The Next Bloodline [Chapter 3]

mahogany4-2-copy

The Next Bloodline

Author: Mahogany4 (@ItsMahogany4)

Translater: Maria2509

Length: Sequel

Genre: Fantasy, Romance

Rate: PG-15 Continue reading

Advertisements

A Mysterious Man (Lelaki Misterius) [Part.13]

poster-a-mysterious-man

Poster by Xilvermist

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,

Support Cast : Lee Taemin, Lee Jonghyun, Lee Jinki, Kim Kibum, Amber Liu, Park Luna, Victoria Song, Krystal Jung, Kim Jongin, Kris Wu, Kim Hee Chul, Lee Tae Sun, Lee Soo Man

Author : Dina Matahari

Genre :  Misteri, Roman

Length : Chapter

  Rating : General

Lelaki Misterius Part.13

“BE STRONG, CHOI MINHO !!”

Tiba-tiba matanya melihat sebuah siluet di hadapannya, seperti seorang yang duduk di pasir. Sulli mendekat… benar dugaannya, itu adalah Choi Minho. Dia duduk di pasir, sepertinya tak mempedulikan air laut yang mulai pasang telah mencapai tempatnya terdiam. Semakin mendekat, Sulli semakin jelas melihat bahwa bajunya basah… mungkin karena kehujanan. Dan ia mendengar suara tawa….

Apakah benar yang didengarnya ? Choi Minho tertawa ?? Tetapi suara tawanya terdengar aneh di telinga Sulli. Apakah karena ia baru pertama kali mendengar lelaki itu tertawa, sehingga ia merasa janggal ?

Langkahnya terhenti tepat di sisinya. Di saat itu Choi Minho pun menghentikan tawanya. Sulli yakin, lelaki itu mengetahui kehadirannya… tetapi ia melihatnya tak bergerak sama sekali. Perlahan ia berjongkok di sisinya, mencoba melindunginya dari terpaan air hujan dengan payungnya.

“Tn. Choi…” katanya lembut

“ AKu tidak pernah menyentuhnya…..” suaranya yang serak menyentuh ke dasar hati Sulli.

“ Aku tidak pernah menyentuh Jinri….”

Tanpa dapat dicegahnya, air mata Sulli keluar. Bayangan seorang laki-laki tinggi, tegap, angkuh, dan keras…. lenyap. Yang dilihatnya sekarang sangatlah berbeda. Dan ia merasa tak sanggup melihat itu semua. Dorongan hatinya membuatnya mendekat, kemudian memeluk laki-laki itu.

“ Aku tahu… aku tahu…” katanya saat merasakan kepala Choi Minho rebah di bahunya.

Sulli semakin tak bisa menahan air matanya. Dia basah dan dingin. Tetapi air matanya terasa hangat menembus bajunya, mengenai kulitnya. Dan menangis dalam pelukannya. Tubuhnya lemas dan terasa berat…. semakin berat. Sulli merasa kalau lelaki itu tertumpu padanya. Apakah dia…..

“ Tn. Choi !!” Sulli berusaha mengguncang badannya, tetapi laki-laki itu tidak bergeming.

“ Tn. Choi !!”

Sulli menjatuhkan payungnya, ia berusaha menegakkan tubuhnya. Dan tanpa perlawanan apa-apa, tubuhnya terkulai. Tumbang di dekat lututnya.

Omo.. omo… dia pingsan !

Sulli mulai panik. Tangannya menepuk-nepuk pipi lelaki itu, tetapi ia tidak bereaksi. Menyadari itu, ia mengeluarkan ponselnya.

“ Eonni… Tn. Choi pingsan di tepi pantai. Arah timur dari kafe eonni. Cepatlah datang disini air laut mulai menggenang, dan hujan makin deras.”

Sulli menutup telepon, dan memasukkan kembali ke jaketnya. Kemudian ia duduk di pasir, berusaha menggerakkan posisi badan Choi Minho supaya kepalanya tidak terendam air laut yang mulai menggenang di sekitar mereka. Setelah itu, ia meraih payung dan berusaha melindungi tubuh mereka dari terpaan hujan yang mulai deras.

Dalam gelap malam, dan terpaan air hujan Sulli menatap wajah Choi Minho yang terpejam di tangannya. Wajah yang tampan dan seperti wajah anak-anak saat tertidur seperti ini.

Sulli menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Berapa lama ia telah mengenal lelaki ini ? Seminggu ?? Mengapa dalam seminggu ia merasa begitu nyaman saat bersamanya ? Mengapa ia merasa aman saat dipelukannya ? Mengapa ia tidak menyesal telah berbagi sebuah ciuman dengannya ? Jawabannya hanya satu… karena ia telah jatuh hati kepadanya. Kepada seorang lelaki yang benar-benar masih berupa misteri baginya.

Bagaimana mungkin ? Bagaimana bisa ? Dirinya bukan tipe orang yang dengan mudah jatuh cinta kepada seseorang . Sulli tak memiliki jawaban untuk pertanyaan tersebut. Melihatnya dalam keadaan begini, membuat cintanya semakin tumbuh. Ia mulai mendekap wajah Minho ke pelukannya. Ingin memberikan kehangatan dan support seperti yang pernah dijanjikannya.

“ Kuatkanlah dirimu , Tn. Choi…  !!” katanya di telinga lelaki itu.

Dan Sulli tertegun, saat melihat ada air keluar dari matanya yang terpejam. Tanpa terasa ia kembali menangis, terbawa perasaannya.

Kafe Amber , 3 jam kemudian

Amber dan Key saling berpandangan, melihat pemandangan di depan mereka. Choi Minho terbaring di ranjang Amber, sementara Choi Sulli tertidur di sisi ranjang, dengan posisi duduk di kursi. Tangan mereka saling menggenggam.

“Mereka pasangan yang serasi…” komentar Key.

“Ya, Key oppa… itulah yang kupikirkan. Seandainya mereka memang berjodoh…”

“ Choi Minho pantas mendapatkan kebahagiaan setelah begitu banyak masalah menimpanya.”

Kata Key setengah berbisik.

“Begitu juga dengan Sulli.”

“Hey kalian sedang apa ??” tiba-tiba Victoria mengejutkannya.

“ Lihatlah Vic ! Mereka tampak sangat manis bukan ?” kata Amber sambil menunjuk Choi Minho dan Sulli yang sama-sama tertidur.

Victoria tersenyum diam-diam, ia setuju dengan apa yang dikatakan sahabatnya.

“ Kau benar, tetapi marilah kita tinggal mereka untuk istirahat. Ini sudah malam, kalian harus tidur juga.”

“ Ya umma… cerewet !”

Amber menggerutu, tetapi ia menurut dan keluar dari kamar tersebut.


Setelah menjemput Sulli dan Choi Minho, mereka memutuskan untuk membawanya ke rumah Amber, mengingat tempatnya lebih dekat. Bukan itu saja, kemudian Key memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Minho yang masih pingsan. Menurut dokter, Minho jatuh pingsan karena kelelahan dan kondisi tubuhnya yang lemah saja.

Amber’s Bedroom

Sulli alis matanya bergerak-gerak, kemudian ia merasa seseorang memegangi tangannya. Pegangannya hangat dan membuatnya merasa nyaman. Dan ia merasakan kehangatan menyelimuti hatinya ketika melihat pemandangan di hadapannya.

Seorang wanita muda yang cantik melihat seorang bocah laki-laki yang sedang belajar menaiki sepeda. Dengan penuh rasa percaya diri bocah laki-laki itu mengayuh pedal sepeda. Tiba-tiba ia kehilangan kendali, dan sepedanya menubruk semak-semak. Bocah laki-laki itu tersungkur jatuh. Ia menangis sambil memijat-mijat lututnya yang berdarah. Wanita muda itu berlari ke arahnya dengan wajah cemas.

“Omo! Omo !…gwencana ??” serunya.

Wanita itu duduk di sisi bocah lelaki yang masih menangis.

“Shht…berhentilah menangis, sayang … Anak lelaki yang kuat tidak menangis. Coba umma lihat lukanya….” Kata wanita itu dengan lembut, kemudian tangannya menghapus air mata bocah itu. Dan dengan sangat hati-hati ia memeriksa luka di lututnya. Ia mengeluarkan sebuah plester dari tasnya, kemudian menempelkan plester itu di atas luka.

“Lihatlah… lukanya sudah sembuh ! Kau masih mau main, sayang?”

“ Ne, umma !” jawab bocah itu dengan tersenyum.

“Baiklah, tetapi kau tidak boleh menangis lagi. Jadilah laki-laki yang kuat,  Choi Minho…!!” wanita itu menggodanya.

“ Ne. Saya akan menjadi laki-laki yang kuat buat umma !’

Sulli membuka matanya saat dia merasakan suatu sentakan di tangannya. Sejenak ia bingung dengan apa yang dilihatnya. Ia tadi merasa ada di taman bermain, tetapi sekarang ada di sebuah kamar yang didominasi warna hijau cerah. Ia berusaha mengingat…

“Oh…ini kamar Amber. Dan aku di sini karena….”

Mata Sulli benar-benar terbuka saat mengingat ia ada di sana karena Choi Minho yang pingsan di pantai. Saat ia mengangkat kepalanya, matanya bertemu dengan tatapan Choi Minho yang terbelalak. Rupanya laki-laki itu telah tersadar dari pingsannya.

Sulli perlahan melepaskan tangannya dari genggaman Choi Minho.

“Akhirnya kau sudah sadar, Tn. Choi …” katanya sambil berusaha tersenyum.

Choi Minho berusaha bangun, tetapi ia merasakan kepalanya pusing… sehingga ia kembali membaringkan kepalanya ke atas bantal.

“ Apa yang terjadi ? Dimana saya ??” tanyanya kebingungan.

Ya, Minho bingung karena tidak mengenali ruangan tempatnya terbaring. Ia bingung mengapa harus ada di situ dengan Sulli yang ada di sampingnya. Ia juga bingung karena beberapa saat yang lalu ia seperti melihat ibunya. Perlahan ia mulai menyadari bahwa apa yang dilihatnya hanyalah sebuah mimpi. Ya, ia telah bermimpi tentang masa kecilnya.

“Kau telah pingsan di pinggir pantai, Tn.Choi. Key Oppa dan beberapa pegawai eonni yang membawa anda ke sini. Ini rumah Amber eonni. Kami telah memberi tahu detektif Kim, tetapi karena hujan yang cukup lebat ia tidak bisa datang. Mungkin besok pagi ia baru datang.” Sulli menjelaskan.

“ Berapa lama saya pingsan ?”

Sulli melihat jam dinding,” sekitar 7 jam. Sekarang sudah lewat tengah malam. Bagaimana perasaan anda sekarang ?”

“ Sedikit pusing.”

“ Mungkin karena anda belum makan dari siang kemarin. Dokter yang memeriksa anda mengatakan bahwa anda tidak apa-apa, hanya kelelahan saja.”

Suli berdiri dari duduknya.

“Sekarang saya akan membawakan bubur buat anda. Kami tadi membuatnya untuk persiapan apabila anda sadar. “

Ia kemudian meninggalkan Choi Minho.

Sulli Pov.

Aku memasuki ruang tengah, kulihat Key oppa tertidur di kursi dengan selimut yang menutupi seluruh badannya sampai ke leher. Ia tidur dengan mendengkur. Aku tak kuat menahan rasa geliku melihatnya.

Aku melangkah ke kamar Krystal… dan hampir tak bisa menahan tawaku melihat sahabat-sahabatku tertidur diatas 2 ranjang yang didempetkan. Amber eonni memeluk Krystal, Luna eonni tidur telungkup, dan Victoria eonni tidur dengan tangan yang terletak di kepala Luna eonni.

Aku bangga dengan kesetiakawanan mereka. Ya, sahabat-sahabatku rela tidur berdesakkan hanya untuk menemaniku.

Perlahan kututup lagi pintu kamar, kemudian aku melangkah menuju dapur. Kulihat di microwave ada semangkuk bubur dan semangkuk sup yang masih hangat. Aku mengeluarkannya untuk kubawa ke kamar Tn. Choi. Selain itu aku membuatkan secangkir kopi, aku yakin kopi akan membuat Tn.Choi lebih bersemangat. Karena kulihat ia penikmat kopi.

Dengan nampan penuh, aku memasuki kamar Amber eonni. Kulihat Tn. Choi matanya terpejam, tetapi secepatnya terbuka saat aku melangkah masuk.

“Sebaiknya perut anda diisi dulu, Tn. Choi. Amber eonni kebetulan sudah menghangatkan buburnya.”

Kuletakkan bubur di meja kecil, di sisi tempat tidur. Kulihat lelaki itu berusaha untuk duduk di atas ranjang. Aku segera membantunya, dengan menumpuk beberapa bantal di bawah punggungnya. Tetapi tiba-tiba aku merasakan jantungku berdebar cepat, saat kusadari sejak tadi dia terus menatapku. Aku berusaha menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba menyergap.

“Bagaimana ? Apakah sudah merasa enak duduknya ?” aku bertanya, mataku bertatapan dengan matanya.

Kurasa wajahku menjadi hangat, aku melihat ada yang aneh dalam tatapannya. Keanehan yang membuat darahku berdesir dan jantungku berdebar tak menentu.

“Sekarang, marilah aku suapi bubur dan sup … supaya badan anda lebih segar dan tidak pusing lagi.”

Aku berusaha mengalihkan pikiranku yang tiba-tiba diisi harapan dan keinginan tidak masuk akal. Aku duduk di kursi dan mulai menyendokkan bubur, kemudian membawanya ke mulutnya.

“Aaah…” kataku, menyuruhnya membuka mulut.

Mengejutkan, tanpa protes ia membuka mulutnya dan menyantap bubur.

“Good boy…” kataku menggodanya, untuk menghilangkan kegugupanku.

Tetapi jantungku terasa ingin meloncat keluar, saat lelaki itu menahan tanganku dan memegangnya. Sementara dia mengunyah buburnya, matanya menatap tanpa berkedip. Aku dibuatnya menjadi salah tingkah, bingung dengan kelakuannya.

“ Choi Sulli, mengapa kau begitu baik kepadaku ?”

Pertanyaannya sederhana, tetapi aku harus berpikir keras untuk menjawabnya. Hatiku semakin berdebar kencang, aku berusaha berpikir keras untuk menjawab dengan aman.

“ Err.. karena… karena aku merasa menjadi penyebab kau menjadi seperti sekarang, Tn. Choi….”

Sulli Pov End

Choi Minho perlahan melepas tangan lembut wanita di hadapannya. Ia merasa ada sedikit kekecewaan mendengar jawaban itu.

“Aish… tentu saja Minho, apa jawaban yang kau inginkan ? Tentu saja karena dia memang ingin menunjukkan rasa bersalahnya….”

“Kau tidak bersalah dalam hal ini… aku terlalu emosional….”

“ Kita hentikan dulu berbicara tentang ini, okay ? Kau harus menghabiskan makanan ini dulu, kemudian setelah itu kau bisa berbicara apapun denganku. !” Sulli memotong perkataannya, ia tak mau selera makan lelaki di hadapannya hilang karena harus mengingat kembali kejadian yang membuatnya kolaps.


Semangkuk bubur dan sup hangat, membuat banyak perubahan pada Minho. Ia benar-benar merasa segar dan jauh lebih baik. Perlahan ia duduk tegak, dilihatnya jam dinding hampir menunjukkan pukul 4 pagi. Sekarang dirinya ditinggal sendirian di kamar itu.

Semua yang terjadi kemarin siang terbayang kembali di benaknya. Semua cerita Sulli tentang benda-benda kesayangan Jinri teringat dengan jelas. Luka masih menganga dalam hatinya, karena semua masa lalu yang terungkap secara perlahan. Ia kini tahu, wanita yang selama ini membuatnya jatuh cinta, yang membuatnya kagum dan terpesona… telah mengkhianati kepercayaannya. Menjalin hubungan dengan seorang sahabatnya… sampai mengandung anaknya. Dan itu terjadi di masa-masa pertunangan mereka.

Selain rasa sakit hati, ia juga marah pada dirinya karena telah menghabiskan waktu untuk suatu yang tidak perlu. Dia telah meninggalkan Seoul untuk Jinri. Dia telah membuang diri selama lima tahun untuk JInri, Ia telah melakukan hal itu untuk seseorang yang tidak mencintainya sama sekali.

Tetapi ia perlahan bisa melihat hal positip dibalik semuanya. Ia merasa beruntung karena semua peristiwa itu terjadi sebelum ia menikahi Jinri. Ia tak bisa membayangkan apabila itu terjadi setelah mereka menikah.

Sisi lain yang harus disyukurinya dari semua peristiwa ini adalah, ia telah bertemu dengan Choi Sulli. Rasa kepercayaannya pada wanita yang hampir terkikis karena pengkhianatan Jinri, perlahan mulai tumbuh lagi. Ia percaya di dunia ini ada wanita-wanita yang bisa mencintai dengan tulus… bisa memberi dengan ikhlas… wanita-wanita hebat seperti ibunya… seperti Choi Sulli. Dan, ia bisa melihat bentuk persahabatan yang indah antara Sulli dan kawan-kawannya. Membuatnya kembali merindukan sahabat lama yang ditinggalkannya selama lima tahun. Ia merasakan semangatnya dan kerinduannya untuk bertemu mereka kembali, bertemu keluarganya, bertemu dengan orang-orang yang pernah ada dalam kehidupannya.

Selain itu, ia merasa lega karena ternyata pergi dan menghilangnya Jinri bukan karena dirinya dipenjara dan dituduh membunuh… tetapi karena hal lain. Namun, masih ada pertanyaan yang tersisa dalam dirinya yaitu Kemana Jinri pergi ? Dengan siapa ia lari ? Ada apa dibalik pembunuhan Lee Soo Man ? Apakah ada hubungannya dengan menghilangnya Jinri ?

Lamunan Minho terputus ketika ia melihat Sulli kembali masuk dengan sebaskom air yang terlihat masih mengepul.

“Wanita itu, wanita yang sangat baik, ia bahkan tidak kukenal dan tidak mengenaliku. Ia hanya beberapa hari berbicara denganku, tetapi ia mau membantuku dengan tulus. Mungkin ia merasa bersalah karena harus menyampaikan semua cerita Jinri… tetapi itu bukan kesalahannya. Ia hanya melihat dan menceritakan apa yang dilihatnya.”

“ Ini ada air hangat, Tn. Choi. Barangkali kau ingin membersihkan diri dahulu. Soalnya, karena kau kemarin pingsan… Key oppa katanya tidak bisa membantumu. Supaya kau tahu, kau kemarin sangat kotor dan dipenuhi pasir. Karenanya Key oppa dan pegawai Amber eonni, membantumu mengganti baju. Yang kau kenakan itu adalah bajunya Key oppa.” Sulli menjelaskan dengan ramah.

“ Aku taruh baskomnya di meja. Apakah kau sudah cukup kuat untuk bangun dan berjalan sendiri ? Ataukah aku harus membantu ?”

Choi Minho tidak menjawab, ia menatap Sulli dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikannya. Tetapi Sulli mengira itu karena dia malu meminta bantuannya, hingga ia akhirnya mencelupkan handuk kedalam air hangat, kemudian memerasnya dengan cermat, sebelum akhirnya berjalan mendekatinya.

“ Ini, cucilah dulu wajahmu. Aku melihat ada sisa pasir di sana.”

Sulli menyerahkan handuk basah tersebut, yang disambut oleh Choi Minho. Tetapi di luar dugaannya, ternyata dia tidak mengambil handuk… tetapi mengambil tangannya.

“ Choi Sulli… mengapa aku tidak menemukanmu sebelum aku bertemu Jinri ?” Tanya Choi Minho dengan suara lembut.

“Huh ?”

Sulli tidak tahu harus bagaimana bereaksi, karena ia tak tahu apa maksud pertanyaan itu. Hanya saja ia kembali merasakan hal yang sama, setiap kali ia berada di dekat laki-laki itu.

Perlahan tetapi pasti, ia mellihat Choi Minho menurunkan kakinya kemudian berdiri tanpa melepaskan pegangannya.

“Aku adalah laki-laki yang kuat, Sulli !” kata Minho.

Mendengar itu Sulli teringat pada mimpi yang membangunkannya. Choi Minho kecil dalam mimpinya mengatakan kalimat serupa dengan Choi Minho yang kini ada dihadapannya. Tanpa sadar ia tersenyum membayangkan bocah laki-laki lucu dalam mimpinya.

“ Apa yang kau tertawakan ? Apakah kau tak percaya aku laki-laki kuat ?”

“ Aku… aku pernah bermimpi ketika anda terjatuh dari sepeda… kau mengatakan hal serupa kepada ibumu.”

Minho terkejut ketika mendengar pengakuan Sulli.

Wanita ini penuh dengan kejutan…hanya dalam waktu seminggu ia telah melihat ayahnya dan sekarang ibunya… walaupun itu hanya dalam mimpi…. karena kenyataannya keduanya telah meninggal sejak usianya menginjak remaja.

“Kapan anda bermimpi itu ?”

Minho kaget karena beberapa saat yang lalu ia bermimpi hal yang sama.

“ Tadi… sebelumaku terbangun.”

Minho terdiam. Berarti tadi dirinya dan Sulli memimpikan hal yang sama. Bagaimana bisa ? Apakah karena saat tertidur ia memegang tangannya ? Sangat aneh.

“ Tampaknya kau lama-lama bisa membaca semua masa laluku…” Minho tertawa.

“ Seandainya aku bisa…” jawab Sulli bergumam tak jelas.

“Apa yang kau katakan ?”

“Oh…tidak ada !!” Sulli tertawa nervous.

Senyumnya memudar, ketika ia melihat tatapan lelaki yang berdiri begitu dekat di hadapannya. Suasana terasa menegangkan dan menekan. Mata mereka bertemu. Sulli menelan ludahnya…ia merasa gugup saat menyadari ke arah mana tatapan Choi Minho yang sebenarnya.

Bibirnya… tanpa berdaya, ia membayangkan kembali kejadian saat di toko kuenya. Mereka berbagi ciuman. Apakah hal ini akan terulang ? Jantung Sulli mulai berdegup, menggila. Dan kini ia melihat kepala lelaki itu semakin mendekat dan bergerak mencari bibirnya. Jarak keduanya tinggal beberapa centi lagi….

“Yah , Amber !! Awas kau !!!”suara teriakan Key mengejutkan keduanya.

Sulli menarik dirinya dan berbalik, sementara Choi Minho melepaskan tangannya dan berdehem.

“Untung saja suara seorang lelaki menghentikanku, kalau tidak aku tak bisa memegang janjiku untuk tak melakukan hal yang sama kepada Sulli. Hampir saja aku melakukan kesalahan serupa. Aish Choi Minho… apa yang terjadi padamu ?”Choi Minho mengutuk dirinya sendiri.


Sulli bergegas berjalan meninggalkan kamar. Ia menuju ruang tengah dan melihat Amber sedang mengacungkan seekor cicak di hadapan Key oppa. Dan Key berdiri di atas meja dengan wajah pucat, sementara Amber tertawa kegelian.

“Ada apa ini ribut-ribut ?” Victoria keluar dari kamar dengan mata masih mengantuk.

“Aish Amber, ini masih terlalu pagi!” Tegur Vic dengan nada kesal.

Kemudian ia melempar Amber dengan bantal yang dibawanya dari kamar. Amber menghindar, sehingga cicak yang dipegangnya lepas. Melihat itu, Key segera turun dari kursi dan berlari menuju Amber yang masih terkekeh-kekeh. Key memeluk Amber dan memberikan ciuman di bibir kekasihnya untuk membuatnya berhenti tertawa.

“Omo ! Omo !!” teriak Victoria yang tidak mengira akan mendapatkan pertunjukkan “hot” mereka.

Sulli dan Minho yang baru ke luar dari kamar, sama terkejutnya dengan Victoria. Sulli memalingkan wajahnya, malu dengan apa yang dilihatnya. Tetapi matanya berpapasan dengan mata Choi Minho, dan keduanya sama-sama memerah wajahnya. Mereka tahu dengan apa yang mereka pikirkan saat itu.

BERSAMBUNG

A Mysterious Man (Lelaki Misterius) [Part 12]

poster-a-mysterious-man

Poster by Xilvermist

Main Cast : Choi Minho, Choi Sulli,

Support Cast : Lee Taemin, Lee Jonghyun, Lee Jinki, Kim Kibum, Amber Liu, Park Luna, Victoria Song, Krystal Jung, Kim Jongin, Kris Wu, Kim Hee Chul, Lee Tae Sun, Lee Soo Man

Author : Dina Matahari

Genre :  Misteri, Roman

Length : Chapter

  Rating : General

Lelaki Misterius Part.12

 HATI YANG TERLUKA

“ Tn.Choi, saya sekarang ingin menceritakan semua yang saya lihat dari awal sampai akhir. Dengan kehadiran Kim Jonghyun, saya akhirnya bisa menarik benang merah untuk sebagian pertanyaan yang saya miliki. Seperti yang saya katakan  tadi di pantai, saya berhutang cerita kepada anda. Mengingat anda tidak lama lagi disini, saya harus menceritakan walaupun saya tidak yakin apakah saya bisa menyampaikannya kepada anda.”

Choi Minho duduk tegang, sejak Sulli tadi minta untuk bicara dengannya hanya berdua, ia mulai merasakan ketegangan. Dan ketegangan ini semakin meningkat.

“ Seperti yang anda katakan sebelumnya, anda siap mendengarkan cerita seburuk apapun. Bukankah begitu ?”

“ Huh ?” Minho terlihat bingung.

“ Tadi anda mengatakan bahwa anda telah siap…”

“ Oh ya, saya harus siap dengan cerita terburuk sekalipun.”

“ Tn. Choi, anda mungkin penasaran mengapa saya tiba-tiba menanyakan hal-hal pribadi kepada anda seperti apakah anda mencintai Jinri, mengapa anda mencintai dia… Well, itu pertanyaan tolol…tetapi itu saya tanyakan karena saya ingin mengukur kesiapan anda. Tn. Choi, apakah anda siap mendengarkan seandainya Jinri tidak sesuai dengan apa yang anda fikirkan selama ini ?”

Choi Minho tidak segera menjawab, ia melihat Sulli lekat-lekat… seolah ingin membaca apa yang ada di pikirannya, yang mungkin terpancar dari wajahnya.

“ Tn. Choi…?”

“ Lima tahun Jinri tidak ada dalam kehidupan saya. Lima tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk bisa mengubah seseorang. Saya sudah kehilangan harapan, sebenarnya. Tetapi siap atau tidak siap, itu relatif. Saya harus bisa menerima kenyataan apapun yang terjadi… baik itu siap atau tidak. Dan bagi saya, lebih cepat mengetahui kebenarannya…akan semakin baik.”

“ Saya akan mendukung dan mensupport anda, bila itu anda perlukan. Dengan menceritakannya, mungkin anda bisa memberikan masukan lain yang akan melengkapi pecahan puzzle yang ada.”

“ Saya juga mungkin akan membuka sedikit masa lalu saya kepada anda. Anda berhak tahu, apalagi setelah tadi teman anda, Amber, mengatakan bahwa anda mendapatkan mimpi-mimpi yang buruk tentang masa lalu saya. Ehem… Saya dan Jinri bertunangan… hampir setahun, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk menikah. Saat kami mempersiapkan pernikahan kami, tiba-tiba saya menemukan Paman Lee So Man telah menjadi mayat di ruang tamu apartemen saya. Dari penemuan ini, saya terjerat masalah dan sempat dipenjara karena dicurigai menjadi pelaku pembunuhan. Untung saja, saya memiliki bukti dan saksi yang menyatakan bahwa di saat kejadian saya ada di tempat lain. Pada waktu saya direpotkan dengan persidangan itulah, Jinri menghilang. Ayahnya datang menemui saya di tahanan dan mempertanyakan keberadaan Jinri. Waktu itu saya tidak bisa berbuat apa-apa, sampai akhirnya saya dibebaskan. Tetapi itu sudah terlambat… karena waktu itu Jinri benar-benar sudah menghilang. Seoul bagi saya waktu itu seperti neraka. Tuduhan , berita-berita memojokkan… benar-benar mempersempit ruang gerak saya. Karena itulah saya pergi meninggalkan Seoul ke beberapa tempat yang mungkin didatangi Jinri. Termasuk pantai ini, saya pernah punya janji dengannya… jika suatu saat kami tidak dipersatukan, kami akan bertemu di tempat ini di bulan april, di kafe yang sama pada jam yang sama. Dan saya setiap bulan april mengunjungi pantai ini dengan harapan ia akan memenuhi janjinya.”

“ Jadi itu alasannya mengapa anda selalu ada di kafe Amber selama bulan april.” Gumam Sulli.

“Ya. Dan saya, selalu bermimpi tentang kedatangan Jinri di pantai ini. Ia dalam mimpi saya mengatakan bahwa suatu saat mawar yang saya lempar ke laut akan kembali lagi kepada saya.’

“ Persis seperti yang saya lihat, ketika anda berdiri di laut dan melemparkan mawar. Ada seorang wanita cantik yang berkata kepada anda bahwa mawar itu akan kembali… seperti yang sudah saya katakan kepada anda waktu itu.”

“ Benar… anda mungkin tidak tahu, Jinri mengatakan dalam mimpiku bahwa suatu saat akan ada seseorang yang akan menghubungkan aku dengannya lagi. Begitu saya mendengar anda mengulang perkataan Jinri tentangg mawar itu, saat anda mengungkapkan mengenai saputangan itu…saya merasa andalah orang yang Jinri maksudkan. Dan ternyata benar, setelah saya berbicara dengan anda…untuk pertama kalinya dalam lima tahun, saya menemukan sebuah mawar kembali terbawa oleh ombak.” Choi Minho tersenyum.

Sulli menatapnya , dalam hatinya ia mengagumi perubahan yang terlihat di wajahnya yang biasanya keras dan dingin. Hanya sebuah senyuman simpel, membuat dirinya melihat Coi Minho yang menyenangkan.

“ Bisakah anda mengungkapkan pendapat dan kesimpulan anda setelah kita berkomunikasi ? Mungkin saya akan bercerita setelah ini.”

“ Saya…. saya sebenarnya tidak begitu memahami anda…pada awalnya. Anda dan sikap anda yang penuh kejutan. Tetapi terus terang, sampai sekarangpun saya belum memahami anda…mungkin karena saya tidak mengetahui secara persis seperti apa kelebihan anda dan bagaimana dampaknya pada anda sendiri. Hanya saya melihat, setiap anda mendapatkan penglihatan, anda akan terlihat menderita, kadang ketakutan, panik, dan menangis. Well… itu sedikit banyak mempengaruhi saya juga. (tertawa). Tetapi dari apa yang terakhir anda katakan, saya menyimpulkan bahwa anda melihat Jinri tunangan saya terlibat masalah dengan orang tuanya karena ia memiliki kekasih di belakang saya…well, maafkan kalau saya waktu itu bereaksi buruk. Saya benar-benar tidak siap… apalagi ketika anda mengatakan bahwa pria lain itu adalah sahabat saya… cinta pertamanya Jinri. Apakah kesimpulan saya benar ?”

“ Sebagian besar kesimpulan kita sama. Tetapi saya menyimpulkan berdasarkan apa yang saya lihat.”

Sulli menjejerkan benda kesayangan Jinri di atas meja di hadapan mereka. Bros, cincin, parfum, syal dan amplop kertas keberuntungan.

“ Dari bros ini saya mengetahui bahwa alasan Jinri memiliki pria lain …bukan karena ia tidak mencintai anda lagi …tetapi karena ia memang tidak pernah mencintai anda sebesar anda mencintainya.”

Sulli melihat ke arah Choi Minho yang rahangnya mengeras, dan wajahya terihat kaku. Ia tahu, perkataannya telah melukai harga diri lelaki itu. Tetapi itu adalah kenyataan yang harus dikatakannya. Ia tidak mau berbohong atau menyembunyikannya.

‘ Maaf Tn.Choi… Jinri sebenarnya menerima lamaran anda itu untuk membuat cinta pertamanya cemburu. Untuk membuat cinta pertamanya mengejarnya kembali. Ia mencintai anda… tetapi dengan cara yang berbeda. Ia tidak mau anda terluka… karena itulah ia tak berani berterus terang kepada anda.”

“…………………………..”

“Tn Choi …?” Tanya Sulli hati-hati.

“Lanjutkan…!” suaranya tertahan.

“ Parfum lavender, itu adalah parfum yang diberikan kekasih Jinri . Melihat dimana dan sedang apa mereka berdua, saya hubungkan dengan apa yang saya lihat melalui cincin tunangan kalian.”

Sulli melihat wajah Choi Minho terangkat, ini adalah bagian paling menyakitkan dari keseluruhan rangkaian kisah yang disimpulkannya. Ia melihat… apakah sekiranya Choi Minho bisa menahan kesabarannya ?

“ Cincin anda…….. Awalnya saya melihat kebahagiaan di wajah Jinri dan saya menyimpulkan dia bahagia dilamar oleh anda. Tetapi belakangan saya menyimpulkan ia bahagia karena di benaknya telah dia rancang suatu rencana untuk membuat cinta pertamanya cemburu kepada anda. Maafkan… kalau saya salah. Kemudian cincin itu yang membuat saya semakin yakin dengan kesimpulan saya. Tunangan anda mencopot cincin ini ketika ia bersama pria itu, karena itu permintaannya . Karena pria itu merasa tidak nyaman bila Jinri bersamanya mengenakan cincin pertunangannya. (terdiam lama) Dan, ketika cincin itu jatuh saya melihat Jinri menghadapi masalah. Dia berdebat dengan pria tersebut. Perdebatannya didengar oleh seseorang yang disebutnya “appa”. Pria itu dengan kekasihnya… saya lihat saling mengenal, bahkan ia tampaknya sangat dekat dan marah kepadanya. Jinri meminta pria itu menikahinya, tetapi sang pria menolak karena pernikahan kalian sudah dekat.”

Kini kepala Choi Minho tegak, matanya melihat ke arah Sulli. Mata yang bulat itu terlihat kosong. Ada genangan air mata di sana. Sulli menarik nafas dalam-dalam… melihat lelaki di hadapannya, ia merasa iba. Rasa sakit yang mungkin dirasakan pria itu…ia dapat memahaminya.

“ Jinri meminta karena dia tengah mengandung bayi lelaki itu. Jinri hamil, Tn. Choi. ”


Brakk !!


Tangan Choi Minho yang terkepal memukul meja dengan sekuat tenaga. Sulli sampai terloncat karena kaget. Jantungnya berdegup tak menentu. Ia merasa ngeri, sedih, kasihan…melihat wajah Choi Minho.

“ Geojis….geojis…!” katanya berkali-kali kepada dirinya sendiri. Kepalanya menunduk, tenggelam di antara kedua tangannya.

Tiba-tiba kepalanya tegak, matanya menyala marah…?

Kecewa …?

Entahlah…!

Ia menatap lurus ke arah Sulli.

“ Katakan anda berbohong…. katakan itu kebohongan ! Anda sedang mempermainkan saya, kan ?”

Suaranya mulai tidak terkontrol. Sulli merasakan badannya tiba-tiba diliputi hawa panas. Apakah lelaki ini marah kepadanya ? Bukankah dia mengatakan telah siap mendengar apapun ? Sulli menggeleng tanpa bisa berkata apa-apa. Matanya terbelalak karena takut dan bingung.

“ Sulli…katakan bahwa itu hanya kebohongan…please !!”

Kini dia memohon, dua butir air mata menggelinding di pipinya,

“ Jinri tidak begitu… Jinri tidak seburuk itu !!” teriaknya

Suaranya terdengar serak dan penuh dengan perasaan. Rasa terluka dan putus asa.

“ Mian….”

Sulli belum selesai mengucapkan kalimatnya, ketika Choi Minho berbalik dan berlari menerobos daun pintu yang terbuka. Ia nyaris menubruk Amber dan Key yang membuka pintu karena mereka mendengar suara teriakan dari dalam.


Key dan Amber terpaku dan kaget melihat sosok Choi Minho melesat… berlari ke arah pantai. Ia melihat ke arah Sulli, yang duduk tertunduk di meja. Bahunya bergerak. Sulli menangis.. Choi Minho berlari seperti kesetanan.

Ada apa ? Apa yang terjadi ?? Key dan Amber saling berpandangan.


Akhirnya Amber berjalan menghampiri Sulli. Ia meletakkan tangannya di bahu Sulli, mengusapnya dengan lembut.

“Eonni…aku sudah mengatakannya. Aku mengatakan bahwa tunangannya berselingkuh dengan pria lain. Kukatakan bahwa tunangannya tengah hamil … bayi dari lelaki itu.”

Sulli mengangkat mukanya, melihat Amber yang berdiri di sisinya. Wajah Sulli dipenuhi air mata. Amber terharu, sudah terlalu sering ia melihat wajah cantik sahabatnya ini dipenuhi air mata.

“ Kupikir ia akan kuat…….Eonni, apakah aku salah mengatakannya ?”

“ Tidak Ssul… cepat atau lambat Tn.Choi harus mengetahuinya. Ia kaget… ia butuh waktu untuk sendiri. Kau tak usah menyalahkan dirimu sendiri, arrasseo !Aku yakin, Tn.Choi akan kuat…ia seorang laki-laki yang kuat.”

Minho Pov.

Aku berjalan tanpa arah tujuan. Cuaca yang tadi cerah, mulai berubah. Gerimis mulai turun…tetapi aku tak memikirkan itu. Sungguh aku tidak bisa berfikir lagi. Sewaktu pertama kali Sulli mengatakan bahwa Jinri telah berselingkuh dengan salah seorang sahabatku, aku kecewa…. tetapi akhirnya aku bisa menerima. Bukan, tetapi belajar untuk menerima kenyataan itu. Aku merasa kurang romantic, aku merasa kurang perhatian kepadanya sehingga Jinri mencari pelarian ke pria lain. Itu bisa dimaklumi.

Saat Sulli mengatakan bahwa sejak awal Jinri tidak mencintaiku… hati kecilku mulai berontak. Mengapa tidak ? Kami betunangan sudah hampir setahun, mengapa aku tidak bisa mengenali gejala ke arah itu. Mengapa aku tidak melihat Jinri memperlakukan sahabatku secara istimewa ? Mengapa aku dibutakan selama ini ? Mengapa aku dibohongi sampai sejauh ini ? Mengapa aku tidak melihat perubahan berarti pada dirinya ? Mengapa ayahnya Jinri tidak mengatakan apa-apa, seandainya ia tahu perselingkuhan itu terjadi dalam masa pertunangan kami ?

Ada apa dengan semua ini ?

Dan masih banyak pertanyaan lain yang beraduk dalam hati dan fikiranku. Mungkin…bila ada jawabannya…aku akan berusaha memahami. Mungkin aku akan mencoba melepaskannya untuk mendapatkan cinta sejatinya. Walaupun aku tahu, untuk berbuat begitu berarti aku menghancurkan mimpiku, aku menghancurkan diri sendiri. Dan Jinri hamil….bayi dari lelaki itu…sahabatku…

Sungguh aku merasa diriku kalah secara total. Harga diriku terluka. Aku merasa sebagai tunangannya aku gagal secara total.

Selama kami bertunangan, aku menjaga kesuciannya… aku menghormatinya… aku tidak pernah berani menyentuhnya. Aku tidak mau merusak wanita yang kucintai. Dan yang kulakukan ternyata salah, karena dengan kepercayaan yang kumiliki untuknya… aku menjadi lepas kotrol. Bahkan aku tidak tahu kalau dia menyalahgunakan kepercayaan yang kuberikan.

Siapakah lelaki itu ? Lelaki yang telah membuat Jinri hamil ? Dimanakah mereka sekarang ? Apakah mereka sudah menikah dan berkeluarga ? Apakah ayahnya Jinri ada dibalik menghilangnya Jinri ?

Aku menghentikan langkahku, berbalik ke arah lautan lepas yang ombaknya mulai bergelora. Bayangan mimpiku, bayangan Jinri, bayangan Sulli dan kata-katanya …. melintas dalam pikiranku…saling berganti…membuat kepalaku terasa hampir pecah.

“ Aaaaaarghh..!!!”

Aku berteriak… mengeluarkan semua yang menyesaki dadaku. Banyak yang ingin kuteriakkan, yang ingin kutanyakan, yang ingin kukatakan…. mungkin terlalu banyak, sehingga aku tak bisa menemukan kalimat yang tepat, yang bisa mewakili semuanya. Kecuali dengan berteriak sekuat tenaga. Berulang-ulang…sampai aku merasa suaraku habis.

Aku merasa tenagaku habis terkuras oleh emosiku yang masih menggunung.

Tanpa berusaha bertahan, aku ambruk…terduduk di pasir. Aku tak peduli ombak mulai menyentuh tepian tempatku duduk.

Lima tahun…. Lima tahun aku melakukan pencarian. Lima tahun aku diombang-ambing perasaan takut, rindu, rasa bersalah…. yang tidak pernah berakhir. Perasaan yang mematikan sebagian kehidupanku. Lima tahun aku hidup dengan bayangan dan harapan indah akan kembai bertemu dengan tunanganku. Dan waktu lima tahun itu… harus hancur hanya dengan beberapa detik saja ? Hanya dengan beberapa kalimat saja.

Perlahan…timbul perasaan geli dalam diriku. Menyadari betapa bodohnya aku selama ini. Menyadari betapa aku membuang waktuku secara sia-sia untuk seseorang yang mungkin tak pernah memikirkan dan merindukanku. Dan akhirnya aku tertawa … aku menertawai kebodohanku sendiri. Tuhan… aku begitu nikmat mendengar suara tawaku sendiri…suara tawa yang telah hilang dari hidupku !

Suara tawaku semakin keras…tetapi aneh…semakin aku tertawa, semakin rasa sakit membelit hatiku…meremas-remas hatiku. Dan aku merasa air mata mulai membasahi pipiku. Bersatu dengan gerimis air hujan yang sejak tadi membasahiku. Pantai mulai gelap…aku tak akan menahan diri lagi.

Tak ada orang yang memperhatikanku di sini. Aku ingin melepaskan semuanya!!

Minho Pov End


Suli meraih jaket tebal dan payung, kemudian bergegas ke luar dari rumahnya. Luna dan Amber yang sedang duduk menikmati teh serempak berdiri.

“Kau akan kemana, Ssul ?” Tanya Luna dengan wajah khawatir.

“ Aku harus mencarinya, eonni! Aku harus mencari Tn. Choi…. kudengar berita cuaca di radio, setiap saat mungkin akan turun hujan di daerah ini. “

“Sulli, biar Key oppa yang mencarinya. Ini sudah gelap…” cegah Amber.

“Aku tahu kemana harus mencarinya. Eonni, dia pergi dalam keadaan putus asa… dan aku berani bertaruh ia belum makan sejak siang tadi. Aku takut terjadi sesuatu padanya. Bagaimana pun aku ikut bertanggung jawab atas semua kejadian ini. Aku membawa ponsel… nanti pasti aku menghubungi kalian.”

Tanpa menunggu jawaban, Sulli langsung berlari meninggalkan mereka. Ia yakin, lelaki itu pasti sedang duduk di pohon besar, tempat biasa bila ia menghabiskan waktu di senja hari.

Sulli memarkir mobil di tempat Amber. Dengan mengenakan jaket, dan menenteng sebuah payung, ia berjalan ke arah pohon di tepi pantai. Dugaannya salah. Tempat itu sepi. Jantungnya mulai berdegup…ada kekhawatiran yang muncul tiba-tiba.

Oh Tuhanku, kemana dia pergi ? Apa yang dilakukannya ?

Panik, ia mulai melangkah mencari ke sekitar tempat tersebut. Kemudian ia melangkahkan kaki ke arah timur. Berharap akan menjumpainya segera. Ia memutuskan mencari ke arah itu karena kalau berjalan ke barat berarti ia kembali ke rumahnya. Sedangkan lelaki itu sudah berangkat sejak tadi, ia pasti sudah berjalan cukup jauh.

Gerimis mulai turun. Udara pantai yang biasanya hangat menjadi lebih dingin. Sulli membentang payung sambil meneruskan pencariannya.

“Ya Tuhan, semoga lelaki itu tidak berbuat nekat.” Sulli berdoa dalam hatinya.

Tiba-tiba matanya melihat sebuah siluet di hadapannya, seperti seorang yang duduk di pasir. Sulli mendekat…benar dugaannya, itu adalah Choi Minho. Dia duduk di pasir, sepertinya tak mempedulikan air laut yang mulai pasang telah mencapai tempatnya terdiam. Semakin mendekat, Sulli semakin jelas melihat bahwa bajunya basah…mungkin karena kehujanan. Dan ia mendengar suara tawa….

Apakah benar yang didengarnya ? Choi Minho tertawa ?? Tetapi suara tawanya terdengar aneh di telinga Sulli. Apakah karena ia baru pertama kali mendengar lelaki itu tertawa, sehingga ia merasa janggal ?

Langkahnya terhenti tepat di sisinya. Di saat itu Choi Minho pun menghentikan tawanya.

Sulli yakin, lelaki itu mengetahui kehadirannya…tetapi ia melihatnya tak bergerak sama sekali. Perlahan ia berjongkok di sisinya, mencoba melindunginya dari terpaan air hujan dengan payungnya.

“Tn. Choi…” katanya lembut

“ AKu tidak pernah menyentuhnya…..”

Suaranya yang serak dan bergetar menyentuh ke dasar hati Sulli.

“ Aku tidak pernah menyentuh Jinri….”

‘BERSAMBUNG