung mengambil posisi paling nyaman di kursi makanya.

###

“tekanan darahnya 90/60, denyut nadi 110… dia jatuh dari besi putar taman bermain” ucap sejumlah perawat dan petugas rumah sakit saat membawa anak berusia 8 tahun masuk ke unit gawat darurat dengan keadaan penuh darah. Seluruh tim dokter berlari menghampiri ambulan yang baru tiba itu. Mereka bergerak cekatan… krystal segera memasang infus dilengan kiri anak kecil tadi, sementara para perawat mempersiapkan alat-alat yang akan dibutuhkan untuk menanganinya.

“bertahan lah … kami akan membuat mu lebih baik” ucap kai menenangkan

“kita harus memberinya pereda nyeri dulu, tolong 10 gram demerol” perintah minho cekatan yang langsung dipatuhi. Krystal membersihkan darah pada luka bagian pinggang anak kecil tersebut dengan hati-hati.

“tampaknya lenganya patah, tidak hanya pinggulnya yang terluka” kai menggenggam siku anak kecil tersebut yang langsung disambut teriakan keras.

“patah??” ucap krystal

“sepertinya ada memar disebelah kanan tulang bahu dan sikunya tertarik” ucap minho melihat lengan yang dimaksud kai tadi. ia memeriksa teliti apa sebenarnya yang terjadi

“tidak ada kerusakan pada vertebra atau vertebra cervicalis, tapi tampaknya dia mengalami keretakan pergelangan tangan dan keretakan kaki juga” lanjut lelaki yang telah menyandang gelar spesialis bedah saraf tersebut.

“jika tulang sendinya bergeser kita harus membenarkanya sesegera mungkin, lalu periksa dengan sinar X” tukas kai kembali, minho mengangguk setuju.

“periksa jaringan lunaknya kita perlu sinar X untuk kedua sisinya juga kan” tanya krystal serius

“benar… ambil gambar pada bagian pinggulnya juga, periksa apakah ada kerusakan syaraf pada pembuluh darah. Jika darah menembus kedalam, itu bisa menyebabkan penyakit otot. pasang defriblator untuk mengetahui denyut jantungnya” intruksi minho cepat. Mereka pun segera mengambil tugas masing-masing dengan sigap dan cekatan. Sangat terlihat bagaimana mereka menyusun tim profesional untuk memberikan yang terbaik terhadap pasien.

###

Sulli tengah menikmati secangkir coklat panas bersama jiyoung di sebuah kafe terdekat dari jiynginie fashion, mereka tampak menikmati setiap alunan musik santai yang menjadi pengiring di kafe minimalis tersebut.

“akhir-akhir ini kau lebih sering termenung. Apakah ada masalah??” tanya jiyoung pada sahabat dekatnya itu, sulli menghela nafas panjang.

“ani… aku hanya kelelahan saja” jiyoung menatap sulli curiga

“kau pikir aku bodoh… aku sudah lama mengenalmu” sautnya kesal

“youngie-ah… apa yang kulakukan sekarang ini salah??” sulli bertanya.

“maksudmu…??” gadis bermarga kang itu tak mengerti… sulli menghirup oksigen dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.

“salah jika aku tidak pulang kerumah walau sementara waktu…” sekarang terlihat jiyoung meneguk secangkir coklat panasnya dengan hati-hati. Kemudian ia menatap lekat bola mata sulli.

“kau ingin jawaban jujur atau bohong” tanya nya yang membuat sulli berdecak kesal.

“tentu saja yang jujur… dasar pabo” jiyoung tertawa mengejek dan semakin membuat sulli jengkel.

“menurutku itu salah… karena pada faktanya kau sudah 7 tahun tidak kembali. Ah aku tak tau mesti memujimu karena bisa mandiri, atau mencela mu karena durhaka. Apa yang kau cari di amerika… apakah ada seseorang yang kau sukai disana” tanya jiyoung dengan nada berbisik, sulli melemparkan tatapan tajam. Namun ia kembali terdiam tanpa komentar, fikiranya mulai bekerja cepat mengatasi jera dan bimbang yang melekat jelas dalam hatinya.

“oh ya… kau tidak bertemu kai tempo lalu kan??” lanjut jiyoung lagi, sulli mendelik sekilas.

“aku bertemu denganya… dan dia sangat marah padaku”

“MWO???? yaaa kau serius… jinja” sulli mengangguk malas.

“sejak kapan aku berbohong…. hhh kurasa aku memang harus pulang kerumah” hela sulli lagi.

“bagaimana mungkin kau bertemu kai… dan mengapa kau baru memberi tauku??” serang wanita berlesum pipi itu.

“untuk apa… memikirkanya saja otaku seperti akan pecah,,, sebentar lagi akan tercatat pada stasiun televisi seorang gadis muda mati sia-sia karena depresi” jiyoung tertawa keras mendengar ucapan sulli yang lebih terkesan drama queen tersebut.

“berhentilah mengeluh… bukankah pasangan telur tak mengenal kata jera dalam hidupnya. Bayangkan saja sampai detik ini cinta kita tetap pada orang yang sama. aku tau kau masih mencintai minho… hanya saja kau malu mengakui itu… percayakan pada waktu dan usaha. Semua akan berakhir indah pada waktunya… dengan proses yang panjang untuk kebahagian jangka panjang juga. Bukankah hidup memang tidak mudah” ucap jiyoung memberi arahan kepada sulli, ia terlihat sangat dewasa berbicara seperti itu. sementara lawan bicara malah menatapnya takjub…

“kalau tak salah yang tertusuk pisau itu perutmu,… bukan kepala mu. bagaimana mungkin kau bisa bijak seperti tadi” jiyoung segera mengerucutkan bibir kesal yang mengundang sorak menang riuh dari sulli. tapi itu tak lama, setelah kejadian yang cukup tegang sekarang keduanya tampak tertawa keras dengan cerita konyol dan khayalan maut yang amat sangat luar biasa. Tak memperdulikan lirikan aneh para pengunjung lain yang merasa terganggu karena kehebohan mereka…

……

Minho berjalan ragu di apartemenya, ah bukan. Saat ini dia berada di depan apartemen lain yang bukan miliknya, tapi milik sulli. namja tampan tersebut tampak kikuk dan merasa aneh dengan tindakan konyolnya saat ini, tapi nalurinya memaksa ia untuk melakukan itu.

Setelah berada tepat di depan pintu apartemen sulli, minho menempelkan sebuah kertas kecil berukuran panjang dengan magnet berwarna putih, yang diatasnya terdapat notes kecil bertulis pesan singkat “datanglah ke taman apartement besok pukul 09:00 a.m” setelah itu minho bergegas cepat menuju lift dengan kondisi hati tak karuan. Ia malu pada dirinya sendiri yang tak berani berbicara langsung pada orang yang dimaksud. Minho segera masuk ke kamarnya sambil menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.

“apa aku konyol…??” tanyanya pada diri sendiri kemudian menggeleng cepat. Minho tampak berfikir beberapa saat sebelum akhirnya berlari kembali lagi kelantai 8 untuk melepas kertas yang ditempelnya tadi. ia berfikir imejnya akan hancur melakukan tindakan memalukan seperti itu. setelah keluar dari lift namja bermarga choi tersebut segera menuju kamar sulli. namun langkahnya terhenti dengan irama jantung yang berdebar hebat. Sulli sedang membaca notes kecil itu sambil mengerenyit bingung dan menoleh kekanan kiri… karena terlanjur… minhopun kembali turun kelantai sebelumnya dengan hati ragu.

###

Pagi ini cuaca sangat bersahabat, awan tampak menari seperti tirai kapas putih yang memperlihatkan warna biru terang di atas sana. Seoul berjalan seperti biasa, penuh dengan orang yang sibuk beraktivitas setiap harinya. Begitupun lalu lintas yang selalu penuh kendaraan 24 jam. Kendati udara di kota besar ini masih terjamin kebersihanya. Di sebuah taman halaman apartement wilayah pusat kota, tampak seorang gadis dengan pakaian santai namun tetap formal tengah menunggu seseorang. Tangan kanan nya memegang sebuah dompet dan i-phone. ia menggunakan kemeja polkadot hitam putih besar yang tak sepenuhnya terkancing, sebab dilapisi tanktop bewarna putih, diselingi rok hitam panjang berbahan jatuh dengan sepatu pancus tanpa tumit bewarna hitam pula. Rambutnya digerai biasa, dengan sebuah jepit berbetuk pita kecil menambah manis penampilanya… gadis itu adalah sulli, ia menoleh kekanan dan kiri sambil melihat kertas tiket taman bermain yang semalam didapati pada pintu apartementya.

“apa yang kau lakukan disini???” sebuah suara berat mengejutkan sulli, ia segera menoleh kesumber suara dan setelahnya tersenyum penuh keramahan.

“oh… minho-shi …. hai apa yang kau lakukan disini !!!” tanya sulli lagi. minho berdecak kecil. Namja tampan itu juga tak terlihat berpakaian resmi, ia hanya menggunakan celana denim dengan kaos hitam pas badan dan sepatu putih.

“pertanyaan itu yang seharusnya kau jawab” ucapnya berusaha tenang dan tetap cool. Sulli menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

“oh… mmm ini, seseorang mengajaku bertemu. Dia menempelkan tiket lotte world di pintu apartement ku dengan pesan singkat agar aku menunggu disini. Tapi orang itu tidak datang-datang” sulli mengerucutkan bibir, minho menelan ludah sejenak. Dalam hati ia bersyukur tak dicurigai.

“kau tau siapa pengirimnya??” minho bertanya. Dengan cepat sulli menggeleng.

“ck…. mungkin dia tidak akan datang, atau sedang mengerjaimu” lanjut minho lagi.

“apa begitu??” ungkap sulli polos, minho mengangguk yakin dengan wajah serius. Sulli mendesah kesal.

“aku fikir dia orang baru yang ingin diajak berteman… jadi aku menurutinya. Karena seseorang yang

suka mengabaikan pesan singkat dari orang lain itu sangat tidak sopan, dalam kata lain sombong” minho mendelik kesal menatap sulli.

“kau menyindirku???” tanya minho sakratis. Sulli mengerenyit bingung

“mwo???” minho menjadi salah tingkah dibuatnya, ia segera mengalihkan perhatian dengan berpura melihat jam.

“ah… sudah waktunya aku pergi”

“kau akan pergi kemana” sulli terlihat sungguh ingin tau.

“lotte world” jawab minho singkat, gadis berparas cantik itu membulatkan mata sempurna. namun seketika ia mendesah pelan dengan wajah lesu.

“ah ara… kau pasti ingin berkencan dengan krystal hari ini… baiklah selamat bersenang-senang. Aku juga akan pergi belanja ke dapartement store terdekat, sepertinya pemilik tiket ini benar-benar tak datang…” sulli tersenyum simpul. setelah itu membalikan badan dengan wajah cemburu.

“aku pergi sendiri” minho berkata sedikit keras, dan hal itu sukses memberhentikan langkah sulli. ia membalikan badan.

“sendiri???” tanya nya tak percaya. Minho mengangguk pasti

“jika kau mau… ayo pergi bersama. Itu juga jika kau mau” minho masih saja mempertahankan rasa gengsinya yang begitu besar dihadapan sulli. gadis bermarga choi tersebut bersorak dalam hati.

“jinjah???” tanya nya masih tak percaya, minho menganggukan kepala singkat.

“tapi aku…” belum selesai sulli berbicara minho segera memotong “baiklah jika kau tak mau aku tidak,,,,”

“AKU MAU” sulli berlari menghampiri minho dengan senyum mengembang sempurna hingga melipat matanya seperti senyum bulan sabit….

“kajjah…” sulli menggenggam tangan besar minho dengan pedenya. Namja tampan tersebut tentu saja terkejut, dan sadar akan tindakan yang begitu berani sulli segera melepas tautan itu dengan senyum malu. Mereka melangkah menuju mobil minho yang terparkir tak jauh. Dalam perjalanan pria bernama minho tadi menghela nafas lega karena bisa membuat sulli tak mencurigainya.

“mengapa kau ingin kelotte world” tanya sulli ketika mereka berada dalam perjalanan

“hanya ingin saja” jawab minho singkat. Tentu saja jawaban tersebut tak membuat sulli puas. Karena takut salah tingkah akibat terlalu grogi, sulli memilih diam dengan menatap lurus kejalan. Begitu pula minho, sejak mengendarai ia tak mengeluarkan sepatah kata sekalipun untuk memulai pembicaraan.

###

“kai oppa… mengapa minho oppa belum datang” krystal melirik jam tanganya dengan wajah kesal.

“tadi dia menghubungiku… hari ini ia ada keperluan mendadak. Katanya nomormu tak aktif” krystal menepuk kepalanya pelan. Ia baru sadar handphonenya belum diaktifakan sejak tadi malam karena kehabisan batrai.

“permisi dr.choi… ada seseorang yang ingin menemui anda” ujar salah 1 perawat dirumah sakit tersebut.

“nugu??? ”

“pasien yang menginap di vip minggu lalu” kai segera bergerak cepat. Ia melangkah keluar dengan langkah bijaksana. Melihat keadaan itu krystal mengerenyit bingung.

“anyeong haseyo….” jiyoung membungkukan badan 90 derajat dan kai membalasnya.

“anyeong… kenapa?? Apakah ada masalah pada luka mu??” kai bertanya cepat, dengan segera jiyoung menggeleng.

“ah … b-bukan. Aku hanya ingin mengantar ini…” jiyoung menyerahkan sebuah tas kotak berwarna merah.

“makan siang… sebagai ucapan terimakasih” lanjut wanita bermarga kang itu dengan malu-malu. Kai menerimanya canggung

“dan ini… aku sengaja membuatnya untuk kai-shi” jiyoung menyerahkan 1 buah tas kotak berwarna hitam yang terdapat tulisan merek tokonya.

“semoga kai-shi suka… dan mau menggunakanya saat hadir pada pesta ulang tahun toko ku di lotte hotel. Undanganya ada didalam tas itu” ucap jiyoung lagi. kai menelan ludah beberapa kali. Ia masih ingat kejadian jas dokter yang membuatnya harus mengalami pengobatan selama 1 minggu akibat alergi, dan jas itu berasal dari toko jiyoung.

“kau sangat berlebihan… sebenarnya aku tulus membantu. Dan yang seharusnya mengucapkan terimakasih adalah aku” ungkap kai, jiyoung tertawa kecil.

“tidak,,, !!! aku yang seharusnya berterima kasih… aku harap kai-shi mau menerimanya” karena merasa tak enak hati kai menerima 2 tas itu dengan ragu, ia tersenyum simpul kearah jiyoung sontak saja hal itu nyaris membuat wanita dihadapanya roboh terkesima…

“hanya itu saja… emmm selamat makan siang kai-shi. Aku akan pergi… karena masih ada urusan yang harus diselesaikan” ucap jiyoung lagi, kai mengangguk pasti. Tak lama sesudahnya jiyoung membalikan badan menuju pintu keluar. Ia menghela nafas panjang, lega rasanya bisa bernafas normal kembali.

“tunggu…” cegah kai yang membuat langkah jiyoung terhenti.

“mulai sekarang jangan bersikap terlalu formal padaku. Panggil aku kai, tanpa penamabahan shi. Arachi??” ucap namja tampan tersebut dengan senyum dinginya. Seketika jiyoung menelan ludah gugup, ia ingin sekali teriak sekuat kuatnya hari itu.

“ara… aku pergi” lanjut jiyoung lagi dan segera berbalik menyusun langkah cepat. Dalam hati ia berfikir jika lama-lama ditempat itu, roh nya akan benar-benar hilang.

###

“uwahhhhh…. jinjahhh daebakida….” sulli berlari mendahului minho saat mereka memasuki taman bermain yang sangat terkenal dikorea selatan itu. banyak sekali terdapat permainan-permainan yang menguji adrenalin manusia.

“minho-ya … aku menantangmu untuk naik rooler coaster itu” minho mendelik menatap sulli. gadis itu tidak lagi memanggilnya dengan bahasa formal, ada sedikit perasaan senang dalam hatinya.

“denganmu…” tukas minho mantap, sulli menelan ludah gugup. Ia terlihat salah tingkah sekarang

“wae?? kau takut??” tanya namja bermarga choi itu lagi. dengan cepat sulli menggeleng

“aniya… siapa takut. Kajjah…” ia menarik kuat tangan minho, sulli tidak tau pria yang ditariknya itu tengah tersenyum manis dengan pandangan mengejek.

“kuharap kau tak pingsan…” kata minho setelah mereka siap meluncur dan telah mendapat pengamanan dari sabuk pelindung. Setelah rooler coaster itu penuh, rodanya segera bergerak perlahan. Dalam awal permainan saja sulli telah menahan nafas, ia memicingkan mata tak berani menatap kedepan. Sadar akan hal yang terjadi disebelahnya minho menahan tawa lucu, ia menggenggam jemari sulli yang telah memutih karena pucat.

“ini hanya permainan” ucap minho singkat, dengan nada berat dan sangat terkesan pria tampan yang memiliki daya tarik tinggi. Bukanya tenang, aliran darah pada tubuh sulli semakin mengalir cepat. Bagaimana tidak, tanganya tengah digenggam erat oleh sang pujaan hati. Dalam sekejap rooler coaster itu meluncur cepat… dan teriakan sulli lah yang paling keras terdengar, hingga membuat telinga minho tuli beberapa saat.

“aku bersumpah tidak akan menaiki nya lagi” sulli menarik nafas kuat dengan perasaan yang masih berdebar hebat akibat putaran maut tadi. minho memberinya 1 botol air mineral.

“minumlah dulu…” sulli menatap botol mineral itu, kemudian melihat sang empunya dengan pipi merona. Yang ditatap tengah melihat ke arah lain, ya tuhan aku semakin jatuh cinta saja, begitulah kira-kira isi hati sulli.

“mmmhhh minho ya… jika naik magicland itu aku tidak takut”

“itu wahana untuk anak-anak” minho berterus terang.

“aku juga ingin wahan dewasa, tapi apa???” sulli pura-pura berfikir. Ia tidak ingin terlihat bodoh didepan minho.

“rumah hantu”

“MWOOO????….” sulli membuka mulutnya tak percaya. Minho melihat santai

“kenapa???”

“ani… aku tidak mau kerumah hantu itu jinjah”

“kau tau cara menghilangkan phobia adalah dengan menghadapinya langsung” minho memberi penjelasan. Sulli menatap ragu

“aku tau tapi aku tidak berani…”

“aku tidak akan meninggalkanmu seperti kakakmu itu… jadi jangan takut”

“ani… aku tetap tak mau” tolak sulli hampir menangis, karena tak tega akhirnya minho mengalah. Ia meninggalkan sulli sendiri ditempat tersebut.

“ya,…. minho-ya kau akan kemana??” teriak gadis cantik bernama sulli tadi.

“jangan bergerak dari tempat itu aku akan kembali” minho memberi penekanan dan menghilang ditengah kerumunan orang. Sulli berdecak kesal, apa mungkin minho akan meninggalkan ia pergi dan membiarkanya pulang sendiri? apa minho sejahat itu? apa minho sedang mempermainkan peraasaanya? Apa minhoo adalah bangsa lelaki yang suka bermain dengan wanita? Fikiran negativ sulli mulai mendemo otak dan hatinya. Ia menggigit bibirnya ragu dan berusaha menunggu ditempat ramai tersebut…

“untukmu…” sebuah gulali besar berada dihadapan sulli sekarang.

“minho-ya?? kau masih kembali??” sulli tersenyum senang dengan mata berbinar

“menurutmu aku meninggalkanmu sendiri disini??? ” namja tampan tersebut melahap gulali ditanganya dengan lahap. Dalam keadaan begitu, minho tidak seperti dokter. Ia bagai anak kecil yang baru saja mendapat hadiah gula-gula karena 1 permainan seru.

“TOLONG…TOLONG … siapa saja tolong” sebuah suara mengalihkan perhatian banyak orang, dibawah biang lala tampak kerumunan yang ramai oleh pengunjung. Minho dan sulli segera berlari ketempat tersebut.

“apa yang terjadi???” tanya sulli penasaran

“seorang lelaki jatuh dari biang lala dan terluka. Sepertinya parah” mendengar penjelasan tersebut minho berusaha masuk dengan berhimpit himpitan, ia juga menarik tangan wanita yang sejak tadi bersamanya agar tak celaka di keramaian yang penuh sesak itu. dan sekarang mereka bisa melihat jelas seorang lelaki remaja terkapar dengan darah disekitar kepala dan bahunya.

“dia tidak sadarkan diri…” ucap minho menghampiri orang tersebut

“tolong teman kami… tolong selamatkan teman kami” mohon beberapa anak muda yang juga berada ditempat sambil menangis. Sepertinya yang mengalami kecelakaan ini adalah sahabat mereka.

“aku akan mengambil kotak P3K… tetaplah disini” minho berlari meninggalkan tempat tersebut, sulli menatap kepergian minho dengan ragu. Setelah itu pandanganya beralih kepada anak remaja yang celaka tadi. ia tampak berfikir beberapa saat… seperti ada kebingungan dalam hatinya. Dengan perasaan setengah berani sulli memeriksa keadaan korban tersebut. ia menarik nafas dalam-dalam membuka mata anak tadi dengan hati-hati…

“reflek pupil baik-baik saja” batin sulli dalam hati ia memeriksa dengan menempelkan 2 jari pada dada korban sambil memejamkan mata… seolah bisa menerawang, seolah tanganya tersebut adalah stetoskop.

“eothokaji… aku tidak mendengar nafas dari paru-paru sebelah kiri. Mengapa minho lama sekali” sulli segera bergegas menoleh kanan dan kiri.

“apakah tidak ada yang memanggil petugas keamanan. Ini sangat darurat” teriak sulli panik. Orang-orang ditempat itu saling menatap dengan wajah bingung, sekelompok teman dari korban yang tak sadarkan diri itu juga semakin terlihat ketakutan. Dan beruntung…. saat itu juga 2 orang petugas datang membawa peralatan medis.

“berikan aku alat intubusi…” perintah sulli cepat, petugas itu pun segera membongkar alat-alat yang di bawanya segera. Sulli membuka mulut anak itu dan memasukan alat tersebut guna memancing pernafasan.

“pasang infusnya sekarang,,,, palli palli…” petugas tersebut mengambil beberapa selang infus dan memasangnya cepat. Semantara gadis bermarga choi tadi mulai memasang alat pendeteksi jantung dan denyut nadi.

“tekanan darah 80/90… denyut nadi 110. Bagaimana ini… ambulan masih berada diperjalanan” ucap salah 1 petugas. sulli segera berfikir cepat. Ia mengambil stetoskop dan memeriksa kembali pasien tersebut.

“diduga ada pendarahan sekitar paru-paru nya. Kita harus menghisapnya cepat atau nyawanya tak dapat diselamatkan. Siapkan alat penghisap dan pisau bedah no 11…” sulli segera memasang sarung tanganya cepat.

“kau yakin nona… bagaimana jika pendarahanya semakin besar” ungkap seorag petugas ragu

“kita tak punya banyak waktu….” sulli segera memberi alkohol pada bagian dada bersama obat

merah. Ia menarik nafas perlahan sembari mengarahkan pisau tersebut dalam 1 sayatan sulli berhasil membedahnya.

“konsentrasi oksigen menurun menjadi 85… bagaimana ini” petugas tadi terlihat semakin panik

“berikan alat penghisap… hisap. Cepat apa yang kau tunggu…” sulli membentak marah, karena tak tau harus berbuat apa petugas tersebut segera menghisap darah yang keluar cukup banyak. Sementara sulli memasukan 1 selang kedalam untuk disalurkan dengan alat intubusi.

“eoh… pernafasanya kembali normal tekanan darahnya meningkat dan konsentrasi oksigen menjadi 98,,,,” sulli menarik nafas lega. Ia memasang beberapa perban untuk menutupi luka bedahnya. Tepat pada saat itu sebuah ambulan datang menghampiri mereka. Anak tersebut segera dilarikan kerumah sakit untuk mendapat perawatan intensif.

“jeongmal ghamsamida… kami akan mengingat jasa berhargamu ini ghamsamida” ucap beberapa teman korban tadi. sulli hanya membalas dengan senyuman, sejumlah pujian dapat ia dengar dari orang-orang setempat, tapi sulli tak ingin tinggi hati. Baginya,,, apa yang ia lakukan tadi hanya sebuah pertolongan semata.

“apa kau juga seorang dokter…” DEGGG… jantung sulli seakan berhenti berdetak, ia lupa pergi ketempat ini dengan minho. dan sekarang pria tampan itu ada dihadapanya. Apa minho melihat tindakan yang dilakukan sulli sejak tadi?? seketika jantung sulli berhenti berdetak…

-TBC- to part 7-

(udah pulang belom SHINee??? Gilaaaa galau akut saya. Sengaja ngepostnya sekarang. kan SWC tanggal 22 kemaren katanya ya… huhuhuh T^T , ngomong2 ini mau tamat sampai chapter berapa chingudeul. Jujur saya sudah lelah … mampet gitu kalau mau ngetik…. saya usahakan tamat secepatnya deh, jadi tinggalkan jejak yaaaaa ghamshamida